
...🍀🍀🍀...
Setelah berkomunikasi dengan istrinya. Satria berjalan menuju ke luar rumah sakit menuju ke tempat parkir. Saat dia sampai di lorong depan rumah sakit, tak sengaja dia mendengar obrolan suster suster yang sedang bertugas disana.
Mereka mengatakan bahwa Clara akan segera kembali dari Afrika karena masa hukumannya sudah selesai disana. Satria tidak senang mendengar berita tentang wanita itu yang tak sengaja dia dengar.
"Dia mau kembali? Hah! Bagaimana bisa hukuman orang yang memfitnahku hanya begitu saja?" gerutu Satria tidak senang.
Satria meneruskan kembali perjalanannya ke tempat parkir. Dia segera masuk ke dalam mobilnya dan berangkat menuju ke tempat dia dan temannya akan bertemu.
Di bandara internasional Jakarta, Clara dan beberapa dokter lainnya baru turun dari pesawat. Mereka yang masih terjebak di Afrika adalah dokter sukarelawan yang pulang kloter terakhir.
Clara terlihat dingin, dia membuka ponselnya dan segera menelpon papanya. "Pa, aku udah sampai di Bandara."
Clara tak banyak bicara dan langsung menutup teleponnya. "Kak Satria, kamu tunggu saja pembalasanku!" Clara mengepalkan tangannya dengan emosi ketika nama Satria terlintas di pikirannya.
...*****...
Di rumah Calabria.
Amayra dan Rey bersiap-siap untuk pulang ke rumah mereka, tapi hari sudah mulai gelap. Nilam pun menyarankan agar Amayra dan Rey menginap saja.
"Lebih baik kamu menginap saja disini, kasihan Rey...pamali bayi dibawa malam-malam ke luar rumah," ucap Nilam mengingatkan.
"Iya May, benar kata mama mertuamu. Menginap saja disini, minta izin sama Satria.. atau suruh saja Satria kesini sekalian," ucap Cakra setuju dengan istrinya agar cucu dan menantunya menginap saja di rumah itu.
"Ehm...ya deh Pa, Ma. Aku akan menginap disini dan minta izin sama mas Satria," ucap Amayra sambil tersenyum.
__ADS_1
"Iya mending begitu aja May," Cakra tersenyum pada menantunya itu.
Dia melihat anaknya bermain di ruang tengah. Rey sudah mulai aktif bermain dengan benda-benda di sekitarnya. Melempar, memegang mainan. Terkadang Rey juga akan memasukkan bahkan memakan benda asing ke mulutnya, disinilah perhatian dan kegesitan orang tua sangat diperlukan untuk menjaga bayi yang baru berusia 5 bulan itu.
Salah sedikit dan kurang sigap, bisa membuat bayi itu berada dalam bahaya. Untunglah keluarga Calabria menjaga Rey dengan sigap, hingga bayi mungil itu berada dalam keadaan aman.
Tak lama kemudian, Bram baru pulang bertemu dengan teman-temannya. "Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam," jawab semua orang yang ada di rumah bersamaan.
Bram teramat bahagia begitu melihat anaknya ada disana dan sedang bermain di ruang tengah. Dia langsung menghampiri dan menggendong Rey, "Eh.. anak papa Bram ada disini?" Bram mencium pipi tembem anaknya itu dengan gemas.
"Hiks...Wuuuwuuu... Wuuuwuuu.." Rey menangis di gendongan papanya.
"Eh, sayang kok malah nangis sih? Ini papa Bram, loh?" Bram heran karena anak itu menangis didalam gendongannya. Biasanya Rey tenang dan diam ketika didekati Bram, kenapa hari ini lain?
"Sepertinya Rey mengira kalau kak Bram adalah papanya," ucap Amayra sambil tersenyum.
"Woah.. anakku baru saja mengoceh?" Bram takjub menatap anaknya yang baru saja bicara papapapa.
"Jangan salah paham Bram, papa yang dimaksud Rey itu bukan kamu, melainkan Satria." Kata Nilam memberitahu.
"Benarkah? Aku juga kan papanya, barusan dia memanggilku papa juga..hehe.." Bram memeluk anaknya semakin erat, dia bangga karena bayi itu sudah mulai bisa bicara.
Semua orang di keluarga Calabria terlihat bahagia, termasuk Amayra. Sampai malam tiba, mereka makan malam bersama.
Ya Allah terimakasih karena sudah memberikanku keluarga yang baru walaupun aku sudah tidak ada ayah dan ibu. Aku masih punya mereka.
__ADS_1
Setelah selesai makan malam dan menidurkan anaknya, Amayra menelpon Satria. Satria sendiri sendiri masih berada di restoran bersama temannya itu.
"Assalamualaikum Mas,"
["Waalaikumsalam May, maaf ya kamu menungguku? Sepertinya aku akan pulang telat, kamu jangan menungguku ya. Tidur saja duluan,"]
"Gak apa-apa Mas, aku sama Rey masih di rumah Mama. Aku mau kasih tau, kalau kita mau menginap disini," jelas Amayra pada suaminya.
["Oh gitu.. iya ya sudah malam juga."] Satria melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 8 malam.
"Iya, nanti Mas pulang kesini saja."
["Oke, kamu bobo duluan...jaga Rey ya sayang,"]
"Iya Mas," jawab Amayra sambil tersenyum.
Tak lama kemudian setelah sambungan telepon dari suaminya terputus. Ponsel Amayra kembali bergetar.
"Mas Satria ada apa lagi sih?" gumam Amayra sambil mengambil ponselnya.
Amayra langsung mengangkat teleponnya begitu dia melihat nama yang tertera disana. Gadis yang berada di luar negri dan sudah lama tidak menghubunginya, "Assalamualaikum An,"
"Waalaikumsalam, May.. tolongin aku, aku pengen pulang.. huaahh..."
Anna menangis saat bicara dengan tantenya ditelepon. "Anna, kamu kenapa?" Tanya Amayra cemas.
...----*****----...
__ADS_1