
Pria yang baru saja melakukan malam pertama bersama istrinya itu, berada didalam kamar mandi cukup lama. Hingga membuat Diana sang istri berfikir yang bukan-bukan.
Apalagi terakhir setelah mereka bercinta, Bram terlihat kecewa dan sedih. Entah apakah itu kemarahan atau bukan? Saat bertanya istrinya perawan atau tidak, raut wajah pria itu tak bis ditebak oleh Diana.
"Mas Bram kenapa sih? Apa aku kurang memuaskannya?" Pikir Diana dengan wajah polosnya. Dia bingung kenapa Bram terlihat kesal. Tangannya meremas selimut, pikirannya mulai kemana-mana.
Apa karena aku masih perawan? Makanya Mas Bram tidak puas dengan aku? Makanya dia marah? Ah entahlah
"Astagfirullah, aku mikir apaan sih. Sudahlah, lebih baik aku menyiapkan baju untuk Mas Bram tidur." Ucap Diana sambil berusaha beranjak dari tempat tidurnya. Namun dia kesulitan karena merasa tubuhnya sakit.
Dia memaksakan dirinya untuk membersihkan seprai itu juga, walau tubuhnya serasa remuk itu. Pakaian tidur Bram juga sudah dia siapkan diatas ranjang.
Terdengar suara air yang mengalir di kamar mandi. Sambil menunggu suaminya, dia duduk di atas ranjang. Tangannya memegang pinggul, matanya melirik ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul 12 malam.
"Aku pikir kita melakukannya hanya setengah jam saja, ternyata 3 jam.. tapi dengan beberapa kali istirahat juga sih. Tenaga Mas Bram sangat kuat, ya itu pasti karena dia rajin berolahraga." Gumam wanita itu sambil menggelengkan kepalanya.
Cekret!
Pintu kamar mandi itu terbuka, Diana beranjak dari atas ranjangnya. "Mas..." sambut Diana dengan senyuman manis.
Bram terlihat cuek dengan wajah dinginnya. Dia menghampiri Diana, kemudian meminta istrinya untuk tidur. "Istirahatlah Di,"
"Tapi aku mau mandi,"
"Besok subuh saja," ucap Bram tak berani menatap istrinya itu. Dia membuka handuk dan mengambil piyama tidurnya diatas ranjang.
Ternyata Diana masih perawan, apa yang harus lakukan? Astagfirullahaladzim...kenapa aku seperti melakukan dosa? Pantaskah aku yang pernah bermandikan dosa ini, mendapatkan seorang wanita baik-baik yang tak pernah tersentuh oleh siapapun? Aku sebenernya tak pantas mendapatkan semua ini!
"Ya sudah Mas," jawab Diana patuh. Dia mengerutkan kening, tak paham dengan sikap cuek Bram yang terlalu tiba-tiba itu.
Diana melangkah dengan menahan sakit di sekujur tubuhnya itu, menuju ke kamar mandi. Bram melihat istrinya. "Aku kan suruh kamu tidur bukannya mandi!" Seru Bram sambil menatap tajam ke arah istrinya itu.
"Mas.. kenapa sih suudzan duluan? Aku ke kamar mandi mau bersihin bagian bawahku sambil ganti baju." Jelas Diana pada suaminya.
Melihat istrinya kesulitan berjalan, Bram semakin merasa bersalah. Pria itu pun menggendong Diana. "Mas...kenapa aku digendong?"
__ADS_1
"Kamu mau ke kamar mandi, kan? Aku temani kamu," ucap Bram perhatian.
"Mas kenapa sih?" Bibir Diana mengerucut, keningnya berkerut. Dia menatap suaminya dengan bingung.
Bram tak menjawab, dia menggendong istrinya masuk ke dalam kamar mandi. Dia membantu Diana berdiri tegap, bahkan membawakannya baju. Saat Diana akan mengambil sabun muka, Bram membantu Diana untuk mengambilkannya.
"Makasih Mas," ucap Diana sambil tersenyum. Dia menyalakan air keran, kemudian mengusap wajahnya dengan air itu dan sabun muka hingga bersih.
Bram masih berada dibelakangnya, menunggu Diana dengan setia. Diana terheran-heran mengapa Bram masih disana, padahal dia mau ganti baju dan mengoleskan salep pada bagian bawah tubuhnya yang terasa sakit itu. "Mas,"
"Ya? Apa kamu butuh sesuatu?" Bram yang tadi bersandar langsung berdiri tegap menghampiri Diana.
Diana melihat suaminya dari cermin, "Apa kamu kecewa sama aku?"
"Apa maksud kamu dengan kecewa?" Tanya Bram dengan kening berkerut.
"Kamu kecewa sama aku kan? Karena aku tidak berpengalaman dan kamu tidak puas sama aku, Mas." Diana mengutarakan unek-unek yang ada didalam hatinya.
Astagfirullahaladzim, aku sudah membuat Diana berfikir seperti itu?
"Ya kan? Mas marah dan kecewa sama aku?"
