
...πππ...
Beberapa menit sebelumnya, Bram menyetir mobilnya ugal-ugalan setelah dia tau dari Nilam kalau Amayra dan Satria jalan-jalan ke taman hiburan.
Tanpa memedulikan rambu-rambu lalulintas, Bram menyetir mobilnya kebut-kebutan. Dia menerobos lampu merah sampai polisi lalu lintar mengejarnya. Bram tidak peduli dan terus tancap gas menuju ke taman hiburan, dia memikirkan dua nyawa yang mungkin sedang dalam bahaya karena kegilaan Alexis.
"Pak! Anda telah melanggar rambu-rambu lalu lintas! Harap menepi pak!" Teriak polisi dari dalam mobil.
"Maafkan saya pak, saya dalam keadaan darurat!" Bram semakin menancap gas.
Suara sirene polisi terus berbunyi, Bram mengabaikan nya. Dia menelpon Amayra di dalam perjalanannya. "Kenapa tidak diangkat juga? Sial! Angkatlah! Angkat!" Bram berada di dalam kepanikan dan ketakutannya.
Beberapa menit kemudian Bram sampai di dekat tempat parkir taman hiburan, polisi masih berada dibelakangnya. Bram melihat sebuah mobil melaju kencang ke arah Amayra, segera Bram banting setir berusaha mendahului mobil yang melaju kencang itu. "Tidak!" Teriak Bram panik melihat Amayra masih berdiri di dekat pagar tempat parkir.
"Mayra!!" teriak Satria yang baru saja keluar dari taman hiburan.
Satria berlari menghampiri ibu hamil itu, Amayra sudah tidak bisa berlari lagi. Kemudian terjadilah tabrakan yang melibatkan mobil Bram juga. Bram berhasil mendahului mobil itu walau sedikit terlambat. Tapi, tabrakan itu sudah tak terelakkan lagi.
"Astagfirullahaladzim!" Teriak seorang ibu-ibu disana terkejut melihat darah bercucuran di aspal.
"Apa yang terjadi? Kasihan sekali ibu hamil itu!" Seru seorang pria khawatir.
"Ya Allah!"
Beruntung nya polisi juga ada disana dan segera menangkap si pelaku penabrakan yang terlihat ingin melarikan diri dari sana.
Terlihat asap dari mobil Bram dan mobil penabrak itu. Bram tertunduk di mobilnya. Kepalanya berdarah, dia segera bangkit dari sana dengan susah payah. "Amayra.. anakku," gumam Bram khawatir pada Amayra dan bayinya.
Dalam keadaan tidak stabil, Bram keluar dari mobil itu dibantu oleh polisi. Bram terkejut melihat Satria dan Amayra tergeletak di aspal dalam kondisi berdarah-darah. Disebelah nya, ada boneka pemberian Satria yang juga terkena darahnya.
"Hiss," Satria masih memeluk Amayra, dia merasa beberapa bagian tubuhnya yang terluka dan sakit. Satria melihat ke arah Amayra, wanita hamil itu tidak sadarkan diri di dalam pelukannya. "May! May bangun May, Mayra!" Satria panik melihat istrinya tidak sadarkan diri, dalam kondisi darah mengucur di kakinya.
Sakit hati Satria melihat Amayra dalam kondisi tidak sadarkan diri, dia takut istrinya kenapa-napa. Tubuhnya gemetar memegangi Amayra yang tidak sadarkan diri. Ketika Satria akan menggendong istrinya, tangannya kesakitan dan dia tidak kuat menggendong istrinya.
"Serahkan padaku, Sat!" Bram sudah bersiap berdiri di depan Amayra dan Satria.
Sial! Aku sudah berusaha untuk menghadangnya tapi aku masih kalah cepat, Alexis kamu sudah tidak waras!
__ADS_1
Masih sempat Bram mengutuk mantan istrinya itu di dalam hati. Dia sedih melihat Amayra tidak sadarkan diri.
"Kakak?" Satria heran kenapa Bram bisa ada disana.
Tanpa mendapat persetujuan dari sang adik, Bram menggendong Amayra dan membawanya ke ambulance. Satria juga ikut bersamanya, tangan pria itu terluka parah akibat menghadang bagian depan mobil dan terkena pagar pembatas. Bahkan dari tangan itu masih mengucur darah segar.
Di dalam mobil ambulans yang sedang dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, seorang suster mengobati luka ditangan Satria. Dia melihat Amayra yang masih tidak sadarkan diri dengan masker oksigen terpasang di sekitar mulut dan hidungnya.
Satria dan Bram sama-sama melihat wanita hamil itu dengan cemas. Suster dan petugas medis disana mengecek keadaan Amayra. "Bagaimana keadaan nya suster?" tanya Bram pada Amayra.
"Pasien mengalami pendarahan, bayi di dalam perutnya juga tidak menunjukkan banyak pergerakan karena sang ibu masih belum sadarkan diri," jelas suster itu pada Bram.
Bram dan Satria terperangah mendengar penjelasan suster tentang kondisi Amayra. Satria ikut mengecek Amayra dengan merasakan denyut nadinya. Keadaan Amayra tidak stabil, bahkan wajahnya sangat pucat. Dia telah kehilangan banyak darah.
