
...*****...
"Kalian itu...bukan muhrim!" teriak Cakra emosi.
Sepertinya Cakra dan Nilam sudah terlanjur salah paham melihat keadaan Anna dan Ken. Mereka berdua menundukkan kepalanya, mereka memang hampir berbuat zina yang lebih besar, namun keduanya segera berhenti ketika akan melakukannya.
"Opa, saya akan jelaskan kalau saya dan Anna tidak-" ucapan Ken yang akan menjelaskan itu tiba-tiba terputus.
Plakkkk
Nilam menampar Ken dengan keras. Anna terkejut melihat Ken kekasihnya di tampar oleh Omanya. "Oma!" Teriak Anna tak tega melihat Ken ditampar.
Ken hanya terdiam dan memegang pipinya yang baru saja ditampar itu.
"Beraninya kamu berbuat seperti itu pada cucu perempuan saya dan di rumah ini?!!" Nilam menatap murka pada Ken, dia jadi teringat saat ibu Anna yang hamil diluar nikah karena kebablasan. Dia sangat takut terjadi hal yang sama pada Anna.
"Oma, opa, kami gak melakukan apa-apa.." Anna terlihat bingung bagaimana menjelaskannya pada Nilam dan Cakra.
Ya Allah bagaimana ini, opa sama Oma kayanya sudah salah paham.
"Cukup! Kamu jangan bicara lagi Anna, opa dan Oma sangat kecewa sama kalian berdua. Kalau tau seperti ini, opa dan Oma tidak akan mengizinkan kalian berpacaran dan berbuat dosa! Tidak, opa dan Oma yang salah...karena memberikan jalan untuk kalian berbuat dosa." ucap Cakra emosi.
"Maafkan saya Opa, saya yang bersalah...saya yang duluan mencium Anna dan saya akui saya terbawa n*fsu, tapi sumpah opa...hanya sampai ciuman saja, kami tidak melakukan apa-apa lagi." Ken berlutut didepan pria paruh baya itu, seraya memohon maaf dan mengakui bahwa dia yang bersalah karena sudah lebih dulu menyentuh Anna.
"Itu benar opa...oma, kami hanya berciuman dan tidak melakukan lebih dari itu. Maafkan kami opa, Oma." Anna mengatupkan kedua tangannya seraya memohon maaf sambil menangis didepan Cakra dan Nilam.
"Mau hanya ciuman atau pelukan, kalian tetap salah dan kalian berniat melakukan hal yang lebih dari itu kan?" Cakra bertanya lagi dengan suara yang menggelegar.
Aku tidak mau nasib cucuku sama seperti ibunya.
Ken dan Anna terdiam mendengar pertanyaan Cakra, mereka memang sudah ada niat untuk melakukan itu. Melihat Ken dan Anna yang diam, membuat Nilam berpikir bahwa uang dikatakan Cakra itu benar.
"Jadi benar kalian.... astagfirullahaladzim..." Nilam memegang dadanya, tiba-tiba kedua kakinya lemas dan dia ambruk.
"Mama!" Cakra panik melihat istrinya tiba-tiba roboh.
"Oma!" Ken dan Anna berdiri, mereka membantu Nilam untuk berdiri tegap.
Akhirnya Ken dan Anna yang sudah berganti baju, harus menghadap sidak dari Nilam dan Cakra. Nilam masih terbaring di atas sofa, dia menangi sambil memegang dadanya. "Pa...tolong lakukan sesuatu!" Nilam terlihat resah. "Aduh kepalaku...dadaku sesak sekali." Nilam merintih kesakitan, dia masih syok melihat Anna dan Ken yang hampir saja melakukan itu jika dia dan suaminya tidak datang tepat waktu.
"Hey! Berikan nomor orang tuamu!" Cakra menatap tajam seraya berteriak pada Ken.
"I-iya..." Ken hendak mengambil ponselnya yang ada didalam saku celana.
"Opa mau apa tanyain nomor orang tua Ken?!" Anna bertanya sambil menatap ke arah sang kakek.
"Kamu tidak dalam posisi untuk bisa bertanya pada opa!" Jawab Cakra ketus.
__ADS_1
"Opa!"
"Anna, diam!" ujar Cakra meminta Anna untuk diam.
Anna menundukkan kepalanya dengan wajah cemberut, tidak berani bicara lagi menentang kakeknya yang sudah marah. Cakra mengambil ponsel Ken, dia melihat nama mu sister tertera disana. "Kenapa kakak kamu? Saya mau telepon orang tua kamu!"
"Kedua orang tua saya sudah meninggal, Opa." jawab Ken.
Cakra terdiam sejenak. "Oh maaf kalau begitu, saya gak tau. Lalu siapa orang di keluarga kamu yang paling tua? Masa kakak kamu aja? Kamu pasti punya paman atau kakek dan nenek yang masih hidup?" tanya Cakra lagi kepada Ken.
"Sa-saya ada opa,"
"Nomor opa kamu, cepat sambungkan!" Kata Cakra pada Ken dengan tegas.
