Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 172. Ada apa dengan Rey?


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Ken masuk bersama Anna ke dalam cafe itu. Anna melihat konser Ken bersama Anton dan Lisa yang juga kebetulan sedang nongkrong disana.


Anton dan Lisa keheranan karena Ken masuk ke dalam cafe bersama Anna, wanita yang selalu dia jauhi. Kini Ken terlihat sudah membuka sedikit hatinya untuk Anna.


"Lo tunggu disini aja," ucap Ken pada Anna dengan gaya cueknya seperti biasa


Anna tersenyum sembari mengangguk, dia tak bisa menyembunyikan rasa senangnya karena Ken sudah mulai bersikap baik padanya. Walau gaya cueknya masih tetap sama, setidaknya dia masih peduli pada Anna.


"Ton, kamu lihat si Ken?" Tanya Lisa berbisik pada Anton.


"Gue sering ngomong sama si Ken, kayaknya si Ken dengerin omongan gue." jawab Anton sambil berbisik pada Lisa.


"Ngomong apaan kamu sama Ken sampai dia jadi baik sama Anna?" Tanya Lisa penasaran.


"Gue bilang gini..."


Anton berbisik-bisik pada Lisa, kemudian gadis itu hanya manggut-manggut saja. Lisa tersenyum, dia merasa kalau Ken sudah mau membuka hatinya untuk wanita lain dan mulai melupakan Amayra.


"Baguslah kalau gitu, Alhamdulillah Ken sudah dapat pencerahan." Ucap Lisa sambil tersenyum dan bernafas lega.


Anna, Lisa dan Anton menonton konser Ken bersama-sama disana. Banyak para remaja wanita yang datang kesana untuk melihat acara musik Ken dan bandnya.


...*****...


Di rumah Amayra.


Sore hari Rey tertidur lagi, sudah 3 kali dia tidur hari itu. Sekarang anaknya sering sekali tidur, Amayra mulai cemas apa Rey baik-baik saja kalau sering tidur begini.


"Aku harus tanyakan kak Diana, apakah baik bagi Rey sering tidur begini?" Kata Amayra bergumam sambil melihat anaknya tertidur di atas karpet empuk di tengah rumah. "Anak mama, sehat selalu ya kesayangan mama...Sholeh dan pintarnya mama papa." Amayra mengecup kening Rey dengan penuh kasih sayang.


Ketika Rey sedang tidur pulas, Amayra meninggalkannya dan pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam, sebelum Satria pulang.


30 menit kemudian setelah selesai memasak, Amayra kembali melihat anaknya. Rey masih tertidur pulas, bahkan tidak bergerak dari tempatnya tidur. Posisinya masih sama, Amayra mencoba membangunkan anaknya pelan-pelan karena hari sudah mulai magrib. Amayra takut Rey rewel kalau dia bangun malam-malam.


"Sayangnya mama masih tidur. Sayang, bangun dong...udah mau magrib sayang. Bangun yuk?" Amayra memegang tangan anaknya. Dia melihat ada ruam berwarna merah disana. "Astagfirullahaladzim.. kenapa ada ruam-ruam ditangan Rey?"


Amayra panik, dia pun memeriksa kondisi tubuh Rey. Dia merasakan ada yang lain di tubuh Rey. "Astagfirullah! Tubuh Rey panas sekali,"


Rey tidak bergerak ketika Amayra mencoba membangunkannya. Dia pun menggendong Rey dan menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut. "Sayang.. Sholeh nya mama..bangun nak?"


Rey pun membuka matanya perlahan-lahan, bayi itu seperti sulit membuka matanya. Anak yang biasanya tidak rewel itu menangis kencang. Padahal tadi siang Rey masih bermain dan dalam keadaan baik-baik saja.


"Owaaa..... huuuhhh... huuuhuuu... Aaakkhhhhhh.." Rey berteriak seperti kesakitan, bahkan tubuh Rey juga kejang-kejang.


"Kamu kenapa sayang? Ya Allah.. Rey!!" Amayra berdiri mengambil gendongan kain dan menggendong anaknya itu. Meski dalam keadaan panik, dia berusaha menghubungi suaminya dan meminta bantuan. "Ya Allah.. badan Rey panas banget,"


"Huaahhhh.. Huahhhh.."


Ketika Amayra menelpon Satria, tidak ada balasan dari suaminya. "Mas, kenapa gak diangkat? Apa kamu masih ada di ruang operasi?" Amayra panik sendiri.


