
...🍀🍀🍀...
Bagai tersambar petir, itulah perasaan Nilam saat ini. Ketika dia mendengar dari mulut putra tersayangnya itu, bahwa dia lah yang memiliki kekurangan bukanlah istrinya, Diana.
"Bram...jangan bercanda kamu ya! Kamu mandul? Tidak mungkin, ini pasti salah...pasti istri kamu yang mandul!"
Nilam menolak percaya bahwa Bram yang tidak bisa memiliki keturunan dengan keadaannya. Disisi lain, Cakra, Amayra dan Satria melihat Bram yang menangis penuh emosional. Raut wajah Bram saat ini menyiratkan bahwa dia sama sekali tidak berbohong.
Bram menjawab dengan suara pelan kali ini. "Benar, aku yang mandul dan aku tidak bisa punya keturunan."
Rasa malu, harga diri yang terinjak-injak, hatinya yang seperti di sayat pisau. Bram merasakannya secara bersamaan.
"Tidak, ma...itu tidak benar! Diana yang punya kekurangan, mas Bram baik-baik saja. Diana yang salah ma, Diana yang tidak bisa memberikan keturunan untuk Mas Bram!" Diana tidak mau hati suaminya lebih terluka lagi dengan memberitahukan kebenaran yang pahit itu. Dia lebih memilih untuk melindungi suaminya dari rasa malu, dari aibnya, pikirnya lebih baik dia yang malu daripada suaminya.
Namun, hal yang dilakukan oleh Diana malah membuat harga diri Bram semakin terinjak-injak. Pasalnya, Bram merasa tidak berguna karena Diana sampai harus turun tangan untuk melindungi dirinya.
"Jangan bicara lagi Diana! Kamu mau harga diriku semakin terinjak-injak? Kamu mau aku semakin malu didepan semua orang? Sudah cukup berat aku mengatakan semua ini didepan semua orang dan kamu malah menambah lukaku!"
"Mas..."
Astagfirullah, aku tidak tahu bahwa mas Bram akan menjadi emosional seperti ini. Padahal aku hanya ingin melindunginya.
"Kalian semua puas? Aku yang MANDUL...aku! Aku kena KARMA!" Emosi Bram pecah, diantara sedih, kecewa dan marah pada dirinya sendiri.
"Istighfar, kamu Bram!" Cakra tidak menyangka bahwa Bram yang tenang, kini menjadi begitu emosional.
"Gak! Ini gak benar, Bram anakku...tidak mungkin. Pasti Diana yang mandul dan kamu berusaha melindunginya kan? Sebelumnya kamu dan Amayra punya Rey, bagaimana bisa sekarang jadi begini tiba-tiba?" Nilam memegang dadanya, dia tidak percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan oleh putranya. Akan tetapi, saat melihat raut wajah Bram dan Diana, Nilam yakin bahwa mereka berkata jujur.
Bram berjalan mendekati Amayra yang sedang berdiri disamping suaminya yang duduk di kursi roda. Tiba-tiba saja pria itu berlutut didepan kaki Amayra bahkan memegang telapak kakinya.
Sama orang terkejut melihatnya, termasuk Amayra. "Kak Bram...apa yang..."
"Kak, apa yang kakak lakukan?" Satria bertanya dengan keheranan melihat sang kakak berlutut dikaki Amayra.
"Mas...berdiri, mas..." Diana memegang tangan suaminya, seraya meminta Bram untuk berdiri. Namun, Bram malah menepis tangan Diana.
__ADS_1
Bram meneteskan air mata, dia memegang kaki adik iparnya itu. Matanya menatap Amayra dengan berlinang air mata. "Kak, apa yang kakak lakukan? Tolong berdiri kak!" pinta Amayra tidak enak dengan perlakuan Bram padanya.
"Amayra, mungkinkah hatimu belum ikhlas memaafkanku. Sekali lagi aku memohon maaf padamu, atas semua perlakuanku di masa lalu kepadamu. Aku melakukan dosa tidak termaafkan padamu, hingga aku mengalami semua balasan ini. Amayra...aku mohon maaf padamu.." Bram masih dalam posisi berlutut, kedua tangannya terkatup memohon maaf kepada Amayra.
Ucapan Bram membuka kembali luka lama antara Satria, Amayra dan Bram. Tiga orang yang pernah ribat cinta segitiga yang rumit dan dihubungkan oleh seorang anak.
"Kakak, cukup! Kenapa kakak malah mengungkit masa lalu dan Kakak seolah-olah menyalahkan istriku atas apa yang terjadi pada Kakak saat ini!" Seru Satria tidak suka dengan sikap Bram yang mengungkit masa lalu.
"Mas...tenangkan diri kamu mas." Diana memegang tangan suaminya, meminta Bram untuk tenang.
"Diana kamu diam! Aku akan meminta maaf sampai Amayra ikhlas memaafkanku." ucap Bram yang lalu memegang kedua kaki Amayra.
"Mas!" Teriak Diana sedih.
"Lepaskan kakiku kak Bram, aku mohon." ucap Amayra meminta Bram melepaskan kakinya, dia terlihat kesal dengan sikap Bram.
