Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 187. Amanah masih terjaga


__ADS_3

Satria duduk disamping Amayra, dia memegang tangan istrinya. "Alhamdulillah kamu dan anak kita baik-baik saja sayang... terimakasih ya Allah.. engkau masih memberikan amanah ini kepada kami." Tak hentinya Satria mengucap syukur karena Amayra dan bayi mereka yang belum lahir dalam keadaan selamat walau kondisinya lemah.


Tangan Satria mengelus kepala Amayra yang ditutupi oleh hijab instan berwarna biru langit itu. Dia mengelusnya dengan penuh kasih sayang. Matanya kemudian beralih pada perut datar sang istri. Dimana ada kehidupan didalamnya, Satria memegang perut itu dengan hati-hati.


Tiba-tiba saja terlintas dipikirannya, ingatan tentang Amayra yang pernah hamil sebelumnya. Kehamilan pertamanya, saat wanita itu mengandung Rey.


"Maafin papa ya Rey....papa Satria hampir saja kehilangan adik kamu. Papa janji akan menjaga adik kamu dengan baik, Rey doakan papa ya nak. Doakan Mama dan adik Rey yang belum lahir ini, semoga semua selamat dan sehat." Gumam Satria sambil tersenyum mengingat Rey yang sudah berada ditempat yang indah dan terbaik disisi Allah.


Setelah menyelesaikan urusan mereka, Bram dan Diana mengunjungi Amayra dan Satria di ruang rawat.


"Satria, kamu jangan khawatir..aku sudah mengatur orang untuk menangkap orang gila itu. Sementara ini, kamu dan Amayra menginap saja dulu di rumah. Biar Amayra banyak yang jaga," ucap Bram seraya menenangkan adiknya itu.


"Iya kak, makasih banyak bantuannya." Satria tersenyum lembut.


Diana bertanya pada Satria tentang si peneror itu, "Oh ya.. Sat, apa kamu punya praduga? Siapa orang yang punya dendam sama kamu?"


"Clara," jawab Bram dan Satria kompak. Kecurigaan mereka pada wanita itu sangatlah besar.


Tidak heran, mereka memang kakak dan adik walau memiliki ibu yang berbeda. Diana tersenyum mendengar kekompakan mereka.


"Clara ya? Bisa jadi sih, soalnya dia kan gak suka sama kamu dan Amayra. Waktu di pemakaman Rey aja dia berani mengacau. Kalau memang benar dia pelakunya, kita gak bisa tinggal diam."


"Tentu saja, aku tidak akan bersabar dan mentolerir lagi kesalahannya...jika memang dia terbukti melakukan ini. Aku akan membuat dia mendapatkan hukuman yang pantas karena dia sudah membuat Amayra dan anak kami hampir celaka." Satria tersenyum menyeringai. Dia tidak terima dengan apa yang terjadi pada Amayra.


"Benar Sat. Jika aku jadi kamu, aku mungkin akan membunuh orang yang sudah melukai istriku. Apalagi saat istriku lagi hamil," ucap Bram yang setuju dengan Satria.


Bicara tentang hamil dan mendengar kata hamil, membuat raut wajah Diana sedih. Hatinya terhenyak tanpa alasan yang jelas.


"Mas, sebaiknya kita segera pulang. Ini sudah malam."


"Oh ya benar, ini sudah sangat malam. Sat, aku pamit pulang dulu ya." Kata Bram sambil menepuk bahu Satria.


"Iya kak, makasih kak Diana dan kak Bram karena kalian sudah banyak membantuku dan May." Satria tak lupa berterima kasih pada kakak dan kakak iparnya yang sudah banyak membantu dirinya dan Amayra.


"Oke, aku sudah menempatkan orang-orang di sekitar kamu juga di rumah sakit ini. Mereka akan bergerak kalau ada seseorang yang mencurigakan." jelas Bram pada Satria.


"Makasih.."


Pasangan suami-istri itu pergi dari rumah sakit dan kembali ke rumah mereka. Sesampainya didalam kamar, Diana terlihat tidak fokus dan sedih.


"Sayang, kenapa? Kok kamu belum tidur?" Tanya Bram pada istrinya yang masih terjaga sambil duduk diatas ranjang.


"Aku belum ngantuk, Mas." jawab Diana lemas.


Bram memeluk istrinya dengan mesra,"Ada apa sih sayang? Aku perhatikan.. sepulang dari rumah sakit, kamu kelihatan galau." Bram merasakan ada hal yang aneh dengan istrinya sepulang dari rumah sakit.


"Aku gak apa-apa Mas, hanya lelah saja dengan pekerjaan di rumah sakit."


"Benar gak apa-apa? Bukan karena aku selalu pulang malam akhir-akhir ini?" bibir Bram berbisik ditelinga Diana. Hubungan keduanya slalu mesra, seperti pengantin baru. Sudah hampir 3 bulan mereka menikah.


