
...πππ...
Terhenyak hati Nilam, saat dia melihat anak yang selalu dia caci maki rela mengorbankan nyawa untuknya. Muin segera menolong Rey yang terluka, dia menggendong Rey dengan panik.
Kenapa? Kenapa anak ini membantuku? Padahal aku kan sudah berbuat dzalim padanya. Nilam mengepalkan tangannya dengan gemas.
"Nyonya, kita harus membawa den Rey ke rumah sakit! Tangannya berdarah-darah...ya Allah."
"Saya gak apa-apa pak, Oma...Oma..." Rey terlihat menahan sakit, disaat dalam keadaan setengah sadar. Rey hanya memikirkan keadaan Nilam.
"Iya, ini Oma...Rey." ucap Nilam sambil melihat Rey yang terlihat berkeringat dan kesakitan itu.
"Oma gak apa-apa? Apa Oma luka?" Rey menatap Nilam dengan cemas.
Tanpa dia sadari, air mata Nilam menetes melihat kebaikan hati anak itu padanya. Entah apa karena rasa bersalah didalam dirinya pada Rey.
Ya Allah, apa yang telah aku lakukan? Aku telah dzalim kepada anak yang baik ini. Sungguh, hatinya sangat besar walau dia masih kecil. Astagfirullah, ya Allah...
"Oma..." lirih Rey memanggil Nilam.
"Oma gak apa-apa Rey, Oma gak terluka kok. Pak Muin ayo kita ke rumah sakit," ucap Nilam sambil menangis, dia memegang tangan kecil Rey.
"Alhamdulillah...Oma gak apa-apa." Rey jatuh tidak sadarkan diri didalam gendongan Muin.
Nilam dan Muin panik melihat kondisi Rey, wajah anak laki-laki itu sangat pucat. Darahnya bercucuran ke lantai. Nilam dan Muin membawa Rey pergi ke rumah sakit, didalam perjalanan Nilam lah yang memeluk Rey.
Dia sangat mencemaskan keadaan Rey, dia bahkan meminta Muin untuk mempercepat laju mobilnya itu. "Pak Muin cepetan dong pak!"
"Iya nyonya, ini saya sudah ngebut." ucap Muin menjawab dengan tangan yang masih sibuk memegang setir kemudi.
"Ya Allah...Rey...sadarlah nak, Oma minta maaf...Oma minta maaf nak." Nilam memeluk Rey sambil menangis.
Apakah dia menyesali semua perbuatannya pada Rey setelah ini?
Sesampainya di rumah sakit, Rey langsung dilarikan ke ruang UGD. Dokter segera menangani Rey, sementara Nilam menunggu di luar ruang UGD itu. Tangannya berlumuran darah Rey, dia menangisi Rey dan dia menyesal telah mendzalimi anak itu.
"Nyonya..."
"Pak Muin, kamu pulanglah dan beritahu orang rumah kalau Rey ada di rumah sakit."
"Baik nyonya, tapi apakah nyonya tidak akan ikut pulang bersama saya?" tanya Muin pada majikannya itu.
"Apa kamu tidak punya pikiran? Mana bisa aku membiarkan cucuku sendirian disini, dia terluka karenaku!" Kata Nilam sambil duduk di kursi, wanita paruh baya itu masih menangis.
Muin tercengang mendengar Nilam memanggil Rey sebagai cucunya. Apa ini adalah sebuah pengakuan?
Muin langsung pergi dari rumah sakit dan pulang ke rumah. Muin memberitahu semua orang bahwa Rey ada di rumah sakit, semua orang di rumah Calabria terkejut saat mendengarnya.
"Apa Rey di rumah sakit bersama istriku?!" Cakra terkejut mendengar penjelasan Muin.
"Mas...Rey, ayo kita pergi ke rumah sakit!" Ajak Amayra pada suaminya. Amayra berada dalam posisi duduk sambil menggendong Zayn.
"Sayang, kamu tenang dulu. Biar aku sama papa yang ke rumah sakit, kamu di rumah saja sama kak Diana." Kata Satria kepada istrinya.
"Tidak, aku harus ikut ke rumah sakit! Rey adalah anakku, aku harus melihat keadaannya. Satria, kamu di rumah saja sama Amayra dan si kembar." Kata Diana cemas mendengar kabar tentang Rey.
__ADS_1
"Kak Diana, aku juga ikut ya.." ucap Bima yang juga cemas dengan keadaan Rey.
"Ayo Bim,"
"Maafin aku ya, aku harusnya kasih tau kalian sejak awal kalau aku tau dimana Rey. Maaf banget," ucap Bima memohon maaf.
"Gak apa-apa Bim, yang penting Rey udah ketemu." ucap Diana yang sama sekali tidak menyalahkan Bima.
