Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 131. Ada yang pulang, ada yang pergi


__ADS_3

...Engkaulah nafasku, yang menjaga di dalam hidupku.....


...Kau ajarkan aku menjadi yang terbaik.....


...Kau tak pernah lelah sebagai penopang dalam hidupku.....


...Kau berikan aku semua yang terindah.....


...Aku hanya memanggilmu ayah.....


...🍀🍀🍀...


Jantung Amayra seakan berhenti disana saat itu juga. Dokter kembali dari ruang operasi dan menyampaikan berita buruk tentang ayahnya.


"A-apa maksud dokter tidak berhasil? Ayah saya baik-baik saja kan?" tanya Amayra sambil menatap dokter Candra dengan mata berkaca-kaca, tatapan yang menaruh harapan tinggi.


"Maafkan saya, pak Harun sudah meninggal dunia.. kami tidak bisa menyelamatkannya," kata dokter Candra tenang.


Aku harus tenang, ini semua sudah takdirnya jika pak Harun meninggal. Bukan kesalahanku!


"APA?" Bram ternganga mendengarnya. Dia melirik ke arah Amayra, wajah wanita itu pucat pasi.


"Gak mungkin dok, dokter sebelumnya bilang kalau ayah saya akan baik-baik saja karena tingkat keberhasilan operasi ini cukup tinggi. Lalu kenapa.. kenapa sekarang dokter bilang kalau ayah saya...hiks.." Amayra menangis, dia memegang dadanya yang tiba-tiba sesak. Dia seperti kena serang mendadak. "Dokter bilang dokter bisa menyelamatkan ayah saya! Kenapa ayah saya meninggal? Kenapa dok??!" Amayra memegang baju dokter Candra dengan emosi.


Wanita itu mulai histeris, tak terima dengan kenyataan tentang ayahnya yang sudah tiada.


"Tolong tenang! Ini rumah sakit...kami juga sudah melakukan yang terbaik, tapi takdir berkehendak lain," ucap dokter Candra sambil mendorong wanita itu.


"May.. tenang May, tenang.."


"Gimana aku bisa tenang kak? Jelas-jelas beberapa jam yang lalu ayah baik-baik saja, ayah tersenyum padaku... dia sudah janji untuk kembali padaku dalam keadaan baik-baik saja. Kenapa sekarang malah begini? Hiks.. ayah.. ayah...."


Wanita itu menangis, kemudian dia berlari menerobos masuk ke ruang operasi. Disana masih ada dokter Sandy yang menatap pak Harun dengan mata berkaca-kaca. Bram menyusul Amayra, dia berjalan di belakangnya.


Sakit hati Amayra melihat sang ayah terbujur kaku di atas ranjang itu. Setengah tubuhnya ditutupi kain putih. Wajah pria paruh baya itu pucat seperti sudah kehilangan darah. Amayra memegang tangan Harun dan menggenggamnya. Matanya tak luput dari derasnya air mata, mengalir jatuh ke pipinya.


"Ayah...ini May, ini May.. yah.. ini May. Ayah sudah janji sama May, kalau ayah akan baik-baik saja kan? Ayah sudah janji, jadi ayah harus tepati janji ayah! Ayah.. apa ayah tau hukuman tentang orang yang ingkar janji? Orang yang ingkar janji maka dia mendapat laknat Allah, malaikat dan seluruh manusia. Tidak diterima tebusan atau taubat. Apa ayah mau seperti itu?" Amayra menangis tersedu-sedu. "Hiks.. ayah.. bangun yah, ayah bangun..bukankah ayah mau melihat Rey dewasa? Ayah... bangun.." Amayra menggoyangkan tubuh yang sudah tak bernyawa itu.


Perih hatinya melihat ayah yang begitu mencintainya, pergi meninggalkan dunia untuk selamanya. Ayah yang menjadi satu-satunya keluarga Amayra, menemani Amayra dari kecil sampai dewasa. Harun menjadi ayah sekaligus ibu untuk Amayra, dia menjaga dan membesar putrinya dengan baik.


Dan kini Amayra sudah benar-benar menjadi yatim piatu. Ayah tempatnya berkeluh kesah dan belum sempat membahagiakan ayahnya.


Bram menatap Amayra dengan kasihan, dia ingin menghibur Amayra. Namun saat ini penghiburan tidak akan membuatnya merasa lebih baik. Kenyataan pahit itu, harus dia utarakan lewat air mata. Agar hatinya sedikit lebih lega. Bram membiarkan Amayra menangis untuk meluapkan kesedihan dan emosinya.


