Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 97. Mabuk


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Sore itu Satria sudah tidak ada jadwal operasi, dia berniat pulang dan membereskan barang-barangnya. Satria tersenyum lebar, dia senang karena tidak jadi pulang malam dan bisa berkumpul bersama istri juga anaknya lebih awal karena rapat dewan rumah sakit ditunda.


"Kak Satria sudah mau pulang ya?" tanya Clara yang tiba-tiba sudah ada di dalam ruangannya.


"Kenapa kamu tidak mengetuk pintu dulu?" tanya Satria sambil membereskan buku-buku di atas mejanya. Suaranya ketus dan meninggi.


"Maafkan aku kak, kenapa kakak harus marah sih?" Clara kesal karena Satria selalu ketus padanya.


"Kamu harus sopan pada seseorang yang sudah menikah dan kamu masuk ke dalam ruangan pribadiku!" jawab Satria tegas. "Lalu mau apa kamu kesini?" tanya Satria pada gadis itu.


"Hem, aku kemari karena mau memberikan laporan kerjaku pada kak Satria," Clara menyisir rambutnya ke belakang telinga, dia memasang waja sepolos mungkin dihadapan pria yang sudah beristri itu.


"Simpan saja di mejaku," jawab Satria sambil memakai jam tangannya kembali.


"Tapi kak, kakak sepertinya mau pulang ya?" tanya Clara penasaran melihat Satria yang buru-buru.


"Iya, jadwalku sudah beres dan rapat ditunda," ucap Satria tanpa melihat ke arah wanita itu.


"Oh gitu ya? Ya udah kak, aku pergi dulu ya." Clara meletakkan sebuah dokumen di atas meja kerja Satria.


Gimana ini, gimana cara mengajak kak Satria makan malam bersama? Aku ingin makan malam bersama kak Satria.


Clara keluar dari ruangan itu. Satria juga bersiap pulang, tapi dia menelpon istrinya dulu. "Assalamualaikum sayang,"


Kini Satria sudah terbiasa memanggil Amayra dengan panggilan sayang, sejak malam pertama mereka. Panggilan penuh kasih tanpa ketahuan sedikitpun, atau rasa canggung. Sementara Amayra masih malu-malu.


["Waalaikumsalam kak,"]


"May, aku mau pulang nih,"


["Kok udah pulang lagi kak? Rapatnya gimana?"]


"Rapatnya ditunda jadi besok. Ngomong-ngomong kamu mau aku beliin apa? Nanti aku mampir ke supermarket dulu, sekalian beli popok Rey yang tinggal sedikit lagi kan?" tanya Satria sambil tersenyum.


["Ah gak usah kak, popok Rey udah ada kok. Makanan juga masih banyak di kulkas, belum lagi tadi kak Bram datang bawa makanan."]


"Kak Bram datang?" tanya Satria dengan suara tidak senang.


["Kakak tenang saja, kak Bram cuma ngantar makanan yang diberikan mama Nilam, sama gendong Rey sebentar. Tadi dia datang pas kakak pergi, dia juga gak lama kok disini."] Amayra menjelaskan pada Satria agar dia tidak salah paham.


"Iya Iyah, aku percaya. Udah gak usah jelasin lagi, jadi aku langsung pulang aja nih? Beneran gak mau aku belikan sesuatu?" tanya Satria pada istrinya penuh kelembutan.


["Hem.. aku mau minta sesuatu sama kakak,"]


"Apa sayang?"


["Aku cuma minta kakak pulang dengan selamat dan berhati-hati,"] Amayra mendoakan suaminya.


"Haha.. kamu tuh ya. Aku pasti baik-baik saja, aku akan menyetir pelan dan hati-hati, pulang dengan selamat." Satria tertawa kecil.


["Bukan hati-hati soal itu, tapi..."]


"Terus apa dong?"


["Hati-hati dengan pandangan kakak pada orang lain, jaga mata dan jaga hati."]


Satria terpana mendengar ucapan istrinya itu. Hatinya berdebar seakan-akan dirinya baru pertama kali jatuh cinta.


"Walaupun ada banyak wanita di dunia ini, aku tidak akan tergoda oleh wanita manapun. Hanya kamu yang bisa menggodaku May, percaya pada suamimu," Satria tersenyum penuh ketulusan saat menjawabnya.

__ADS_1


["Hem.. iya, udah ah. Aku mau nyetrika baju dulu, kakak hati-hati ya pulangnya! Assalamualaikum!"]


Tut...


Satria tertawa kecil, karena Amayra menutup telponnya begitu saja bahkan sebelum dia menjawab salam. "Haaahhh.. sepertinya dia malu sudah mengatakan itu," ucap Satria gemas sendiri dengan tingkah istrinya yang masih remaja itu.


Ketika Satria keluar dari ruangannya dan hendak pulang, dia melihat ada dokter Candra, dokter Daniel dan dokter-dokter lainnya sedang berjalan bersama. Hari juga sudah semakin sore, Satria langsung menundukkan kepala dengan hormat pada dokter dokter senior itu dan menyapa mereka.


"Selamat sore dokter," sapa Satria ramah.