"Nggak lah, Mas!" sanggah Diana.


"Terus kenapa? Kamu kayak galau gitu sih.."


Diana terdiam sejenak. Kemudian dia mulai bicara, "Ehm...Mas.."

__ADS_1


"Hem, apa?" sahut Bram seraya menoleh ke arah istrinya.


"Apa Mas ingin... kita punya anak sekarang?" Tanya Diana dengan suara sedikit ragu.


Bram membalikkan tubuh istrinya, hingga mereka berhadapan. Kening Bram mengerut, "Anak? Kenapa kamu tiba-tiba tanya soal ini, sayang?"


Tiba-tiba saja Diana membahas soal anak, padahal selama ini dia diam saja.


"Aku hanya tanya saja Mas...apa kamu pengen kita cepat punya anak?" Diana bertanya lagi pada suaminya.


"Sejujurnya, aku gak buru-buru. Aku masih ingin menikmati masa berdua kita, kita kan menikah dalam hitungan kayu yang cukup cepat. Dan kita gak sempat pacaran, aku juga ingin seperti anak muda. Pacaran setelah menikah, jadi... jawabannya.. aku tidak buru-buru. Tapi, kalau Allah sudah memberikan kita kepercayaan untuk memiliki seorang anak...tentu saja aku bahagia dan akan menyambutnya dengan senang hati."


Diana tersenyum lega mendengar jawaban suaminya. "Lalu, kamu sendiri gimana? Apa kamu ingin kita segera punya anak?"tanya Bram pada istrinya.


"Jawabannya sama kayak jawaban kamu Mas." jawab Diana sambil tersenyum.


"Oke, jadi yang buat kamu galau udah beres kan? Gimana kalau kita tidur aja sekarang, besok kita harus beraktivitas seperti biasa." Bram membaringkan Diana disampingnya.


"Iya sayang. Besok aku juga mau periksa keadaan Mayra."


"Hem...iya, kamu harus pastikan dia dan bayinya baik-baik saja ya." Bram menyelimuti tubuh Diana dengan selimut hangat, kemudian satu tangannya memeluk tubuh istrinya.


"Iya Mas,"


Diana dan Bram tidur bersama. Sementara Satria berada di rumah sakit menunggu istrinya. Lalu bagaimana dengan Clara?


Malam itu Clara mendatangi Iman secara diam-diam. "Bu Clara, maaf saya tidak bisa mengerjakan pekerjaan seperti ini! Saya tidak mau terlibat dengan polisi!" Iman menolak kerjasama dengan Clara.


Aku pikir wanita ini waras, ternyata dia tidak waras. Dia menyiksa wanita hamil.


"Maaf, berapapun uang yang ibu berikan ada saya. Saya tidak bisa melakukan ini lagi," Iman terlihat ketakutan, apalagi saat dia tau kalau Satria akan membawa kasus ini ke kantor polisi. "Maafkan saya juga karena rekaman video CCTV itu.. belum sempat saya hapus. Salinan rekamannya dibawa oleh dokter Satria."


"APA?!! Gimana bisa begini?!" Teriak Clara emosi. Dia pun mengeluarkan pisau kecil dari tasnya. Dia menodongkan pisau itu pada Iman. "Bapak sangat tidak becus! Karena bapak sudah terlibat dengan saya, bapak tidak boleh mundur! Bapak harus melakukan perintah saya!"


"Ka-kamu sudah gila ya? Kamu mengancam saya?" Iman merasa ada yang tidak beres dengan Clara.


"DIAM! Kalau bapak tidak mau kita berakhir di penjara, maka bapak harus lakukan perintah saya!" Clara masih menodongkan pisaunya pada leher pak Iman.


"Atas dasar apa saya harus menuruti perintah kamu?"


"Karena bapak terlibat dengan saya, kalau saya tertangkap.. saya juga akan menyeret bapak, karena bapak adalah orang yang bekerjasama dengan saya membobol rumah itu!" Clara mengancam Iman. "Ah ya...dan kalau bapak dilaporkan, gimana sama anak dan istri bapak? Kalau bapak bekerjasama dengan saya, bapak bisa mendapatkan banyak uang untuk anak dan istri bapak. Bukankah anak bapak sedang sakit gagal ginjal? Pasti biaya perawatannya mahal.. saya bisa bantu bayar semuanya, tapi bapak jangan pernah hentikan kerjasama kita!"


Iman berada didalam dilema, dia butuh uang yang banyak untuk anaknya yang operasi ginjal. Berapa gaji yang dia terima sebagai Satpam? Darimana lagi dia mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu yang cepat? Sedangkan anaknya membutuhkan banyak uang untuk pengobatan.


"Baik.. apa yang harus saya lakukan selanjutnya?" Iman akhirnya setuju dengan bujukan Clara.


"Nah...gitu dong pak dari tadi. Jadi saya gak usah banyak omong. Karena saya sudah ketahuan dan keadaan saya tidak aman untuk keluar masuk kompleks ini, saya ingin bapak yang melanjutkan tugas saya."


