Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 235. Panggil saya mama


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


"Eh iya ma, kalau pagi-pagi begini Diana dan Bram pasti sudah berangkat bekerja, kalau Satria dan Amayra mungkin mereka lagi ada dirumah." ucap Cakra pada Nilam.


"Mama telepon dulu deh, tapi apa mereka mau angkat telepon dari mama ya?" tanya Nilam tidak percaya diri, dia mengira Amayra dan Satria pergi karena mereka membenci Nilam.


Kening Nilam terus berkerut, dia khawatir kalau kedua anak dan kedua menantunya itu tidak mau menerima maafnya.


"Mau papa teleponin?" tanya Cakra menawarkan dirinya.


"Assalamualaikum, pa...Tante Nilam." sapa Bima yang baru saja turun dari motor gedenya.


"Waalaikumsalam, Bima."


Walaupun wajah Bima mirip dengan Satria, namun kini mereka sudah bisa dibedakan dari penampilan. Gaya Bima terlihat urakan dan mirip dengan preman, rambutnya juga agak memancung ke atas.


"Bima, kamu habis darimana? Sudah lama kamu tidak kemari?" tanya Nilam ramah sambil tersenyum.


Bima terheran-heran saat melihat sikap Nilam padanya.


Aneh...apa Tante Nilam sakit ya? Kok sikapnya terlihat berbeda sama aku? Biasanya dia selalu pasang wajah cemberut, tapi sekarang kok dia kayak welcome sama aku ya?


"Haha, gak kemana-mana kok Tante. Aku sewa rumah dekat rumah Satria, nanti Tante sama papa main kesana ya." kata Bima menjelaskan. Bima menyerahkan keresek hitam yang entah pada isinya pada Cakra.


"Apa ini Bim?" Cakra bertanya sambil melihat ke arah Bima.


"Ini kue cucur sama kue kue lainnya, kata Amayra...Tante Nilam suka kue kue buatannya. Hari ini kebetulan dia buat kue, terus Satria suruh aku sekalian antar kesini deh." jelas Bima sambil tersenyum ramah.


"Amayra buat kue? Buat...aku?" Nilam melihat kue kue didalam keresek itu, semua kue itu adalah kue kesukaannya.


Amayra bahkan ingat kue kesukaanku dan masih sempat membuatkannya. Ya Allah, kenapa aku masih menganggap dia seperti orang asing padahal dia adalah menantuku juga walau Satria bukan darah dagingku. Kalau memang bukan darah daging, lalu kenapa? Mereka baik padaku..tapi aku menyia-nyiakan mereka.


Tiba-tiba saja Nilam menangis dan membuat kedua pria yang ada didekatnya keheranan. Mengapa wanita paruh baya itu menangis?


"Tante...Tante kenapa menangis?" tanya Bima bingung.


"Bima, kamu boleh panggil Mama sama saya."


"APA?" Bima tercengang.


"Kamu bisa panggil saya mama sama seperti Satria dan Bram memanggil saya." ucap Nilam sambil menyeka air matanya.

__ADS_1


"Ta-tapi...ke-kenapa?" Bima tergagap. Begitu pula dengan Cakra yang sedang menatap istrinya dengan bingung.


"Kamu kan saudara Satria, kamu juga papa Cakra.. berarti kamu anak mama Nilam juga kan? Kamu mau jadi anak mama?"


"Kebetulan Tante, aku gak punya mama dari kecil...kalau mama bersedia nambah anak satu lagi, aku mau banget jadi anak mama." ucap Bima senang senang hati.


Selama ini Bima tidak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ibu karena dia di urus oleh alm. pamannya.


Bima dan Nilam berpelukan dengan rasa haru. Cakra melihat semua itu sambil tersenyum. Dia berharap istrinya benar-benar sudah berubah.


Namun sayangnya niat Nilam yang ingin bertemu Satria dan Amayra, harus dia simpan dulu, karena Amayra dan Satria sedang tidak ada di rumah.


*****


Hari itu Amayra pergi menemani suaminya untuk terapi berjalan di rumah sakit. Terapi itu ditemani salah satu dokter bedah syaraf, yaitu dokter Dion teman Satria dan Daniel.


"Ayo mas, kamu pasti bisa... bismillah." Amayra menyemangati suaminya yang sedang berjalan di dekat besi bersama Dion. Amayra sendiri sedang duduk di kursi yang tak jauh dari sana.


Perut buncitnya sudah semakin besar, usia kandungannya tak terasa sudah mau menginjak 8 bulan. Usia kandungan yang belum pernah dia capai saat mengandung Rey dulu karena saat mengandung Rey, kandungan Amayra hanya mencapai 7 bulan saja. Akibat kecelakaan yang diakibatkan oleh Alexis.


