
Anna terpana melihat Ken dan ketiga temannya ada di halaman belakang rumahnya. Mereka membawa alat musik juga kesana, entah apa yang ingin mereka lakukan disana.
"Hai Anna!" Sapa Hans, Arya dan Nando sambil melambaikan tangannya pada Anna yang berada di lantai dua.
"Ka-kalian? Ngapain kalian ada disini?!" Tanya Anna dengan suara yang meninggi, keningnya berkerut keheranan.
"Gak tau nih si Ken, mau ngapain." jawab Arya dengan wajah polosnya.
"Ken, aku turun sekarang ya-" Anna hendak turun ke lantai bawah untuk menemui Ken.
"Enggak, jangan turun! Tunggu dan lihat saja disitu, kamu boleh turun saat aku bilang boleh!" Ujar Ken pada Anna.
"Kamu..." Anna terheran-heran dibuat Ken, dia tak tahu apa yang akan dilakukannya.
"Kamu dengarkan aja...guys, ayo mainkan!" kata Ken pada ketiga teman-temannya.
Alunan musik pun dimainkan, Hans bassis, Arya dengan gitarnya dan Nando dengan drumnya. Semenjak Ken memainkan keyboard dan bernyanyi.
πΆπΆπΆ
Dengarkanlah...
Wanita pujaanku, malam ini akan kusampaikan...Hasrat suci kepadamu, dewiku..
Dengarkanlah kesungguhan ini,
Aku ingin mempersuntingmu...
Tuk yang pertama dan terakhir
Jangan kau tolak dan buatku hancur
Ku tak akan mengulang tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu
Dengarkanlah, wanita impianku
Malam ini akan kusampaikan
Janji suci, satu untuk selamanya
Dengarkanlah kesungguhan ini
Aku ingin mempersuntingmu..
Tuk yang pertama dan terakhir
Jangan kau tolak dan buatku hancur
Ku tak akan mengulang tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
__ADS_1
Akulah yang terbaik untukmu...
πΆπΆπΆ
Anna terpana saat mendengar lagu romantis itu, hatinya bergetar bersama dengan tubuhnya. Dia tersentuh, tanpa sadar dia tersenyum lebar dan menatap Ken dengan mata berkaca-kaca.
Apa maksud kamu melakukan ini Ken? Aku jadi meleleh sama kamu. Anna memegang dadanya.
Bukan hanya Anna saja yang mendengar alunan musik dan suara Ken yang sedang bernyanyi itu. Bram, Diana, Cakra, Nilam, Amayra, Lulu, Dewi, pak Cecep dan pak Muin juga mendengarnya. Kedua pembantu rumah tangga itu bahkan supir dan satpam sampai menyaksikan sendiri pertunjukan musik Ken dan the geng.
"Wah, den Kenan udah ganteng...suaranya bagus." Lulu tersenyum sambil bertepuk tangan.
"Keren!" Dewi juga ikut bertepuk tangan, dia merasa Ken sangatlah keren.
Sementara itu Bram terlihat kesal, dia bersiap untuk turun ke lantai bawah dan memarahi Ken yang ribut-ribut malam-malam di rumahnya.
"Mas, kamu mau kemana?" Diana menatap suaminya yang sudah memakai jaket seperti bersiap untuk pergi.
"Anak itu, dia membuat keributan malam hari...aku akan beri dia pelajaran!" Seru Bram mendengus kesal.
"Mas, udahlah biarin aja. Kita lihat Ken mau ngapain, lagian nyanyinya juga udahan kan. Aku rasa akan ada hal menarik yang bisa kita lihat dari percintaan anak muda." Diana senyum-senyum sendiri entah membayangkan apa.
"Hal menarik? Apaan?" Bram dengan polosnya bertanya, tak tahu apa yang dimaksud oleh Diana.
"Udahlah mas, kita lihat aja di balkon!" Diana memegang tangan suaminya, mengajak Bram ke balkon kamar mereka untuk melihat apa yang terjadi diluar.
Bram dan Diana, Cakra dan Nilam ada dibalkon atas melihat Ken yang ada dibawah. Sedangkan, Amayra bersama kedua pembantu rumah tangga di rumah itu.
"An...aku tidak menduga kita akan menikah secepat ini. Jadi, setidaknya aku harus mewujudkan keinginan setiap gadis yang akan segera menikah. Walaupun mendadak, aku harap kamu mengerti apa maksudku dari lagu yang kubawakan dari lubuk hatiku yang terdalam." kata Ken sambil menundukkan kepalanya, dia tak berani menatap Anna.
Anna menatap Ken dengan hati yang berdebar. "Aku gak ngerti apa maksud kamu Ken," ucap Anna tiba-tiba dengan wajah serius.
