
...🍀🍀🍀...
Tanpa sadar, tangan Amayra terulur pada masker yang dikenakan Bima. Dia penasaran dengan wajah dibalik mata yang familiar itu. Bima langsung menepis tangan Amayra dengan cepat.
"Apa-apaan sih kamu?" Bima menatap tajam ke arah Amayra.
Cewek lemah! Gak heran kalau Satria sampai menyewa pengawal untuknya. Ceroboh, kekanakan.
Wanita itu menatap lebar-lebar pada mata Bima. Dia yakin bahwa mata itu pernah dia lihat sebelumnya. "Ma-maaf, saya pikir...saya pernah melihat mas di suatu tempat. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Amayra.
Bima tidak menjawab pertanyaan Amayra, dia melangkah pergi. Namun, kancing jaket tangannya tersangkut pada bross kerudung yang dikenakan Amayra pada kerudung berwarna dustynya itu.
"Oh.. mas, ini tersang-"
Bima tidak peduli dengan ucapan Amayra. Dia berlari dan kembali menyebrang jalan. Bross Amayra tersangkut di kancing jaket tangannya.
"Bross ku!" Amayra melihat Bima sudah pergi jauh. Dia melihat pria itu menaiki motornya bersama Jack.
"May, gedeg tau gak aku sama kamu! Gimana bisa kamu jalan gitu aja ke tengah jalan tanpa lihat-lihat!" Lisa memarahi sahabatnya karena dia cemas.
"Maaf, aku kan cuma nolong kucing ini." Amayra menundukkan kepalanya.
"Cuma? Hah, gak heran deh kalau suamimu selalu mencemaskan kamu setiap saat May! Kamu emang udah hobinya buat orang cemas. Kamu gak apa-apa kan?" Lisa bertanya sambil memperhatikan tubuh Amayra. Takutnya ada yang terluka.
"Aku gak apa-apa, untung saja ada cowok itu tadi." ucap Amayra.
"Iya! Syukurlah ada cowok itu yang menyelamatkan 3 nyawa, kalau enggak... ah gak tau deh. Kamu ini...bikin gemes dan gedeg." Lisa tak hentinya menghela nafas dan menggerutu.
"Iya iya.. aku salah, nyebrang gak lihat-lihat. Tapi kasihan kucing ini kalau tidak diselamatkan, kucing adalah hewan kesayangan Rasulullah. Hewan yang paling disayangi, jadi-"
"Nona!" Sandy berlari menghampiri Amayra dan Lisa.
Lisa menceritakan pada Sandy, apa yang terjadi pada Amayra sebelum dia datang. Wanita hamil itu hampir tertabrak mobil. Kemudian Amayra meminta agar Sandy dan Lisa tidak menceritakan kejadian ini pada Satria.
Amayra, Lisa dan Sandy pun pergi ke restoran tempat Fania bekerja. Disana mereka makan siang bersama sambil mengobrol bersama Fania juga.
****
Sementara itu Satria baru saja keluar dari ruang operasi. Dia memberikan selamat kepada para suster dan dokter yang baru saja keluar dari ruang operasi.
"Terimakasih atas semangat dan kerjasama kalian. Berkat kerjasama ini, pasien bisa selamat." ucap Satria sambil tersenyum menyemangati para juniornya.
"Terimakasih juga kepada dokter Satria atas bimbingannya." ucap seorang dokter magang yang memperhatikan jalannya operasi.
__ADS_1
Para dokter magang itu belajar dari Satria tentang operasi dan semacamnya. Mereka juga mengagumi ketampanan Satria dan kehebatan nya dalam melakukan operasi.
"Sama-sama, jika tidak ada yang kalian mengerti. Kalian bisa tanya saya, kalau begitu saya permisi dulu. Kalian istirahat makan siang saja ya." ucap Satria ramah.
Satria meninggalkan ruang operasi, kemudian dia pergi ke ruangannya untuk mengganti bajunya. Ketiga dokter magang itu terpana dengan ketampanan Satria dan senyum plus lesung pipinya.
"Kyaakkk!! Dokter Satria hot banget sih," ucap seorang dokter magang berambut pendek terpesona.
Dokter magang yang dikepang satu membenarkan, "Iya bener, udah ganteng, pinter, sholeh, ah pokoknya paket lengkap kalau makanan tuh!"
"Apalagi senyumnya kayak le mineral! Ada manis manisnya gitu...hihi." ucap seorang dokter magang berambut pendek kegirangan.
"Tapi, apa dia udah punya istri ya?"seorang dokter magang berambut panjang bertanya-tanya.
"Dokter Satria udah punya istri loh, jangan sampai mikir macam-macam ya kalian." Kata Diana yang sudah berdiri dibelakang tiga dokter magang itu.
Ketiga wanita cantik bertitle dokter magang itu langsung menundukkan wajah mereka didepan Diana, senior mereka.
"Dokter Diana, maaf.. tapi kami ingin tau seperti apa istri dokter Satria?" seorang dokter magang memberanikan diri bertanya karena dia penasaran dengan sosok istri dokter tampan itu.
