
"Kenapa aku memikirkan si narsis itu? Aku pasti sudah gila karena memikirkan dia yang hatinya masih untuk wanita lain," gumam Diana mengingat di rumah sakit tadi Bram mengigau nama Amayra dan Rey.
Diana pergi ke kamarnya dan langsung rebahan di ranjang empuknya. Mencoba menutup mata dengan tenang, menjauhkan pikirannya dari Bram si pria narsis itu.
...*****...
Keesokan harinya di rumah sakit, Bram terbangun dari tempat tidurnya. Tidak ada siapapun disana yang menemaninya. "Aku.. dimana?"
Bram bergumam sambil melihat lihat ke ruangan bercat putih tempat dia berada. Bram beranjak duduk di ranjang keras khas ranjang rumah sakit itu. Saat Bram duduk bersandar, suara pintu terbuka membuatnya sadar bahwa dia benar-benar berada di rumah sakit. Pasalnya seorang suster datang ke ruangan itu untuk memeriksa kondisi Bram.
"Pak Bram, anda sudah bangun?" tanya suster sambil mengecek selang infus milik Bram.
"Saya kenapa sus?" tanya Bram sambil memegang kepalanya, dia seperti tak ingat pada yang terjadi.
"Saya tidak tau apa yang terjadi pada bapak sebelumnya, tapi kemarin sore bapak dibawa oleh dokter Diana kemari." Suster itu menjelaskan dengan singkat dan jelas.
Bram terperangah mendengar nama Diana, "Dokter Diana?"
Apa wanita kemarin itu adalah dia? Dia yang membawaku kemari? Baik juga si dokter jutek itu.
"Iya pak, dia membawa bapak kemari."Suster itu membenarkan.
"Oh gitu ya," ucap Bram sambil tersenyum tipis.
Setelah selesai mengecek kondisi Bram, suster menyimpulkan bahwa keadaan Bram sudah lebih baik dari sebelumnya. Karena dokter Daniel masih ada di ruangan pasien lain, jadi suster memeriksa Bram lebih dulu.
"Kalau butuh apa-apa, bapak boleh pencet bel nya. Saya ada di pos saya," Suster itu tersenyum ramah dengan mengedipkan satu matanya pada Bram.
"Ah i-iya..lebih baik suster pergi saja, pasti suster banyak kerjaan. Saya menunggu saja disini," Bram keheranan melihat tingkah genit suster itu.
Apa aku tidak salah lihat? Suster itu sedang bertingkah genit padaku? Haahh.. kelakuannya mengingatkanku pada Alexis.
Tepat saat suster itu keluar dari ruangan Bram, Nilam dan Amayra datang sambil menggendong Rey masuk ke dalam ruangan itu.
Bram tersenyum senang melihat Amayra dan Rey disana. "May, kamu datang?" sambut Bram dengan senyuman ramahnya.
"Assalamualaikum kak," sapa Amayra dengan suara lembutnya.
"Waalaikumsalam," jawab Bram ramah.
Huh, begitu melihat gadis kampung ini. Bram lupa segalanya, padahal harusnya dia menyambut mamanya dulu. Nilam berwajah masam, dia tidak senang melihat Bram menyambut Amayra lebih dulu daripada dirinya.
Nilam tidak bicara dia mengambil semangkuk bubur di atas meja yang sudah tersedia, diperuntukkan untuk Bram. "Bram, kamu sarapan dulu ya. Nanti dokter Daniel akan kesini memeriksa kondisi kepala kamu," ucap Nilam sambil duduk disamping anaknya dan menyenggol tubuh Amayra.
"Innalilahi!" pekik wanita satu anak itu terkejut, dia dan Rey hampir saja jatuh jika tidak ada ranjang Bram yang menahannya. Tangan Bram ikut memegangi Amayra karena dia panik.
"Ma, mama bisa hati-hati gak sih? Amayra sama Rey hampir jatuh!" tegur Bram pada mamanya.
"Kamu apaan sih Bram? Mama baru datang sudah kamu marahi, mama datang kemari susah payah bawa anak kamu dan wanita kampungan ini kemari! Dan kamu malah memarahi mama?" hardik Nilam tidak terima ditegur oleh anaknya.
