
...🍀🍀🍀...
Satria memegang tangan istrinya yang menutupi setengah wajahnya. Dia tidak mengerti apa maksud Amayra dengan matanya mirip dengan dia. Siapa dia?
"Mataku mirip dengan dia? Siapa dia, sayang?" tanya Satria sambil menatap istrinya dengan kening berkerut.
"Mas jangan salah paham...aku melihat seseorang yang mirip dengan Mas Satria, tapi matanya doang." wanita itu menjelaskan agar Satria tidak salah paham.
"Hem, jadi begitu ya? Lalu siapa si dia yang kamu maksud ini May?" tanya Satria masih penasaran dengan sosok si dia ini.
Amayra menjawab dengan cepat tanpa jeda. "Dia orang nyebelin yang menyelamatkan aku dan si kucing saat mau ketabrak mobil!"
Ah! Aku bilang apa barusan? Ya Allah.. astagfirullahaladzim..aku keceplosan!
Satria tercengang, matanya melebar menatap sang istri. "Apa? Kamu mau ketabrak mobil?!"
"Ah...enggak, Mas salah dengar. Ku-kucing yang mau ketabrak mobil, ku-kucing!"
"Barusan aku dengar dengan jelas kata menyelamatkan aku dan si kucing! Hayo, jangan bohong...apa yang terjadi tadi siang?" Satria mencubit hidung Amayra dengan gemas.
"Kucing tadi mau ketabrak terus...terus..." Amayra memutar-mutar matanya dengan bingung.
"Terus apa? Kalau kamu gak bilang, aku tanya sama Lisa atau pak Sandy!" ancam pria itu pada istrinya.
"I-iya deh aku bilang...tapi lepasin dulu cubitannya dong," pinta wanita itu dengan suara yang manja.
Satria melepaskan tangannya dari hidung Amayra. "Bilang!" kata Satria tegas.
"Niatnya tadi aku mau menyelamatkan kucing kecil yang lagi nyeberang, terus aku gak lihat jalan. Mobil melaju kencang ke arahku, lalu ada seorang pria menyebalkan yang menolongku. Aku juga gak tau siapa,"
"Hah! Sayang, lagi-lagi kamu ceroboh. Untung saja ada pria itu yang menyelamatkan kamu, kan? Kalau tidak...sudah pasti kamu dan anak kita kenapa-napa."
"Tapi aku sebal sama cowok itu, dia marah-marah sama aku dan dia bilang aku bego! Kasar banget orangnya, aku kesal pokoknya."
"Beneran dia bilang gitu?"
"Iya, aku sebel." Amayra menundukkan kepalanya dengan wajah cemberut.
"Kalau aku jadi dia aku juga akan marah!"
"Kenapa kamu marah sama aku?" Amayra keheranan.
__ADS_1
"Karena kamu ceroboh dan tidak bisa menjaga diri sendiri dan anak kita, tentu saja aku akan marah. Jadi, lain kali jaga diri kamu baik-baik May! Aku gak mau sampai hal ini terulang kembali," ucap Satria menegaskan.
"Insya Allah, mas."
"Jangan insya Allah, tapi ini harus! Kamu harus jaga diri kamu dan anak kita baik-baik. Aku bukannya marah sama kamu sayang, aku khawatir. Bisa kan kamu gak buat aku cemas?" tanya Satria sambil menyentuh kening Amayra dengan keningnya.
Kedua mata pasangan suami istri itu saling bertatapan. Amayra pun mengangguk patuh pada suaminya. "Ya sudah, kamu siap kan makanan untukku ya sayang. Aku mau mandi dulu," ucap Satria sambil mengelus kepala Amayra dengan lembut.
"Iya Mas, aku siapkan dulu ya! Oh ya, mas..apa kamu mau teh hangat juga?"
"Boleh sayang, tapi jangan pakai gula ya." Satria mengedipkan sebelah matanya. Tangannya mengambil handuk yang ada di atas sofa.
"Kenapa? Biasanya kamu suka pakai gula?" Amayra keheranan dengan kening berkerut.
"Karena lihat kamu aja udah manis kok,"
Amayra tercengang mendengar ucapan Satria,pria itu menggombal dan melontarkan kata-kata manis kepadanya. Dia dibuat baper dan melayang lagi oleh Satria.
"Mas...kamu apaan sih?"
Satria mengecup kening Amayra dengan mesra. "Udah gak kesel lagi kan?"
