
...🍀🍀🍀...
Tubuh Alexis bergetar hebat mendengar suara suaminya di dekat pintu apartemen itu. Dan benar saja, ternyata suaminya sudah berdiri disana. Menatap nya dan Vincent dengan tajam, seperti ada sebilah pisau mengarah ke arah nya. Bram memegang sekeresek makanan di tangannya, didalamnya ada susu ibu hamil dan kebutuhan Alexis lainnya.
"Sa-sayang, kamu sudah pulang?" Alexis menyambut suaminya dengan gugup. Dia berusaha setenang mungkin, otaknya sedang merangkai kata untuk membuat alasan. Wanita itu juga bertanya-tanya, seberapa banyak Bram mendengar ucapan mereka.
"Kenapa? Kamu heran kenapa aku sudah pulang? Untung saja aku pulang lebih dulu, jadi aku bisa melihatmu dengan sepupu mu ini," Bram bicara dengan suara ketus, dia menatap tajam ke arah Vincent.
Apa Bram mendengar semuanya? Tidak! Benar-benar sudah berakhir! Alexis panik melihat wajah Bram yang murka.
Tak berlangsung lama, Bram menghajar pria bule itu hingga Vincent terjengkang ke sofa. "Sialan kalian berdua! Berani nya kalian menipuku!" Bram murka kepada istri dan Vincent, yang dulu pernah di kenalkan oleh Alexis padanya sebagai saudara sepupu saat di Paris.
"Sa-sayang, kamu jangan salah paham! Aku dan Vincent tidak ada hubungan-"
PLAK
Bram yang sudah kelewat murka, menampar Alexis dengan penuh amarah. Wajahnya memerah, memancarkan kemarahan pada wanita yang di cintai sepenuh hatinya.
"Bram!" Bibir nya gemetar memanggil nama suaminya, dia memegang pipinya yang di tampar oleh Bram.
"Keterlaluan kamu Alexis! Aku selalu mencintai kamu dan ini balasannya? Dengan bodohnya aku juga menganggap kalau aku adalah ayah dari bayimu karena aku percaya padamu. Ternyata kamu dan bajingan itu sudah mengkhianati aku!" Teriak Bram emosi. Hancur hatinya mendapati sang istri ternyata hamil anak orang lain dan menipunya untuk bertanggungjawab. Bram merasa dirinya sudah dibodohi sangat oleh Alexis.
Kepercayaan dan cinta nya pada Alexis hancur oleh sebuah pedang bernama pengkhianatan. Semua cinta yang ditunjukkan oleh Alexis adalah penipuan besar untuk Bram. Bram bahkan rela melepaskan semuanya untuk Alexis, tapi wanita itu telah menusuknya begitu dalam.
"Sayang, kamu salah paham.. semua ini tidak seperti apa yang kamu pikir kan.." Alexis berusaha menjelaskan pada Bram.
"Alexis! Kamu berharap aku sebodoh apa lagi sih?! Sudah cukup!" Bram berteriak emosi.
Pria itu berjalan dengan marah menuju ke kamarnya, dia mengambil koper dan membereskan baju-baju nya. "Sayang kamu mau kemana?!" Alexis menangis ditinggal oleh Bram.
"Kita bercerai Alexis! Aku menceraikan mu! Aku akan mengirim surat talak untukmu, dan kamu harus menandatangani nya!" Seru Bram tegas.
Bram langsung meninggalkan apartemen itu, dia pergi ke bandara dan berniat kembali ke Jakarta. Kepalanya sangat pusing, dia tidak percaya kalau dia akan dikhianati dan dibodohi sampai seperti ini. Hampir saja dia terjebak di dalam pernikahan penipuan yang di rencanakan oleh Alexis, hampir saja dia menjadi ayah dari bayi orang lain.
"Sial! Benar-benar gila! Ini benar-benar gila!" Bram berteriak-teriak di dalam pesawat, hingga semua orang melihat ke arahnya. Mereka mengira Bram adalah orang stress.
Sakit hati Bram dengan pengkhianatan kejam itu, dia bahkan langsung memutuskan untuk bercerai dengan istrinya. Beruntung nya Bram belum menikahi Alexis secara resmi dan baru menikah siri saja.
__ADS_1
"Apa yang akan dikatakan mama dan papa nanti? Papa benar, Alexis hanya menginginkan hartaku bukan hatiku...dia tidak tulus. Seharusnya aku mendengarkan papa sejak awal! Mengapa aku harus bertanggungjawab untuk anak orang lain?" Bram menghela napas panjang, dia masih tidak percaya dirinya hampir terjerat oleh cinta nya pada Alexis.
Apa ini karma untukku?
****
Di rumah Satria, Amayra baru saja bangun dari tidurnya setelah mendengar shalat subuh berkumandang. Dia melihat suaminya masih tertidur pulas disampingnya.
"Tidak heran Reina, Naya dan Angel sampai tidak berkutik di depan kakak. Kakak memang sangat tampan," Amayra bergumam sambil memandang wajah suaminya yang tampan.
