Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 49. Akar kebencian


__ADS_3

Bram menatap Amayra yang berdiri dibelakang Satria. Hati Bram lagi-lagi terhenyak melihatnya, apalagi ketika Satria menggenggam tangan wanita itu dan Amayra juga membalas genggaman tangan Satria.


Rasa yang dirasakan Amayra pada Bram, mungkin bukan hanya benci, ataupun jijik, tapi trauma. Trauma yang membuatnya takut untuk berdekatan dengan pria itu.


"Aku ingin bicara dengan kamu Amayra." Ucap Bram memberanikan dirinya mengajak Amayra bicara.


Untuk pertama kalinya Bram memanggil Amayra dengan namanya. Biasanya Bram memanggil Amayra dengan sebutan anak tukang sampah atau hei kamu. Amayra masih bersembunyi disamping suaminya.


Kenapa mereka bisa sedekat ini? Kapan hubungan mereka begini?. Bram menatap cemburu pada pasangan suami istri yang sedang berpegangan tangan itu.


"Mau apa kakak bicara dengan istriku?" tanya Satria ketus dan tajam.


Deg!


Kata istri yang meluncur dari mulut Satria membuat hati Bram tidak nyaman."Aku ingin membicarakan masalah semalam."


"Kalau dia mau bicara pada kakak, silahkan saja bicara!" Satria menoleh ke arah Amayra yang masih bersembunyi.


"Saya tidak mau bicara dengan Pak Bram, lebih baik kita tidak usah saling bicara lagi," Amayra bicara tanpa menoleh ke arah Bram, wanita itu terlihat murka pada Satria.


Logika nya mana mungkin korban mau berbicara lagi pada pelaku. Apalagi Bram sudah sering menyakiti Amayra, bukan hanya satu atau dua kali. Pertama Bram memperkosa nya, Amayra sampai hamil dan dikeluarkan dari sekolah. Belum lagi dia menanggung malu, kehilangan masa depan indahnya sebagai gadis remaja. Manusia mempunyai batas kesabaran, ada kalanya marah bahkan sampai memiliki kebencian pada seseorang. Mungkin sekarang perasaan Amayra sedang berada di dalam tahap menuju kebencian.


Ya Allah, harusnya aku tidak memiliki perasaan seperti ini padanya. Aku tidak boleh marah, aku tidak boleh membenci, tapi aku tidak bisa menghentikan hatiku untuk membencinya. Amayra membuang muka, ketika Bram menatap nya.


"Kakak sudah dengar, kan? Istriku tidak mau bicara dengan kakak," ucap Satria memperjelas perkataan Amayra pada Bram.

__ADS_1


Bram menelan kepahitan, hatinya seperti ditusuk-tusuk mendapat penolakan dari Amayra. Terlebih lagi saat wanita itu buang muka di depannya. Tapi, Bram tidak mau menyerah dia tetap meminta Amayra bicara dengannya.


"Aku mohon, sebentar saja biarkan aku bicara dengan mu. Aku tidak akan melakukan hal seperti kejadian semalam, aku janji." Bram membujuk Amayra untuk bicara padanya.


"Saya akan bicara dengan anda, kalau anda berjanji setelah pembicaraan ini kita tidak akan pernah bicara lagi," Amayra memberanikan dirinya menatap tajam ke arah Bram.


"Baik, aku janji. Kita bicara berdua saja,"


"Kak, aku akan bicara dulu dengan pak Bram."


"Ya, kalau dia berbuat macam-macam lagi padamu. Kamu teriak saja, aku akan temui papa dan mama dulu," Satria menatap tajam ke arah Bram dan menatap Amayra dengan penuh perasaan. Satria masih marah pada kakak nya atas kejadian semalam yang terjadi pada Amayra.


Satria meninggalkan Amayra dan Bram di halaman belakang rumah keluarga Calabria. Bram dan Amayra bicara saling berjauhan, lebih tepatnya Amayra yang menjauh dari nya.


"Semalam, aku..aku minta maaf..aku sudah membuat kamu ketakutan. Aku sungguh-sungguh tidak sadar saat itu." Bram menunduk dan terlihat menyesal karena kejadian semalam.


"Kenapa kamu diam saja? Aku sedang minta maaf padamu!" Tanya Bram keheranan melihat Amayra diam saja.


"Hanya itu saja yang ingin bapak katakan kepada saya? Maaf untuk kejadian semalam saja?" tanya Amayra sakit hati.


"Oh ya aku lupa. Aku juga minta maaf atas kejadian di villa itu, kamu tau kan aku tidak sengaja melakukannya. Saat itu aku berada di bawah pengaruh alkohol, dan aku tidak bisa mengendalikan diriku. Aku minta maaf Amayra." Ucap Bram meminta maaf dengan mudahnya atas semua yang dia lakukan.


Ya mungkin dengan meminta maaf, hatiku akan sedikit lega. Aku tidak akan terbayang-bayang lagi wajahnya.