"Tidak! Aku akan tetap seperti ini sampai kamu memaafkanku dengan ikhlas!"
Cakra menarik tubuh Bram, dia memukul Bram untuk menyadarkan anaknya itu. Keadaan memang bisa membuat kalap, apalagi ketika seseorang berada dalam kesedihan seperti Bram saat ini. "SADARLAH kamu Bram! Walaupun memiliki masalah yang berat, kamu harus tetap tenang Bram. Istighfar, jangan menyalah artikan bahwa Ini semua adalah karma. Ingatlah bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluarnya," Cakra menatap anaknya dengan tatapan sedih, namun perkataannya menyemangati Bram.
Diana memeluk Bram seraya menenangkannya. Cakra meminta Diana untuk membawa suaminya ke dalam kamar, karena mereka perlu menenangkan pikiran setelah berita kurang menyenangkan itu. Diana dan Bram pun menaiki tangga menuju ke lantai atas, ke kamar mereka.
Nilam masih syok dengan apa yang dia dengar dari Bram, pengakuan bahwa anaknya mandul sangat memukul batinnya. "Ma..."
"Bram...gak mungkin... keluarga Calabria, perusahaan...bagaimana nasibnya kalau Bram tidak bisa punya keturunan?!" Nilam memegang kepalanya, dia tampak frustasi.
Cakra kesal lalu dia menampar istrinya.
Plakkk!
"Papa, kenapa papa menampar mama?" tanya Nilam sambil memegang pipinya yang baru saja terkena tangan melayang suaminya.
"Anak kesayangan kamu lagi bersedih, dia sedang berduka karena vonis dokter. Lalu... kamu malah memikirkan yang tidak-tidak? Bukannya menghibur dia dan istrinya!! Nilam, kamu memang tidak pernah sadar ya!" Cakra mendesah, dia amat kecewa dengan istrinya yang tidak pernah berubah setelah mendapatkan beberapa peringatan dari Allah. "Nilam, tobatlah! Sebelum kamu kena azab!"
Cakra kesal dan meninggalkan istrinya disana, dia tidak peduli dengan Nilam. Nilam jatuh terduduk sambil menangis.
__ADS_1
Tidak boleh begini, kalau Bram anakku tidak bisa memiliki keturunan. Lalu nanti, pasti anak Satria dan Amayra yang akan mewarisi perusahaan Calabria. Aku tidak sudi, kalau kalau anak dari anak tiriku yang akan mewarisi perusahaan.
Amayra dan Satria kembali ke kamar mereka, tiba-tiba saja Amayra menangis seketika dia duduk diatas ranjang. "Sayang..."
"Kasihan kak Diana dan kak Bram, mas...hiks."
Jadi Amayra menangis karena kasihan pada kak Bram dan kak Diana, aku pikir dia menangis karena teringat luka lama dan Alma Rey.
Satria mengusap air mata istrinya dengan kedua tangannya yang lembut. "May, sayang...aku juga kasihan pada mereka tapi kita gak bisa berbuat apa-apa selain mendukung mereka dan berdoa. Mungkin ini ujian cinta, rumah tangga untuk mereka berdua agar hubungan menjadi lebih kuat."
"Aku gak bisa bayangkan bila aku berada di posisi kak Diana, dia juga pasti sangat terluka. Tapi apa yang kamu katakan benar mas, kita gak bisa bantu selain doa dan dukungan."
"Iya sayang, kamu jangan nangis lagi ya. Nanti twins ikut nangis karena mamanya nangis. Kita doakan saja yang terbaik untuk kak Bram dan kak Diana." Ucap Satria bijaksana.
Satria memeluk istrinya dengan lembut seraya menenangkannya. Dia berdoa dengan tulus agar Bram dan Diana menemukan jalan keluar untuk masalah mereka.
******
1 Minggu kemudian, keadaan Bram sudah menjadi lebih tenang namun tidak dengan Nilam yang kini jarang terlihat makan bersama keluarga. Dia terlihat sangat galau dan kecewa dengan anaknya.
"Mama kamu mana?" Tanya Cakra pada Diana yang dia suruh untuk memanggil Nilam.
"Mama katanya mau makan di kamar, pah." ucap Diana pada papa mertuanya.
"Mama lagi-lagi gak ikut makan...ahh.." Cakra mendesah kesal. Dia pun meninggalkan meja makan sebelum menyelesaikan makan malammya.
Bram dan Diana terlihat kosong, setelah makan malam yang tidak menyenangkan itu. Mereka berdua kembali ke kamar, tiba-tiba saja Bram memberikan sebuah dokumen dari map berwarna merah.
"Apa ini Mas?"
"Baca saja." jawab Bram sambil mengancingkan kancing piyama tidurnya.
Diana membuka dokumen itu dan membaca apa isinya. Kedua matanya melebar melihat isi dokumen itu. "Astagfirullah Mas...kamu mau menceraikan aku?!" Diana beranjak dari tempat duduknya, dia terlihat marah.
Bram tak sanggup menatap mata Diana, dia memalingkan wajahnya lalu berkata. "Ya, tandatangani surat itu."
__ADS_1
...*****...