"Tolong selamatkan dia!" Seru Bram pada suster dan petugas ambulan disana. Bram memegang kepalanya yang terasa sakit itu. Luka-luka nya bahkan belum diobati.
Satria melihat kakak nya yang sangat mencemaskan Amayra.
Tak lama kemudian mereka sampai di rumah sakit. Petugas medis langsung membawa Amayra ke ruang UGD dengan cepat. Bram dan Satria menunggu di luar ruangan itu. Mereka tampak syok dengan apa yang baru saja terjadi. Keduanya sama-sama menunggu dengan lemas, tangan mereka penuh darah. Darah dari wanita hamil itu.
Seandainya aku sayang lebih cepat, mungkin dia dan anakku tidak akan terluka! Ini semua karena kamu Bram!
Kedua pria itu sibuk menyalahkan diri mereka masing-masing. Kata seandainya terucap di dalam hati mereka penuh penyesalan. Dengan tangan gemetar, Satria melihat ponselnya dan bermaksud untuk menghubungi Harun juga keluarganya yang lain. Dia melihat beberapa panggilan tidak terjawab dari Bram dan pesan singkat dari kakak nya agar dia selalu berada disamping Amayra.
"Kak! Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kakak mengirimkan pesan seperti ini? Apa kakak sudah tau kalau ini semua akan terjadi?" tanya Satria pada kakak nya, menanyakan pesan yang dikirimkan oleh Bram.
Pria itu tidak menjawab dia tidak berani menjawab bahwa ini semua karena wanita gila mantan istrinya. Melihat Bram diam saja, Satria menganggap bahwa semua itu benar. "Terimakasih kak, karena kakak sudah menghadang mobil itu,"
"Kenapa kamu berterimakasih kepadaku?" tanya Bram tidak senang.
"Aku harus berterimakasih pada seseorang yang mencelakai istriku sekaligus menyelamatkannya," ucap Satria sinis.
"Satria! Aku tidak mencelakainya!" Teriak Bram menepis tuduhan Satria kepadanya. "Mana mungkin aku mencelakai Amayra dan anakku!" tambahnya lagi.
Satria menangis, dia takut terjadi sesuatu yang buruk pada Amayra dan bayi itu. Dia menghubungi Cakra juga Harun tentang Amayra yang masuk ke rumah sakit. Cakra dan Harun pergi bersamaan ke rumah sakit, bersama Nilam juga.
"Satria? Bagaimana keadaan Amayra?" tanya Harun pada menantunya.
__ADS_1
"Dokter masih memeriksanya pak," jawab Satria sedih.
"Ya Allah anakku, cucuku.. bagaimana ini bisa terjadi?" Harun terlihat pucat, dia langsung jatuh lemas. Bram menangkap tubuh Harun, dengan cepat Harun menepis tangannya. "Saya tidak apa-apa," ucap Harun ketus pada Bram.
"Bapak tenang dulu ya, duduk dulu disini," Satria memapah ayah mertuanya, lalu mendudukkan pria paruh baya itu di kursi.
"Bram? Kamu juga ada disini?" tanya Cakra pada anaknya.
"Iya pah," jawab Bram.
Nilam menghampiri anaknya, dia cemas melihat kening dan tangan Bram yang terluka. Dia menanyakan apakah Bram terlibat dalam kecelakaan itu. Bram dengan singkat menjawab iya.
Tak lama kemudian, dokter wanita datang dengan wajah cemasnya. Dokter itu adalah Diana, dokter spesialis kandungan.
"Diana bagaimana keadaan istriku?" tanya Satria pada temannya itu, mendahului semua orang yang ada disana.
Harun, Cakra, Nilam dan Bram menatap Diana dengan penuh harapan.
"Amayra dalam kondisi kritis dan pendarahan nya sangat banyak. Ini membahayakan nyawa ibu dan bayinya," jelas Diana.
"Innalilahi.." Harun memegang kepalanya, dia syok dengan apa yang baru saja dia dengar. Bram dan Nilam juga terlihat sedih dan cemas mendengarnya.
"Ya Allah.." Cakra menghela napas berat.
"Lalu apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan istri dan anakku?" tanya Satria.
"Satria kamu harus memilih," Diana menatap temannya itu dalam-dalam. Semua orang disana merasa tegang dengan tatapan Diana.
Diana berkata kepadanya bahwa ia harus mengambil keputusan paling sulit dalam hidupnya. Dokter Diana memintanya memilih, mengoperasi istrinya dengan resiko bayi mereka tak selamat, atau mengeluarkan si bayi dari perut istrinya dengan risiko istrinya yang tak selamat.
Di hadapan malaikat pencabut nyawa, Satria diminta memutuskan memilih nyawa Amayra atau bayinya. Siapakah yang akan Satria selamatkan?
...---***---...
Bersambung dulu ah!
Readers ku tersayang makasih buat support kalian ya, komen kalian sangat membuat mood booster buat author πβ€οΈ maaf ya komennya gak dibalas semua, π Mau lanjut lagi? Boleh lah kasih komen dan gift kalian, jangan lupa like nya jugaπβΊοΈ yang mau kasih vote juga boleh banget π₯°
__ADS_1