Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 89. Suami siaga, ayah idaman.


__ADS_3

Clara dengan pedenya, mengklaim bahwa dialah yang pantas dengan Satria. Dia juga mendapatkan dukungan dari perawat dan dokter yang ada disana. Di sela-sela waktu bekerja, Clara dan dua orang suster provokator sibuk menggunjingkan masalah Amayra dan Satria.


"Kasihan banget ya dokter Satria. Kalian dengar kan dia dipanggil sama dr. Daniel?" tanya seorang suster. Disana tercium bau bau gosip.


"Pasti mau disanksi tuh, soalnya dokter Satria sering ngambil cuti." celetuk seorang suster yakin.


Ya, hari itu tepat saat Satria mengantar istrinya ke rumah sakit. Satria langsung dipanggil oleh dr. Daniel untuk masalah cutinya. "Dokter Satria, sudah berapa kali kamu mengambil cuti bulan ini? Apa kamu bisa jawab saya?" tanya dokter itu dengan suara tegas dan mata yang tajam.


"Sudah 5 kali pak," jawab Satria sambil menundukkan kepala di depan atasannya itu


"Berapa kali kamu menyerahkan tugas operasi pada dokter bedah lain?" tanya dr. Daniel lagi.


"Sudah 3 kali," jawab Satria seperti pasrah dimarahi.


"3 kali kamu membuat saya marah, 5 kali kamu mengabaikan tanggungjawab kamu sebagai dokter bedah. Dokter Satria, apa kamu seorang dokter?" tanya dr. Daniel kesal.


"Saya minta maaf dokter, tidak ada lain kali. Mohon maafkan saya," Satria memohon maaf pada dr. Daniel karena sudah mengabaikan tugasnya dengan mengambil cuti.


"Dokter Satria, saya mengerti anda sangat peduli kepada istri dan anak anda. Tapi, bukan berarti anda bisa mengabaikan tugas di rumah sakit, karena profesi anda adalah seorang dokter! Tanggungjawab anda bukan hanya pada istri dan anak anda saja, tapi pada rumah sakit dan juga pasien yang anda rawat. Tidak ada lain kali dokter Satria, ini terakhir kalinya anda mengambil cuti bulan ini dan bulan seterusnya kamu tidak bisa mengambil cuti," jelas dr. Daniel menegaskan kepada bawahannya itu. Lebih tepatnya hukuman untuk Satria yang sudah terlalu banyak membolos dengan alasan keluarga.


"Baik pak," Satria tidak bisa membantah perkataan atasannya. Dia tau bahwa dirinya memang bersalah.


"Oh ya, kamu tau kan perjalanan 3 bulan lagi ke Afrika?"


"Ya pak saya tau, tapi ada apa?" tanya Satria heran, mengapa dr. Daniel membicarakan soal Afrika.


"Nama kamu masuk ke dalam daftarnya," jawab Dr. Daniel.

__ADS_1


Satria tercekat mendengar itu, bahwa namanya masuk ke dalam daftar nama dokter yang akan dikirim pergi ke Afrika untuk membantu orang-orang di daerah yang terkena bencana alam yang ada disana.


"Kenapa nama saya bisa terdaftar disana?" Satria terlihat tidak senang dengan berita yang didengarnya itu. Pergi ke Afrika, jauh dari Amayra dan Rey? Sungguh pasti akan seperti neraka baginya.


"Ini sudah keputusan semua dokter yang berada di rumah sakit ini dan dokter Candra juga sudah memilih kamu untuk pergi," jelas dr. Daniel.


Satria mencoba bicara pada dr. Daniel, apakah dia bisa menolak untuk pergi ke Afrika? Namun, sayangnya semua telah ditetapkan. Bahwa dalam waktu 3 bulan lagi, Satria akan pergi ke Afrika selama 2 bulan. Dia bingung bagaimana harus bicara pada Amayra nanti, tentang kepergiannya ini.


Hari itu setelah mendapatkan sanksi, Satria langsung kembali bekerja. Sesekali dia menjenguk istrinya yang belum siuman masih dalam masa opname. Disana ada Harun yang menjaganya.


"Sudah berapa kali kamu bolak-balik kesini, Sat? Tenang saja, ada ayah disini yang menjaga Amayra." Harun tersenyum ramah melihat menantunya yang beberapa kali bolak-balik ke ruangan itu untuk melihat istrinya.