"Mama-"
Amayra memotong ucapan Bram yang suaranya akan meninggi itu,"Istighfar kak, kakak tidak boleh begitu pada mama Nilam," Amayra menggeleng, dia mengingatkan Bram untuk tidak marah pada mamanya.
Memang Amayra selalu membuat suasana hatiku menjadi tenang, mungkin inilah sebabnya aku tidak bisa melupakan dia.
Bram langsung melunak dan menghela napas, ketika diingatkan oleh Amayra. Nilam mendesis sinis, dia tidak percaya bahwa anaknya sangat menurut pada Amayra daripada dirinya yang berstatus ibu. Nilam semakin tidak senang saja pada Amayra.
"Kak...kakak gak boleh begitu," Amayra mengisyaratkan Bram untuk meminta maaf pada mamanya.
Pria itu langsung paham dengan sinyal dan isyarat yang diberikan oleh Amayra. Dia menatap sang mama yang terlihat kesal, lalu berbicara. "Ma, Bram minta maaf ya sudah berteriak sama mama," ucap Bram lembut.
"Huh! Kamu meminta maaf tidak tulus, hanya karena wanita kampung ini kamu minta maaf pada mama," gerutu Nilam sebal. Wanita itu tak ragu menunjukkan kebenciannya pada Amayra.
Namun,Amayra seperti sudah biasa dengan hinaan mama mertuanya itu. Dia tidak terlihat marah, asalkan Nilam tidak menghina ayahnya. Amayra tidak akan marah.
Bram melihat Amayra dengan tatapan iba. Dia teringat pada masa-masa dimana dia kabur bersama Alexis dan meninggalkan Amayra dalam keadaan hamil. Bagaimana Amayra menghadapi sikap mamanya yang seperti ini? Sekarang Bram mengerti betapa berartinya Satria bagi Amayra, karena dia selalu melindungi wanita itu dan anak didalam kandungannya. Tugas yang seharusnya dia lakukan, bukan tugas Satria.
Kali ini Bram tidak diam saja mendengar ibu dari anaknya dihina. "Ma, tolong jaga ucapan mama. Jangan panggil Amayra wanita kampungan, Amayra punya nama. Tolong hormati nama pemberian orang tuanya, jangan seenaknya mengganti nama," ucap Bram sarkas.
__ADS_1
Nilam ternganga, dia kesal dan menyimpan kembali mangkuk berisi bubur itu ke atas meja. "Bram kamu benar-benar deh. Apa kamu kesini cuma mau membuat mama marah?" tanya Nilam naik pitam.
"Ma, tenang ma...kak Bram juga tolong kak, aku tidak apa-apa." Amayra jadi bingung melihat ibu dan anak itu bertengkar karena dirinya.
"Mama kan orang berpendidikan, tolong bersikap dan berkata sesuai dengan pendidikan mama." ucap Bram mengingatkan.
Kata-kata nasehat itu malah dianggap Nilam sebagai ejekan. "Hah! Anak dan suamiku sama saja! Sudahlah, kamu makan saja buburnya sendiri. Mama mau pulang saja!" dengus Nilam kesal.
"Ma, mama jangan marah ma.. istighfar ma. Nanti darah tinggi mama kambuh lagi,"Amayra berusaha menenangkan Nilam yang emosi.
"Kamu lagi nyumpahin aku ya?" Nilam malah semakin emosi dengan perkataan dan maksud baik Amayra.
"Eh.. a-aku," Amayra kebingungan.
"Ya udah mama pulang aja, ada mama disini malah berisik. Kalau mama darah tinggi lagi, itu salah mama karena mama marah-marah terus," ucap Bram santai.
Nilam keluar dari ruangan anaknya dengan langkah yang marah. Amayra tidak bisa menghentikan kemarahan Nilam. "Kak Bram, kakak gak boleh gitu dong sama mama Nilam. Mama Nilam sangat mencemaskan kakak. Mama bahkan membawaku dan Rey kemari untuk bertemu dengan kakak," ucap Amayra protes.
"Kenapa mama melakukan itu?" tanya Bram cuek.
