Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 84. Kesal tak jelas


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


"Ya kamu pasti lelah Satria, kembalilah ke kamar dan temui istrimu," ucap Cakra pada putranya.


"Iya pah, Ustad Arifin, ayah mertua.. saya permisi dulu," Satria hanya berpamitan pada Cakra, Harun dan papanya. Dia melewatkan Iqbal, seperti menganggap pria itu kasat mata.


Iqbal heran, kenapa Satria terlihat ketus dan dingin terhadapnya? Apa dia ada berbuat salah? Satria melangkah pergi dari sana, menuju ke kamarnya untuk menemui Amayra dan Rey.


"Fania, boleh aku bicara sebentar sama kamu?" Iqbal mengajak Fania untuk berbicara.


"Boleh kak," jawab Fania.


"Kita bicara ditempat lain ya," mata Iqbal mengarah pada Satria yang masuk ke dalam kamar di dekat dapur rumah itu.


Iqbal dan Fania sampai di halaman belakang rumah itu. Iqbal yang selalu menjaga jarak dari wanita, menjaga jarak dari Fania yang bukan mahramnya.


"Kakak mau bicara apa sama aku?" tanya Fania langsung pada intinya.


"Kamu...apa kabar Fania?" tanya Iqbal pada Fania sambil tersenyum. Satu lesung terlihat di pipinya.


"Alhamdulillah baik, aku tau ini hanya basa-basi kak Iqbal saja kan. Kakak mau tanya soal Amayra?" Fania menebak alasan Iqbal mengajaknya bicara adalah untuk mencari tau soal Amayra. Dulu waktu masih sekolah pun Iqbal mendekati Fania dan Anna, agar dia bisa dekat dengan Amayra. Hanya Amayra satu-satunya wanita yang bisa dekat dengan Iqbal.


Iqbal sudah menyukai Amayra dari saat gadis itu mengikuti MOS sekolah. Cantiknya yang sederhana, menutup aurat dengan baik, senyuman di wajahnya yang polos, suara lembutnya saat melantunkan ayat suci Alquran, membuat Iqbal terpesona dan sejak saat itu Amayra selalu ada didalam hatinya.


"Iya itu benar Fan, aku hanya ingin mengajukan beberapa pertanyaan untuk kamu. Apa yang kamu tau tentang keluarga ini dan Amayra?" Kali ini Iqbal ingin tahu apakah Amayra bahagia bersama keluarga barunya.


Fania menghela napas, dia menceritakan tentang Amayra dan Satria yang kini sudah saling mencintai. Bahkan Satria juga sudah menerima Rey dengan sepenuh hatinya. Iqbal merasa lega mendengar cerita dari Fania.


"Makasih ya Fan, Alhamdulillah kalau Amayra baik-baik saja dan bahagia," Iqbal tersenyum pahit, matanya berkaca-kaca.


Fania tersenyum, dia tau bahwa Iqbal masih memiliki perasaan pada Amayra sebagai cinta pertama dan wanita pertama yang menempati hatinya. Namun, Amayra sudah menikah dan takdir mereka memang tidak berjodoh.


Iqbal menyadari hal itu, dia tidak berharap lebih dari Amayra. Cinta itu hanya bisa dalam diam didalam hatinya. Kebahagiaan Amayra sudah cukup membuat dia bahagia juga.


Semoga Allah selalu memberikan kebahagiaan untuk kamu dan keluargamu. Semoga kamu selalu baik-baik saja May.


Doa tulus Iqbal untuk Amayra, cinta pertamanya yang bukanlah jodohnya. Mereka tidak ditakdirkan bersama, karena cinta Amayra sudah untuk Satria penyelamatnya.


...****...


Amayra berada di kamarnya bersama Rey dan Anna. Rey sedang diajak bermain. oleh Anna dan Amayra, mereka gemas melihat Rey yang lucu dengan baju Koko kecil yang dipakaikan oleh Amayra, baju itu adalah pemberian ayahnya (Harun).


"Gemesin banget sih kamu sayang...cepet dong bisa ngomong, kakak Anna mau bicara sama kamu.. cepet gede dong jagoan," ucap Anna sambil membantu Amayra menggantikan popok Rey yang basah.


Amayra tersenyum melihat Anna yang menyayangi Rey. Kadang di hati Amayra timbul rasa iri dan perih ketika melihat Anna. Mengapa dia iri? Itu karena dia ingin seperti Anna yang lajang dan bisa melanjutkan sekolahnya. Sedangkan Amayra? Kehidupan sekolahnya yang normal sudah hancur. Harapan satu-satunya agar dia bisa melanjutkan kuliah adalah dengan mengikuti ujian paket, seperti apa yang sudah direncanakan oleh Satria untuknya.


Dengan penuh kasih sayang, Anna memakaikan celana untuk baby Rey yang lucu setelah memakaikannya popok. "Nah, sekarang sudah nyaman kan? Hihi, kakak Anna sekarang mau main sama Rey, main yuk Rey.." Anna menggendong Rey dengan hati-hati. "May, aku boleh bawa Rey keluar sebentar kan?" tanya Anna.

__ADS_1


"Boleh, asal jangan keluar rumah ya," ucap Amayra mengingatkan, "Oh ya, jangan lama-lama ya mau magrib," sambungnya lagi.


Kayanya belum bisa kembali ke rumah sekarang, sudah mau malam. Paling besok baru bisa kembali ke rumah lama.


"Oke, bentar aja kok." Anna tersenyum.


Amayra mengangguk. Anna menggendong baby Rey dan membawanya keluar dari kamar itu. Sementara Amayra membereskan baju-baju suami dan anaknya karena mereka akan segera kembali ke rumah lama Satria.


