Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 110. Datangnya mantan suami


__ADS_3

Setelah hampir satu jam berada di acara tabligh Akbar, Bram melihat Diana terus menguap. "Dokter Diana ayo kita pulang," ajak Bram pada dokter kandungan yang cantik itu.


"Eh kenapa udah pulang lagi? Acaranya kan belum selesai pak," Diana keheranan karena Bram mengajak pulang lebih dulu.


"Saya sudah ngantuk, besok juga saya ada rapat. Jadi harus berangkat lebih pagi ke kantor," ucap Bram pada Diana sambil tersenyum.


Apa dia melihatku menguap, makanya dia mengajakku pulang?. Ucap Diana dalam hati.


"Beneran gak apa-apa nih kita pulang sekarang? Pak Bram kan tidak terlihat ngantuk, malah saya yang terlihat ngantuk!" Diana peka dengan keadaan dirinya sendiri.


"Saya juga ngantuk, ayo kita pulang. Saya antar dokter Diana," Bram beranjak dari tempat duduknya.


"Oke, tapi jangan panggil saya dengan nama sepanjang itu. Diana saja sudah cukup, gak pake dokter dan gak pake kata Bu," ucap Diana pada Bram sambil beranjak dari tempat duduk.


Mereka pun bicara sambil berjalan menuju ke rumah Diana yang tidak jauh dari sana. "Apa boleh saya memanggil anda begitu?" tanya Bram.


"Boleh," jawab Diana mempersilakan.


"Kalau begitu kamu juga harus memanggilku dengan nama," ucap Bram dengan mata melirik wanita disampingnya itu. Tiba-tiba Bram bicara dengan bahasa informal tidak seperti biasanya.


"Oke, aku harus panggil kamu apa?" tanya Diana.


"Mas Bram.." Bram tersenyum menggoda Diana si dokter jutek itu.


"Idih! Apaan sih? Masa mas Bram?" Diana tertawa kecil, dia sedikit geli dengan panggilan mas Bram itu.


"Aku kan lebih tua dari kamu, jadi kamu harus panggil aku begitu. Mas Bram atau kak Bram? Pilih yang mana?" tanya Bram memberikan pilihan pada Diana.


Kenapa aku senang sekali melihatnya seperti ini? Apalagi saat dia tersenyum, rasanya hatiku seperti kesetrum. Perasaan apa ini?


Wajah Diana memerah, ucapan Bram seakan membuat mereka menjadi lebih dekat dari sebelumnya. "Su-sudah sampai tuh.." Diana melihat ke arah rumahnya yang tinggal beberapa langkah lagi.


Kenapa hatiku berdebar seperti ini? Tidak boleh Diana, kamu sudah memutuskan untuk hidup sendirian.


"Iya sudah sampai. Tapi, mas Bram atau kak Bram? Kamu belum memilihnya, Diana?" goda Bram pada pria berstatus janda itu.


Deg!


Diana terpana mendengar namanya terucap dari bibir Bram.


"Aku lebih suka dengan mas Bram," jawab Diana sambil berjalan cepat menuju ke depan pintu rumahnya. Bram berjalan di belakangnya.

__ADS_1


"Oke," Bram tersenyum.


"Makasih sudah mengantarku, mas Bram.." ucap Diana tanpa menoleh ke arah Bram. "Hati-hati dijalan," kata Diana mengingatkan.


Diana buru-buru masuk ke dalam rumahnya. Bram tersenyum melihat wanita yang baru saja masuk ke dalam rumah itu. Bram bergegas pulang, dia pergi ke luar gerbang menuju ke arah mobilnya. Tiba-tiba langkah Bram terhenti saat dia melihat mobil hitam mencurigakan didepan rumah Diana. "Mobil siapa ini?" gumam Bram.


Sementara itu Diana masuk ke dalam rumah, dia merasa aneh karena lampu ruang tengahnya mati. Padahal sebelum pergi ke tabligh Akbar bersama Bram, Diana yakin tidak mematikan lampunya. "Apa memang sedang ada pemadaman listrik?"


TAK!


Lampu ruang tengah itu menyala, tiba-tiba saja sepasang tangan besar menarik Diana dan memeluk wanita itu. "Selamat malam sayang,"


Seorang pria tampan dengan wajah menyeramkan dan sorot mata yang tajam berdiri tepat didepannya dan memeluk dirinya. "Hans? Kenapa kamu bisa ada disini, hah?" Diana mendorong pria bernama Hans itu. Dia menatap Hans dengan penuh kebencian.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu sayang? Aku kesini untuk bertemu istriku karena aku rindu. Tapi aku malah melihat istriku sudah bermain dengan pria lain," Hans menatap tajam ke arah Diana.


"Pergi kamu dari sini, kita sudah bercerai. Aku bukan istrimu lagi. Pergi sebelum aku melaporkan kamu pada pihak berwajib karena kamu masuk ke dalam rumahku tanpa izin!" Bentak Diana sambil menunjukkan jarinya ke arah pintu keluar seraya mengusir mantan suaminya itu. Matanya menatap Hans penuh kebencian.


"Kenapa kamu jadi seperti ini sayang? Apa karena pria itu? Bukankah dia adalah Presdir grup Calabria? Apa dia kekasih barumu?" tanya Hans sambil memegang erat tangan Diana.