"Karena katanya..saat kakak tidak sadar kakak terus mengigau nama-" Amayra tiba-tiba berhenti bicara.
Aku harusnya tidak membicarakannya.
"Nama siapa?"
"Nama Rey," jawab Amayra singkat.
"Lalu namamu? Apa aku tidak mengigau namamu?" tanya Bram sambil menatap adik iparnya itu.
"Tidak!" jawab Amayra cepat dengan mata membulat.
"Jadi aku mengigau namamu juga ya?" Bram tersenyum melihat raut wajah Amayra. Sedikit demi sedikit Bram mulai memperhatikan Amayra, makanya dia tau sikap Amayra secara garis besarnya.
"Aku bilang tidak!" Amayra tetap menyangkal.
"Ah.. a-ku," Amayra gelagapan.
"Uweee.. uweee.."
"Sayang kenapa? Kamu haus? Kamu mau pup?" tanya Amayra pada anaknya yang menangis.
"May, kamu duduk dulu disana. Periksa Rey kenapa.. kamu juga pasti pegel terus berdiri seperti itu," ucap Bram pada Amayra.
"Iyah kak," jawab Amayra patuh.
Amayra duduk di sofa yang tidak jauh dari sana. Dia memeriksa kondisi Rey, entah apa yang membuat bayi itu tidak nyaman. "Oh.. ternyata anak mama gak nyaman karena basah ya,"
"Rey, kenapa May?" tanya Bram sambil melihat ke arah Rey dan Amayra dengan khawatir.
"Gak apa-apa kok kak, Rey gak nyaman karena popoknya penuh." ucap Amayra sambil tersenyum lembut.
Pria itu heran, kenapa Amayra tidak marah saat Rey mengompol dan membuat tubuhnya basah. Dia tetap bersikap sabar dan tetap tersenyum.
"Kamu bawa popoknya? Kalau kamu tidak bawa, aku akan suruh orang untuk-"
"Aku bawa kak, tenang aja. Lebih baik kakak habiskan bubur yang sudah mau dingin itu," jawab Amayra seraya menyuruh Bram menghabiskan buburnya.
Bram kembali duduk tegap lalu mengambil mangkuk bubur, dia seperti anak yang patuh. Bram memakan bubur itu sendiri. Seandainya Amayra adalah istrinya, mungkin dia akan meminta Amayra menyuapinya.
Tak lama setelah Amayra mengganti popok Rey, datanglah dokter Daniel memeriksa kondisi Bram. Dokter Daniel mengatakan bahwa Bram seperti ini karena efek operasi saat kecelakaan dulu. Dia meminta Bram untuk selalu meminum obatnya tepat waktu dan menjaga kesehatannya. Apalagi dia mengalami tekanan darah rendah.
Amayra masih ada disana dan mendengarkan penjelasan dokter. Dia jadi merasa bersalah atas kondisi Bram yang mengalami sakit berkepanjangan karena menyelamatkan dia dan Rey yang dulu masih berada di dalam kandungan. Rasanya terimakasih tidak cukup untuk pengorbanan Bram saat itu.
"Kalau begitu, saya permisi dulu. Tolong jaga kesehatannya ya pak Bram. Sore nanti, anda sudah bisa pulang dan beristirahat di rumah." jelas dokter Daniel pada Bram.
"Terimakasih dok," jawab Bram sambil tersenyum.
Dokter Daniel keluar dari ruangan itu dan meninggalkan Amayra, Rey, juga Bram disana. "May, boleh aku gendong Rey?" tanya Bram seraya merentangkan tangannya.
__ADS_1
"Maaf kak, tapi gak boleh."
"Lho, kenapa?"
"Kata dokter kakak gak boleh angkat yang berat-berat,"
"Memangnya Rey berat? Apa Rey udah lebih dari 10 kilo?" tanya Bram dengan senyuman tipis dibibirnya.
Sisi polos inilah yang membuatku tidak bisa melupakan kamu dengan mudah. Seandainya waktu bisa di ulang kembali May, akankah kita bersama menjadi satu keluarga yang bahagia? Tapi.. Bram, kamu tak berhak mendapatkannya.
Bram menyesal dalam hatinya, karena telah menyia-nyiakan kesempatan besar bersama wanita seperti Amayra.