"Hehe, saya hanya khawatir padanya karena belum siuman juga." Satria menggaruk kepalanya, dia tersenyum polos.


Harun melihat kasih sayang tulus dari Satria untuk anaknya. Harun beruntung karena Amayra tidak menikah dengan orang yang salah, walau tidak menikah dengan pria yang sudah menghamilinya.


Doa Harun untuk Satria dan Amayra. Satria kembali pergi ke ruangannya, dia bersiap untuk operasi. Tak lupa dia membawakan dulu makan siang untuk ayah mertuanya. Harun sangat berterimakasih atas perhatian menantunya itu.


Sore itu saat Harun sedang duduk duduk di sofa, dia melihat Amayra membuka mata. Dia sudah siuman,tangannya bergerak pelan-pelan.


Amayra melihat langit-langit yang tampak asing dan dia yakin itu bukan kamarnya. Ranjang yang dia tiduri juga tidak seempuk ranjang di kamarnya. Belum lagi selang infus yang terpasang di hidung dan jarum infus ditangannya.


"May, kamu sudah siuman nak? Alhamdulillah ya Allah.." Harun menghampiri anaknya, dia mengucap syukur karena Amayra sudah siuman.


"A.. yah.. aku di rumah sakit ya?" tanyanya dengan suara pelan dan lemah. "Rey.. mana? Kak Satria juga.." Amayra menanyakan suami dan anaknya begitu dia sadar.


"Iya nak, kamu baru siuman dari tadi pagi waktu Satria membawamu ke rumah sakit. Kamu tunggu disini ya nak, ayah panggil dokter dulu!" Harun beranjak dan melangkah pergi keluar dari sana untuk memanggil dokter.

__ADS_1


Tak lama kemudian, dokter datang dan memeriksa kondisi Amayra. Demam nya sudah mulai turun, hanya saja tekanan darahnya masih rendah. Mungkin beristirahat satu atau dua hari bisa membuatnya kembali pulih. Harun senang mendengarnya, bahwa tidak ada yang serius pada Amayra dan hanya sakit biasa saja.


Amayra terus menanyakan Rey dan Satria. Harun menjawab dan menenangkan anaknya untuk fokus dengan kesehatannya lebih dulu. Rey bersama dengan orang yang aman dan bis menjaganya, yaitu Bu Nilam.


Setelah Harun pulang untuk berganti baju dulu ke rumah, Satria datang ke ruangan itu dan dia baru saja dari rumah untuk melihat kondisi Rey sebentar.


"Ayah sudah mau pulang? Aku antar ya?" Satria hendak mengantarkan ayah mertuanya.


"Tidak usah, ayah bisa naik ojeg. Kamu disini saja jaga Mayra ya." Harun tersenyum.


"Tapi ayah-"


"Gak apa-apa, nanti ayah kesini lagi kok buat nginep jagain May."


"Eh, gak usah yah! Biar aku saja yang jaga May, ayah pulang saja ke rumah, kebetulan pekerjaanku juga sudah selesai," ucap Satria sopan.


Harun pulang sendiri naik ojeg seperti yang dia katakan, sementara Satria berada di rumah sakit sebagai suami siaga yang menjaga istrinya. Setelah dia pulang ke rumah untuk menjaga anaknya sebentar, itu pun beres dari operasi. Satria merasa lelah, tapi dia tidak mengeluh sedikitpun. Dia adalah suami siaga dan ayah idaman untuk Rey.


"May, kamu belum menghabiskan makanannya. Aku suapi ya?" Satria mengangkat sendok berisi makanan untuk menyuapi Amayra.


"Jangan kak, aku bisa sendiri. Malu.. jangan disuapin," ucapnya malu.


"Malu sama siapa? Memangnya ada orang disini selain aku?" tanya Satria sambil meminta Amayra membuka mulutnya. "Ayo.. Aaa!"


Amayra memakan makanan yang disuapi oleh suaminya. "Kak, aku minta maaf ya.."


...****...

__ADS_1


Sambung lagi besok ya😍 Dan makasih lho buat vote, komen, like dan gift nya. Selamat malam mingguan 🤭


__ADS_2