Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 94. Jangan marah May


__ADS_3

Satria memegang tangan istrinya, "Aku mendapatkan tugas dari rumah sakit untuk pergi ke Afrika dan menjadi sukarelawan disana,"


Deg!


Amayra terdiam mendengar penjelasan dari Satria tentang pergi ke Afrika. Melihat istrinya diam saja, membuat Satria tidak nyaman. "Kalau kamu tidak mengizinkan aku pergi, tidak apa-apa kok. Aku akan tinggal disini," Satria menatap istrinya, menantikan jawaban apa yang akan diberikan Satria kepadanya.


Jika Amayra tidak setuju akan kepergian ku dan Kalaupun harus kehilangan pekerjaanku, aku rela memulai dari awal. batin Satria sudah memantapkan hatinya.


Amayra, kamu gak boleh egois. Betapa sulitnya perjuangan kak Satria untuk menjadi seorang dokter dirumah sakit itu. Betapa kamu sudah membuat suamimu berada dalam masalah karirnya, karena dirimu. Jangan jadikan dirimu penghambat lagi.


"Berapa lama lagi kakak pergi?" tanya Amayra sambil mengangkat kepalanya, dia menatap sang suami dengan mata yang tegar.


Satria mendongak, "May kamu.."


"Aku harus mempersiapkan semuanya, kalau kakak akan berada lama disana," ucap wanita itu sambil menundukkan kepalanya.


"May, apa ini artinya kamu mengizinkan aku pergi? Jawab aku may?" Satria mengangkat dagu Amayra. Wanita itu memalingkan wajahnya. "Kalau kamu tidak memberi izin, aku gak akan pergi," ucap Satria lembut.


"Aku gak apa-apa, kakak pergi saja."


"May... ini masalah serius, aku akan pergi selama kurang lebih dua bulan disana. Kalau aku pergi, aku tidak bisa membawa kamu karena Rey masih kecil dan belum bisa dibawa bepergian jauh. Kamu memberikan izin semudah ini? Kamu yakin?" Satria memegang lengan sang istri, bertanya dengan penuh kesungguhan.


"Ah...gak apa-apa kok, aku dan Rey akan menunggu kakak disini saja," ucap Amayra sambil tersenyum pahit. Dia memalingkan wajahnya dari Satria.


"May... bicara lah yang benar!" Seru Satria.


"Aku sudah bicara yang benar kok, kalau kakak mau pergi. Ya pergi saja, aku sama Rey gak apa-apa.."


"Mata kamu tidak bicara begitu," Satria menyeka sedikit air mata di bawah mata sang istri. "Kita bicara lagi besok, sekarang kita tidur dulu saja."


Perkataan Satria yang mengajak tidur, mengakhiri percakapan mereka. Amayra langsung membaringkan tubuhnya, dengan tubuh membelakangi Satria. Dia tak pernah membayangkan suatu saat nanti Satria akan pergi jauh darinya apalagi ke Afrika sana.


Satria tidak enak karena bicara lebih awal tentang pergi ke Afrika pada istrinya setelah mereka melakukan hubungan suami-istri. Suasana yang harusnya masih seperti pengantin baru itu, sekarang muncul menjadi perasaan yang tidak nyaman diantara mereka.


"May..." ucap Satria seraya melingkarkan tangannya memeluk Amayra, setelah berhubungan Satria tak lagi merasa canggung untuk menyentuh istrinya.


Ya Allah, harusnya aku tidak bicara dulu.


"Cepat tidur kak, besok kakak tugas pagi," ucapnya tegas.


Satria tersentak mendengar suara tegas istrinya, "Kamu marah?"


"Nggak, aku cuma lelah.. aku ngantuk.. aku mau tidur." Amayra menarik selimut ke tubuhnya, tangan Satria masih melingkar di sekitar perut. Amayra membiarkannya.


"Kalau kamu gak mau aku pergi, aku gak akan pergi. Aku bisa mengambil jalan lain...kamu jangan marah," Satria memepet tubuh Amayra, seraya membujuk wanita itu untuk tidak marah.


Amayra membalikkan badannya dan menghadap ke arah Satria. "Kak, jalan lain seperti apa yang kakak maksud itu?" tanya Amayra dengan mata menatap tajam ke arah suaminya.


"Ya aku bisa memberikan tugas ini pada dokter lain," jawab Satria dengan mata yang memutar kemana-mana.


"Lalu kakak akan dihukum lagi?" Amayra tersenyum pahit, dia mendesah gemas. Amayra tau tingkah Satria yang selalu memutar mata, adalah ketika pria itu berbohong atau sedang mencari alasan.


"Darimana kamu tau aku dihukum? Apa ada suster atau dokter di rumah sakit yang mengatakannya padamu?" tanya Satria dengan mata memicing, menatap istrinya.