"Sayangku, bukan begitu. Kamu salah paham, itu bukan alasan aku bersikap seperti tadi." Bram memeluk Diana semakin erat.
Diana menaikkan alisnya, "Terus kenapa kamu marah-marah? Kenapa sikap kamu begitu setelah kita selesai bercinta? Kamu gak puas kan? Jujur aja deh, Mas!"
"Astagfirullahaladzim, maafkan aku yang membuatmu berpikir begitu. Tapi itu bukan karena aku kecewa, itu karena aku kesal pada diriku sendiri. Saat tau kamu masih perawan, aku tidak bisa membayangkan betapa kesalnya aku,"
"Kenapa mas kesal pada diri sendiri?" Diana membalikan tubuhnya, dia bertatap muka dengan suaminya itu.
"Karena aku yang kotor ini, merasa bahwa aku tidak pantas mendapatkan wanita yang masih suci seperti kamu. Aku bahkan menyakiti kamu, seharusnya kamu...ah.. sudahlah ini bukan salah kamu, kok!" Bram tidak tahu harus berkata apa lagi.
Dia teramat kesal dengan dirinya yang pernah berlumuran dosa. Dia ingat bagaimana rasanya menyakiti seorang perawan dengan paksa, contohnya Amayra. Betapa sakitnya wanita itu saat Bram memaksanya, sekarang dia melakukan hal yang sama pada Diana.
Diana menatap suaminya dengan cemas.
__ADS_1
"Aku...aku tidak tahu kalau kamu masih perawan, kamu pasti kesakitan.." ucap Bram sambil menangis merasa bersalah dan tidak pantas mendapatkan Diana.
Ya Allah, aku benar-benar tidak pantas!
"Mas..." Diana memegang wajah suaminya, kemudian dia mengecup bibir Bram. "Maafkan aku Mas, jika aku tahu kamu akan merasa bersalah dan terluka seperti ini....harusnya aku katakan sejak awal kalau aku masih gadis. Maafkan aku Mas, aku hanya berfikir bahwa suprise ini akan membuat kamu bahagia dimalam pertama kita. Tapi, aku malah membuat kamu terluka..maafkan aku Mas." Wanita itu merasa bersalah juga pada sang suami karena dia tidak memberitahu tentang keadaan dirinya yang masih dalam keadaan suci.
Mas Bram pasti teringat dengan masa lalunya dulu. Malam ini membuat luka lamanya kembali terbuka, harusnya aku tidak menyembunyikannya. Pantas dia terkejut...
"Enggak, ini salahku...harusnya aku melakukannya pekan-pekan. Kamu jadi terluka, maaf Diana.. maaf.." Bram membayangkan betapa sakitnya Diana di malam pertama, apalagi dia tidak bermain cukup lembut. Tanpa pemanasan, dia memasukkan miliknya ke dalam lubang yang masih bersegel itu. Uh, pasti sakit rasanya bagi Diana yang baru pertama kali.
Diana tersenyum, dia menyeka air mata Bram. "Udah Mas, jangan nangis.. ini salahku, harusnya aku bilang kalau aku sakit. Tapi aku gak bilang apa-apa, aku takut kamu kecewa. Maafkan aku membuat kamu bersedih Mas,"
Di malam pertama pernikahan mereka, kedua pasangan suami istri itu malah saling bermaafan setelah bercinta. Namun setelah ini mereka jadi tau tentang satu sama lain dan bagaimana cara mereka menyembuhkan luka masing-masing.
...****...
5 hari kemudian, di rumah Amayra dan Satria. Pagi itu Satria kembali mual-mual, padahal Satria sudah memeriksakan dirinya ke dokter lain dan tidak ada masalah dengan tubuhnya itu.
Mual-mualnya kembali saat Satria duduk di meja makan dan melihat nasi goreng sebagai menu sarapannya.
"Uwekkk Uwekkk!!" Satria berlari terbirit-birit menuju ke kamar mandi.
"Mas? Eh dia mual lagi?" Amayra mengerutkan keningnya, dia bingung karena mual-mual Satria kembali saat mau makan.
Rey ada disebelah Amayra, anak itu sedang duduk di atas kursi kecil khusus bayi. Rey mengoceh, "Mawmwa.. mamama.."
"Ah? Apa sayang?" Amayra menoleh ke arah Rey, saat mendengar anak itu bergumam.
"Mamwa...ma pwapapa.." Rey tersenyum, matanya yang polos tanpa ada beban itu menatap sang ibu yang sedang memegang sendok bersiap menyuapinya.
"Kamu manggil mama? Masyaallah nak, akhirnya bukan papa mu saja yang namanya dipanggil! Ya Allah sayangku," Amayra bahagia karena Rey akhirnya bisa memanggil namanya.
"Mamwa!! Mamwa.." Rey memanggil lagi Amayra.
Kemudian Amayra mencium pipi Rey dan memeluknya dengan penuh kasih sayang. Dia teramat bahagia dengan anaknya itu.
__ADS_1
...----*****----...