Cakra, Diana dan Bima pergi ke rumah sakit untuk melihat kondisi Ray. Tak lupa Diana memberitahu suaminya bahwa anak mereka masuk rumah sakit. Bram pun segera memutar setir ke arah rumah sakit untuk menemui Rey.
πππ
Sesampainya di rumah sakit, Diana, Cakra dan Bima melihat Nilam sedang berbicara dengan seorang dokter.
"Dok, bagaimana keadaan cucu saya?" Tanya Nilam pada dokter itu, wajahnya terlihat cemas.
Diana, Cakra dan Bima tercengang mendengar pertanyaan Nilam pada dokter yang mengakui bahwa Rey adalah cucunya.
Apa aku salah dengar? Mama bilang kalau Rey adalah cucunya?
"Alhamdulillah, keadaan cucu ibu baik-baik saja. Saya sudah menjahit luka robek di tangannya, beruntung tidak sampai mengenai urat nadinya yang bisa membahayakan nyawa. Namun, untuk sementara waktu...tangan cucu ibu harus benar-benar dijaga. Tidak boleh melakukan banyak gerakan dan harus banyak beristirahat." jelas dokter pria itu kepada Nilam.
"Syukurlah, terima kasih dokter." ucap Nilam sambil menangis.
Penjelasan dari dokter juga didengar oleh Diana, Bima dan Cakra yang ada disana. Mereka tidak percaya bahwa Nilam sudah mengakui Rey sebagai cucunya.
"Kalian? Kalian sudah datang?" Nilam menyeka air matanya, dia baru menyadari bahwa tiga orang itu ada dibelakangnya.
"Iya ma, kami sudah datang." Jawab Diana.
"Ma, kenapa mama diam saja? Ayo masuk ma," ajak Cakra pada istrinya yang hanya berdiri diam didepan ruangan.
Nilam tak memiliki keberanian untuk masuk ke dalam ruangan itu, dia malu karena diselamatkan oleh anak yang selalu dia dzalimi. "Ma..."
"Bagaimana bisa mama begitu tidak tau malu, pa? Bagaimana bisa mama masuk ke dalam ruangan Rey, apa mama masih punya muka untuk melihat keadaannya?" Nilam masih memiliki rasa malu pada Rey, dia tidak berani melihatnya.
"Ma...bukankah lebih baik kalau kita melihat Rey ke dalam? Dia pasti senang kalau mama melihatnya,"
"Apa dia akan senang?" Nilam meragukan hal itu.
"Tentu saja, Rey kan sayang sama mama. Buktinya Rey sampai bertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan mama. Bukankah mama harus meminta maaf pada Rey, atas semua perlakuan mama selama ini?" Cakra menasehati Nilam dengan perhatian.
"Papa benar, tapi mama malu...pa." Nilam menundukkan kepalanya tidak percaya diri.
"Jadi mama gak akan minta maaf sama Rey?" Cakra melihat raut wajah istrinya itu.
"Bukan gitu pa, mama takut kalau Rey tidak mau menerima maaf mama." ucap Nilam sambil menunduk.
Setelah beberapa patah kata yang diucapkan Cakra padanya, akhirnya Nilam berani masuk ke dalam ruangan itu. Terdengar suara Diana dan Bima yang mencemaskan Rey, anak itu juga sudah siuman dengan kondisi tangan kanan si gips.
"Oma...maksud aku Bu Nilam." Rey memanggil Nilam yang berada di dekat pintu ruangan.
Wanita paruh baya itu bersembunyi dibalik tubuh suaminya. "Rey, ini Oma mau lihat keadaan kamu...dia sangat mencemaskan keadaan kamu." ucap Cakra sambil tersenyum pada Rey.
Nilam langsung berlari menghampiri Rey, dia memberanikan dirinya melawan rasa malu. "Bu Nilam, ibu gak apa-apa?" tanya Rey sambil menatap wanita paruh baya yang menangis didepannya itu. "Mama, Bu Nilam menangis...apa Bu Nilam terluka, ma?" tanya Rey pada Diana.
__ADS_1
"Gak Rey, Oma gak apa-apa..." jawab Nilam sambil menangis.
"Lalu kenapa Bu Nilam menangis?" Tanya Rey dengan mata polosnya yang tidak dibuat-buat. Nilam masih menangis dan menatap tangan Rey yang terluka itu.
Ya Allah, apa yang aku lakukan selama ini? Mengapa aku begitu kejam kepada anak ini hanya karena kami tidak punya ikatan darah.
Di dalam Al Qur'an bahkan disebutkan bahwa kita tidak boleh dzalim kepada orang lain. Firman Allah SWT dalam Alquran: βSesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kezaliman, Allah tidak akan mengampuni mereka, dan tidak (pula) akan menunjukkan kepada mereka (jalan lurus.β (QS An-Nisa: 168).
