Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 145. Kecurigaan Satria


__ADS_3

...****...


...Aku persembahkan hidupku untukmu...


...Telah kurelakan hatiku padamu...


...Namun kau masih bisu, diam seribu bahasa...


...Dan hati kecilku bicara.....


...Baru kusadari......


...Cintaku bertepuk sebelah tangan...


...Kau buat remuk seluruh hatiku.....


Ken masih menyanyi dengan alunan gitar dan suara yang menggambarkan isi hatinya saat ini. Sakitnya cinta bertepuk sebelah tangan yang tidak akan pernah bisa dia raih.


Di bawah panggung, Amayra dan Lisa menatap Anton yang baru saja bicara kalau Ken patah hati karena Amayra.


"Anton kamu bilang apa barusan?" tanya Amayra sambil menoleh ke arah Anton.


"Eh...itu...aku.." Anton gelagapan, dia melihat ke arah Lisa. Lisa menggelengkan kepalanya dengan bingung seolah memberikan sinyal akan sesuatu.


Kenapa aku bisa keceplosan begini?


"Anton, apa kamu manggil aku barusan? Maaf karena suara musiknya, jadi suaramu gak kedengaran deh." Ucap Amayra dengan wajah polosnya itu.


Lisa dan Anton tiba-tiba menghela nafas lega. Mereka pikir Amayra mendengar apa yang Anton ucapkan, tapi ternyata wanita itu tidak mendengarnya dengan jelas.


"Anton, kok kamu bisa ngomong gitu sih?" Tanya Lisa sambil berbisik-bisik pada Anton.


"Sorry, aku keceplosan Lis.."


"Untung saja Amayra gak peka dan gak dengar, kalau dia dengar gimana?"


"Iya sorry deh.."


"Lebih baik biarkan dia gak tau aja. Kamu tau kan suaminya serem macam harimau?" Lisa memberitahu Anton bahwa Satria adalah tipe pencemburu.


"Ya jelas aja aku tau, waktu di rumah sakit aja tatapannya serem banget. Bikin bulu kuduk berdiri.. hihihi.." Anton membayangkan bagaimana jika Ken mengatakan cintanya pada Amayra, pasti Satria akan mengamuk.


Amayra melihat ke arah dua temannya yang sedang berbisik-bisik itu, "Kalian lagi ngomongin apa sih?"


"Hahaha.. enggak kok, bukan apa-apa." Lisa langsung tertawa yang dipaksakan.


Kayaknya Amayra gak denger deh.


Anton juga tersenyum melihat Amayra. Dia heran kenapa Ken mengajak Amayra dan semua orang untuk pergi ke cafe itu.


Apa yang dipikirkan si Ken? Ngapain dia kayak gini?


Ken menyanyi dengan penuh penghayatan sampai matanya berkaca-kaca siap mengeluarkan air mata dibawah matanya. Namun dia terus menahan air mata itu. Setelah selesai menyanyi, dia turun dari panggung dan pergi ke belakang panggung.


Buru-buru pria itu menyeka air matanya, teman-teman bandnya merasa heran melihat Ken seperti itu.


"Woy! Lo nangis? Kenapa Lo?"


"Lo kayak lagi galau aja Ken?" tanya temannya yang satu lagi.


"Gue gak apa-apa, guys...gue cabut dulu ya!" Seru Ken sambil memegang dadanya.


Kenapa mendadak aku jadi lebay dan baperan kayak gini? Sadar Ken sadar!


"Serius Lo mau cabut? Bukannya..."


Tiba-tiba saja datang beberapa wanita muda menghampiri Ken dan teman-temannya. Mereka meminta tanda tangan dan foto bersama Ken juga anggota bandnya yang lain.

__ADS_1


Amayra, Anton dan Lisa melihat betapa antusiasnya penonton akan penampilan Ken. Mereka bertiga yang akan memberi selamat untuk Ken, tidak jadi mengatakannya saat itu karena Ken dikerumuni banyak wanita muda.


"Anton, Lisa, maaf kayaknya aku harus pulang sekarang." Amayra membawa tas gendongnya seraya berpamitan pada Lisa dan Anton untuk pulang duluan.


"Loh? Kenapa? Ini baru jam dua,kan?" tanya Lisa dengan dahi berkerut.


"Aku sudah kangen anakku," jawab wanita itu dengan senyuman manisnya.


"Oh ya udah deh, tapi pulangnya gimana? Kamu dijemput suamimu?" Tanya Lisa pada temannya itu.