"Hans, apa yang kamu lakukan? Kamu sudah gila? Siapa kamu bertanya seperti ini padaku?"


"Diana, apa kamu marah padaku? Makanya kamu berpura-pura dekat dengan pria itu untuk membuat aku cemburu? Sudahlah Diana, tenang saja.. aku akan tetap menikahi mu kembali, karena aku mencintaimu.." Hans menatap nanar pada Diana, dia melepas kerudung Diana. "Diana, selama menjadi suami istri.. kita tidak pernah tidak tidur bersama, mari malam ini kita habiskan malam bersama. Agar kamu menjadi milikku selamanya!"


Hans mencium pipi Diana dengan gemas penuh n*fsu, Diana meronta-ronta berusaha melepaskan dirinya dari Hans. "Lepaskan aku Hans! LEPAS!" Diana berteriak dan berharap akan ada orang yang mendengarnya.


Namun sepertinya semua orang sedang pergi ke acara tabligh Akbar itu, belum lagi komplek tempat tinggal Diana. Keamanannya tidak terlalu baik.


BRUK!


Seseorang menarik Hans dari Diana dengan kasar, hingga pria itu terjengkang jatuh ke kursi. Dia memukul Hans dengan emosi. "Mas Bram?" Diana merasa lega melihat Bram ada disana.


"Hey beraninya kamu menggangguku dan istriku!" Hans tidak terima di pukul oleh Bram.


"Istri? Siapa yang kamu bilang istri?" tanya Bram seraya menunjukkan tangan kekarnya, bersiap menghajar pria brengsek bernama Hans itu.


Mereka pun berkelahi di dalam rumah Diana dan menghancurkan beberapa perabotan disana. Melihat Hans sudah berdarah-darah akibat ulah Bram, membuat Diana khawatir Bram mungkin bisa membunuhnya. "Mas.. hentikan mas.. cukup! Kamu bisa membunuhnya!" seru Diana.


"Laki-laki brengsek seperti dia yang memaksa wanita memang pantas mati!" Bram masih memukul Hans yang sudah tidak berdaya berbaring di lantai.


Bram merasa tertampar, dia jadi teringat kejadian masa lalu. Saat dirinya memaksa Amayra berhubungan badan dengannya, dia tidak mau ada pria brengsek lain seperti dirinya yang akan menodai wanita baik-baik. Kali ini Bram akan melindungi kehormatan wanita.

__ADS_1


"Hentikan! Sudah!" Diana memegang tangan Bram, dia menangis.


Akhirnya satpam kompleks itu berhasil menghentikan Bram yang memukuli Hans."Bu dokter, mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Kami akan-"


"Akan apa? Kalian ini kerjanya apa? Apa makan gaji buta? Bagaimana bisa kalian membiarkan penyusup masuk ke dalam rumah seorang wanita yang tinggal sendirian?" Bram emosi, dia langsung memotong ucapan pak Satpam kompleks itu. "Kalau saya tidak balik lagi kesini, mungkin dia sudah-"


Bram tidak sanggup meneruskan ucapannya, pikirannya nethink.


"Mas, udah.." Diana mencoba menenangkan Bram yang emosi.


"Saya bukan penyusup! Saya adalah suami dokter Diana!" Hans berteriak, meski tangannya diringkus oleh seorang satpam.


"Jangan bicara sembarangan kamu ya Hans!" Ujar Diana menyangkal.


"Lalu kamu siapa? Kamu bukan siapa-siapa Diana, kan?" tanya Hans sambil tertawa.


"Saya calon suaminya, jadi kamu tolong menyingkirlah!" Seru Bram tegas.


"Wah! Hebat ya kamu Diana, setelah bercerai dariku kamu bisa dapatkan pria tampan dan kaya.. sialan kamu Diana!"


Diana tersentak kaget dengan ucapan Bram yang mengakui bahwa dia adalah calon suami Diana. "Calon suami?"


"Pak, bawa dia ke kantor polisi!" Seru Bram memerintah pada empat orang satpam itu untuk membawa Hans ke kantor polisi.


"Baik pak. Sekali lagi kami memohon maaf untuk ketidaknyamanannya. Kami akan meminta 4 satpam berjaga di rumah ibu Diana," ucap Kepala satpam menyesal.


Kini tinggallah Bram dan Diana berdua didepan rumah itu. Diana terdiam, dia masih syok dengan apa yang baru saja terjadi padanya. Namun dia lebih syok saat Bram mengatakan bahwa dirinya adalah calon suami Diana.


Melihat punggung tangan Bram terluka, Diana berinsiatif mengobati tangan Bram. "Makasih ya mas sudah menolongku, tapi seharusnya mas tidak mengatakan hal yang bisa membuat orang salah paham," ucap Diana sambil membalut luka ditangan Bram dengan perban.


"Maksud kamu?"


"Mengatakan bahwa kamu calon suamiku, itu cukup berlebihan untuk kebohongan."


"Aku gak bohong,"


"Apa?" Diana terperangah.


"Jika kamu mau mari kita menjalin hubungan yang lebih serius," ucap Bram sambil menatap dalam-dalam pada Diana yang duduk disampingnya itu.


...-----*****-----...

__ADS_1


Kira-kira bagaimana jawaban Diana ya?


Yo komen dulu, 😍 biar author up lagi hehe❤️❤️😁🤭


__ADS_2