Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 47. Bram mabuk


__ADS_3

#Masih flashback


Jantung nya sesaat seakan berhenti, begitu mendengar kabar bahwa wanita yang dia cintai meninggal dunia dan meninggalkan seorang anak. Dari matanya mengalir bulir-bulir air mata, hatinya terasa sakit. Pria itu terpana, sementara Nilam tersenyum puas mendengar berita kematian wanita yang dianggap sudah merebut suaminya.


Anita sudah meninggal?


"Anita meninggal setelah melahirkan Satria." ucap Lilis menjelaskan yang terjadi.


Cakra menggendong bayi itu, anaknya dan Anita. Bayi itu berhenti menangis di dalam pelukannya dan dia berkata bahwa dia akan mengurus bayi itu. Tentu saja Nilam tidak menyetujui nya, dia tidak mau dan menolak kehadiran Satria.


Cakra pun tidak punya pilihan lain selain mengancam Nilam dengan surat cerai. Nilam yang mencintai Cakra, tidak mau bercerai dengan suaminya. Dia bersedia menerima Satria dan memasukan Satria ke dalam kartu keluarga walaupun dia sebenarnya tidak mau melakukan itu. Demi nama baik keluarga Calabria, Nilam terpaksa menerima Satria dan mengakui Satria sebagai anak bungsunya. Dia tidak mau semua orang tau kalau suaminya pernah menikah lagi dan memiliki anak.


#End flashback


Amayra menangis mendengar cerita Cakra, dia tidak percaya ada cerita seperti itu di dalam keluarga Calabria. Cakra yang terlihat setia, ternyata mempunyai dua istri. "Ini semua salah papa May, seharusnya papa tidak berbohong..papa menyakiti hati mendiang mama nya Satria.


"Tidak heran kak Bram bersikap seperti itu pada wanita, dia menurun dari papa." Suara seorang pria menyindir terdengar di dekat pintu ruang kerja itu membuat Amayra dan Cakra tercekat. Mereka beranjak dari tempat duduk melihat dan melihat Satria sudah ada disana.


"Satria?"


"Kak Satria? Bukannya kakak sedang tidur?" tanya Amayra sambil menghampiri suaminya dengan bingung.


"Papa tidak perlu menjelaskan apa-apa lagi padaku. Aku sudah mendengar semuanya, besok aku dan Amayra akan pindah dari sini. Keputusan ku sudah bulat!" Kata Satria tegas.


"Tidak Satria, kamu tetaplah tinggal disini. Rumah ini adalah rumah keluarga mu nak, papa-"


"Tidak pa, besok Satria dan istri Satria akan pindah dari sini!"


"Satria! Papa mohon maafkan papa, maafkan papa yang telah menyembunyikan semua ini dari kamu nak." Cakra mendekati putra bungsunya dan memohon maaf pada Satria.

__ADS_1


Namun Satria tidak mau mendengar papa nya, saat ini kepalanya sedang marah di penuhi amarah yang bisa meledak kapan saja. Mungkin lebih baik baginya tinggal terpisah dari papa nya.


"Kak, gak boleh seperti itu pada orang tua. Kakak mau jadi anak durhaka? Kalau papa Cakra tidak setuju kakak meninggalkan rumah ini, maka kakak tidak boleh meninggalkan rumah ini."


"May, aku tidak akan meninggalkan rumah ini selamanya. Anggap saja bahwa ingin kita hidup mandiri dengan tinggal terpisah dari orang tua."


"Kakak mengambil keputusan ini dalam keadaan marah. Hidup mandiri itu hanya alasan saja, kumohon kak.." Amayra meminta Satria berfikir dengan kepala dingin untuk pindah dari sana.


"Kita tetap pindah, kalau kamu memang mau disini silahkan saja!" Satria pergi begitu saja meninggalkan istrinya dan papa nya disana.


Cakra meminta Amayra membujuk Satria untuk tidak meninggalkan rumah. "Papa mohon May, bujuk suami kamu ya."


"Papa tenang saja, kak Satria kan sudah bilang kalau dia tidak akan pergi selamanya. Saya sudah tidak bisa membujuknya lagi, kalau kak Satria ingin pergi maka saya juga harus pergi menuruti perintah suami dan ikut kemana dia pergi," Jelas Amayra tegas sebagai istri.