"Gak, suamiku masih di rumah sakit. Aku mau naik ojeg aja...aku mau ke rumah mertuaku dulu, anakku ada disana." Tutur Amayra.


"Ya udah, aku antar aja ya. Kebetulan aku bawa motor," ucap Anton pada Amayra.


"Maaf Anton, aku gak bisa pulang sama cowok yang bukan muhrimku. Nanti bisa menimbulkan fitnah," ucap Amayra menolak dengan sopan sambil tersenyum.


Aku lupa kalau Amayra adalah wanita baik yang menjaga dirinya. Wanita yang berbeda dari wanita kebanyakan di jaman ini. Kalau aja si Ken ketemu sama kamu lebih awal May.


Anton tersenyum, "Ya udah gak apa-apa. Sorry ya. Terus kamu pulangnya gimana May?"


"Iya, kamu pulangnya gimana?"


"Aku naik ojek dari depan," jawab Amayra. "Aku pamit ya, bilang sama Ken juga maaf aku pulang duluan. Assalamualaikum,"


"Oke May hati-hati ya. Waalaikumsalam.." jawab Lisa sambil tersenyum pada temannya.


"Waalaikumsalam," jawab Anton.


Amayra keluar dari cafe itu, tak lama kemudian dia melihat ojek yang lewat. Dia mengendarai ojek untuk pergi ke rumah mertuanya dan menemui Rey.


Setelah melewati perjalanan selama hampir 30 menit lamanya, Amayra sampai dirumah besar Calabria. Dia melihat Diana dan Nilam sedang bersama dengan Rey di halaman depan.


"Assalamualaikum," ucap Amayra sambil tersenyum pada kakak ipar, ibu mertua dan putranya.


"Waalaikumsalam," Jawab Nilam dan Diana bersamaan. "Eh May, kamu udah pulang lagi?" sambut Diana dengan ramah dan hangat.


Rey yang tau kedatangan mamanya, langsung merentangkan kedua tangannya seperti ingin digendong oleh Amayra. "Haaoo.. . papapa.." Kedua mata polos Rey menatap mamanya.


"Wah sepertinya Rey tau mamanya sudah datang," ucap Nilam sambil tersenyum. "Cucu Oma memang pintar!" Nilam memuji cucunya itu yang sudah mulai pandai bicara.


"Sini sayangnya Mama," Amayra menggendong anaknya itu dengan penuh kasih sayang. Amayra gemas melihat anaknya itu.


"Rey sudah tau mamanya, tapi kenapa dia terus mengoceh papa papa papa?" Diana heran karena dari tadi Rey terus mengoceh tentang papanya.


"Benarkah? Huh, iya kak dari tadi pagi Rey mulai mengoceh papa terus tapi tidak ada Mama," keluh Amayra sedikit kesal.


"Hahaha..anak kecil memang begitu. Padahal sering di asuh Mamanya tapi nama papa yang disebut lebih dulu. Satria waktu kecil begitu, dia pertama kali menyebut nama papa lebih dulu.." Nilam tertawa dan teringat Satria waktu kecil. "Nah, kalau Bram.. dulu kata pertama yang dia ucapkan adalah bubu.."


"Yang benar Ma? Bubu? Apa itu bubu?" tanya Diana yang semangat ingin tau lebih banyak tentang calon suaminya.


"Bubu itu buku..ya buku..haha.."


Amayra, Diana, Nilam bercanda tawa saat Nilam menceritakan masa kecil Bram dan Satria. Mereka bertiga sambil mengasuh Rey dan terlihat akrab.


...****...


Rumah sakit Medika utama, tempat Satria bekerja. Satria baru saja selesai melakukan operasi kecil pada pasiennya, operasi itu berjalan lancar. Dia langsung menghubungi salah satu temannya yang bekerja di rumah sakit lain.


"Halo dokter Gunawan, apa dokter ada waktu senggang?"


Entah apa yang Satria bicarakan dengan dokter bernama Gunawan itu, dia terlihat serius dan meminta pertemuan secara pribadi dengannya.


Setelah memutuskan teleponnya dengan Gunawan. Satria duduk di ruangannya dengan termenung


"May...jika itu benar.. lalu bagaimana?" gumam Satria sambil mendesah sedih.


#Flashback

__ADS_1


1 jam sebelumnya, Satria melihat Sandy masuk ke dalam ruangan dokter Candra, rasa penasaran saat melihat gerak-gerik Sandy, membuat Satria mengikuti Sandy.