"Sayang, kamu jangan lupa bahwa Rasulullah terkenal dalam mencuri hati Aisyah. Ketika sang istri sedang merasakan kemarahan, maka beliau akan meredakan kemarahan itu dengan cara yang intim dan romantis. Cium kening adalah salah satunya," jelas Satria pada istrinya.
"Iya Mas, kamu memang sudah meredakan kemarahanku. Bahkan kamu sudah menggetarkan hatiku," ucap Amayra sambil tersenyum penuh kasih sayang pada suaminya.
Setelah Amayra dan Satria bersiap untuk tidur. Tiba-tiba saja Amayra membahas tentang kemping di kampusnya dalam rangka acara perkumpulan mahasiswa. "Mas..."
Sepertinya aku harus membujuk Mas Satria dulu supaya aku diizinkan ikut kemping.
"Ya?"
Amayra memijat kaki suaminya dengan lembut dan perhatian. Ketika Satria sedang membaca beberapa kertas, pria itu memakai kacamatanya. "Mas, tampan deh.. walaupun pakai kacamata!"
"Iya aku emang tampan kok," ucap Satria sambil tersenyum tipis.Dia merasakan pijatan dari istrinya itu.
"Mas.."
"Apa sayang? Bukannya aku sudah suruh kamu tidur duluan. Apa ada makanan yang kamu mau?" tanya Satria yang masih fokus melihat dokumen di tangannya.
"Gak ada kok," Amayra memijat kaki suaminya semakin lembut dan halus. Berusaha senyaman mungkin menyentuh kaki suaminya.
__ADS_1
"Terus kenapa belum tidur? Ini udah lewat jam sepuluh malam. Gak baik ibu hamil begadang,"
Amayra lagi datang manjanya, kalau dia lagi baik kayak gini pasti ada sesuatu yang sangat dia inginkan.
"Mas, sebenarnya aku mau minta izin.." suara Amayra pelan.
Suara pelan itu terdengar oleh Satria, "Izin apa?"
"Kan...dikampus ada acara perkumpulan mahasiswa. Semua orang ikut ke acara itu dan aku belum pernah ikut, nah untuk acara kali ini aku mau ikut. Tapi, tentu saja kalau mas mengizinkannya."
"Selama acaranya tidak membahayakan kamu dan anak kita, aku pasti mengizinkan. Tentu saja tetap, kamu harus dikawal sama pak Sandy." kata Satria tegas.
Alhamdulillah kalau mas Satria setuju. Kemping kan gak berbahaya.
"Tapi mas, untuk acara kali ini kayanya pak Sandy gak bisa ikut deh." kata Amayra sambil berfikir.
"Loh? Kenapa gak bisa?" Satria menyimpan dokumen ke atas meja, dia membuka kacamatanya juga dan mulai memperhatikan apa yang Amayra ucapkan.
"Iya, soalnya kan aku pergi ke Bogor."
"Bogor? Mau apa kamu ke Bogor, May?" Satria tercekat.
"Aku kan mau kemping ke Bogor, mas."
Satria menepuk jidatnya, "Astagfirullah.. jadi acara perkumpulan mahasiswanya ke Bogor? Kemping? Terus kamu mau ikut dengan kondisi seperti ini?"
Amayra mengangguk, "Kalau Mas gak sibuk, mas ikut aja. Oh ya, Anna, Lisa sama yang lainnya juga ikut kemping ke Bogor."
"Maaf May, aku gak izinkan." Satria menolak tegas permintaan Amayra yang ingin pergi kemping ke Bogor.
"Apa? Bukankah barusan Mas bilang, mas setuju." Amayra menatap tajam ke arah Satria.
Kalau mas Satria gak mengizinkan gak apa-apa deh. Aku kan harus patuh sama suami.
"Apa sih yang kamu pikirkan disaat begini? Kamu tuh lagi hamil, masa kamu mau kemping jauh ke Bogor? Astagfirullah.. aku gak habis pikir sama kamu, bisa-bisanya kamu mau pergi ke Bogor buat kemping? Dimana pikiran kamu, sih?"
Tanpa sadar, Satria yang lelah bercampur kesal jadi marah pada istrinya itu. "Ya udah kalau mas gak izinin gak apa-apa..aku gak akan ikut karena aku gak bisa pergi tanpa izin suami. Tapi kenapa mas harus ngomong kayak gini sih? Ya, aku emang gak punya pikiran dan aku gak tau pikiran aku ada dimana!"
Amayra langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut. Satria menatap punggung sang istri yang membelakanginya.
...----*****---...
__ADS_1