Cakra tidak bisa berbicara apa-apa lagi setelah mendengar perkataan menantunya. Amayra pun turun dari lantai atas kembali menuju ke kamarnya ke lantai bawah. Dia berpapasan dengan Bram yang baru saja pulang jalan-jalan dengan Alexis.


Bau alkohol yang menyengat ini, dia mabuk.


Bram sudah sampai ke lantai atas, dia melihat Amayra menghindarinya. Bram tersenyum pada Amayra, dia berjalan semakin mendekat ke arah wanita itu. "Kamu sungguh membuatku gila! Bahkan di saat tidak sadar saja aku masih melihatmu. Aku pasti sudah gila, karena hanya kamu yang terlihat di mataku."


Amayra segera berjalan cepat menuju ke arah tangga untuk kembali ke kamarnya. Namun, tangan Bram memeganginya dengan erat.


GREP!


"Akh! Lepaskan saya pak Bramastya! Anda menyakiti saya!" Amayra mencoba melepaskan dirinya dari tangan Bram yang memegangi kedua tangannya. Tenaga pria yang sedang mabuk itu sangat kuat. Amayra menatap pria itu dengan penuh kebencian.


"Bukan Alexis! Tapi kamu yang selalu ada di dalam ingatanku, kenapa? Kenapa kamu mengacaukan aku seperti ini hah?! Apa karena rasa bersalah? Atau karena aku sudah... Haha, aku pasti sudah gila karena aku ingin bilang kalau aku mencintaimu!" Bram tertawa kecil, dia tidak percaya ingin mengucapkan kata cinta pada Amayra, gadis kampungan yang selalu dia hina itu. "Gila, benar-benar gila! Bahkan saat ini aku bisa menyentuhmu!"


Bram mulai kehilangan akal sehatnya, dia berfikir Amayra hanya ilusinya. Dia menarik tangan wanita itu dengan kasar."Lepaskan saya! Lepaskan! Saya akan berteriak kalau anda terus seperti ini!"

__ADS_1


Ya Allah, kenapa cengkraman tangannya begitu kuat. Beri aku kekuatan ya Allah.. seperti nya dia ingin melakukan sesuatu yang jahat pada ku.


Mata Bram memicing, dia terlihat terluka melihat tatapan kebencian Amayra padanya. "Jangan tatap aku seperti itu!!" Bentak Bram pada Amayra.


"Sa-sakit! Tolong lepaskan saya! Tolong! Sakit!" Amayra merintih kesakitan, ketika tangan Bram semakin erat memegangnya.


Bismillah!


Amayra pun menggigit tangan Bram, tapi Bram seperti nya tidak merasa sakit sama sekali oleh gigitan nya. "Seperti digigit semut." Gumam Bram pelan.


Pria itu memeluk Amayra kemudian menggendong nya dengan paksa dan membawanya masuk ke dalam kamar. Akhirnya Amayra berteriak meminta pertolongan. "Lepas! Lepaskan saya! Kak Satria! Kakak! Kak Satria! Anna! Papa!! Mama!!" Semua orang dipanggilnya dengan berteriak dan suara kencang.


"Diam!" Bram mengunci mulut Amayra dengan kedua tangannya.


"Hmphh!!Hmphh!!" Amayra menangis, dia berusaha memberontak tapi tubuh Bram mengunci tubuhnya dengan kuat. Persis seperti malam itu di villa. Ingatan pemerkosaan itu kembali terlintas di kepala nya, padahal dia sedang berusaha melupakan nya. Tapi sikap Bram kembali menorehkan luka lama kepadanya.


Kenapa? Padahal ini kan mimpi? Mengapa begitu nyata?


Mendengar teriakan Amayra, membuat semua orang terbangun dari tidurnya. Termasuk Lulu, Dewi, Pak Muin dan pak Cecep.


"TOLONG!!


"Ada suara orang berteriak?" Lulu menguap, dia terbangun.


"Seperti nya itu suara non Amayra?" gumam Dewi mendengar suara Amayra. Kedua pembantu rumah tangga itu beranjak dari ranjang mereka untuk melihat apa yang terjadi.


Dewi,Lulu dan pak Muin bergegas naik ke lantai atas dimana suara orang berteriak itu terdengar.


...---***---...

__ADS_1


__ADS_2