
...πππ...
Satria duduk di samping istrinya, tepatnya di atas ranjang itu. Dia melihat mata sembab dan merah istrinya.
Amayra pasti banyak nangis gara-gara aku. Ayah maafkan aku, karena aku buat May menangis.
"Mas..katanya mau jelasin!" Seru Amayra pada suaminya.
"Iya sayang. Kamu mau aku jelaskan yang mana dulu?" Tanya Satria sambil membelai pipi istrinya.
"Foto kamu dan dokter Clara." jawab wanita itu cepat. Dia ingin Satria menjelaskannya satu-satu.
"Jadi gini sayang, waktu di Afrika.. wanita itu terus mendekatiku dengan berbagai cara. Tapi aku selalu menghindar, aku tau dia punya niat gak benar padaku. Suatu hari dia datang ke kamarku saat aku sedang ganti baju, dia datang tanpa mengetuk pintu. Lalu dia menggodaku dan membuka bajunya," jelas Satria pelan-pelan menceritakan semuanya.
"Apa kamu tergoda?" Tatap Amayra tajam padanya.
"Gak!" Sanggah Satria.
"Jawab jujur Mas, tergoda apa enggak?"
"Enggak.. sayang.." lirih Satria.
"Tuh kan, Mas bohong lagi. Mana mungkin Mas gak tergoda sama cewek cantik seperti dokter Clara?" tuduh Amayra pada suaminya dengan kening berkerut.
Aku harus ngomong apa kalau Amayra lagi labil begini. Ya udah aku iyain aja biar cepet.
"Iya iya.."
"Iya apa Mas?" Pinta Amayra memperjelas.
"Iya aku tergoda," jawab Satria dengan wajah malas dan kepala yang manggut-manggut.
Amayra langsung berkaca-kaca menatap suaminya, "Jadi, Mas tergoda sama dokter Clara?"
"Astagfirullah.. aku harus ngomong apa sih May, biar kamu puas?" Satria menepuk jidatnya, dia bingung harus merespon seperti apa pada istrinya.
Dasar cewek!
"Ternyata Mas..bisa tergoda sama cewek lain selain aku." Amayra cemberut.
"May.." lirih Satria memanggil istrinya.
Serba salah deh kalau udah kayak gini, maunya apa coba? Sabar Satria..sabar.. katanya wanita itu selalu benar.
Dengan cepat Satria mengecup pipi istrinya, seraya menenangkan Amayra dari amarah. "Mas, kok aku malah di cium?" Amayra memegang pipinya.
"Dengarkan aku May, aku memang sempat tergoda sama dia, tapi aku tidak melakukan apapun. Aku tidak menyentuhnya, dialah yang menyentuhku dan hendak memaksaku."
"Oh gitu ya, jadi Mas gak ngelakuin apa-apa sama dokter Clara kan?" Amayra menatap suaminya dengan tajam.
"Iya enggaklah," jawab Satria sambil tersenyum.
"Ya udah kalau enggak. Sekarang gimana soal dokter Candra?" Tanya Amayra tentang ayahnya dan dokter Candra.
Satria terperangah karena tentang Clara selesai begitu saja begitu dia menjelaskannya.
Eh? Semudah ini? Daritadi Amayra nangis dan marah-marah...cuma jelasin gini doang langsung selesai? Ya ampun, benar-benar deh wanita itu makhluk paling membingungkan. Emosinya kayak roller coaster.
"Mas.. kok malah ngelamun sih? Jawab...!"
"Oh ya... sebenarnya aku udah tau dari beberapa hari yang lalu tentang ayah. Aku dengar percakapan dokter Sandy dan Dokter Candra tentang operasi. Lalu setelah itu..."
Satria menceritakan semuanya pada Amayra, tanpa ada yang kurang atau dilebihkan. Amayra akhirnya mengerti dan paham kenapa Satria menyembunyikannya dari Amayra, itu karena dia tidak mau Amayra sedih.
"Jadi gitu ceritanya. Kamu paham kan?"
Amayra mengangguk, "Iyah,"
"Kamu gak marah lagi?" Satria memegang tangan Amayra dengan lembut.
"Hem...marah gak ya? Gimana kalau Mas kosongkan waktu Mas untuk besok, baru aku pikirkan aku masih marah atau enggak?" Amayra membahas lagi tanggal lima belas.
"Maaf sayang, gak bisa. Besok aku sibuk," jawab Satria menolak.
"Ya udah," Amayra menarik selimutnya kemudian kembali berbaring di ranjang dengan wajah cemberutnya. Dia membalikkan tubuhnya dari Satria.
Huh! Ternyata dia masih tidak ingat.
Tunggu besok saja ya May. Batin Satria sambil menatap punggung istrinya.
