
** Sorry, chapter ini mungkin agak sedikit mengesalkan! Jadi, mohon bersabar ya readers...inget lho lagi puasa hehe, 😂🤭 jangan lupa like, komennya 🤭
...****...
...🍁🍁🍁...
Satria dan Amayra saling merindukan satu sama lain, tersiksa ingin segera bertemu. Saling mendoakan agar keadaan satu sama lain baik-baik saja, berharap doa mereka akan tersampaikan walau berada dalam jarak yang jauh namun dekat di hati.
Kepala dokter yang memimpin kegiatan sukarelawan itu, mengatakan akan memulangkan semua tenaga medis setelah akses dan keadaan disana memungkinkan untuk pulang.
Semua dokter sangat senang dengan keputusan kepala dokter. Apalagi Satria, dia berdoa agar badai segera berlalu dan dia bisa pulang ke tanah air.
"Kak Satria..." ucap Clara pada Satria yang sedang berganti baju di kamar campnya.
"Kamu kebiasaan masuk ke kamar orang tanpa kasih tau atau ngucapin salam!" bentak Satria mulai kesal dengan sikap Clara yang seenaknya. Dia panik karena sedang dalam keadaan telanjang dada.
Clara memeluk Satria dalam keadaan telanjang dada itu, "Dokter Clara! Kamu apa-apaan sih?" Satria berusaha mendorong Clara, tapi wanita itu terus menempel padanya.
"Kak Satria, kenapa sih kakak tidak pernah melihat perasaanku? Aku suka sama kakak, aku sampai ikut kemari karena aku suka sama kakak.."
"Hentikan ini dokter Clara! Saya sudah menikah!" Satria mendorong Clara dengan keras.
Maafkan aku kak Satria. Karena waktu kita sedikit, aku terpaksa melakukan ini.
Clara membuka kemeja bajunya dengan sengaja, dia mempertontonkan bagian tubuhnya didada yang menonjol yang dibalut oleh kain penyangga.
Satria mulai bergidik ngeri melihat keagresifan Clara. Gadis itu mendekatinya dan mencium bibirnya dengan paksa dan lagi Satria belum memakai bajunya.
"Hmphhh..."
"Kak Satria..aku cinta kakak, aku sayang kakak .." Clara mendorong Satria ke ranjang, jari jemarinya menyusuri dada Satria yang bidang seraya menggodanya.
Nafas Satria mulai berhembus panas, dia mulai tergoda dengan kecantikan Clara apalagi penampilan Clara saat itu begitu menggoda, seksi dan jauh dari menutup aurat.
Namun, sekali lagi dia ingat istrinya di rumah dan kembali sadar.
"Astagfirullah! Clara! Cukup!" Satria marah, dia menatap tajam ke arah Clara. Satria mulai membalikkan keadaan, dia membuat Clara berada dibawah tubuhnya. "Kamu benar-benar keterlaluan! Kamu kerasukan setan ya?" teriak Satria marah.
"Iya kak, mungkin aku kerasukan setan. Aku ingin bersama kakak dengan cara apapun," Clara tidak peduli dirinya mau dikatai j*Lang atau apalah itu. Yang penting dia bisa bersama Satria apapun jalannya.
__ADS_1
Tangan Clara memeluk Satria, dia mencium leher Satria. Hingga meninggalkan tanda merah bekas lipstik disana. Clara terkekeh melihat hasil karyanya itu. Satria yang hendak beranjak bangun, dihentikan oleh Clara yang dengan menyentuh benda sensitif miliknya. "Dokter Clara!" bentak Satria pada Clara sambil menepis tangan Clara yang sudah berani menyentuh tubuhnya.
"Dokter Satria.. dokter Clara? Kalian sedang apa?" tanya seorang dokter yang melihat Satria dan Clara sedang berduaan di basecamp tempat Satria beristirahat.
Posisi Satria dan Clara saat ini, bisa membuat orang lain salah paham. Satria berada diatas tubuh Clara dalam keadaan telanjang dada, sementara Clara dalam keadaan terbaring atas ranjang dibawah tubuh Satria. Baju kemejanya terbuka lebar, menunjukkan bagian atas tubuhnya yang menonjol.
Dokter lain yang kaget mendengar suara teriakan Satria didalam basecamp, mereka pun melihat apa yang terjadi. Mata mereka melebar melihat hal itu.
"Wah .. dokter Satria saya tidak menyangka kalau-" ucap seorang dokter terpana.
"Disaat seperti ini...kalian malah.. sungguh perilaku tidak bermoral!" kata dokter berkacamata sambil menggelengkan kepala.
"Tu-tunggu ini semua salah paham, ini tidak seperti yang kalian pikirkan!" Cepat-cepat Satria bangkit dari tubuh Clara.
"Kak... bagaimana ini? Kita sudah ketahuan," ucap Clara sambil beranjak duduk dan merapikan pakaiannya kembali.
"Ketahuan?" dokter dan perawat disana yang melihat mereka, langsung terperangah dan mulai berbisik-bisik satu sama lain.
"Clara! Apa maksud kamu?" Satria menatap marah pada Clara. Clara hanya diam dengan wajah polosnya.