Wanita itu terpana, kedua mata nya membulat menatap ke arah Bram dengan marah. Air menggenang dibawah matanya. "Untuk semua yang bapak lakukan pada saya, hanya maaf saja yang bapak katakan? Apa dengan maaf semua masalah akan selesai?" Ucapan Amayra menjadi tajam dan sinis pada Bram, dia berusaha menahan marah tapi dia tidak bisa jika berhadapan dengan pria itu. Seolah kebaikan dan kelembutan hatinya membeku dalam sekejap.

__ADS_1


"Memangnya aku harus bicara apa lagi? Bukannya selama ini kamu ingin permintaan maaf? Atau jangan-jangan kamu tidak mau memaafkan ku? Allah saja maha pemaaf, masa kamu tidak mau memaafkan ku?" Bram ingin di maafkan oleh Amayra, tapi dia tidak terlihat menyesal sama sekali.


Lagi-lagi ucapan Bram malah membuat wanita berkerudung abu itu menjadi lebih marah. Dia mengernyitkan dahinya, matanya berkaca-kaca.


"Apa menurut bapak kesalahan akan hilang begitu saja ketika bapak meminta maaf? Bahkan tanpa menyesalinya?" Amayra menelan ludah, dia terlihat emosi.


Tahan Amayra, tahan!. Amayra menahan mual.


"Darimana kamu tau kalau aku tidak menyesal? Kamu bahkan tidak tau isi hati ku! Aku menyesalinya, sungguh! Aku menyesali semua perbuatan ku!"


"Kalau bapak sungguh menyesal! Bapak tidak akan membiarkan saya berada dalam situasi seperti ini! Bapak menghindar dari tanggungjawab, meminta saya membunuh anak yang tidak berdosa ini! Saya kehilangan semuanya karena bapak, mimpi, cita-cita saya dan masa indah saya sebagai remaja! Tahukah bapak? Saat bapak pergi meninggalkan saya disaat-saat tersulit, saya berfikir untuk mengakhiri hidup saya! Saya malu, tapi saya masih bisa menahannya.. hanya satu yang tidak bisa saya tahan, yaitu rasa sakit di hati ayah saya. Saya tidak sanggup melihat ayah saya sedih dan sakit hatinya karena saya telah membuatnya malu. Saya pun mulai berfikiran sempit dan setan mulai membisiki saya, apakah saya harus mengakhiri hidup saya atau hidup anak ini saja yang harus saya akhiri? Tapi, saya ingat bahwa dia adalah nyawa dan amanah yang diberikan Allah kepada saya. Ketika semua orang menghina dan merendahkan saya, bapak hanya bilang maaf untuk semuanya? Untuk semua yang saya alami?! Semudah itukah bapak Bramastya menyesal?!" Amayra menunjukkan jarinya ke arah Bram, dia terlihat sakit hati. Air mata uang menggenang itu mengalir membasahi pipinya.


Perih lagi hatinya mengingat saat Bram pergi meninggalkan dirinya sendiri, dalam keadaan malu dan buruk. Disaat semua orang menghujatnya, Bram malah pergi mencari Alexis dan menolak tanggungjawabnya pada Amayra.


Bram terpana, hatinya sedih melihat Amayra menangis dan emosi padanya. Matanya juga berkaca-kaca melihat Amayra. Pria itu tidak mampu membalas ucapan Amayra yang meledak-ledak padanya.


"Bukan hanya itu saja! Bapak bahkan tidak mengakui anak ini, bapak menuduh saya yang menggoda bapak! Semua itu tidak cukup dengan kata maaf pak, saya hanya manusia biasa yang punya batas kesabaran, saya bisa marah dan kecewa!" Teriak Amayra sambil menangis.


Akar kebencian mulai muncul di dalam hati Amayra kepada Bram yang sudah menorehkan luka besar di dalam hatinya.


"Baiklah, saya akan terima permintaan maaf bapak! Tapi, berjanjilah bahwa suatu saat nanti jangan pernah mengakui anak ini sebagai anak bapak. Anak ini hanya anak saya sendiri! Dan tidak ada hubungan nya dengan bapak, camkan itu baik-baik pak!" Emosi sudah menguasai pikiran dan hati Amayra, hingga dia memiliki keberanian lebih untuk berbicara seperti itu pada pria yang sudah menodainya. "Mulai saat ini, saya membenci anda!"


Bram tercengang mendengar ucapan Amayra. Dia kehilangan kata-kata. Amayra pergi meninggalkan Bram sendiri disana, dia menyeka air matanya. Bram berdiri mematung, tanpa sadar air matanya mengalir.


"Sial! Kenapa aku menangis? Apa yang sebenarnya aku tangisi? Baiklah, aku juga tidak akan mengakui anak itu.. tidak akan. Dan aku juga tidak akan menyesal!" gumam Bram sambil menyeka air matanya.

__ADS_1


...---***---...


__ADS_2