
Amayra dan Anna kembali naik ke dalam mobil, kedua wanita itu berangkat ke kampus. Sesampainya disana, Amayra turun dari mobil lebih dulu karena dia sudah terlambat untuk pergi ke kelas.
"May, tunggu dong! Ayo barengan ke kelasnya." Anna baru saja keluar dari mobilnya ketika dia selesai memarkirkan mobil.
"Oke, ayo." Amayra berhenti sejenak, dia menunggu keponakan suaminya terlebih dahulu.
Anna mengantar Amayra sampai ke kelasnya dengan selamat. Dia khawatir kalau terjadi sesuatu pada wanita hamil itu dan selalu menjaganya. Lisa dan Anton juga ikut menjaga Amayra.
"Lis, belum mulai?"
"Katanya lima menit lagi." bisik Lisa pada Amayra yang baru saja duduk di kursi kelas.
"Alhamdulillah, aku pikir sudah terlambat." ucap Amayra sambil tersenyum.
"Oh ya May, si pak Sandy yang suka jagain kamu itu pergi kemana? Udah lama dia gak kelihatan lagi." tanya Lisa yang sudah lama tak melihat Sandy berkeliaran disamping Amayra.
Amayra menjawab. "Pak Sandy pulang dulu ke kampung halamannya dan aku minta agar tidak dikawal lebih dulu." jelasnya begitu.
"Hem...begitu." Lisa menghela nafas seperti kecewa mendengar berita tentang Sandy.
Pantas saja dia tidak terlihat.
"Cie...ada yang kangen nih." Amayra tersenyum seraya menggoda temannya yang sedang terkena penyakit malarindu itu.
"Siapa yang kangen? Huh, enggak kok." sangkal Lisa dengan wajah cemberut.
"Oh jadi gak kangen nih? Padahal tadinya aku mau kasih nomor pak Sandy, tapi karena kamunya gak kangen...ya udah gak jadi aja deh."
"Nomor ponselnya pak Sandy?! Mau dong!" Kata Lisa setengah berteriak.
__ADS_1
"Tapi katanya kamu gak kangen sama pak Sandy?" goda wanita hamil itu pada temannya. Dia tersenyum melihat Lisa yang bersemangat ingin nomor telepon Sandy.
"Mau...aku mau nomornya, aku kangen pak Sandy!" Lisa mengakui bahwa dia merindukan Sandy dan meminta Amayra untuk memberikan nomor si bodyguard itu.
Amayra bisa melihat benih cinta yang tumbuh antara Lisa dan Sandy, selama Sandy mengawalnya. Sandy dan Lisa mulai menjalin kedekatan, dia juga tau Lisa menyimpan rasa pada Sandy. Amayra pun memberikan nomor telepon Sandy pada Lisa. Lisa amat senang dan sangat berterimakasih pada temannya itu.
Setelah menyelesaikan persentasinya di kelas, Amayra dan Lisa pergi keluar dari kelas dan pergi ke kelasnya Anna. Tadinya Amayra ingin pulang bersama Anna, namun Anna masih ada kelas.
"May? Gimana ini, kamu mau pulang duluan? Aku panggilkan supir taksi ya." ucap Lisa.
"Gak apa-apa, aku tunggu aja Anna disini." jawab Amayra sambil memakan kue yang dia bawa sebagai cemilan.
Tiba-tiba saja Ken yang sedang berjalan, mendekat ke arahnya. Dia memberitahu bahwa Anna masih ada dua kelas lagi. "Lebih baik kamu pulang duluan May, aku panggilkan taksi ya." kata Ken yang juga peduli pada Amayra.
"Gak apa-apa gak usah Ken, aku telepon pak Cecep aja. Biar dia yang jemput aku..." ucap Amayra sambil mengambil ponsel di tas selempangnya.
"Oke deh, maaf aku gak bisa lama-lama...masih ada kelas soalnya. Lis, jagain May sampai supirnya datang ya." kata Ken berpesan kepada Lisa untuk menjaga wanita hamil itu sampai supirnya datang.