Ken terlihat resah dan menciut dengan sikap tegas Cakra. Dia pun menyambungkan telepon pada opanya.
Tuutt..
Tutt...
Nada dering itu masih tersambung belum diangkat oleh opanya Ken. Disisi lain Ken dan Anna terlihat resah, mereka menelan ludah merasa berdebar karena tidak tahu apa yang akan dikatakan Cakra pada opanya Ken ini.
"Ken, gimana ini? Opa kamu kan..." bisik Anna pada kekasihnya.
"Aku juga gak tau An, apa kamu tau apa yang mau dikatakan opa kamu?" tanya Ken berbisik pada Anna.
BRAK!
"Bisa diam gak kalian?!" Cakra menggebrak meja, menatap tajam pada Ken dan Anna yang berada di meja seberang tempatnya duduk.
Nilam masih berbaring lemas di atas sofa, kepalanya masih pusing.
Ken dan Anna langsung menutup mulut mereka rapat-rapat. Rasanya jantung mereka mau copot karena kemarahan Cakra dan apa yang akan dikatakan Cakra.
"Halo, Ken?" sebuah suara terdengar di ponsel Ken.
"Halo Assalamualaikum," Cakra memberi salam pada orang yang bicara dengannya ditelepon itu.
"Waalaikumsalam, ini benar nomor hp cucu saya, kan? Atau saya pikun?"
"Benar ini nomor cucu anda, tapi saya meminjam ponselnya. Saya ingin bicara dengan anda, anda opanya Kenan kan?" tanya Cakra dengan suara tegas dan berwibawa.
"Benar saya opanya, kamu siapa dan kamu mau bicara apa sama saya?!" tanya opa Ken dengan suara yang tegas juga.
"Cucu anda Ken, sudah menodai cucu saya...mau bagaimana anda bertanggungjawab?!" Cakra membentak.
Ken dan Anna melebar menatap Cakra dengan perasaan tegang.
__ADS_1
"Apa? Cucu saya menodai cucu anda? Apa itu benar? Bukannya anda menuduh cucu saya?!" teriak Opa Ken pada Cakra.
"Hey! Jangan berteriak pada saya!" Cakra marah karena pria yang bicara padanya itu berteriak-teriak.
Pembicaraan mereka berdua tidak berjalan lancar, akhirnya mereka memutuskan untuk bertemu secara langsung. "Opa, apa kita akan bertemu dengan opanya Ken?" tanya Anna keheranan.
"Iya! Sekarang juga dan kalian tidak boleh membantah." kata Cakra tegas.
"Pa, mama juga ikut." ucap Nilam sambil menatap tajam ke arah Ken dan Anna.
"Mama kan masih pusing, udah mama disini aja. Biar papa yang ketemu opanya Ken." kata Cakra khawatir pada keadaan istrinya yang tadi syok itu.
"Mama udah gak apa-apa, hati mama gak tenang pa." ucap Nilam sambil mengambil tas gandengnya.
Anna, Cakra, Nilam dan Ken pun tiba disebuah restoran yang menjadi tempat janjian Cakra dan opanya Ken ini. Ken terlihat ketakutan, karena opanya itu sangat galak padanya.
Bisa habis aku sama opa, nanti.
Anna mengisyaratkan pada Ken untuk tenang karena ada dia disana yang akan membantu Ken bicara. Mereka berempat sampai disebuah meja yang disana ada seorang pria memegang tongkat.
"Permisi, apa anda adalah opanya Kenan?" tanya Cakra sambil menepuk bahu pria paruh baya itu.
"Benar, apa kamu..." Opa Ken berbalik melihat ke arah Cakra, dia sudah bersiap marah. Namun saat melihat Cakra, raut wajahnya tiba-tiba berubah. "Cakra!!"
Kedua mata Cakra melebar menatap pria paruh baya didepannya itu. "Mas Dimas?!"
Anna dan Ken saling melirik satu sama lain sambil bertanya-tanya apa kedua kakek mereka saling mengenal?
"Mas Dimas, Kenan adalah cucumu?" tanya Cakra pada opanya Ken yang bernama Dimas itu.
"Iya Cakra, Ken cucuku..." jawab Dimas sambil tersenyum. "Jadi Anna adalah cucumu?"
"Iya mas..wahhh...kebetulan macam apa ini? Ternyata kedua cucu kita berpacaran." kata Cakra tidak percaya, raut wajahnya berubah menjadi lebih baik saat melihat Dimas.
"Kalau begitu kita jangan bicarakan apa-apa lagi, langsung saja nikahkan mereka!" kata Dimas tegas.
"APA?!!"
Semua orang disana langsung tercengang saat mendengar ucapan Dimas yang tegas.
Nikah?
Ken dan Anna saling melihat satu sama lain.
...****...
Mau lanjut lagi nanti sore, jangan lupa komennya dong ๐๐โบ๏ธ
__ADS_1
Oh ya, pengumuman pemenang give away diundur sampai tanggal 10 atau 11 Juni ya..๐๐ Terimakasih sudah mendukung karyakuโบ๏ธ๐