"Istrinya? Kenapa kalian mau tau? Pokoknya, dia sangat cantik luar dan dalam. Dia adalah wanita yang sangat dicintai dokter Satria. Kalian tidak akan bisa menandinginya." ucap Diana sambil tersenyum sinis pada ketiga dokter magang itu.
Mereka bertiga tidak bicara lagi, kemudian meninggalkan Diana. Diana terlihat kesal dengan mereka bertiga. "Huh! Dasar cewek-cewek genit! Kalau Amayra tau kondisi seperti ini, dia bisa cemburu dan marah. Eh...ini salahnya Satria dong, kenapa dia tebar pesona pakai bersikap ramah sama cewek-cewek itu?"
Di ruangannya Satria baru saja selesai shalat dhuhur dan baru akan makan siang dengan nasi kotak yang dia beli.
"Oh ya, Mayra sama my utun udah makan belum ya?" Satria teringat anak dan istrinya saat akan membuka nasi kotak.
Pria itu malah mengambil ponselnya lebih dulu dia menelpon istrinya. Tak berselang lama, Amayra langsung mengangkatnya. "Assalamualaikum sayang,"
"Waalaikumsalam Mas," jawab Amayra yang posisinya sedang berada didalam perjalanan pulang.
"Sayang, kamu sama dede udah makan siang?" tanya Satria perhatian pada istrinya.
"Alhamdulillah sudah Mas, baru saja aku makan di restoran tempat Fania bekerja..hehe." jawab Amayra sambil terkekeh.
"Kamu ke restoran Fania sama dede? Kok gak ajak-ajak aku?" tanya Satria dengan alis terangkat.
"Maaf ya Mas, tadi aku pergi sama Lisa. Tadinya aku gak bermaksud datang kesana," jelas Amayra merasa tak enak pada suaminya.
"Ya udah gak apa-apa, asal kamu sama dede udah makan. Oh ya makannya banyak kan?" tanya Satria.
"Gak, gak banyak! Takut gemuk ah!"
__ADS_1
"Sayang, walaupun kamu gemuk aku tetap cinta. Kamu tetap cantik, apalagi kamu gemuknya karena sedang mengandung anak kita." ucap Satria tulus.
Kata-kata Satria selalu membuang Amayra melayang, dia sangat bahagia karena memiliki suami seperti Satria.
"Mas, aku tutup teleponnya ya! Assalamualaikum!" Amayra menutup telponnya dengan cepat.
Kemudian wanita hamil itu cekikikan sendiri, Sandy sampai menahan tawa melihatnya. Amayra terluka menggemaskan, seperti anak ABG yang sedang jatuh cinta.
Sandy melajukan mobilnya dengan kecepatan rendah dan aman-aman saja. Dia mengantar Amayra ke dalam rumah dengan selamat. Sesampainya di rumah Amayra langsung pergi ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya diatas ranjang.
"Ya Allah kenapa aku lelah sekali? Haahh...dan kenapa tiba-tiba aku memikirkan pria itu? Tapi entah kenapa dia terlihat tidak asing?" Amayra memikirkan pertemuannya dengan Bima.
Sepulang suaminya, Amayra segera menyambut Satria dengan hangat. Dia membawakan tas hitam dan membantunya melepaskan jaket. "Mas, mau makan malam apa? Bi Lulu buat cumi goreng, pepes ikan, sama sambal terasi." tak lupa Amayra menanyakan makan malam untuk suaminya.
"Oke, makan yang ada aja."
"Mas, gak mau aku masakin?"
"Gak usah, aku mau kamu makanin aja." Satria tersenyum sambil memeluk istrinya.
"Hah...makan aku?" tanya Amayra sambil menatap mata suaminya. Dia memperhatikan wajah suaminya terutama bagian mata.
Mata Mas Satria kenapa..
Entah apa yang merasuki Satria, pulang dari rumah sakit dia langsung memeluk dan mencium Amayra. "Tu-tunggu Mas."
Ucapan Amayra terpotong karena bibir Satria sudah duluan melahap bibir Amayra dengan penuh hasrat. Tangannya bergerilya memegang pinggul sang istri, kemudian dia menaikkan tubuh istrinya ke pangkuannya.
Mereka berdua berada diatas ranjang, masih dalam posisi berciuman. Bahkan pintu kamar mereka saja lupa ditutup. "Mas...hmphh!" Amayra memperhatikan mata suaminya dalam-dalam.
Amayra mendorong tubuh kekar suaminya itu pelan-pelan. Akhirnya Satria paham dan melepaskan Amayra. "Mas, aku tidak bisa bernafas...haahh.."
"Maaf sayang, habisnya sudah tiga bulan aku tidak..." Satria tidak melanjutkan ucapannya. Ketika Amayra menutup setengah wajahnya dengan telapak tangan.
Dia menatap suaminya lekat lekat, memperhatikan setiap bagian dari wajah tampannya. Mata, hidung dan bibir yang indah itu. Kemudian beberapa saat kemudian, Amayra tercengang.
"Matamu...matamu mirip dia..Mas!"
...----****---...
Hai Readers! Jangan lupa ya besok mampu ke novel baruku 😍😍
__ADS_1