"Tidak penting aku tau darimana. Tapi, kakak gak boleh mengalihkan tanggungjawab seperti itu. Kakak pernah bilang padaku kan, kalau pekerjaan kakak adalah mimpi kakak sejak kecil?" Amayra menyinggung sedikit tentang hal yang pernah Satria ceritakan padanya.

__ADS_1


Bahwa impian dan cita-cita Satria sejak kecil adalah menjadi seorang dokter, seseorang yang menyelamatkan banyak orang.


"Itu memang benar, tapi aku tidak mungkin meninggalkan kamu dan Rey. Kalian lebih berharga dari mimpiku itu!" Satria mulai bicara dengan suara meninggi.


"Apa kakak bilang? Dengan mudahnya kakak bilang begitu? Kakak tidak sayang dengan perjuangan kakak selama ini? Perjuangan kakak yang dimulai dari nol untuk sampai ke titik ini. Lalu jika kakak menolaknya, apa yang akan terjadi?"


Amayra membuat Satria terpaku. Perjuangannya menjadi seorang dokter tidaklah mudah, dia telah melalui beragam masalah dan kini jika dia pergi ke Afrika maka saat dia kembali, dia akan diangkat menjadi dokter kepala bedah/dokter senior. Tapi jika Satria menolak pekerjaan ini, maka reputasi dan jabatannya akan diturunkan. Satria bisa saja keluar dari rumah sakit itu, tapi dia akan memulai semuanya dari nol. Walaupun di dokter berbakat dengan segudang prestasi, jika reputasinya sudah buruk di satu rumah sakit. Mungkin dia tidak akan bisa mendapatkan pekerjaan di rumah sakit manapun.


Satria tidak berani membicarakan ini pada Amayra.


"Jawab aku kak? Apa yang terjadi kalau kakak menolak pekerjaan itu?" tanya Amayra tegas dengan penuh rasa penasaran.


"Kita bicara besok saja, aku ngantuk!" Satria memotong pembicaraan itu. Dia menarik selimut ke tubuhnya.


Amayra melihat sang suami membalikan badan darinya, dia menghela napas. Sudah pasti ada yang disembunyikan oleh Satria.


...*****...


Keesokan harinya, Dewi sudah datang pagi-pagi ke rumah Satria untuk membantu Amayra membuat sarapan dan beres-beres rumah. Sambil menggendong Rey, Amayra menyiapkan keperluan suaminya. Dari mulai pakaian, sarapan, makanan bekal, sampai hal kecil lainnya yang dibutuhkan Satria.


Sedangkan Dewi disana hanya beres-beres rumah atau membantu menjaga Rey. Dewi lebih senang bekerja di rumah Satria bersama Amayra daripada bekerja di rumah Calabria dengan Bu Nilam yang cerewetnya tak terkendali lagi.


Satria sudah memakai pakaiannya yang rapi, dia duduk di meja makan bersiap untuk sarapan. Tak lupa dia menyapa si kecil Rey, yang berada di gendongan Amayra. "Assalamualaikum sayangnya papa, pagi.." sapa Satria pada anaknya.


Amayra tidak bergeming, dia tidak menjawab seperti biasanya. Hanya wajah dingin yang terlihat pada wajah cantik wanita itu. "Assalamualaikum istriku yang cantik, selamat pagi," Satria mencium kening istrinya dengan lembut.


Cup!


Amayra tidak sempat menghindari ciuman suaminya. Dia terdiam, lalu memalingkan wajah dari Satria. Hal itu membuat Satria sedih karena merasa diabaikan, padahal semalam dia dan Amayra sudah melakukan penyatuan jiwa dan raga.


Disisi lain, Dewi hanya senyum-senyum melihat kerukunan pasangan suami istri itu. Apalagi Satria yang dulu dingin telah berubah menjadi bucin pada istrinya.


"A-ayo makan dulu kak," ajak Amayra pada suaminya.


"Iya sayang," jawabnya sambil tersenyum. "Kamu juga," sambungnya lagi.


Setelah selesai sarapan, Satria pamit pergi ke rumah sakit untuk bekerja seperti biasanya. Melakukan tugas mulia dengan segudang jadwal yang menantinya disana. "May, mungkin aku akan pulang agak malam,"


"Iya kak, kakak hati-hati ya.." ucap Amayra mendoakan suaminya.


"Mana senyumnya dong, dari tadi aku belum melihat senyuman istriku yang cantik ini?" tanya Satria dengan bibir manyunnya, dia mengharapkan senyum indah menyambut pagi harinya.


"Ehm..kakak cepat berangkat, nanti telat."