"Hem, dokter Satria..apa kamu mau pulang?" tanya dokter Candra sambil menatap Satria yang sudah berpakaian rapi dan membawa tas hitam ditangannya.


"Iya dokter, jadwal operasi saya sudah selesai."


"Oh begitu ya? Tapi sepertinya kamu tidak bisa pulang dulu," ucap dokter Daniel pada Satria.


"Memangnya kenapa pak?" tanya Satria tidak paham.


"Kepala rumah sakit akan datang, jadi semua dokter harus menyambutnya. Terutama kamu Dokter Satria, apalagi kamu akan pergi ke Afrika." jelas Dokter Candra sambil menatap Satria dengan tajam.


Aku bahkan sudah mengatakan penolakan itu, tapi sepertinya mereka tidak mau mendengarkan atau membantuku. Apa ini benar seperti apa yang dikatakan oleh Diana? Ah.. tidak ,aku tidak boleh suudzan dulu.


Akhirnya Satria tidak jadi pulang cepat dan ikut bersama dokter lainnya yang akan pergi ke Afrika untuk menyambut kepala rumah sakit, sekalian mengadakan rapat dan makan malam bersama.


Satria dan semua dokter bedah lainnya, sampai disebuah restoran mewah yang jaraknya lumayan jauh dari rumah sakit. Mereka duduk disalah satu meja yang sudah dipesan, sambil menunggu kepala rumah sakit yang baru akan tiba.


Allahuakbar Allahuakbar...


Adzan magrib sudah berkumandang, Satria beranjak lebih dulu dibandingkan dokter-dokter lainnya untuk pergi ke mushala. "Semuanya, saya pamit undur diri sebentar, adzan magrib sudah berkumandang." ucap Satria.


"Ya silahkan dokter Satria," jawab dokter dokter disana menjawab Satria.


"Dokter Satria, ayo cepat! Kepala rumah sakit sudah datang!" ujar dokter Daniel pada Satria buru-buru.


"Baik dok,"


Kayaknya aku tidak menelpon Amayra, ya sudah aku kirim pesan singkat saja.


Satria mengetik sesuatu di ponselnya, "May, aku akan pulang terlambat. Ada pertemuan mendadak dengan kepala rumah sakit yang baru. Jangan tunggu aku, aku makan malam disini. Kamu makan malam duluan dan tidur duluan saja ya sayang. Jaga anak kita baik-baik ya..


Pesan terkirim pada istriku.


Satria dan dokter lainnya sudah berkumpul di dalam restoran mewah itu. Terlihat seorang pria tampan, berkulit putih, dengan mata berwarna coklat muda tengah berdiri dihadapan mereka. Dia adalah Ferdi Hadiwinata, kepala rumah sakit yang baru.


Semua orang menyambutnya dengan hangat, ternyata Ferdi sudah menjadi kepala rumah sakit yang baru pada usianya yang tergolong masih muda.


"Selamat malam semua, maaf saya menganggu waktu kalian." kata Ferdi dengan senyuman ramah di wajahnya.


"Tidak apa-apa pak Ferdi, kami senang dengan kehadiran pak Ferdi. Selamat bergabung dengan rumah sakit kami," kata dokter Candra ramah.


Semua orang memperkenalkan dirinya pada pak Ferdi. Mereka pun makan malam bersama disana. Sementara Satria terlihat galau karena dia belum bisa bicara dengan istrinya secara langsung.


...*****...


Amayra baru saja selesai melaksanakan shalat isya. Dia dan Rey berdua saja di rumah karena Dewi sudah kembali ke rumah Calabria. "Uwee.. uwee..."


"Kenapa sayang?" Amayra melepaskan mukenanya, dia menghampiri Rey yang menangis. Bayi yang akan berusia 2 bulan itu meronta-ronta dan merengek. "Kamu haus? Atau kamu pup?" tanya Amayra pada putranya itu.


Amayra memeriksa baju dan popok Rey, ternyata tubuh bayi itu basah karena popok yang sudah penuh dan tidak bisa menampung air pipis lagi. "Masyaallah anak mama, semuanya basah ya. Pantas saja kamu rewel, gak nyaman ya sayang? Mama gantikan ya?"


Wanita itu menyeka badan Rey sedikit dengan air hangat, kemudian dia mengoleskan bedak dan minyak kayu putih pada tubuh mungil itu. Dia memakaikan baju hangat untuk Rey, tak lama setelah itu Amayra menyusui anaknya dengan penuh kasih sayang. Dia duduk di atas ranjang, dia menyusui Rey sampai bayi itu tertidur pulas. Amayra membaringkan Rey di ranjangnya dengan hati-hati. "Rey anak Sholeh, tidur nyenyak ya sayang,"

__ADS_1


Bismillahirrahmanirrahim, Bismika Allahumma ahyaa wa bismika amuut. Amayra mengecup kening putranya.


Amayra melihat jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 11 malam, tapi suaminya belum pulang juga. "Kak Satria kok belum pulang juga? Apa rapatnya lama ya?" tanya Amayra cemas. "Semoga gak terjadi apa-apa sama kak Satria, Aamiin."