"May.." lirih Bram pada Amayra yang sedang memeluk ayahnya sambil menangis.


Dokter Sandy ikut menangis melihat Amayra yang menangis, dokter Candra menatap dokter Sandy dan memintanya untuk keluar dari ruangan itu.


"Dok.. bagaimana ini? Pak Harun-"


"Ssstt.. kecilkan suaramu! Sekali lagi kamu bicara soal pak Harun, saya tidak akan tinggal diam!" Seru Dokter Candra sambil menunjuk pada wajah dokter Sandy.

__ADS_1


"Tapi pak, kasihan..."


"Hentikan dokter Sandy! Kalau kamu tidak mau karir kamu hancur, jangan banyak bicara dan tutup mulut saja tentang kejadian yang ada didalam tadi, karena hanya kita yang tau. Kita pura-pura tidak tau saja, anggap semuanya salah takdir. Jika ada yang tanya alasan gagal operasi ini, katakan saja kondisi pak Harun tidak baik dan dia mengalami pendarahan saat operasi.." kata dokter Candra untuk mengatasi semua masalah, atau lebih tepatnya dia menghindar dari masalah.


Dokter Sandy hanya diam dengan wajah penuh rasa bersalah. Padahal bukan dia yang salah, tapi dia merasa bersalah karena sudah berbohong. Dia tidak mau karirnya sebagai dokter hancur, apalagi dia masih baru di rumah sakit itu.


*****


Setelah menangisi Harun hampir satu jam disana, Amayra mulai terlihat melemah. Bram pun mulai angkat bicara, "May, kita pulang dulu ya?" bujuk Bram sambil memegang bahu adik iparnya itu.


"Kak... aku pasti sedang bermimpi kan? Ayah tidak meninggal, ayah hanya tidur saja.. ya kan kak?" tanya wanita itu yang masih berharap ayahnya masih ada.


"May.. istighfar. Kalau kamu seperti ini, nanti pak Harun akan sedih disana. Kamu seperti ini pun tidak akan bisa mengembalikan keadaan!" kata Bram berusaha menyadarkan Amayra.


"Tapi.. ayah...aku belum sempat membahagiakan ayah, kenapa ayah sudah pergi? Aku hanya membuat ayah malu dan susah, aku ingin membahagiakan ayah...kak.." ucap Amayra sambil menangis.


Setelah Amayra berhasil ditenangkan, Bram membawanya pulang ke rumah agar wanita itu bisa beristirahat. Sementara jenazah pak Harun juga akan dibawa ke rumah keluarga Calabria setelah dimandikan di rumah sakit.


Bram memapah adik iparnya yang jalan sempoyongan, matanya sembab dan merah. Wajahnya juga pucat, tatapan mata yang kosong seolah kehilangan gairah hidup. Dia terlihat seperti orang mati yang terpaksa hidup.


Beginilah hancurnya Amayra!


Semua keluarga Calabria melihat Amayra dalam kondisi yang tidak baik itu. Apalagi dia dipapah Bram.


"Ada apa ini?" tanya Cakra yang langsung beranjak dari tempat duduknya, menatap Amayra dan Bram yang sedang berjalan ke arah mereka.


"Bram, ada apa?" tanya Nilam yang sedang menggendong Rey.


"Baik!" Diana melangkah pergi ke dapur.


Tak lama kemudian Diana datang dan membawakan segelas air minum untuk Amayra. Wanita itu duduk disamping Diana, dengan wajah yang muram, tatapan kosong.


"Ada apa ini Mas Bram? Kenapa Amayra seperti ini?" tanya Diana sambil memandang Amayra yang sedang bersedih itu.


Amayra tidak bicara sepatah katapun, dia hanya diam dengan air mata yang terus mengalir deras membasahi pipinya. Jika dia terus-terusan menangis, bisa-bisa air matanya kering.


"Amayra seperti ini karena pak Harun.."


"Pak Harun? Apa yang terjadi pada pak Harun? Bukankah Amayra tadi pergi bersama temannya?" tanya Cakra keheranan.


"Panjang ceritanya. Tapi yang paling penting, kita harus menyiapkan pemakaman untuk pak Harun."


Deg!


Cakra, Nilam, Diana, Lulu dan Dewi yang ada disana terkejut mendengar ucapan Bram tentang menyiapkan pemakaman.


"Apa maksud kamu pemakaman pak Harun?" tanya Nilam dengan suara meninggi. Dia terkejut dengan ucapan putranya itu.