Kehidupan Satria dan Amayra semakin damai, setelah mereka meninggalkan rumah besar Calabria. Kehidupan suami istri itu rukun tanpa ada masalah berat. Dan sekarang Satria sudah belajar agama supaya menjadi imam yang baik untuk istrinya.
Dia tidak pernah melewatkan lagi shalat 5 waktunya, kewajiban nya sebagai muslim. Walaupun Satria masih suka terlambat, apalagi ketika akan melaksanakan shalat subuh. Dia masih harus dibangunkan oleh Amayra.
"Kak, kakak! Ayo bangun yuk, udah adzan subuh.." Amayra menggoyangkan tubuh suaminya pelan-pelan.
"Hmmm...uhm.." Satria membalikkan tubuhnya, dengan mata tertutup dia mengerang malas.
"Kak Satria, bangun kak.." bisik nya ke telinga sang suami, seraya membangunkan nya.
Satria masih tertidur, matanya masih menutup rapat. Amayra tersenyum ketika dia melihat sehelai bulu di atas ranjang itu. Kemudian dia mencoba membangunkan Satria dengan bulu yang didekatkan ke dalam telinga Satria.
"Bangun kak, sudah subuh! Ayo shalat subuh bersama kak, kak Satria..kak..." Amayra memanggil lagi suaminya, dia tersenyum jahil dan menggelitik telinga Satria dengan bulu itu. "Hihihi.."
Satria tidak tahan dengan godaan bulu yang menggelitik itu, dia membuka matanya dan tersenyum. Tangannya memegang tubuh ibu hamil itu, dan entah bagaimana caranya, Amayra sudah berada dibawah tubuh Satria.
Deg
Deg
Jantung wanita itu berdegup kencang, dia menghentikan tawa jahilnya dan menatap suaminya. Dia terpana melihat sang suami yang tampan dan terlihat maskulin itu.
"Kak, sudah subuh."
"Iya aku tau sudah subuh. Lalu apa bulu-bulu ini? Kamu senang ya mengerjai suamimu?" tanya Satria sambil tersenyum dan memegang satu helai bulu itu.
"Habisnya kakak susah dibangunin, jadi aku-"
__ADS_1
"Kamu senang ya menjahili ku?" tanya Satria dengan wajah kesalnya.
"Ma-maaf deh, hehe.. aku memang senang menjahili kakak." Amayra tersenyum pada suaminya, dia hendak beranjak dari tubuh Satria, tapi sang suami menahan kedua tangannya.
"Kamu mau kemana?"tanya Satria dengan senyum menggodanya.
"Aku mau ambil wudhu, terus shalat subuh." Jawabnya polos.
"Mau pergi setelah membangun akan singa yang sedang tidur?" tanya Satria sambil membuka bajunya. Tubuh Satria yang sixpack terpampang nyata di depan Amayra.
Amayra semakin berdebar-debar dan tersipu dibuatnya, dia ingin menutup matanya. Tapi, Satria melarang istrinya menutup mata. "May, tatap aku!"
Saliva Satria naik turun, melihat bibir merah cantik milik istrinya. Tangan Satria membelai rambut panjang itu.
"A-Apa? Ayo kita shalat kak.." Amayra ingin kabur dari sana.
"May, boleh aku menyentuh bibir mu?" Satria meminta izin ingin menyentuh bibir Amayra.
"Kenapa harus meminta izin? Hanya menyentuh saja!"
Satria menyunggingkan senyuman nya, dia membenamkan bibirnya pada bibir ranum milik sang istri dengan lembut. Kedua mata Amayra terbuka lebar, dia terkejut dengan ciuman dari suaminya.
"Sudah cukup! Kalau diteruskan, aku tidak yakin bisa berhenti," Satria memegang bibirnya yang panas itu.
"Katanya menyentuh saja!" protes Amayra pada suaminya.
"Iya memang menyentuh, tapi dengan bibir," Satria tersenyum jahil. Keduanya sama-sama tersenyum bahagia.
Kemudian dia mengecup kening istrinya, mereka pun mengambil air wudhu kemudian shalat bersama.
****
Di rumah besar keluarga Calabria, Bram telah kembali dari Inggris. Dia telah menyelesaikan proyeknya lebih awal, Bram mengadu pada ibunya bahwa dia bercerai dengan Alexis.
"Kenapa kamu mau bercerai dengannya? Ada apa Bram?" tanya Nilam heran dengan keputusan anaknya yang sudah bulat itu.
"Dia menipuku ma, dia hamil anak orang lain dan bukan anakku!" Jelas Bram masih emosi mengingat Alexis.
__ADS_1
"A-Apa? Ti-tidak!! Tidak mungkin!!" Nilam terkejut, dia memegang dadanya, tidak percaya bahwa menantu yang dia agungkan menipu nya. "AHHHHHH.. jantungku..."
...---***---...