"Jangan dulu bobok sayang, habiskan dulu martabaknya. Dan aku masih belum selesai bicara,"
"Ya nanti aku makan. Tapi, kakak mau bicara apa?" Tanya Amayra yang masih belum menutup matanya.
__ADS_1
"Sini dong, bicaranya sambil lihat ke arahku. Masa membelakangi ku?" Satria meminta istrinya bicara sambil melihat dia.
"Gak mau! Bicara aja kayak gini," tolak Amayra.
"Hem ya udah deh. May, soal dokter Candra...kamu mau bagaimana?"
"Bagaimana apanya Mas?"
"Kamu mau aku melakukan apa padanya? Apa kamu mau memaafkannya?"
"Apa Mas menyuruh aku memaafkan orang yang sudah lalai dalam tugasnya, hingga menghilangkan nyawa ayah?" Amayra bertanya balik dengan nada sarkas. Dia kesal teringat bagaimana reaksi Dokter Candra yang sama sekali tidak merasa bersalah atas kematian ayahnya Amayra. Bahkan dokter itu sama sekali tidak mengucapkan belasungkawa ataupun datang melayat pak Harun.
Tadinya Satria berfikir bahwa Amayra akan memaafkannya dengan mudah, tapi melihat sikapnya seperti ini. Satria yakin bahwa luka hati Amayra sudah terlalu dalam untuk diobati. Apalagi ini tentang sosok ayah yang sangat dia cintai.
"Baiklah, jadi aku sudah melakukan hal benar kan?"
"Iya Mas, biarkan saja dia dipenjara sesuai dengan hukuman yang harus dia dapatkan. Aku manusia, bukan malaikat yang bisa selalu memaafkan kesalahan. Sabarku.. ada batasnya," ucap Amayra sambil menahan tangis.
"Ya May, aku paham." Satria mengelus rambut panjang istrinya.
Setelah selesai makan martabak, Amayra pergi tidur. Sementara Satria masih terbangun, dia pergi keluar kamar dan menghubungi Bram.
"Ada apa Sat, kamu telepon malam-malam begini?"
"Kak, tolong bantu aku urus berita di internet itu. Kakak sudah tau kan?"
"Aku sudah bantu kamu kok, besok berita itu sudah menghilang dan foto-fotonya juga. Tapi Sat, Mayra gimana? Dia pasti marah kan sama kamu? Kamu tenangkan lah dia," saran Bram pada adiknya itu.
"Tadinya Amayra sempat marah, tapi sekarang sudah gak apa-apa kok. Dia lebih marah soal urusan dokter Candra,"
"Haahhh.. itu sudah pasti. Jadi benar si dokter itu melakukan kesalahan dalam operasi? Amayra pasti sangat sedih karena tau semua ini.."
"Ya kak, awalnya aku pikir dia akan memaafkan dokter Candra. Tapi dia bilang biarkan saja dokter Candra di hukum, sepertinya Mayra sudah terlalu sakit hati dan marah." Jelas Satria pada kakaknya.
"Wajar saja dia begitu. Satria, jangan khawatir.. besok berita tentang kamu sama dokter itu tidak akan ada lagi."
"Iyah Kak, makasih ya kakak sudah banyak membantuku." Ucap Satria sambil tersenyum.
"Oke santai aja Sat," Bram tidak masalah.
"Oh ya kak, besok aku bisa titip Rey sebentar kan?"
"Hem...besok acaranya ya?"
"Iya kak,"
"Makasih kak," ucap Satria.
Setelah pembicaraan itu, Satria kembali tidur dengan tenang di samping istrinya.
...*****...
Keesokan harinya, hari berjalan seperti biasanya. Kecuali dengan Amayra yang cemberut dipagi yang cerah itu.
"Pagi istriku sayang...pagi jagoan Papa!" Satria mencium pipi Rey yang sedang duduk di kursinya dengan penuh kasih sayang.
"Pagi Mas," sambut Amayra cuek.
"Pagi-pagi udah cemberut aja sayang. Pagi ini cerah loh, cuacanya bagus." Satria mengecup kening istrinya sambil tersenyum.
"Gak Mas, pagi ini mendung, gelap juga.." Jawab Amayra malas sambil menyuapi Rey dengan bubur bayi.
Huh, hari ini mendung.. hari ini gelap, karena kamu gak ingat hari apa ini. Bisa-bisanya kamu bilang gitu, Mas?
"Oh gitu ya? Tapi cuaca sedang bagus tuh gak ada mendung mendungnya. Ya kan bi?" Tanya Satria pada Dewi yang sedang membereskan meja dapur.
"Iya tuan, cuaca diluar sedang bagus." Sahut Dewi sambil tersenyum.
