Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 197. Maafin papa


__ADS_3

Melihat istrinya membalikkan badan seperti itu, Satria yakin bahwa Amayra kesal padanya. Lagi-lagi yang dia ucapkan itu salah, maksudnya bicara begitu agar Amayra mengerti untuk lebih menjaga dirinya dan anak yang berada di dalam kandungannya. Amayra salah mengartikan ucapan Satria sebagai kemarahan.


"May, kamu marah?"


"...." Amayra hening tidak menjawab pertanyaan suaminya.


Sebal aku sama mas Satria, aku mengerti dia cemas padaku. Tapi kenapa dia harus bilang seolah aku gak punya pikiran?. Amayra menggerutu dalam hati, air matanya seperti akan keluar.


"Sayang?" Satria memeluk istrinya dari belakang dan dengan cepat Amayra menepis tangan Satria.


Astagfirullah.. sabar Satria, sabar.. anakmu ada didalam perutnya juga. Kamu harus mengalah, istrimu ini sedang sensitif.


"May...maafkan aku ya, aku salah berucap. Harusnya aku gunakan kata-kata yang baik untuk menasehati kamu. Aku salah, maaf ya sayang." Satria memeluk lagi tubuh istrinya, dia tidak menyerah dan minya maaf pada Amayra.


Eh, kok tanganku basah sih?


Satria merasakan ada sesuatu yang jatuh dan membuat telapak tangannya basah. Pria itu langsung membalikkan tubuh istrinya. "Sayang...kamu menangis?" Satria melihat istrinya sedang menangis dalam diam tanpa suara.


Air matanya mengalir terus membasahi pipi. Satria semakin merasa bersalah karena membuat ibu dari anaknya itu menangis. "May... maafin aku ya, maafin aku! Kata-kata ku sudah menyakiti hati kamu, sayang." Satria mengatupkan kedua tangannya seraya memohon maaf pada istrinya.


Amayra tidak bicara, dia hanya menangis tanpa suara. Hatinya begitu sensitif oleh kata-kata Satria.


"Sayang.." Satria menyeka air mata istrinya dengan lembut. Menatapnya dengan rasa bersalah, dia tidak tahu lagi bagaimana caranya menghibur Amayra.


Aduh, ini salah kamu Satria! Sekarang bagaimana kamu akan menghiburnya?


"Sayang, gimana kalau kita nonton film? Nonton film kesukaan kamu? Film horor itu? Suzanna ya namanya? Ah atau film barat yang biasa kamu tonton itu. Kita nonton film yuk sambil makan cemilan di kulkas, ada cake coklat tuh." Kata Satria berusaha membujuk Amayra agar tidak menangis lagi.


"Tadi katanya di suruh tidur, aku juga gak boleh nonton film horor." Amayra mulai bicara, tangisannya berhenti sedikit demi sedikit.


"Kata siapa boleh? Boleh kok!"


Ah apapun lah saat ini yang penting kamu gak nangis May, apapun boleh!


"Mas yang bilang gak boleh, katanya ibu hamil gak boleh nonton film horor.. nanti dede juga lihat filmnya." ucap wanita hamil dengan bibir yang mengerucut.


"Hem...gak, boleh kok. Kamu boleh nonton apapun yang kamu mau," Satria tersenyum lebar, sepertinya apapun yang diinginkan Amayra agar gadis itu tak menangis akan dia kabulkan.

__ADS_1


"Beneran boleh?" Amayra menatap suaminya dengan tatapan mata yang berkaca-kaca.


"Iya boleh, aku nyalain ya filmnya sekarang. Ah tunggu, aku ke dapur dulu." Satria beranjak dari tempat tidur. Hatinya sudah agak tenang karena Amayra mulai berhenti menangis saat dibujuk dan diajak bicara.


Beberapa menit kemudian setelah dari dapur, Satria kembali membawakan sepiring cake cokelat bercampur selai stroberi kesukaan Amayra.


"Sayang, ini cakenya."


Amayra diperlakukan seperti ratu oleh suaminya, dia sangat senang dalam hati karena dimanjakan oleh Satria. Tapi dia juga merasa sikapnya sudah keterlaluan, selama ini Satria selalu menuruti dan memanjakan Amayra. "Aku nyalain tv nya ya sayang? Kamu mau nonton film apa? Arabel? Annabelle? The Nun?" Satria mengambil remote kontrol tv.


"Gak usah mas, gak usah dinyalakan." Kata Amayra sambil memakan cake coklatnya karena dia memang suka lapar kalau malam-malam.


"Kenapa? Kamu masih marah ya sama aku?" Satria menatap Amayra dengan rasa bersalah.


Amayra tidak menjawab, dia fokus menghabiskan makanan di piringnya. Dia tampak menikmati kue coklat itu, bahkan sampai belepotan.