"Tugas apa itu Bu? Saya.. tidak bisa membunuh orang!" Iman sudah berpikiran bahwa tugas yang akan diberikan Clara adalah membunuh.


"Bukan membunuh kok. Cuma mencelakai saja, saya mau wanita hamil itu kehilangan bayinya." Clara tersenyum menyeringai, dia memberikan cek 50 juta untuk Iman.


Bagi Clara yang segitu bukanlah uang yang besar. Karena Clara berasal dari keluarga kaya dan memiliki banyak harta. "Saya akan berikan sisanya kalau bapak sudah melakukan apa yang saya suruh. Dan selalu angkat telpon dari saya."


Iman menelan ludah, dia sudah tidak bisa kembali ke jalan yang benar. Dirinya sudah terjebak oleh uang yang diberikan Clara. "Baik Bu,"

__ADS_1


*****


Keesokan harinya, pagi itu. Diana pergi ke kamar Anna untuk membangunkannya dan mengajaknya sarapan. Anna sendiri masih tiduran di atas ranjang. Dia masih lemas karena alerginya.


"An, apa kamu pusing?" Diana memeriksa kondisi Anna dengan stetoskopnya.


"Sedikit sih, cuma lemesnya ini..." wajah Anna masih pucat.


"Ya udah, kamu jangan dulu ke kampus ya. Kan kata dokter di rumah sakit juga, kamu harus istirahat dulu." ucap Diana perhatian pada keponakan suaminya itu.


"Iya deh. Kayaknya aku harus beristirahat dulu di rumah. Makasih ya Tante Diana.."


"Sama-sama sayang. Kalau gitu Tante keluar dulu ya, Tante akan kasih tau Oma kamu kalau kamu lagi sakit dan gak masuk kuliah dulu. Sarapannya...nanti dibawa sama bi Lulu aja kesini."


Diana beranjak dari tempat duduknya dan melangkah pergi dari kamar Anna. Namun, langkah Diana terhenti saat Anna memangilnya. "Tante..."


"Ya, Anna sayang?" sahut Diana sembari menoleh ke arah Anna.


"Semalam Tante sama om kemana? Naik mobil dan lewat jalan belakang."


"Oh...itu, ada sesuatu yang terjadi sama Mayra dan Satria. Kami ke rumah sakit untuk melihat keadaan Amayra."


Anna langsung beranjak dari duduk di atas ranjang, dia terkejut mendengar kabar tidak baik tentang Amayra, "Astagfirullahaladzim...terus gimana keadaan Amayra? Dia sama bayinya gak apa-apa kan?" tanya Anna cemas.


"Mayra hampir keguguran, dia pendarahan dan sekarang dokter nyuruh dia buat bedrest untuk sementara waktu," jelas Diana sambil menghela nafas.


"Ya Allah..." Anna menutup mulutnya dengan satu tangan.


Setelah bicara dengan Anna, Diana hendak turun ke lantai bawah. Namun dia mendengar pembicaraan tidak nyaman dari kamar ibu mertuanya secara tak sengaja.


"Ma, mama apa apaan sih? Mama serius mau bawa Diana pergi ke rumah sakit fertilitas? Astagfirullah Ma.." Cakra menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan rencana sang istri untuk membawa menantunya pergi ke rumah sakit fertilitas.


"Iya...masa udah 3 bulan, Diana belum hamil juga. Dia kan gak program KB atau pakai alat kontrasepsi...kenapa dia belum juga hamil?" Nilam menyilangkan kedua tangannya didada.


"Ma, sabar dulu.. baru aja 3 bulan. Mungkin Allah belum kasih."


"Dulu waktu Bram sekali melakukan sama Amayra. Amayra langsung hamil, berarti anak kita memiliki kesuburan yang bagus. Mama cuma ingin memastikan kalau mama gak salah pilih menantu lagi, gitu aja Pa! Mama simple kok!"


"Astagfirullah Ma! Apa mungkin mama mengira Diana mandul? Begitu?"


"Iya, emang."


"Ma, mama harus jaga bicara mama itu...mama gak boleh ungkit soal rumah sakit fertilitas atau apalah didepan Bram dan Diana. Ucapan mama bisa menyakitkan hati mereka berdua. Kita hanya perlu sabar Ma," Cakra berusaha mengingatkan istrinya untuk sabar.


Diana sakit hati mendengar ucapan Nilam yang sudah merasuk ke dalam hatinya. Matanya berkaca-kaca seperti akan menangis.


Mama mengira aku mandul? Astagfirullahaladzim...


"Sayang? Kamu belum turun?" tanya Bram pada istrinya yang sedang berada didepan kamar Nilam dan Cakra.


Diana menghapus air matanya, dia tidak berani menatap Bram.


"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Bram sambil menghampiri istrinya.


...----****----...

__ADS_1


__ADS_2