Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 76. Gantian jaga bayi


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Amayra tercengang melihat Bram memuntahkan banyak darah, sampai darah itu membasahi lantai di depan kamarnya. Dia tidak mau peduli pada Bram, tapi dia kasihan. Akhirnya dia pun bertanya pada Bram dengan hati yang enggan," Kak Bram, apa kakak baik-baik saja?" tanya Amayra sedikit cemas.


Apa dia masih sakit?


"Tidak apa-apa, ini sudah biasa terjadi. Maaf ya aku jadi mengotori lantainya. Aku akan ambil lap pel untuk membersihkannya," ucap Bram sambil menyeka darah di sudut-sudut bibir dengan kedua tangannya.


Sial! Kenapa harus terlihat lemah disaat seperti ini?


Bram tak mau terlihat lemah di depan Amayra dan Rey. Dia ingin menjadi orang yang bisa diandalkan oleh Amayra, padahal itu bukan tempatnya. Tempat itu sudah menjadi milik Satria dari dulu sampai sekarang, Bram tak punya tempat didalam hidup Amayra maupun Rey, tapi dia tetap berusaha menyusup ke dalam kehidupan mereka yang pernah dia tinggalkan.


"Tidak usah, kakak pergi saja! Biar aku yang bersihkan," ucap Amayra dengan nada ketus seperti biasanya pada Bram.


"Aku akan segera kembali," Bram berlari terburu-buru menuju ke arah dapur untuk mengambil kain pel. Padahal Amayra belum selesai bicara dan pria itu sudah pergi begitu saja.


Amayra masih menimang Rey yang masih belum tidur, sambil berdiri. Beberapa saat kemudian, Bram datang membawa kain pel, dia benar-benar membersihkan darah dilantai itu dengan kedua tangannya sendiri.


Pria itu membuat Amayra terpana, pasalnya Bram ibaratkan anak manja, sombong, dilahirkan dengan dari sendok emas dan tidak pernah melakukan pekerjaan kasar. Sedang mengepel lantai di depannya, Amayra menggeleng-geleng tak percaya. Apa benar pria didepannya adalah Bramastya Zein Calabria? Pria yang sudah merenggut mahkotanya dengan paksa?


Sebelumnya Bram juga membantu Amayra mengganti galon air, bahkan membuang bekas popok kotor ke tempat sampah dan membawa tong sampah ke dalam kamarnya. Lalu sekarang pria itu sedang mengepel? Amayra melihat wajah Bram yang tampak pucat itu.


"Nah sekarang sudah bersih," Bram menghela napas lega setelah berhasil membersihkan noda darah dilantai itu dengan kedua tangannya sendiri.


Woah, apa aku baru saja mengepel? Ya ampun, akhir-akhir ini aku melakukan hal-hal yang tidak terduga. Tidak apa-apa Bram, kamu harus tunjukkan kalau kamu sudah berubah menjadi lebih baik.


"Oh ya aku kembali dulu ke kamarku ya, kalau Rey sudah tidur. Kamu juga harus tidur, katanya bayi yang baru lahir itu akan sering terbangun dan ibunya akan sering begadang. Kamu harus jaga kesehatan," ucap Bram perhatian pada wanita itu.


".... "

__ADS_1


Mengapa dia seperti itu?


Amayra tidak menjawab perhatian Bram padanya, dia hanya fokus pada Rey. Bram menahan kesabarannya untuk tidak marah pada Amayra.


"Kalau ada apa-apa, kamu bisa panggil aku, aku ada di kamar atas." Kata Bram sebelum melangkah pergi meninggalkan kamar itu.


"Saya sudah bilang jangan melewati batasan anda sebagai kakak ipar saya. Jangan bersikap seolah anda adalah ayah Rey, ayah Rey hanya kak Satria." Kata Amayra tegas bercampur tegas pada Bram.


"Aku memang kakak iparmu, tapi kamu juga jangan lupa kalau aku adalah ayah kandung dari Rey! Aku ayahnya, kenapa kamu selalu melupakan hal itu?" Bram sedih mendengar ucapan Amayra. Seolah dia tak ada hubungan apapun dengan Amayra dan Rey.


"Saya bukan melupakan, tapi yang saya tau dan yang ingat. Kak Satria adalah ayahnya Rey," ucap Amayra menyakiti hati Bram.


Astagfirullah.. kenapa aku marah-marah begini?


"Amayra! Kamu-"


Sabar Bram, sabar.


"Astagfirullahaladzim, kenapa aku tidak bisa menahan emosiku setiap melihat dia? Sabar May, sabar. Duh, kak Satria kapan pulang ya?" gumamnya resah menunggu sang suami pulang.