Tapi ngomong-ngomong kenapa kak Satria belum menelpon ku juga?


Wanita itu mengambil ponselnya yang ada di atas meja, dia menelpon suaminya karena dia merasa cemas. "


Tut...


Tut...


Dering itu masih tersambung dan belum diangkat oleh Satria. "Kak Satria gak apa-apa kan?"


Din Din..


Suara klakson mobil terdengar dari luar, Amayra langsung sumringah. Dia berjalan ke luar untuk menyambut suaminya. "Kak Satria,"


Amayra kaget begitu dia membuka pintu, dia melihat dokter Candra dan Clara berada disana bersama suaminya yang seperti tidak sadarkan diri.


"Kamu istri dokter Satria kan? Maaf ya, saya tidak bermaksud membuat dokter Satria seperti ini." ucap Candra tanpa merasa bersalah.


"Suami saya kenapa pak?" tanya Amayra sambil menghampiri Satria yang duduk dilantai depan rumah.


"Dia salah minum, lalu dia mabuk." jawab Candra cuek dan sinis pada Amayra. Dia menatap Amayra dengan tajam.


Hah, ternyata cuma wanita kampung seperti ini? Aku kira dia secantik apa? Wanita kayak gini sih, banyak di pasar loak juga. Berbeda jauh dengan putriku yang sempurna, Satria benar-benar bodoh. Mengapa dia tergoda oleh wanita yang tidak menarik ini? Anakku seribu kali lebih baik, tapi selalu dia tolak.


Candra mengejek penampilan Amayra yang memakai hijab dan memakai rok panjang. Penampilan tertutup yang tidak bisa menggoda laki-laki.


"May, kamu cantik sekali.. kamu cantik," Satria tersenyum konyol menatap istrinya, anaknya merah karena alkohol.


"Kenapa suami saya bisa mabuk? Apa kalian semua minum alkohol?" tanya Amayra sambil menatap tajam ke arah dokter Candra dan Clara. Terdengar kemarahan didalam ucapannya.


"Kenapa kamu marah? Memangnya tidak boleh minum alkohol?" ucap Clara nyinyir.


"Saya heran kenapa para dokter yang tau tentang pentingnya kesehatan malah minum alkohol?" tanya Amayra menyindir.


"A-Apa?" Clara mendelik kesal pada Amayra.


"Sepertinya orang kampung macam kamu tidak tahu mana kehidupan pribadi dan kehidupan pekerjaan. Dokter Satria sudah terpilih untuk pergi ke Afrika, tapi dia menolaknya. Kamu mau tau kenapa? Itu karena kamu dan anak haram kamu, dokter Satria harus melepaskan karir cemerlangnya untuk naik jabatan sebagai dokter kepala bedah. Lalu dokter Satria sampai memutuskan keluar dari rumah sakit dan kamu tau kalau dokter Satria memulai lagi karirnya dari nol. Akan sulit baginya untuk naik, karena dia sudah dianggap dokter yang tidak berkompeten oleh rumah sakit lain. Itu semua karena istri dan anak haram kamu!" Dokter Candra tersenyum sinis pada Amayra.


Perkataan dokter Candra menusuk ke dalam hati Amayra. Wanita itu juga belum tau tentang keputusan Satria yang pergi ke Afrika, dia tidak percaya kalau Satria akan memutuskan hal sebesar itu untuknya dan Rey.


Kak Satria keluar dari rumah sakit?


Setelah membuat Amayra sedih dan bingung, Clara dan dokter Candra pergi dari rumah itu. Amayra memapah suaminya yang tidak sadarkan diri menuju ke kamar. Dia melepaskan jaket, sepatu dan melepaskan kancing kemeja Satria pelan-pelan. "Kenapa kamu membuat keputusan seperti ini tanpa bicara dulu denganku kak? Kenapa kamu minum alkohol?" gumam Amayra sambil menahan tangis melihat suaminya yang terbaring diatas ranjang dengan bau alkohol yang menyengat.


Kata-kata dari dokter Candra sungguh membuatnya kepikiran. Apakah dirinya egois karena sudah membuat Satria kehilangan karirnya? Dia tau bahwa Satria melakukan ini bukan tanpa alasan, tapi dia juga tau kalau menjadi dokter kepala adalah impiannya. Dia juga senang bekerja di rumah sakit itu.


Amayra akhirnya menangis, disamping suaminya yang tertidur. Tiba-tiba saja sepasang tangan melingkar di perut wanita itu dan memeluk erat dirinya. Perasaan Amayra campur aduk malam itu.


"Kak, tidurlah kak. Aku tidak mau marah pada kakak sekarang," ucap Amayra melepas pelukan suaminya.


"May kamu cantik sekali," ucap Satria sambil duduk dengan keadaan setengah sadar. Satria melepas kerudung istrinya, dia menciumi leher Amayra penuh n*fsu.


"Kak...hentikan, jangan kak..kakak lagi mabuk!" Seru Amayra menolak sentuhan dan ajakan suaminya.


"Sayangku Amayra.. " Satria memeluk sang istri dengan erat. Sementara Amayra masih menangis dalam kebingungan.


...----****-----...

__ADS_1


__ADS_2