"Belum sih, masih jauh kesana. Rey baru mau dua bulan,"
"Jadi gak berat kan? Sini aku mau gendong,"
"Tapi jangan lama-lama ya," pesan Amayra pada Bram.
Amayra menyerahkan Rey pada Bram. Bram terlihat senang bisa menggendong anaknya itu. "Uh.. sayang, ini papa Bram. Doakan papa Bram semoga cepat sehat ya nak," ucap Bram pada bayinya.
"Aamiin ya rabbal alamin.." Amayra tersenyum dan menjawab doa itu.
"Oh ya May, kenapa Rey belum bisa bicara?" tanya Bram polos.
"Hehe, belum kak. Usia Rey masih belum waktunya untuk bisa bicara lancar," jawab Amayra sambil nyengir.
"Benarkah? Lalu dia udah bisa apa dong?" tanya Bram yang tidak tahu menahu tentang bayi.
"Rey sudah bisa meniup, menaikkan alis dan sepertinya dia juga sudah bisa mengenali suara di sekitarnya." Amayra menjelaskan dengan senang hati tentang Rey pada Bram.
"Benarkah? Aku belum pernah lihat," Bram menatap bayi itu yang masih tenang didalam pelukan hangat Bram.
"Coba saja kakak bicara, insyaallah Rey akan menunjukkan respon!" Serunya semangat.
Bram mencoba bicara pada Rey, dia mengucapkan salam. "Assalamualaikum,"
"Haooo..." bayi mungil itu menjawab salam Bram dengan gumamannya yang tidak jelas.
Bram tersenyum lebar mendengar respon singkat Rey, "Eh.. May, kamu dengar kan? Barusan dia bilang apa?" Bram setengah tidak percaya.
Amayra mengangguk dan tersenyum,"Iya dia bilang haoo,"
Pria itu menatap Rey dengan bahagia, rasanya semua sakit ditubuh hilang begitu dia melihat Rey. Kehadiran Rey ke dunia, membuat Bram tersadar akan dosa-dosanya. Dia hampir menjadi seorang pembunuh anaknya sendiri.
Bram memeluk Rey penuh kasih sayang, memberikan kecupan hangat di pipi putranya itu. Disaat Amayra dan Bram saling melempar senyum dan mengobrol dengan akrab. Satria dan Clara yang sedang lewat disana, melihat keakraban mereka.
"Wah, pak Bram sama Amayra kelihatan akrab sekali ya seperti keluarga. Oh ya, mereka kan memang sudah jadi keluarga ya kak.Belum lagi Rey itu anaknya pak Bram dan Amayra, jadi wajar saja kalau mereka dekat. Mereka akan selalu terhubung oleh anak mereka, ya kan kak Satria?" Clara berbicara dibelakang Satria. Dia tersenyum senang melihat Satria terbakar cemburu.
Satria mengepalkan tangan dengan kesal, seperti masih ada rasa cemburu didalam hatinya melihat kedekatan Bram dan Amayra.
"Dokter Clara, apa kamu sudah periksa pasien kamar 102, ruangan kenanga?" tanya Satria pada Clara dengan suara sinis.
"Eh.. belum," jawab Clara menciut.
"Belum kan? Terus ngapain kamu ikutin saya?" tanya Satria dengan sarkas.
"Ah.. itu.. a-aku," Clara gelagapan.
"Pergi sekarang juga!" Seru Satria seraya menunjuk ke arah lorong dengan wajah murka.
Clara terlihat kesal, tapi dia tetap patuh pada Satria dan menjalankan tugasnya.
Sementara Satria hendak masuk ke dalam ruangan itu, dia agak ragu melihat pintu yang sudah terbuka lebar. Amayra masih tertawa-tawa bersama Bram didalam sana. Hatinya panas, kepalanya penat melihat adegan itu. Dia merasa seperti miliknya akan diambil oleh Bram.
"Terhubung oleh anak? Mungkin itu benar. Lalu kapan aku dan Amayra akan memiliki bayi kami?" tanya Satria mulai berfikir yang bukan-bukan.
...----*****----...
Maaf readers, telat up proses review nya lumayan 🤧
__ADS_1