"Ya Allah, maafkan hamba karena hamba menguping." gumam Satria merasa bersalah sambil melihat Sandy dan Candra diam-diam melalui celah jendela.


Sandy masuk ke dalam ruangan Candra. Dokter kepala bedah syaraf itu sedang duduk di mejanya sambil membereskan dokumen.


"Ada apa kamu kesini?" Tanya Candra ketus.


Sandy terlihat resah, "Dokter, saya tidak bisa menyembunyikan ini lagi..saya tidak bisa dokter. Menutupi kebenaran tentang alm. pak Harun pada keluarganya itu-"


Satria yang berada diluar ruangan itu tercengang mendengar nama ayah mertuanya yang sudah tiada itu disebut oleh Sandy. Satria langsung membuka ponselnya dan menyalakan perekam suara.


"Cukup! Aku tidak mau mendengarmu lagi menyebut nama orang mati itu!" Candra langsung memangkas ucapan Sandy dengan membentaknya.


"Dokter Candra, hampir setiap malam saya memimpikan mendiang pak Harun. Dia tersenyum pada saya dan saya merasa bersalah... dokter kita beritahu saja tentang operasi itu!" Kata Sandy merasa bersalah.


"Kamu sudah gila ya? Dokter baru sepertimu mau memberitahukan ini pada semua orang? Kamu mau karirmu yang belum dimulai itu hancur? Lagian ini bukan salah kamu, tapi kenapa kamu yang merasa bersalah?" Ucap Candra sambil melepaskan jas dokternya dan menggantungnya digantungan.


Padahal dia sendiri sadar kalau dia melakukan kesalahan besar dalam operasi. Tapi dia tidak terlihat merasa bersalah sama sekali. Sandy kesal karena Candra tidak merasa bersalah.


Sandy mengepalkan tangannya, dia terlihat ragu lagi. "Coba saja kamu katakan pada semua orang tentang ini. Menurutmu apa yang akan terjadi? Padaku dan padamu? Sudahlah kamu diam saja, lupakan semua ini! Aku sudah susah payah menyembunyikannya, awas saja kalau kamu sampai buka mulut."


Kalau seandainya anak ini buka mulut, maka aku tinggal mendorongnya menjadi tersangka.


Setelah mendengarkan dan merekam pembicaraan itu, Satria jadi termenung. Banyak pertanyaan bermunculan di kepalanya. Apa yang dikatakan oleh Candra dan Sandy jelas berkaitan dengan operasi ayah mertuanya.


#End Flashback.


Muncul rasa curiga di hati Satria ketika dia mendengar percakapan itu. Setelah selesai operasi, dia menelpon istrinya lebih dulu.


"Assalamualaikum Mas.."


["Waalaikumsalam. May, kamu sama Rey ada dimana?"]


"Aku sama Rey masih di rumah Mama. Mas kapan pulang? Mas mau jemput aku sama Rey, kan?"


["Maaf May, kayaknya aku akan pulang terlambat. Aku ada janji sama temanku, kamu di rumah Mama saja dulu atau pulang diantar pak Muin ya?"]


Walau sedang marahan, Satria dan Amayra tetap menjalin komunikasi yang baik, tetap perhatian satu sama lain.


"Oh gitu ya. Ya udah Mas..gak apa-apa. Mas mau makan malam dirumah apa diluar?"


["Aku makan malam di luar sama temanku, kamu makan malam duluan ya sayang."]


"Iya Mas...tapi Mas ada janji sama siapa?" Tanya Amayra curiga.


["Sama temen, May.."]


"Temen? Cowok? Cewek?"


["Cowok, namanya Gunawan usia 32 tahun dia seorang dokter di rumah sakit-"]


"Udah Mas jangan diterusin lagi, gak perlu sedetail itu kan? Aku kan cuma nanya cewek apa cowok," gerutu wanita itu sebal.


["Hahaha, kirain kamu pengen tau. Ya udah deh, aku pergi dulu ketemu temanku ya.."]


"Hem..ya udah, hati-hati Mas.."


["Peluk cium untuk Rey, muach.."]


"Iya Mas, akan aku sampaikan.."


Tuut...


Panggilan itu terputus. Satria pun bergegas pergi bertemu dengan Gunawan untuk menghilangkan kecurigaannya.


...----****---...

__ADS_1


__ADS_2