Amayra akhirnya baru bisa tidur agak nyenyak setelah Rey menyusu. Rey dan Amayra sama-sama tertidur di atas ranjang itu. Seorang pria datang mengendap-endap masuk ke dalam kamarnya. Dia menatap Amayra dan Rey yang sedang tidur pulas dengan senyuman lembutnya. Siapa lagi kalau bukan Satria? Pria yang sudah ditunggu-tunggu oleh Amayra.


Melihat kalian berdua, lelahku langsung jadi hilang.


Satria mengulurkan tangan untuk menyentuh pipi lembut si bayi, namun dia menarik tangannya kembali dan mengurungkan niatnya. "Oh ya, aku lupa harus cuci tangan dulu," gumam nya pelan.


Satria beranjak dari ranjang yang dia duduki, kemudian Amayra membuka matanya perlahan-lahan menyadari ada gerakan diatas ranjang itu. "Kak Satria sudah pulang?" Amayra mengucek matanya, menatap sang suami yang baru saja pulang kerja. Dia melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 4 subuh.


"Ya, baru saja. Kamu tidur saja lagi, kamu juga kurang tidur kan?" Satria mengusap lembut kedua pipi istrinya. Walau dalam keadaan tidur saja Amayra masih memakai hijab nya yang simple.

__ADS_1


"Gak apa-apa kak, aku siapkan teh untuk kakak ya. Apa kakak mau makan juga?" tanya


"Tidak usah, setelah dari kamar mandi dan menunggu adzan subuh. Aku akan tidur," jelas Satria yang juga begadang karena habis jaga malam.


"Beneran nih gak mau teh?Jadi maunya air panas buat mandi aja?" tanya Amayra sambil menutup mulutnya yang menguap itu.


"Iyah gak mau. Air panas juga gak usah disiapkan, aku siapkan sendiri. Kamu bobo aja ya," Satria mengusap lembut kepala Amayra, dia tersenyum lega.


Amayra kembali tertidur karena dia sudah terjaga semalaman menjaga Rey yang tidur-bangun dalam waktu tidak tentu. Sampai sinar mentari menyinari matanya, akhirnya Amayra terbangun begitu mendengar suara tangisan Rey.


"Eh? Rey kemana?" Amayra kaget, begitu terbangun dia tidak melihat Rey disampingnya. Suara tangisan Rey berasal dari luar kamar. Amayra berjalan keluar dari kamarnya dan dia melihat Satria sedang menggendong Rey dengan wajah bingung. Disamping Satria ada Anna yang juga terlihat bingung.


"May, kok kamu bangun sih?" tanya Satria heran melihat istrinya sudah bangun lagi.


"Lho? Kenapa kak Satria gak tidur malah gendong Rey?" Amayra balik bertanya keheranan. Harusnya Satria tidur pulas setelah jaga malam, dia malah berada di depan ruang tamu dengan menggendong Rey.


"Hehe, padahal om Satria bermaksud jagain Dede Rey, eh tapi Rey nangis terus." Anna tertawa kecil melihat wajah omnya yang terlihat bingung bagaimana menenangkan anak kecil. Tadinya Satria ingin menjaga Rey menggantikan Amayra yang terlihat lelah, tapi Rey malah menangis.


"Apa Rey tidak nyaman dengan ku? Atau bagaimana? Dia nangis terus, padahal setiap digendong olehku Rey selalu tenang, kenapa sekarang enggak ya?" tanya Satria bingung.


"Iya nih May, kasihan dari tadi om Satria kebingungan!" Anna tertawa kecil.


"Kamu juga kan kebingungan, gak tau Rey kenapa?" Satria bicara dengan bibir yang mengerucut.


"Owaa...owaa.." Rey masih menangis didalam gendongan Satria. Membuat pria itu berfikir yang tidak-tidak,'


"Enggak kak bukan gitu, sini aku gendong Rey nya!" Amayra tersenyum lembut, dia mengambil bayi itu dari tangan Satria. "Kamu lapar ya?" Ray berhenti menangis ketika sang ibu mulai membuka resleting depan bajunya yang ditutupi oleh hijab. Amayra menyusui anaknya itu dan Rey langsung diam.


Amayra menjelaskan bahwa Rey ingin menyusu, makanya dia menangis dan bukan karena Rey tidak suka pada Satria. Anna dan Amayra menertawakan wajah Satria yang resah seperti akan menangis karena sudah berfikir yang bukan-bukan.

__ADS_1


Setelah itu, Amayra meminta suaminya untuk tidur lebih dulu, sementara dia dan Anna akan memandikan Rey. Karena hari sudah mulai siang.


...---***---...


__ADS_2