"Jadi, kalian ada hubungan? Gila ya dokter Satria, saya kira dokter setia! Ternyata.." ucap seorang dokter bawahan Satria tak percaya.
Satria mengepalkan tangannya, kemudian dia meninju seorang perawat pria yang bicara macam-macam tentang dirinya dan Amayra. Terjadilah perkelahian disana. Tak berselang lama, kepala dokter datang kesana dan melerai perkelahian itu.
Satria dan Clara dibawa ke basecamp pendisiplinan karena mereka dianggap sudah melakukan Zina di saat bertugas. "Sungguh dok, saya tidak melakukan itu! Ini semua fitnah dan salah paham! Tolong dengarkan dulu penjelasan saya! " Satria menyangkal semuanya, karena dia memang tidak melakukan apapun pada Clara.
"Lalu ini apa dokter Satria? Jelas-jelas kamu dan dokter Clara sedang bercinta!" dokter Daniel sebagai kepala tim relawan, memperlihatkan foto Clara dan Satria yang sedang berada di basecamp dalam kondisi yang tidak benar.
"Siapa juga orang bodoh yang mengambil foto ini?" gumam Satria marah.
"Tidak penting siapa yang mengambilnya, karena semua orang melihat apa yang kalian lakukan! Untuk menjaga reputasi rumah sakit, aku sudah memutuskan hukuman untuk kalian berdua!" ucap Dokter Daniel tegas.
Satria tercekat dan menengadah ke arah dokter Daniel. Sementara Clara menantikan hukuman apa yang diberikan oleh Daniel.
...*****...
Rumah sakit xxxx. Harun terlihat sedang memakai baju pasien. Dia berada didalam salah satu ruangan rawat, wajahnya terlihat pucat.
Pria paruh baya itu membawa foto Amayra dan keluarga kecilnya. "Harusnya saat ini aku berada disamping Amayra dan Rey. Tapi.. aku tidak menemani mereka disaat sedih, maafkan ayah ya May..." gumam pria paruh baya itu dengan senyuman tipisnya sambil memandang foto Amayra, Satria dan Rey.
__ADS_1
"Satria, kamu baik-baik saja kan nak? Cepatlah pulang, Amayra dan Rey membutuhkan kamu. Jika terjadi sesuatu pada ayah dan kamu tidak ada disampingnya, Amayra pasti akan sedih.Tapi.. ayah pasti akan baik-baik saja, insyaallah.." ucap Harun yang berusaha berfikir positif tentang kondisinya.
Uang yang sudah ditabung pak Harun, dia gunakan untuk biaya rumah sakit dan biaya operasinya. Dia mengatakan pada Amayra bahwa dia akan pergi ke Bandung untuk mengunjungi makam ibu Amayra. Padahal dia sebenarnya akan menjalani operasi di rumah sakit.
"Pak Harun, mari makan siang dulu!" kata seorang perawat sambil membawa nampan berisi makanan. Dia menghampiri Harun dan tersenyum ramah.
"Terimakasih sus," ucap Harun sambil tersenyum di wajah pucatnya.
"Pak Harun, bukannya saya mau ikut campur dengan masalah pak Harun. Tapi bukankah keluarga bapak harus tau tentang kondisi bapak saat ini?" tanya suster itu sambil memberikan piring berisi makanan pada Harun.
"Tidak sus, anak dan menantu saja tidak boleh tau. Anak saya sedang berada dalam masalah dan saya tidak mau membebaninya. Lagipula setelah operasi saya akan baik-baik saja dan saya akan mengatakan padanya bahwa saya pernah sakit.."
"Ya sudah pak, saya kan sudah kasih tau. Saya harap Allah selalu melindungi bapak dan operasi bapak berjalan lancar," ucap perawat itu mendoakan kesehatan pak Harun.
"Aamiin, terimakasih ya suster.." ucap Harun.
"Saya hanya mendoakan saja pak, tidak usah berterimakasih kepada saya." kata suster itu.
"Doa adalah yang paling mujarab diantara semua hal di dunia, sus.." ucap Harun sambil tersenyum.
Setelah selesai makan siang, Harun yang akan dioperasi nanti sore. Merasa bosan dan pergi keluar rumah sakit untuk berjalan-jalan. Dia menemukan sebuah taman disana.
Saat sedang berjalan-jalan, tak sengaja seorang pria menabrak Harun hingga pria itu jatuh ke lantai.
"Aduh! Kak Keisha apaan sih, kenapa gak jenguk Tante Marisa barengan aja? Huh!" gerutu pria itu dengan buru-buru.
BRUGH!
"Maaf pak, saya gak sengaja!" Seru pria itu sambil membantu pak Harun berdiri.
"Gak apa-apa Mas, saya juga yang jalan gak lihat-lihat.." ucap Harun sambil membungkuk untuk mengambil foto Amayra, Rey dan Satria yang selalu dia bawa kemana-mana.
"Biar saya saja yang ambilkan pak," ucap pria muda dengan tampilan preman itu sambil tersenyum. Dia adalah Ken yang sedang berencana menjenguk Tantenya yang baru saja melahirkan.
Dia mengambil foto itu dan mengenali orang yang ada didalam foto.
Amayra? Bapak ini.. siapanya dia?
...----****----...
__ADS_1