Tak lama kemudian, pak Cecep datang menjemput Amayra di kampus. Sebelum pulang ke rumah, Amayra pergi ke supermarket untuk membeli susu ibu hamil yang stoknya sudah habis di rumah. Sepulangnya dari kampus, siang itu dia mendengar suara keributan dari lantai atas.
"Cukup Ma! Bram tidak mau mendengar apa-apa tentang Diana dari mulut mama!"
"Bram? Beraninya kamu bicara seperti ini sama mama? Apa yang mama katakan ini semuanya demi kebaikan kamu juga Bram!" Teriak Nilam.
Amayra mendengar pertengkaran antara ibu dan anak itu di lantai atas. Amayra menduga bahwa Nilam meminta cucu kepada Bram dan Diana, karena sebelumnya mereka bertengkar dan penyebabnya adalah itu.
"Bi, apa mama Nilam menyinggung soal cucu lagi?" tanya Amayra pada Dewi yang kebetulan sedang lewat disana.
Dewi mengangguk. "Iya non."
__ADS_1
Terkadang Amayra ikut menasehati Nilam ketika dia sedang berdebat dengan Bram, kadang wanita paruh baya itu mendengarkan dirinya dan kadang tidak.
Kali ini Amayra memilih kembali ke kamarnya, bukan karena dia tak peduli. Tapi karena dia merasa tubuhnya lelah dan kepalanya pusing. "Ugghh...."
Sepertinya sudah lama aku tidak pergi ke kampus, jadi terasa sangat lelah.
"Non, non kenapa?" Dewi memegang tangan Amayra dengan kuat, begitu melihat tubuh si wanita hamil itu akan roboh.
"Saya gak apa-apa bi, saya mau istirahat ke kamar."
"Bibi bantu ya non." kata Dewi sambil tersenyum.
Dewi memapah Amayra masuk ke dalam kamar, kemudian dia mengatakan bahwa akan menyiapkan susu untuk Amayra dan juga buah-buahan sebagai cemilan sehat ibu hamil.
"Masya Allah, begitu enaknya duduk relentang begini. Nikmatnya ibu hamil sangat terasa ketika kalian menendang perut mama, nak." Amayra mengelus perut buncitnya itu, dia duduk terlentang sambil merasakan perutnya menendang beberapa kali.
Amayra mengambil satu tangan Satria dan dia letakkan tangan itu pada perut buncitnya. "Mas...kamu merasakannya kan? Anak kita menendang loh...apa dia mau jadi pemain sepak bola?" Amayra tersenyum dan bicara pada suaminya yang koma itu walau tidak ada tanggapan. "Mas...cepatlah siuman..."
Tiba-tiba saja dia teringat bahwa dia belum melaksanakan shalat dhuhur. Amayra pun berpamitan pada suaminya untuk pergi mengambil air wudhu. Setelah selesai mengambil air wudhu dan akan keluar dari kamar mandi.
BRUGH!
"Aaahhhh.....!!!" Amayra terjatuh karena lantai yang licin. Dia memegangi perutnya sambil meringis kesakitan. "Bibi!!! Bi Dewi!!! Bi Lulu...pak Cecep....pak Muin....tolong...." Semua nama pembantu rumah tangga disebutkan olehnya. Dia berteriak meminta bantuan. "Mama....kak Bram....Kak Diana!! Tolong!!!"
Amayra memegangi perutnya yang mengencang, dia kesulitan berdiri karena lantai kamar mandi yang basah. "Ughhh... sakit...ya Allah...sakit sekali, tahan sebentar ya nak."
Jari-jari Satria mulai bergerak, matanya perlahan terbuka. Dia melirik ke arah istrinya yang terduduk di dekat kamar mandi. "May..." lirih Satria dengan suara pelan memanggil istrinya. "Mayra...anakku..." gumam Satria pelan.
Dia melihat Amayra yang menangis meringis kesakitan disana. Satria mencoba bangun walau tubuhnya kesulitan untuk beranjak karena masih lemah.
__ADS_1
Amayra melihat suaminya membuka mata, dia mengucek matanya beberapa kali untuk meyakinkan dirinya apa ini mimpi. "Mas...mas Satria!" Amayra memanggil suaminya dan yakin, bahwa sang suami telah membuka matanya.
...*****...