"Pak Harun telah meninggal dunia," jawab Bram dengan wajah yang sedih.


Semua orang disana terlihat terkejut dengan apa yang dikatakan Bram. Mereka tidak percaya bahwa pria paruh baya yang belum lama bertemu dengan mereka dan selalu menyapa ramah itu kini sudah tiada.

__ADS_1


"Innalilahi wainnailaihi rojiun.." ucap Cakra, Nilam, Lulu, Dewi dan Diana bersamaan.


Keesokan harinya, para pelayat berdatangan ke rumah Calabria. Karena jenazah Harun berada disana dan akan dikuburkan di makam keluarga Calabria.


Semua pelayat berdatangan untuk memberikan penghiburan pada Amayra yang baru saja ditinggal ayahnya dengan cara mendadak Wanita itu tidak menangis lagi, dia berusaha tetap tegar.


"Yang sabar ya neng Mayra," ucap pak Mamat, tukang gorengan dirumahnya.


"Insyaallah pak," jawab Amayra sambil tersenyum pahit. Gadis itu memakai baju dengan warna biru tua dan kerudung hitam. Matanya menatap kosong, seperti wadah tanpa jiwa.


Melihat para pelayat berdatangan, rasanya Amayra mati rasa. Tapi didepan Rey dia berusaha untuk tetap kuat.


"Mas, Amayra belum makan dari kemarin. Dia bisa pingsan kalau begitu terus.." ucap Diana khawatir melihat Amayra yang belum makan dan wajahnya pucat.


"Kamu udah tawarin dia makan?" tanya Bram pada calon istrinya itu.


"Iya sudah Mas, tapi Amayra menolak." jawab Diana.


"Ya sudah, aku akan gendong Rey...kamu ajak Amayra makan dulu ya." ucap Bram berbisik pada Diana.


Bram dan Diana mendekati Amayra yang berdiri di dekat pintu. Bram menggendong Rey dari tangan Amayra, dia meminta Amayra untuk makan lebih dulu bersama Diana.


"May, makan dulu ya? Nanti kamu sakit loh..kasihan Rey juga kalau nanti ASI kamu sedikit, makan ya?" bujuk Diana pada Amayra sambil tersenyum.


"Iyah kak," jawab Amayra sambil manggut-manggut tak semangat.


Diana membawa Amayra ke dapur, dia mengambilkan sepiring nasi lengkap beserta lauk pauknya. "Kamu mau aku suapi?" tanya Diana perhatian layaknya pada adik sendiri.


Amayra menggeleng lemah. Dia mengambil makanan berisi piring itu dan menyimpannya ke atas meja.


"May, kamu harus makan! Nanti kalau kamu sakit, siapa yang jaga Rey? May... aku ngerti kamu sedih, tapi... kamu masih punya aku, kamu masih punya orang-orang yang menyayangi kamu. Aku tau ini pasti berat untuk kamu... tapi kamu harus kuat ya May?" Diana memegang tangan Amayra seraya menenangkannya. "Sekarang kamu makan ya?"


Wanita itu mengangguk, dia mengambil satu sendok nasi dan sedikit lauk untuk dia makan. Namun saat Lulu datang ke dapur, Amayra tidak jadi makan.


"Non Amayra!" Lulu memanggil Amayra dengan buru-buru


"Lulu, kamu apa apaan sih?" tanya Diana yang kesal karena Amayra baru saja mau makan, tapi Lulu malah datang memanggilnya.


"Ma-maaf nona Diana, tapi.. tuan Satria dan nona Anna sudah kembali!" kata Lulu sambil menunjuk ke arah luar dapur.


Amayra berdiri dari kursinya, dia berlari pergi keluar dari dapur. Dia melihat sang suami tengah berdiri di depan pintu dengan membawa kopernya.


Satria terlihat syok melihat banyak orang di rumahnya yang sedang melakukan pengajian. Siapa yang meninggal? Semua orang disana menatap Satria yang baru saja pulang dari Afrika.


"May.." panggil Satria sambil menatap istrinya yang berlari ke arahnya.


Amayra menghampiri sang suami yang sudah tidak lama tidak bertemu dengannya. Dia memeluk Satria sambil menangis.


Pertemuan yang harusnya menjadi awal bahagia, tapi malah diawali dengan air mata kesedihan. "Kak Satria...hiks..hiks.."


Ada yang pulang dan ada yang pergi....

__ADS_1


...---****---...


__ADS_2