Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 174. Banjir air mata


__ADS_3

🍁🍁🤧


...Kubuka album biru.....


...Penuh debu dan usang, kupandangi semua gambar diri.....


...Kecil bersih belum ternoda, pikirku pun melayang.....


...Dahulu penuh kasih, teringat semua cerita orang. Tentang riwayatku.....


...Kata mereka diriku selalu dimanja.....


...Kata mereka diriku selalu ditimang.....


...Oh bunda ada dan tiada dirimu kan selalu ada didalam hatiku.....


...🍀🍀🍀...


"Dokter, kenapa gak bicara disini saja?" tanya Amayra heran kepada Satria dan Yudha.


"May, kamu kan harus menyusui Rey dulu. Fokus saja ya sayang..." ucap Satria sambil tersenyum pada Amayra.


Satria dan Yudha meninggalkan ruang rawat Rey, sementara Amayra masih sibuk menyusui Rey. Setelah semalaman anaknya hanya terbaring lemah.


Cekret!


Satria menutup pintu ruangan itu rapat-rapat. Dia dan Yudha bicara agak jauh dari ruangan itu. Yudha mengatakan hasil diagnosanya dan dokter Daniel tentang kondisi Rey.


"Maafkan aku Sat, aku tidak tau harus bagaimana. Tapi keadaannya memang seperti ini, anak kamu... mungkin." Yudha terlihat sedih, dia tak bisa membantu Satria lebih banyak.Apa yang sudah dia lakukan untuk menolong Rey sudah pada batasnya dan sekuat tenaganya.


"Apa gak ada cara lain lain lagi, Yud? Anakku masih kecil dan dia sudah menderita sakit seperti itu. Kamu bisa bayangkan betapa sakitnya hati istriku kalau dia tau tentang semua ini!" Seru Satria sambil memegang kepalanya dengan gusar.


"Mungkin masih ada keajaiban," ucap Yudha yang juga tidak yakin dengan apa yang dia ucapkan itu. Yudha menepuk-nepuk punggung Satria seraya menenangkannya. "Kamu.. harus siap untuk hal-hal tersulit kak."


Satria menahan tangis, dia terlihat sedih karena ucapan Yudha tentang kondisi Rey. Tak lama kemudian, Satria kembali masuk ke ruang rawat Rey dan mulai mengondisikan raut wajahnya seperti semula.


Klak!


Aku harus kuat didepan Amayra. Harus kuat!


"Mas sudah datang? Mas, kayaknya Rey mau sembuh deh," kata Amayra pada suaminya yang baru saja datang itu. "Ini Rey lagi tidur Mas, kayaknya dia capek habis nangis kemarin," ucapnya lagi sambil menatap Rey yang sedang tertidur di atas ranjang.


Bayi mungil itu terlihat menggemaskan, tubuhnya masih gemuk seperti sebelumnya. Amayra yakin bahwa Rey baik-baik saja dan akan segera sehat.


"Iya Aamiin." jawab Satria dengan senyuman pahitnya. "May, kita sarapan dulu ya sayang." ucap Satria sambil mengajak istrinya sarapan. Dia membawa dua bungkus nasi kuning untuk sarapan mereka.


Amayra makan nasi kuning itu bersama suaminya. Satria melihat Amayra yang terlihat lebih tenang dari sebelumnya. Namun Satria merasa ini adalah ketenangan sebelum badai. Setelah menyelesaikan sarapan pagi, mereka kedatangan Nilam dan Cakra yang ingin melihat keadaan cucu mereka.

__ADS_1


"Ya Allah, kasihan sekali cucunya Oma. Cepat sehat ya sayang," ucap Nilam sambil mengusap-usap lembut kepala Rey. Nilam tidak tahu apa-apa tentang penyakit Rey, karena belum ada yang memberitahunya.


"Satria, Amayra...gimana keadaan Rey? Apa kata dokter? Apa sakitnya serius?" tanya Cakra yang mengkhawatirkan cucu laki-laki pertamanya itu.


"Pa.. Rey itu-" saat Satria akan menjelaskan, tiba-tiba saja semua perhatian berfokus pada Rey.


Rey yang tadinya masih tidur itu, kini kejang-kejang. Dengan mulut berbusa, mata Rey terbuka lebar dan titik hitam matanya mengarah ke atas. Semua orang yang ada di ruangan itu panik melihat kondisi Rey.


Satria berlari keluar dari untuk memanggil Yudha.


"Rey! Rey.. nak.." Nilam panik melihat cucunya seperti itu.