"Iya sayang, bismillah." Satria mencoba sekuat tenaga untuk berdiri dengan pegangan besi yang ada disana.


Aku pasti bisa, aku harus bisa. Ya Allah bantulah aku.


"Iyah," angguk Satria pelan.


Satria mencoba mengangkat beban ditangannya, mencoba berdiri terlebih dahulu. Perlahan-lahan Dion memandu Satria, menguatkan semangat dan mentalnya. Amayra juga melakukan hal yang sama, dia menyemangati Satria.


"Ayo mas, anak kita juga menyemangati papanya. Katanya, papa semangat...papa pasti bisa... bismilah papa!" Amayra mengacungkan satu tangannya, seraya menyemangati Satria.


Satria tersenyum lembut, "Masih kurang semangatnya sayang."


"Maksud kamu apa, mas?" Tanya Amayra dengan wajah polosnya.


"Coba deh sini dulu kamunya." Satria meminta Amayra untuk mendekat ke arahnya.


Amayra pun mendekat ke arah suaminya. Tak lama kemudian, Satria mengecup bibir Amayra dengan cepat.


Cup!


"Mas!" Amayra terkejut, dia tersipu malu mendapatkan kecupan dari suaminya.

__ADS_1


"Kalau gini, aku baru semangat." Satria nyengir.


Sementara itu Dion tersenyum-senyum melihat kemesraan suami istri itu. "Ehem, sepertinya dokter Satria dan Bu Amayra lupa ya kalau saya ada disini?"


"Mas, kamu malu-maluin deh!" Amayra menatap suaminya dengan tatapan kesal.


"Maaf dokter Dion, kalau kami begini artinya kami lupa dengan dunia sekitar." Canda Satria pada Dion.


"Ya...ya...kalian benar, saya disini cuma ngontrak, kalian yang punya rumah." Dion tersenyum menanggapi candaan Satria.


Candaan Satria malah membuat Amayra kesal, dia malu-malu karena ada Dion disana dan mereka menunjukkan kemesraan didepan temannya itu. Tapi Satria tidak malu sama sekali, alasannya ya karena mereka suami istri jadi sah sah saja.


Siang itu, setelah Satria menjalani terapi jalan di rumah sakit, Bima menjemput adik dan adik iparnya itu. Mereka tidak langsung pulang ke rumah karena Amayra harus pergi ke kampus untuk menjalani ujian semester.


Didalam perjalanan menuju ke kampus Amayra, Bima menceritakan tentang Nilam kepada adik dan adik iparnya itu. Perubahan sikap Nilam dan bagaimana Bima diakui sebagai anaknya, juga niat Nilam dan Cakra mengunjungi Amayra dan Satria. Pasangan suami istri itu menanggapi niat Nilam dengan positif. Mereka berdoa bahwa Nilam benar-benar sudah berubah dan menjadi orang yang lebih baik.


Sesampainya di kampus, Bima turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Amayra. Satria terlihat tidak senang melihat itu, dia bahkan tidak bicara.


"Hati-hati turunnya May," ucap Bima perhatian, tatapannya memperhatikan ibu hamil itu saat keluar dari mobil. Dia bahkan menghalangi bagian atas mobil dengan tangannya, agar kepala Amayra tidak terantuk kesana.


"Makasih mas Bima." jawab Amayra. Amayra tak lupa mencium tangan suaminya seraya mengucapkan salam sebelum keluar dari mobil. "Aku berangkat ya mas, assalamualaikum."


"Iya sayang, nanti...aku suruh pak Muin jemput kamu." ucap Satria pada istrinya.


Kenapa pak Muin? Biasanya juga sama aku. Bima terkejut karena biasanya Satria meminta bantuan Bima bukannya pak Muin.


"Iya sayang," jawab Amayra sambil mengangguk.


Perlahan-lahan Amayra keluar dari mobil, dia memegangi perut buncitnya itu. Dia sudah mulai kesulitan berjalan dan seharusnya Amayra sudah mengajukan cuti. Namun, ujian semester tinggal minggu ini.


Setelah memastikan Amayra masuk ke dalam kelasnya, Bima kembali masuk ke dalam mobil dimana ada Satria disana. "Sat, kita langsung pulang atau mau kemana dulu?" tanya Bima sambil memegang setir kemudi.


"Pulang ke rumah." jawab Satria datar


Ya Allah, perasaan ini benar-benar gak nyaman. Aku harus ngomong apa enggak ya?


"Oke." Bima menyalakan mobilnya, dia tancap gas.


"Kak, mulai besok kakak gak usah antar jemput lagi aku dan Amayra." ucap Satria tiba-tiba.


"Apa? Kenapa Satria?" tanya Bima terperangah mendengar ucapan Satria yang secara tiba-tiba itu.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2