Ken mendongakkan kepalanya ke arah Anna dengan terkejut, ketiga temannya juga melihat semua itu. "Masa sih kamu gak ngerti?"
"Kayaknya kita harus bicara lebih dekat, tunggu ya." Anna tersenyum tipis.
Gadis itu masuk ke dalam kamarnya, dia memakai jaket, keluar dari kamarnya dan dia menuruni tangga sambil tersenyum.
Anna sampai di halaman belakang rumahnya, tempat dimana Ken dan teman-temannya berada. Amayra tersenyum, melihat Ken yang tampaknya sedang melamar Anna.
"Anna!" Ken mendadak gemetar ketika Anna berada didepannya.
"Ken, coba katakan yang jelas...kamu mau apa kesini dan apa maksudnya kamu menyanyikan lagu itu?" tanya Anna dengan tatapan tajam pada Ken.
"I-itu... kamu pahamlah tanpa harus aku bicara!" kata Ken gugup.
"Ken, keluarin! Keluarin!" Seru Hans, Arya dan Nando pada Ken.
Ken terlihat resah, ketika temannya meminta untuk dikeluarkan sesuatu. Entah apa sesuatu itu.
"Ken? Apaan?" Anna menatap Ken dengan bingung.
Ken merogoh sesuatu dari saku jaketnya, terlihat kotak kecil berbentuk kotak berwarna merah ditangannya. "Ken..." Anna terpana melihatnya.
Semua orang yang melihatnya tersenyum sendiri, membayangkan mereka ada di posisi Anna. Ya, semuanya tersenyum kecuali para pria.
__ADS_1
"Lamaran macam apa itu, bukankah lamaranku lebih bagus dan romantis?" kata Bram tak mau kalah.
"Seingatku, waktu kamu melamarku...tidak ada acara seperti ini tuh. Pokoknya Ken sweet banget." Diana memuji Ken sambil tersenyum.
"Gak sweet, gak banget Diana!" Seru Bram dengan bibir mengerucut.
Ken menyodorkan kotak cincin itu lalu membukanya. "Ini..buat kamu."
"Apa ini?"
Dasar Ken, dia masih saja jaim.
"Ini cincinlah!"
"Iya aku tau, terus kenapa?" tanya Anna seraya menggoda Ken, padahal dia sudah tau apa maksudnya.
"Buat kamu cincinnya, aku melamar kamu..." lirih Ken dengan suara pelan.
Kenapa aku gemetaran begini? Kayaknya ketemu fans aja gak sampai gini amat deh.
"Oh gitu, tapi aku gak mau tuh." jawab Anna datar.
Ken dan ketiga temannya terkejut dengan jawaban Anna. Nilam, Cakra, Amayra, Diana, Bram dan orang lain yang ada disana juga terkejut mendengarnya.
"An-Anna.. " Ken terperangah, dia menatap Anna dengan sedih.
"Aku gak mau kalau kamu gak segera pasang cincinnya," jawab Anna sambil tersenyum malu-malu.
"WOAHH!!!" Ketiga teman Ken langsung bersorak mendengar jawaban Anna.
Ken tersenyum, dia mengambil cincin itu dari kotak lalu memasangkan cincinnya ke jari Anna, dia berdoa semoga cincinnya muat karena dia membeli cincin itu dadakan.
"Cincinnya..." gumam Anna sambil melihat cincin yang kini tersemat dijarinya.
"Kebesaran ya?" Ken menatap cincin di jari manis Anna yang terlihat longgar itu.
"Gak apa-apa." Anna tersenyum lebar.
Ketika Ken akan memeluk Anna, Cakra tiba-tiba sudah ada disana dan memisahkan mereka berdua. "Heh! Kalian belum muhrim!" ujar Cakra.
"Opa?" Anna melihat ke arah opanya.
"Lamaran yang bagus, tapi lain kali kamu harus datang kemari sama opa kamu secara resmi untuk melamar cucu saya!"
Ken tersenyum lembut. "Iya Opa."
Pasangan yang baru saja lamaran itu saling tersenyum satu sama lain dengan bahagia. Mereka tidak percaya bahwa mereka akan segara menikah. Amayra juga merasa bahagia dan memberikan Anna Ken selamat.
Setelah semua orang bubaran dari sana, Amayra berjalan kembali ke kamarnya dan dia melihat Bima pulang ke rumah itu. "Hai Amayra..." sapa Bima dengan suara pelan dan senyuman canggung.
Amayra menatap tajam ke arah Bima.
...*****...
Mau lanjut lagi nih? Komennya dulu ya ππ
__ADS_1