Amayra segera menggendong Rey, dia berusaha tenang. Dia tidak mau menangis, demi anak itu dia harus kuat. "Rey...ini mama sayang...ini mama. Astagfirullahaladzim... astagfirullahaladzim.." Amayra mengucap istighfar beberapa kali.


Tubuh mungil anaknya masih kejang-kejang didalam dekapan Amayra. Wanita itu menahan tangis, dia tidak tega melihat anaknya kesakitan. Padahal tadi pagi dia baik-baik saja, kenapa sekarang begini?


Tak sampai satu menit, Satria dan Yudha sudah datang ke ruangan itu bersama seorang suster juga. Yudha langsung memeriksa kondisi Rey, segala penanganan telah dia lakukan untuk menyelamatkannya. Namun tiba-tiba saja Rey berhenti mengejang, dia menutup matanya rapat-rapat.


Suasana tegang menyelimuti seluruh ruangan itu, pasalnya semua orang disana sedang tegang dan resah dengan kondisi Rey.


Tiiiiiiitttttttt.......


Suara mesin bergema panjang tanpa jeda memenuhi ruangan itu, ketika dokter Yudha tak lagi memeriksa kondisi Rey.


Deg!


Nilam menangis, begitu dia mendengar suara mesin medis itu. Tubuhnya hampir ambruk dan Cakra ada disana untuk menopangnya.


"May....kamu.. kamu harus ikhlas," Satria memegang kedua tangan istrinya. Pria itu menggigit bibir bagian bawahnya, dia menahan tangis melihat anaknya sudah terbujur kaku tidak bernyawa.


Jagoannya Reyndra Aqmar Calabria, sudah meninggal dunia.


"A-apa maksud kamu Mas? Apa yang harus aku ikhlaskan?!" Amayra berteriak histeris, dia terlihat begitu emosional.


"Maafkan saya, saya sudah berusaha yang terbaik. Tapi Allah berkehendak lain, maafkan saya Satria dan Amayra. Reyndra tidak selamat." ucap dokter itu dengan berat hati.


"Lagi-lagi.. suara itu..suara itu mengambil orang orang yang aku sayangi. Aku benci! Aku benci!" Amayra mengamuk, dia histeris sampai mendorong mesin medis yang berada didekat jasad anaknya.


BRAK!


PRANG!


"Bagaimana bisa begitu kejam? Bagaimana bisa anakku...yang tadinya baik-baik saja sekarang dokter Yudha bilang kalau Rey meninggal? Rey masih disini! Belum lama dia memanggil namaku, katanya... mamwa.. mamwa... dia memanggilku! Tadi dia bangun dan menyusu, bahkan tubuhnya saja tidak menunjukkan dia sakit parah! Gimana bisa jadi begini?"


Wanita itu tidak terima dengan kepergian Rey, belum lama ayahnya meninggal kini anaknya menyusul sang ayah. Hancur hati Amayra dengan kenyataan mendadak yang selalu menyakitkan hatinya.


Cobaan dan ujian untuk dirinya terlalu berat untuk dihadapi. Kehilangan orang-orang yang dia sayangi dan terdekat, membuat dia tertekan dan tidak menerima kenyataan.

__ADS_1


Bulir-bulir air mata jatuh di wajah Nilam dan Cakra yang juga sangat merasa kehilangan Reyndra. Bayi kecil mungil itu harus pergi ke Rahmatullah dengan cara yang mendadak. Usianya baru saja akan menginjak 6 bulan, tapi dia harus mengalami sakit yang parah untuk anak seusianya.


"Pa, Rey pa...Rey kita!" Nilam menangis didalam pelukan suaminya.


Cakra juga merasakan kepedihan yang sama dengan apa yang dirasakan Nilam. Cucunya yang masih kecil itu, kini sudah meregang nyawa.


"Istighfar May! Istighfar, sayang..." ucap Satria yang juga tak kuasa menahan tangisnya lagi. Tangisnya pecah, sakit hatinya melihat Amayra bersedih dan sakit hatinya melihat jagoannya telah tiada.


Amayra menghampiri Rey, dia memeluk bayinya yang sudah tak bernyawa itu dengan erat. Bibirnya mencium kening, hidung dan pipi Rey penuh kasih sayang. "Rey...ini mama sayang..ini Mama nak. Ayo bangun Rey, kita kan mau jalan-jalan nanti sama papa sama mama dan semuanya. Rey mau ikut jalan-jalan, kan? Rey anak Sholeh mama sama papa kan? Rey, bangun sayang... Rey...hiks.."