Satria tiba-tiba saja mendekati perut istrinya yang datar. "Mas!" pekik Amayra terkejut.


"Dede...mama gak mau maafin papa, mama marah sama Papa! Dede marah juga gak sama papa? Maafin papa ya Dede, papa udah buat mama nangis." ucap Satria sambil menatap perut datar istrinya itu.


"Mas.. Satria.." Amayra melihat kepala sang suami berada di dekat perutnya.


Sebenarnya aku sudah gak marah lagi sama mas Satria, mood ku juga udah balik..apalagi saat aku makan kue coklat ini. Tapi, mas Satria masih beranggapan aku marah? Aku kerjain aja deh mas Satria.


"Ehem, de bilangin sama papa...jangan suka bicara pedas, mama ngerti kok kalau papa gak setuju mama ikut kemping. Mama juga gak akan ikut, tapi papa ngomongnya bikin Mama sakit hati. Udah tau mama lagi sensitif," Amayra bicara dengan bibir mengerucut kepada perutnya yang datar itu.


Satria mendongakkan kepalanya dan melihat ke arah sang istri. "May...maafin aku ya," ucap Satria sambil mengusap noda coklat di sudut-sudut bibir istrinya dengan tisu kering.


"Kalau mas mau dimaafin sama aku dan dede, mas harus lakukan sesuatu dong!" Amayra bergaya cuek, dia menyilangkan kedua tangannya didada.


"Kamu mau aku lakukan apa sayang?"


"Hem...apa ya? Anak kita minta kamu buat mama nya ketawa," Amayra menatap tajam ke arah suaminya.


Membuat tertawa? Apa ya yang bisa buat May tertawa? Aku kan tidak pandai menghibur orang.


"Aku mau bobo aja deh," ucap Amayra sambil menarik selimutnya.

__ADS_1


"Tunggu! Lihat ini dulu!" Satria meminta Amayra menunggunya dan jangan tidur dulu.


Satria terlihat kikuk, kemudian dia menari-nari dengan gerakan kaku sambil menyanyikan sebuah lagu dalam bahasa Korea.


...Sorry Sorry Sorry Sorry...Naega naega naega meonjeo..Nege nege nege ppajyeo...Ppajyeo ppajyeo beoryeo baby....Shawty Shawty Shawty Shawty...Nuni busyeo busyeo busyeo...


.....Sumi makhyeo makhyeo makhyeo....Naega michyeo michyeo baby........


"PFut...mas, kamu lagi nyanyi lagu Suju?" tanya Amayra sambil menahan tawanya.


"Aku gak tau, aku dengar kamu sama Anna sudah dengar lagu ini." jawab Satria dengan mata polos dan tak tahu apa yang dia lakukan. Dia hanya ingin membuat istrinya kembali tertawa. "Tapi, kamu barusan ketawa kan?"


"Tidak! Siapa yang ketawa?"


"Beneran nih gak ketawa?" Satria tersenyum, dia mulai menari dan menyanyi lagi dengan gaya kaku dan tidak jelas. "Sorry sorry...nanananana...bujeo bujeo..."


"Hahahaha..." akhirnya Amayra tak mampu lagi membendung tawa yang tertahan.


Satria terus menari, dia senang melihat istrinya yang tadi menangis sekarang tertawa lepas. Misi Satria sebagai suami dan ayah untuk calon bayinya, sukses!


"Alhamdulillah... akhirnya istriku yang cantik tertawa juga," Satria lega.


"Aku gak ketawa..hahaha..mas, kamu benar-benar deh." Amayra memegang perutnya dia tak kuasa menahan tawa melihat suaminya bergaya agak kemayu itu. "Dede, jangan kayak papa ya! Gak boleh alay kayak papa," ucap Amayra bicara pada anak yang berada di perutnya.


"Apa? Aku alay?" Satria langsung menghampiri Amayra dan menggelitiki tubuh sensitif istrinya itu. "Aduh Mas, geli! Udah...hahaha.."


"Rasain! Siapa suruh ngetawain aku? De, ini mama nakal de!" kata Satria yang akhirnya memeluk istrinya dengan mesra.


Setelah bertengkar kecil mereka menjadi lebih mesra dari sebelumnya.


*****


Di sebuah rumah minim cahaya, Bima sedang berada disana bersama para anak buahnya. Kebanyakan dari mereka memiliki tato di tangan kanan. Tato ular hitam.


"Bos Bim kenapa? Dari tadi kok ngeliatin bross itu terus?" tanya seorang anak buahnya pada Bima yang terus melihat ke arah bross yang berwarna dusty itu.


Bima tidak menjawab, ia hanya diam dan memandangi bross itu.

__ADS_1


Wanita lemah itu, dia sama sekali tak cocok dengan adikku Satria.


...****...


__ADS_2