Apa yang Amayra perkirakan memang benar. Satria masih berada didalam ruang operasi. Dia tidak membawa ponselnya saat operasi karena itu bisa menganggu konsentrasinya.


Karena sang suami sulit dihubungi, akhirnya dia menghubungi Bram untuk meminta bantuan. "Oh ya, kak Diana bilang kalau kak Bram, sepulang kerja...akan mampir kesini."

__ADS_1


"Huaahhhh!! Huaahhhh..." Rey masih menangis kencang, tubuhnya juga kejang-kejang tak terkendali.


Tutt...


Tutt...


Bram langsung mengangkat telpon dari Amayra. Pria itu sedang menyetir mobil. "Halo Assalamualaikum May,"


"Waalaikumsalam.. Alhamdulillah kakak angkat telponnya! Kak, kakak ada dimana?" Tanya Amayra buru-buru.


"Bentar lagi aku sampai rumah kamu. Ada apa May? Rey nangis?" Bram mendengar suara tangisan anaknya dari telepon.


"Huaahhh... huaahhhh..."


"Kakak...cepat kesini kak, tolong! Rey....Rey..." suara wanita itu seperti sudah mau menangis.


"Oke.. aku bentar lagi sampai," Bram jadi ikut panik mendengar Amayra dan Rey menangis tanpa henti. Dia menutup teleponnya, kemudian, dengan cepat dia tancap gas ke rumah Amayra.


Tidak sampai dua menit, mobil Bram sudah terparkir didepan gerbang rumah sederhana itu. Bram keluar dari mobil, kemudian dia berlari ke dalam rumah.


Namun sebelum masuk sampai ke dalam rumah, Amayra dan Rey sudah berada diluar rumah, dia mengunci rumah itu. Amayra seperti bersiap akan pergi.


"Ada apa?!" tanya Bram dengan suara yang meninggi. Dia melihat anaknya sedang muntah-muntah di gendongan Amayra. Bram panik melihat kondisi anaknya seperti itu.


"Uwekkk... Uwekkk.."


"Aku gak tau kak, tiba-tiba saja Rey seperti ini." Jelas Amayra singkat.


"Ayo ke rumah sakit!" Ujar Bram tanpa basa-basi dia mengajak Amayra dan Rey ke rumah sakit.


Bukan hanya Amayra saja yang sedih, tapi Bram sebagai ayah kandung Rey, juga merasakan hal yang sama. Dia tak percaya anak yang selalu jarang sakit itu, akan sangat kesakitan saat ini.


Amayra mencoba segala cara untuk menenangkan Rey yang masih menangis, bahkan menjerit dan tampak kesakitan. Belum lagi tubuhnya demam tinggi dan sesekali dia mengejang.


"Huaahhh!! HUUUAAAHHHHH!!"


"Astagfirullahaladzim..astagfirullahaladzim..." berulang kali Amayra mengucap istighfar, berharap hatinya akan sedikit tenang. Dalam hati Amayra terus berdoa agar anaknya baik-baik saja.


"Sebentar lagi kita sampai," ucap Bram sambil melajukan mobilnya dengan cukup cepat.


Namun seorang ibu mana yang hatinya akan tenang, melihat sang buah sakit sedang kesakitan seperti itu.


Sesampainya didepan rumah sakit, Amayra yang menggendong Rey. Langsung turun dari mobil dan berjalan buru-buru masuk ke dalam ruang sakit. Sementara Bram memarkirkan mobilnya lebih dulu, kemudian dia menyusul Amayra masih ke dalam rumah sakit.


Di lorong menuju ke bangsal anak, Amayra menggendong Rey dengan buru-buru. Dia berpapasan dengan Diana dan Satria yang baru saja mau pulang setelah menyelesaikan tugas mereka di rumah sakit.


"May..." Satria melihat istrinya yang sedang menggendong Rey dengan wajah panik.


Amayra mengacuhkan Satria karena dia terburu-buru membawa Rey ke ruang periksa khusus anak itu. Satria mengikuti Amayra dan Rey.


Diana melihat mereka berdua dan juga suaminya Bram yang berlari terburu-buru. "Diana!" panggil Bram.


"Mas Bram? Apa yang terjadi? Bukannya mas pergi ke rumah Amayra? Rey kenapa Mas?" Tanya Diana kebingungan dengan apa yang terjadi saat ini.


