
Setelah berbincang dengan Amayra tentang rencana akting mereka didepan Clara. Bima berjalan pergi keluar dari kamar itu. Dia mengucapkan selamat malam dan selamat beristirahat untuk Amayra.
Kini hanya Amayra dan suaminya saja yang ada didalam kamar itu. Dia mengajak Satria berbicara. "Mas, ternyata saudara kembar kamu tidak seburuk yang aku pikirkan. Dia baik juga, walaupun dia berbohong pada awalnya. Mas...kamu harus cepat siuman ya, kamu punya momen bahagia yang menantimu. Anna akan segera menikah, kamu punya saudara lain selain kak Bram dan Almh kak Raisa...jadi kamu harus segera sehat ya mas. Aku dan anak kita juga menunggu kamu mas." Amayra mengecup kening Satria sebelum dia tertidur di ranjang satunya.
Amayra mulai tidak nyaman berbaring dengan posisi terlentang, dia tertidur meminggir dan merasakan nikmatnya kehamilan. Tidur mulai kesulitan bergerak, kadang dia terbangun ditengah malam, menjadi kesulitan untuk kembali tidur. Tubuhnya berkeringat, perutnya juga kadang menendang tidak tahu waktu. Namun, Amayra tau semua itu adalah nikmatnya seorang ibu, masa-masa yang langka didalam kehidupan seorang wanita.
Biasanya ketika Amayra bangun tengah malam, Satria akan ikut bangun dan juga menemani istrinya begadang. Terkadang Satria juga menyiapkan teh hangat untuk istrinya, atau memasak makanan bila istrinya lapar tengah malam. Kini Satria terbaring lemah, tidak tahu kapan dia akan siuman.
Hati Amayra sedih melihat Satria masih tertidur pulas disampingnya, dia berharap ketika dia membuka mata. Satria sudah menyambutnya dengan senyuman indah dengan dua lesung pipinya itu, sambil mengatakan. "Selamat pagi istriku."
Aku harap semua ini cepat berlalu mas. Aku merindukanmu mas. Amayra memandangi suaminya dengan buliran kristal membasahi bantalnya. Tangannya membelai pipi Satria dengan penuh kasih sayang.
******
Selama 2 minggu pun keadaan Satria masih tetap sama. Sesekali dokter Bevan memeriksa kondisi Satria, membantu pria koma itu untuk meluruskan otot-ototnya yang mungkin sudah kaku karena kelamaan berada ditempat tidur.
"Dokter Bevan, bagaimana keadaan suami saya? Apa dokter tau kapan suami saya akan siuman?" tanya Amayra pada dokter Bevan dengan harapan yang besar.
Bevan menghela nafas. "Maafkan saya Bu Amayra, saya tidak tau...orang koma tidak bisa diprediksi kapan akan siuman. Namun, Bu Amayra tidak usah cemas, keadaan dokter Satria baik-baik saja kok...tidak ada masalah serius. Hanya saja saya tidak mengerti, kenapa dia masih tetap tertidur seperti ini." ucap dokter itu dengan tatapan sedih melihat Satria masih koma.
Amayra menundukkan kepalanya. "Terimakasih atas jawabannya dokter."
"Sabar ya, kamu pasti bisa melewati semua ini...akan ada kemudahan setelah kesulitan, akan ada pelangi setelah hujan." Bevan menyemangati Amayra untuk tetap sabar menunggu Satria dan agar hatinya tetap tabah.
"Insya Allah dokter, saya akan selalu menunggu suami saya. Tidak peduli berapa lama, saya akan tetap disini menunggunya." kata Amayra sambil tersenyum pahit.
Dokter Bevan pulang setelah memeriksa Satria dan menjelaskan kondisi Satria pada semua keluarga Calabria.
"May, maaf...hanya sabar yang bisa aku katakan." ucap Diana pada adik iparnya itu s seraya menepuk bahu Amayra.
"Makasih ya kak, dukungan dan semangat kakak sudah sangat membantuku selama ini." ucap Amayra sambil menatap Diana dan tersenyum.
Diana merasa kasihan karena Amayra dengan tegar masih menunggu suaminya yang belum juga sadar dari komanya. Jika dia berada di posisi Amayra dan Bram yang koma, tidak tahu kapan akan siuman. Mungkin Diana tidak bisa sesabar Amayra dan dia akan sedih setiap harinya.
Pagi itu Diana dan Bram berangkat bekerja bersama. Diana akan ke rumah sakit dan Bram akan ke kantor. Sementara Anna berangkat bersama Amayra ke kampus, karena ada persentase penting di kampusnya yang harus dia hadiri.
"Tante May, apa Tante harus ke kampus? Kehamilan Tante semakin besar loh, apa gak capek?" tanya Anna sambil melihat perut buncit itu dengan cemas.
__ADS_1
Anna membiasakan dirinya memanggil Amayra dsngan sebutan Tante.
"Capek apanya? Ini nikmatnya seorang ibu... justru mereka akan senang kalau aku bawa ke kampus." ucap Amayra sambil mengelus perutnya dengan penuh kasih sayang.
"Hem... keliatannya berat tuh." gumam Anna.