Seorang ibu yang kehilangan anaknya, mendekap tubuh tak bernyawa itu dengan eratnya. Air mata Amayra terus tumpah, berharap akan adanya sebuah keajaiban. Namun, ini semua sudah takdir Allah.


Rey sudah tiada, 2 hari sebelum usianya genap 6 bulan.


Satria berada disamping Amayra sepanjang waktu itu, dia berusaha membuat Amayra melepaskan Rey karena anak itu harus segera dimandikan dan di kuburkan sebagaimana mestinya.


Tapi, Amayra masih memeluk Rey dan tidak mau melepaskannya. "Mas, tolong ambilkan selimut Rey di sofa itu. Tubuh Rey dingin, kayaknya dia kedinginan." ucap Amayra pada suaminya.


"May... istighfar sayang. Kamu harus ikhlas, Rey sudah pergi." Satria menepuk bahu Amayra dan menatap wanita itu dengan tatapan sedih.


"Rey masih disini! Apa mas gak lihat? Dia ada di pelukanku!" Amayra membantah ucapan suaminya, air mata wanita itu masih terus berderai jauh mengalir deras.


"May...." lirih Satria.


"Aku gak mau kehilangan lagi, aku gak bisa! Aku mengandung Rey selama hampir 8 bulan didalam rahimku, aku sangat menyayanginya Mas...Rey baru akan berusia 6 bulan, dia bahkan belum lama melihat dunia ini. Rey baik-baik saja, dia bahkan sudah bisa memanggilku Mama...hiks... huuuhuuu.." Amayra memeluk Rey dengan eratnya, seorang ibu itu menangis terisak.


Amayra teringat bagaimana perjuangan ketika Rey masih berada didalam kandungannya. Anak itu sangat baik saat berada didalam kandungan ibunya, setelah lahir pun sama. Rey tidak rewel, kecuali jika dia sakit dan meminta susu. Bahkan anak itu sekarang sedang masa dimana dia sedang lucu lucunya.


Satria memeluk Amayra dan anaknya yang sudah tiada itu. Dia berusaha meredakan ledakan emosi kesedihan istrinya yang saat ini sedang memuncak. Allah mengujinya dengan ujian yang berat. "Sabar sayang.. sabar.. ikhlas." Satria mencium kening istrinya. Dia memandang Rey yang terbujur kaku dalam pelukan istrinya dengan hati berduka.


Didepan ruangan itu, Anna, Lisa, Anton, Fania dan Ken berada disana dan melihat kesedihan Amayra juga keluarga kecilnya. Betapa hancurnya hati seorang ibu yang baru saja kehilangan anaknya. Belum lama pak Harun tiada, kini anaknya yang menyusul.


"Kasihan banget, May..hiks.." Lisa ikut menangis melihat temannya bersedih.


Fania dan Anna juga menangis, mereka tidak bersuara. Mereka merasakan bagaimana perjuangan Amayra saat dia mengandung Rey. Dimana hinaan semua orang tertuju padanya karena dia hamil di luar nikah. Namun, Amayra tetap mempertahankannya. Ketika hampir keguguran, Rey tetap kuat dan selamat. Dia tumbuh di rahim Amayra dengan baik.


Hingga saat kecelakaan besar menimpa Amayra, Satria dan Bram disaat usia kandungan Amayra berusia 7 bulan. Kecelakaan itu hampir membuat Amayra dan Rey tiada. Disana Satria mengambil keputusan sulit, namun Allah berkehendak lain saat itu. Keduanya selamat dan Rey lahir dalam kondisi sehat wal afiyat.


Jika mengingat hal itu, pasti hati Amayra sangat perih. Tak muda kehilangan orang yang ia cintai. Pasti sangat berat untuknya dan Satria juga.


Setelah keadaan agak tenang, Satria dan Amayra pulang ke rumah besar Calabria. Rey yang sudah dimandikan dan dibungkus kain kafan, sudah berada di rumah besar itu.


Wanita itu duduk disamping Rey bersama suaminya, sambil membacakan lantunan ayat dari surat Yassin. Semua pelayat berdatangan, mereka berbelasungkawa atas meninggalnya Rey.


Setelah di shalatkan, semua pelayat beserta keluarga besar Calabria pergi menuju ke makam untuk mengantar Rey ke tempat peristirahatan terakhirnya.


"Lailahaillah.. lailahailalloh..."

__ADS_1


Isak tangis Amayra kembali pecah, dia merasakan kepedihan lagi dihatinya. Melihat Rey digendong oleh sang suami menuju ke liang lahat.


...----*****----...


__ADS_2