"Ya Allah, aku pusing..." Amayra menghela napas lelah setelah menjalani serangkaian acara aqiqah putranya. Ternyata banyak yang menghadiri acara itu membuat Amayra harus ikut menjamu tamu.


Sepasang tangan melingkar di perutnya dari arah belakang, "Astagfirullahaladzim!" pekik Amayra kaget.


Napas hangat berhembus di balik hijabnya, menembus leher Amayra. "Kak Satria?" Amayra sudah bisa menebak bahwa suaminya yang melakukan itu.


Mengapa aku marah? Mengapa aku kesal? Apa karena dia lebih baik dariku? Tidak, jelas aku lebih tampan.. aku lebih tampan dan aku adalah dokter yang hebat. Tapi..dia juga pasti akan menjadi dokter yang hebat.


Satria menyandarkan kepalanya pada bahu sang istri dengan wajah cemberut. Amayra memegang wajah suaminya, meraba-raba pipi Satria. "Kakak, ada apa?"


Satria langsung melepaskan pelukannya dari Amayra, dia merebahkan tubuhnya ke ranjang. Membalikkan tubuhnya dari Amayra.


"Kak? Kakak kenapa? Kakak sakit?" tanya Amayra cemas melihat suaminya tiba-tiba seperti itu.


"Kamu pasti senang sekali ya," ucap Satria dengan wajahnya yang ditekuk, bibir mengerucut.


"Apa?"


"Senangnya yang ketemu mantan," gerutu Satria disertai suara ketusnya.


"Kamu apa-apaan sih?" Satria mengernyitkan dahi ketika Amayra membalikkan tubuhnya. Dia mendengus kesal melihat istrinya.


Amayra melongo melihat suaminya tiba-tiba bersikap seperti orang yang sedang marah. "Kakak kenapa sih kak?"


"Gak apa-apa, aku cuma pusing aja," jawab Satria malas.


"Ya udah, aku ambil air minum dulu ya sama bawakan obat," ucap Amayra perhatian dan lembut seperti biasanya.


Satria menjawab dengan ketus,"Gak usah, aku mau tidur saja."


Kenapa kesalnya tidak menghilang juga?


"Jangan tidur sekarang dong kak, tanggung mau magrib," kata Amayra mengingatkan bahwa sebentar lagi memasuki waktu magrib.


Kak Satria kenapa sih?


Satria tidak menjawab pertanyaan istrinya. Amayra mengusap dadanya, kemudian dia mengambil segelas air dan obat sakit kepala untuk Satria.


"Kak, bangun.. minum dulu,"

__ADS_1


"Minum apa?" tanya Satria cuek.


"Minum obat," jawab Amayra sambil duduk disamping Satria.


"Siapa yang sakit?" Satria membalikkan tubuhnya dan melihat ke arah Amayra. Dia takut kalau istrinya yang sakit.


"Kakak kan bilang kalau kakak pusing," Amayra mengernyitkan dahi heran.


"Pusing ku gak bisa hilang sama obat," Satria masih terlihat kesal.


Amayra tersenyum dan bertanya ada apa dengan suaminya, apa yang membuat dia kesal. Satria malah diam saja. "Kakak kenapa sih? Apa aku ada salah?"


"Huhh.." Satria hanya mendengus dengan wajah kesal.


"Kak, kakak kenapa sih?"


Ya Allah.. suamiku kenapa?


Demi menenangkan suaminya yang kesal tanpa diketahui apa sebabnya. Amayra memberanikan dirinya mencium lembut pipi Satria. Pria itu terperangah dengan inisiatif istrinya yang bahkan tidak pernah dilakukan Amayra sebelumnya.


Cup


Kecupan manis telah mendarat di pipi Satria. Membuat pria itu bangkit dari ranjang dan duduk disana. "May..."


"Kakak sendiri yang bilang, kalau ada masalah harus selalu bilang kan? Nah sekarang apa masalah kakak? Kenapa kakak bersikap seperti ini padaku? Ayo bilang," Amayra mengintrogasi suaminya.


"Kamu sendiri, apa kamu tidak ada yang mau dikatakan padaku?" Satria malah bertanya balik saat ditanya.


"Tidak ada," Amayra menggeleng bingung.


"Ya sudah kalau tidak ada, aku juga tidak akan menjawab pertanyaan kamu," kata Satria malas dan sifat kekanak-kanakan malah mencuat dari pria berusia 25 tahun itu.


"Eh kenapa sih? Kakak marah kenapa? Aku gak ngerti.." Amayra memegang tangan suaminya, dia heran melihat Satria marah tidak jelas padanya.


"Kamu gak tau atau pura-pura gak tau?" Satria gemas ingin mengutarakan isi hatinya. Namun pria itu masih menggunakan kode yang tidak dimengerti Amayra.


"Aku beneran gak tau lho...kakak kenapa?" ucap wanita itu polos.


Baiklah, aku tidak bisa memendamnya lagi. Semuanya akan jelas kalau aku bicara sekarang.


Satria m engambil napas, dia menatap sang istri dengan tajam. "May, kamu gak akan bicara apa-apa soal mantan pacar kamu?"


"Apa?!"


Amayra tercengang mendengar pertanyaan, sekaligus sebab suaminya kesal. Satria menanyakan mantan pacar yang bahkan tidak pernah dia miliki?


...---****---...

__ADS_1


Mohon maaf readers untuk typo di bab ini, author lagi kurang mood 🤧🤧


Jangan bosan untuk Like dan komen okay? Makasih...


__ADS_2