"Aku juga gak tau sayang. Dimana tempat dokter anak?" Tanya Bram dengan nafas yang terengah-engah.

__ADS_1


"Kesana Mas, ayo kita pergi bersama." Ajak Diana pada suaminya.


Satria, Amayra dan Rey sampai didepan ruangan dokter anak. Untungnya mereka tidak harus mengantri dulu karena dokter Yudha selaku dokter anak itu sedang bersiap untuk pulang.


"Yudha!" Panggil Satria pada teman seperjuangannya itu.


"Satria? Ngapain kamu ada disini?" Yudha melihat Satria, Amayra dan Rey berdiri didepan pintu ruangannya. Dia sudah membawa tas bersikap untuk pulang.


"Tolong anak aku, Yud!" Kata Satria pada Yudha dengan wajah panik.


"Oke, baringkan anak kamu di ranjang." Yudha kembali menyimpan tasnya, dia mengambil stetoskopnya yang ada di laci meja ruangan itu.


Amayra membaringkan Rey di atas ranjang. Bayi berusia 6 bulan itu masih kejang-kejang tak terkendali. Bahkan dokter Yudha juga panik melihat kondisi Rey, bukan hanya kedua orang tuanya saja yang panik.


Setelah kejang-kejang, Rey tidak sadarkan diri. "Rey! Rey! Ini mama Nak!"Teriak Amayra yang kelewat panik bercampur khawatir melihat anaknya.


"May, tenang sayang..." Satria mencoba menenangkan Amayra yang panik.


"Gimana aku bisa tenang Mas...Rey.." air mata Amayra jatuh tidak tertahankan lagi.


"Sat, bawa istri kamu keluar dulu. Aku dan suster akan memeriksa kondisinya dulu, kami butuh ketenangan sebentar." Kata Yudha tegas pada Satria.


"Oke. May, sayang.. kita keluar dulu ya. Sebentar aja."


"Gak mau, aku mau sama Rey disini Mas.."


"May, sebentar aja. Biarkan dokter memeriksa anak kita, kamu hanya akan mengganggunya." Kata Satria sambil memegang tangan Amayra.


Amayra menggigit bibir bagian bawahnya dengan gemas, bulir air mata terus jatuh membasahi pipinya. Dia tak punya pilihan lain selain menurut pada dokter.


Dia dan suaminya keluar dari ruang pemeriksaan. Yudha dan seorang suster sedang sibuk didalam sana, memeriksa kondisi bayi mungil itu.


Amayra dan Satria duduk di kursi yang ada diluar ruangan itu. Disana juga ada Bram dan Diana, mereka menanyakan kondisi Rey pada Satria dan Amayra.


"Sat, May...gimana keadaan Rey?" Tanya Diana cemas.


"Rey lagi diperiksa sama dokter Yudha," jawab Satria sambil melihat ke arah Diana dengan wajah bingung.


"May, apa yang terjadi sama Rey?" Diana lanjut bertanya pada Amayra yang mungkin lebih tau kondisi Rey.


Amayra menjelaskan semuanya pada Diana, Satria dan Bram. Tentang kondisi Rey yang tiba-tiba seperti itu. Padahal tadi pagi sampai siang Rey baik-baik saja, malah anak itu banyak mengoceh dan bermain bersama mamanya. Tapi sorenya, Rey tiba-tiba seperti ini.


"Bismillah, semoga Rey baik-baik saja. Rey akan baik-baik saja ya May.." ucap Diana seraya menenangkan Amayra.


Suara tangisan Rey didalam ruang pemeriksaan, membuat hati semua orang yang berada diluar ruangan itu tidak tenang. Terutama Amayra, ibunya. Dia ingin segera masuk ke dalam ruangan itu dan menenangkan Rey.


"Rey...mama disini sayang, mama disini." Amayra berusaha tegar, dia berdiri didepan pintu ruangan itu.


Beberapa saat kemudian, pintu ruang pemeriksaan terbuka. Dokter Yudha berdiri didepannya. Amayra, Satria, Bram dan Diana langsung beranjak dari tempat duduk mereka.


"Orang tua Reyndra Aqmar Calabria, mari bicara dengan saya didalam."


"Kami orang tuanya juga! Boleh kami masuk juga?" Tanya Bram pada dokter Yudha.


"Baiklah," jawab dokter Yudha.

__ADS_1


...-----*****------...


__ADS_2