Nilam sudah dzalim pada Rey dan dia sudah berdosa besar dengan menghardik anak yatim seperti yang tertulis di dalam Surat Ad-Dhuha ayat 9 yaitu βSebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang,"
Nilam memegang tangan kiri yang kecil itu, dia menangis lalu memohon maaf kepada Rey atas semua perlakuan Nilam selama ini padanya. "Maafkan Oma ya nak, Oma sellau memandangmu sebelah mata...mulai sekarang kamu boleh panggil Oma sesuka hatimu, karena kamu adalah cucu Oma. Kamu mau kan jadi cucu oma?"
Semua orang yang ada disana terharu mendengar kata-kata tulus Nilam yang disertai dengan air mata yang membasahi wajahnya. Bram yang baru datang juga ikut mendengarkan ucapan maaf ibunya pada Rey. Dia tidak menyangka keras kepala mamanya akan runtuh oleh kemuliaan hati anak yatim itu.
"Apa aku boleh menjadi cucu Oma?" Rey meminta izin, matanya berkaca-kaca menatap Nilam.
Nilam mengangguk dan dia tersenyum, "Kamu memang cucu Oma nak, kamu cucu Oma!"
Rey dan Nilam berpelukan, sebagai tanda bahwa telah terjadi rekonsiliasi diantara mereka. Hubungan mereka menjadi semakin dekat, layaknya cucu dan nenek.
πππ
Setelah itu keadaan mulai membaik, semua keluarga Calabria terlihat bahagia. Rey sudah diterima oleh semua orang disana dan dia sayang disayang oleh Nilam. Diana dan Bram juga sangat bahagia karena Rey bisa mendapatkan hati Nilam yang keras seperti batu itu.
Amayra dan Satria juga bahagia dengan keluarga kecil mereka, setelah kembali ke rumah mereka sendiri. Tak terasa waktu pun berlalu, Amayra tinggal enam bulan lagi akan lulus kuliah.
Pagi itu, Amayra sudah sibuk menyiapkan keperluan suaminya dan si kembar. "Aduh... ternyata ribet juga ya kalau gak ada bi Dewi dan si kembar dua duanya bangun. Zahwa kebiasaan banget suka bikin kakak nya bangun, jadi bangun dua-duanya deh." ucap ibu dua anak itu menggerutu sambil menyiapkan sarapan di meja makan usai memasak.
"Kenapa sih sayang? Dari tadi udah ngomel terus," Satria datang lalu mengecup pipi istrinya dengan lembut. Pria itu sudah berpakaian rapi.
"Hem...tau lah mas," jawab Amayra sambil cemberut.
"Zahwa buat rusuh lagi ya?" tanya Satria pada istrinya.
"Itu kamu tau mas. Kalau udah bangun Zahwa, udah deh...haihhh...benar kata temanku nikmatnya jadi ibu terasa banget saat mengasuh anak kembar." ucap Amayra sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat Zahwa dan Zayn sedang duduk di kursi bayi dengan makanan yang ada didepan mereka.
Terlihat Zahwa tampak aktif mencoba memakan buburnya sendiri hingga wajahnya belepotan, kini usia si kembar sudah 6 bulan.
"Apa kamu mau sewa jasa baby sitter aja?" usul Satria sambil mengusap noda di wajah Zahwa.
"Gak boleh mas, pendidikan terbaik seorang anak adalah pendidikan yang diberikan orang tuanya." Amayra menolak usul suaminya untuk menyewa jasa baby sitter.
"Tapi kamu kerepotan sayang, bentar lagi kamu ngajar magang kan?" Tanya Satria pada istrinya.
"Iya mas, aku bisa titip si kembar sementara kok sama bi Dewi atau mama. Tapi aku kadang gak enak sih," gumam Amayra bingung dengan jadwalnya yang semakin padat menjelang satu semester kuliahnya.
"Ya terus gimana?" Satria bertanya pada Amayra. "Sayang, pelan-pelan makannya..."
"Bwubwuuuu..bwaaa...bwaa..." Zahwa, bayi mungil itu tertawa-tawa sambil memukul-mukul Zayn yang duduk disampingnya.
"Huuhhh....Owaaa...." Zayn yang tadinya anteng, jadi menangis karena diganggu oleh Zahwa.
"Aduh Zahwa, kakakmu jangan digangguin gitu dong." ucap Satria sambil tersenyum melihat gemasnya Zahwa dan Zayn.
"Mirip siapa sih dia? Ya Allah!" Amayra menepuk jidat, kelimpungan dia dengan tingkah Zahwa. Sementara Satria hanya tertawa menikmati pemandangan itu.
__ADS_1
...*****...