Amayra meminta bantuan pada orang rumah untuk menjaga Satria selama dia pergi ke kampus bersama Anna. Nilam, Lulu, Dewi, dan Cecep yang ada di rumah mengatakan bahwa mereka akan menjaga Satria.
Anna mengendarai mobil sendiri karena dia sudah bisa mengendarainya, juga sudah punya SIM sendiri. Dia menyetir mobilnya menuju ke kampus, bersama Amayra yang duduk di kursi depan.
"Tante May, aku bawa mobilnya udah pelan belum?" tanya Anna ragu-ragu dengan kecepatan mobilnya saat membawa ibu hamil.
"Iya pelan banget, mungkin aku bisa telat persentasinya." ucap Amayra sambil tersenyum.
"Wah, Tante nyindir aku ya?" Anna menoleh ke arah Amayra dengan bibir yang mengerucut.
"Haha...aku bercanda kok, lagian masih lama juga persentasinya." Amayra malah tertawa mendengar pertanyaan Anna.
Ketika mereka berada dalam perjalanan, saat lampu sedang merah. Amayra melihat Bima dan Clara berada dalam satu mobil, keduanya terlihat mesra.
"Tante May, itu om Bima sama si rubah busuk!" kata Anna sambil melihat Clara dan Bima berada di sebelah mobil mereka.
"Oke, tante."
Anna memberhentikan mobilnya didepan supermarket. Amayra dan Anna turun dari mobil, bersamaan dengan Bima dan Clara yang juga turun dari mobil.
"Eh, ada istri kamu juga disini kak?" Clara menatap Amayra, dengan sengaja dia memeluk Bima.
Hem, pasti dia sengaja begitu karena ingin memperlihatkannya pada kami, terutama Tante Amayra.
"Ngapain kamu disini? Kamu ngikutin aku sama Clara ya?" tanya Bima membentak Amayra.
Semoga Amayra tau kode ku ini. Batin Bima.
"Mas... ternyata ini alasan kamu gak pulang selama satu minggu! Kamu pergi sama dia mas?" Amayra menatap Bima dengan tatapan berkaca-kaca.
"Lagian kenapa aku harus tinggal sama istri seperti kamu, gak menarik, kampungan, dulu aku sangat buta karena pernah menyukaimu!" Seru Bima pada Amayra dengan suara meninggi.
__ADS_1
Aktingku bagus kan?. Bima bertanya-tanya dalam hatinya sendiri, bagaimana dengan aktingnya.
Apa? Kampungan, gak menarik?Hah! Kalau bukan akting, aku pasti sudah sakit hati benaran. Amayra agak kesal dikatakai seperti itu oleh Bima walau hanya pura-pura.
"Astagfirullah Mas...tega kamu berbuat seperti ini padaku? Aku sedang hamil anak kita dan kamu malah bermain dengan wanita lain...hiks..." Amayra menangis tersedu-sedu, sambil sesekali melihat ke arah Anna.
Apa aku harus ikutan juga?. Anna menatap Amayra.
"Heh! Rubah busuk, kenapa kamu menggoda omku? Kalau ingatannya sudah kembali, kamu yang akan didepak olehnya! Om Satria juga, kenapa om percaya sama dia? Dia itu jahat om."
"Kak...jangan dengarkan mereka, dari dulu mereka emang gak suka sama aku. Kamu percaya kan sama aku kak?" Rengek Clara pada Bima dengan manja.
"Iya sayang, aku percaya kok sama kamu." Bima memegang tangan Clara sambil tersenyum.
Uwekk.. sayang sayang kepala Lo peyang!. Batin Bima jijik.
"Mas...tega ya kamu sama aku dan anak kita. Kalau kamu nanti sudah ingat padaku, awas saja kamu! Aku gak akan mengizinkan kamu bertemu anak kita!" Amayra mengatakan dengan tegas.
Wow! Tante May, aktingnya totalitas sekali. Apa karena semalam dia habis nonton film Cruel Temptation?. Anna terperangah dan terpesona melihat akting Amayra seperti istri tersakiti seperti sungguhan.
"Hah! Aku bahkan tidak tahu itu anak siapa, urus saja anakmu sendiri! Aku tidak akan pulang..." ucap Bima sambil tersenyum sinis.
Clara tersenyum melihat Bima alias Satria palsu lebih memilihnya ketimbang Amayra.
Bima dan Clara masuk ke dalam Supermarket. Dengan cepat, Amayra menyeka air mata palsunya, menghela nafas lega karena dia sudah berakting barusan.
"PFut...hahaha..." Amayra tiba-tiba tertawa lepas.
Prok, prok, prok
Anna bertepuk tangan. "Bravo Tante! Aku tidak tahu kalau Tante adalah seorang bintang!"
"Anna, gimana aktingku? Bagus kan?" tanya Amayra sambil tersenyum.
"Sangat bagus, aku sampai tertipu...bahkan si rubah busuk pun kayaknya ketipu." kata Anna memuji sambil mengacungkan jempolnya.
"Hanya tinggal tunggu kebenaran terungkap, dia akan segera mendapatkan balasannya. Ah.. udah yuk, kita ke kampus...udah telat nih." Amayra melihat ke arah jam tangannya.
__ADS_1
"Oke!"
...****...