"Aku jadi gak semangat kerja nih, apa aku jangan pergi kerja saja ya?" tanya Satria setengah menggerutu.


"Kenapa gak semangat?" tanya Amayra.


"Aku melihat wajah istriku cemberut, jadi aku tidak semangat."


Amayra memaksakan sebuah senyuman dibibirnya. "Nih, udah kan?"


"PFut.. gimana bisa aku bisa semangat kalau senyumnya gak ikhlas seperti itu? May, membuat suami semangat ketika suami akan pergi bekerja, pahalanya besar lho..." Satria tersenyum menggoda istrinya.


"Terus aku harus gimana? Aku belum bisa senyum," gumam Amayra sebal.

__ADS_1


Satria menghela napas, kemudian dia meraih tangan istrinya,"Sayang, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuat kamu sedih, kumohon jangan marah ya. Sepulang kerja, kita bicarakan lagi semuanya. Aku benar-benar gak tenang kalau aku harus pergi bekerja dengan keadaan kamu yang masih marah padaku. Kamu mau aku gak konsen bekerjanya?"


"Aku tidak marah pada kakak, aku hanya bingung." jawabnya jujur.


"Kamu tidak bicara sepatah katapun sejak tadi subuh, aku kan cemas sampai aku berpikir kamu sedang marah. Tapi, kita bicara lagi nanti ya?"


"Iya kak," jawab Amayra sambil tersenyum tipis.


"Nah gitu dong senyum. Jangan lupa senyum itu ibadah, sayang.." Satria senang melihat istrinya sudah mulai tersenyum. "Nah sekarang, penambah semangat yang lainnya!" Sambung Satria seraya menyodorkan wajahnya pada Amayra.


Ibu muda satu anak itu malah bengong, dia tak paham apa yang diisyaratkan oleh Satria. Pada akhirnya Satria menunjukkan bagian pipi dan bibirnya dengan jari telunjuknya. Amayra tersipu melihat isyarat dari sang suami.


Apa kak Satria mau aku menciumnya?


"Ayo May, aku bisa telat nih! Cepat!" Satria menunggu Amayra untuk memberikan imun penambah semangat untuk dirinya.


Muach


Dengan gerakan cepat, bibir Amayra mendarat di pipi Satria. Pria itu tersenyum lebar, "Makasih sayang ku. Sekarang aku jadi semangat kerja deh!" Seru Satria sambil merentangkan tangan dengan perasaan bahagia.


Setelah itu Satria mengecup kening baby Rey, "Sayang, papa berangkat kerja dulu. Doakan semoga semuanya berjalan lancar, pasien papa di rumah sakit diangkat segala penyakitnya," Satria menatap bayi itu penuh cinta.


"Aamiin," Amayra menjawab doa Satria.


"Aku berangkat dulu ya sayang, assalamualaikum,"


Amayra menyalami tangan suaminya, "Waalaikumsalam kak,"


Satria berangkat kerja mengendarai mobil sedan putih menuju ke rumah sakit. Tak lama setelah Satria pergi, mobil mewah berwarna merah terparkir didepan gerbang rumahnya.


Bram keluar dari mobil itu dengan setelan jas rapinya, dia membawa kantong dan keresek yang entah apa isinya. Bram membuka kacamata hitamnya, dia melihat Amayra dan Rey sedang berjemur dibawah terik matahari.


"Assalamualaikum," sapa Bram ramah dan sopan.


"Waalaikumsalam," Amayra masih memandang Bram dengan waspada.


"Aku bawakan ini buat Rey, ini dari papa dan mama. Sekalian aku juga ingin bertemu Rey," ucap Bram sambil tersenyum melihat ke arah Rey.


"Kak, aku kan sudah bilang, kalau mau ketemu Rey harus ada suamiku juga di rumah," ucap Amayra mengingatkan.


"Memangnya Satria gak ada?" tanya Bram pada Amayra. Dia memang tidak tahu Satria ada di rumah atau tidak.


"Iya, baru saja kak Satria berangkat." jawab Amayra singkat.


"Ya udah maaf ya, aku gak akan lama kok. Cuma mau kasih ini aja, tapi..." Bram meletakkan keresek dan kantong itu diatas meja.


"Apa?"


"Boleh gak aku gendong Rey sebentar?" Bram meminta izin ingin menggendong anaknya.


"Ya, silahkan kak." jawab Amayra dingin.


Amayra menyerahkan baby Rey dengan hati-hati pada Bram. Bram tersenyum dan menimang bayi itu, "Sayang, papa Bram datang.. selamat pagi, kamu baik-baik saja kan?" sapa Bram pada putranya itu.


Ya Allah...betapa tenangnya hati ini melihat Rey.

__ADS_1


...----*****---+...


__ADS_2