"Mau mendung mau enggak, aku gak peduli tuh. Semua hari tetap sama!" Kata Amayra ketus.
Amayra gemes banget sih kalau lagi marah.
Dewi yang mendengar ucapan Amayra, merasa bahwa wanita itu sedang kesal. Tapi Satria malah tersenyum melihat istrinya yang kesal itu.
Nona Amayra lagi marah, tapi kenapa tuan Satria malah senyum-senyum begitu?
"Kamu kuliah May?" Tanya Satria.
"Iya Mas,"
"Berapa mata kuliah? Pulang kapan?"
Amayra menjawab ketus, "2 mata kuliah, gak tau pulang kapan."
__ADS_1
"Oke,"
Jadi Amayra beres sekitar pukul 1, aku bisa menyiapkannya lebih dulu.
"Sayang, aku berangkat dulu ya." Satria mencium kening sang istri. "Senyum dong sayang," pinta Satria.
Tunggu setelah ini kamu akan menangis lalu banyak tersenyum.
Amayra tidak senyum, dia tetap bertahan dengan wajah cemberutnya.
Aku coba tes lagi deh.
"Mas, ini tanggal 15 Juli!" Kata Amayra tiba-tiba.
"Oh ya, 15 Juli ya? Ya ampun aku baru ingat kalau aku banyak jadwal hari ini malah sampai malam. May, aku berangkat sekarang ya.." ucap Satria buru-buru.
Amayra semakin kesal melihat suaminya itu. Tanpa bicara apa-apa dia mencium tangan suaminya yang katanya akan berangkat bekerja itu.
"Assalamualaikum istriku dan anakku," ucap Satria sambil tersenyum.
"Waalaikumsalam," jawab Amayra kesal.
Ya sudah kalau Mas Satria tidak ingat, mungkin hari pernikahan kami emang gak penting.
Satria berangkat lebih dulu ke rumah sakit. Sementara itu Amayra berangkat pergi ke kampusnya pukul setengah 9 pagi, sebelumnya dia menitipkan Rey pada Diana dan Bram yang berada di rumah Calabria.
Amayra pergi ke ke kampus dengan mood yang kurang baik. Bahkan dia tidak fokus saat belajar, dia membayangkan hari yang indah bersama Satria pada hari pernikahan mereka yang ke setahun.
"Haahhhh.."
"May, dari tadi kamu kenapa sih menghela napas terus?"
"Gak apa-apa," Amayra terlihat sedih.
"Apa kamu masih kepikiran foto-foto itu?"
"Gak,"
"Terus?" Lisa menaikkan bahunya.
"Ini hari pernikahan kami yang ke satu tahun,"
Lisa tersenyum, "Woah.. selamat ya? Bagus dong.. harusnya kamu senang, kenapa kamu malah sedih?"
"Mas Satria gak ingat," jawab Amayra cemberut.
"APA? Gimana bisa?!" Lisa ikut kesal karena Satria tak ingat dengan hari anniversary pernikahannya.
Amayra tak bicara apa-apa lagi. Sampai ketika kelas telah selesai dan Amayra sudah melaksanakan shalat dhuhur. Dia bermaksud pergi ke rumah Calabria untuk menjemput Rey.
"Huh! Bahkan gak ada satupun pesan atau panggilan masuk hari ini. Padahal aku tunggu-tunggu.." ucap Amayra sambil bergumam sedih.
Dreett..
Dreett..
πΆπΆπΆ
Sebuah panggilan masuk ke ponsel Amayra, tertera disana. "Suamiku calling β€οΈ"
"Huh! Kamu baru ingat menelponku, Mas?" Gerutu Amayra sebal.
Amayra langsung mengangkat telepon dari suaminya. "Halo Assalamualaikum Mas,"
["Waalaikumsalam, maaf apa benar ini dengan istri pemilik ponsel ini?"]
Amayra terkejut mendengar suara asing yang bicara dengannya itu. "Ya benar, maaf.. bapak siapa ya?"
["Saya orang yang menemukan ponsel ini. Pemilik ponsel ini mengalami kecelakaan,"]
Deg!
Amayra tersentak kaget mendengarnya.
"A-Apa? Suami saya kecelakaan?" Amayra tercengang.
["Iya bu, pria dengan identitas Satria Calabria mengalami kecelakaan lalu lintas dan sekarang sedang dilarikan ke rumah sakit,"]
"Innalilahi.. Rumah sakit mana Pak?" tanya Amayra panik.
Setelah bicara dengan pria yang ada ditelepon. Amayra buru-buru memberhentikan taksi yang lewat didepannya.
"Kamu gak boleh kenapa-napa Mas.."'gumam Amayra cemas.
__ADS_1
Dengan hati berdebar dan cemas, Amayra dalam perjalanan ke rumah sakit.
...----****----...