
...🍁🍁🍁...
Anna dan Ken yang datang untuk menjenguk Amayra, malah melihat pemandangan tidak biasa. Dimana Bima sedang menggenggam tangan Amayra.
"Orang itu...his.." Anna mendengus kesal.
Melihat wajahnya yang marah, sepertinya Anna sudah tau bahwa pria yang bersama Amayra itu bukanlah Satria. Anna masuk ke dalam ruangan itu bersama dengan Ken dibelakangnya.
"Lepasin tangan Amayra!" Anna menepis tangan Bima dan mendorong Bima dengan kasar.
"An...Anna." lirih Bima pada Anna.
"Aku tau kamu adalah om ku juga, kembarannya om Satria. Tapi, aku gak akan biarkan kamu menganggu Amayra lagi! Amayra itu istri om Satria. Dan aku gak suka kamu menipu kami!" Anna berkata dengan tegas pada pria itu.
"An, jangan gitu dong...walaupun dia sudah berbohong, tapi dia adalah om kamu juga." Kata Ken yang berusaha meredakan kemarahan Anna. Dia melihat Bima dengan keheranan, wajah pria itu benar-benar mirip dengan Satria.
Jadi, dia yang aku lihat waktu di kampus.
"Tetap aja aku kesal...dia lebih memilih bersandiwara daripada mengatakan kebenaran tentang om Satria yang koma! Kalau saja dia tidak melakukan drama ini, om Satria gak akan sendirian dirumah sakit. Harusnya dia ada yang merawat disaat seperti ini!" Anna menatap tajam dan sinis ke arah Bima.
Bram datang ke kamar itu dan menegur Anna yang sudah membuat keributan juga tidak sopan pada Bima. Bagaimana pun juga Bima adalah omnya, orang yang lebih tua darinya dan harus dia hormati.
"Anna! Yang sopan kamu sama orang tua, walau Bima sudah berbohong...dia berbohong juga ada alasannya. Saat itu Amayra dan bayinya dalam kondisi tidak stabil, makanya Bima terpaksa berbohong." Bram yang tadinya marah pada Bima, kini berbalik membela Bima. Itu karena Bram paham dan bisa memaklumi apa yang dilakukan Bima adalah untuk menyelamatkan Amayra dan kedua bayinya.
"Hah...lihat saja, kebohongan om Bima pasti akan membuat Amayra dan om Satria terluka. Saat Amayra sadar, aku sudah menduga apa yang akan terjadi. Dia pasti akan marah!" Anna tetap tidak menerima alasan Bima berbohong dengan dalih kebaikan.
"Anna! Minta maaf pada om kamu!" ujar Bram pada keponakannya itu.
Anna pun pergi dengan mendengus kesal tanpa meminta maaf pada Bima. "Ken, tolong kamu tenangkan anak keras kepala itu!" titah Bram pada Ken yang sekarang sudah menjalin hubungan pacaran dengan Anna.
"Baik om, saya permisi dulu." ucap Ken dengan sopan.
Ken meninggalkan ruang rawat Amayra, untuk menyusul Anna yang marah. Bram segera meminta maaf pada Bima atas sikap dan perkataan Anna.
"Maaf ya atas ucapan dan sikap Anna, anak itu terkadang memang keras kepala. Dia seperti itu karena dia sangat sayang pada Satria dan Amayra." kata Bram menjelaskan pada Bima, memohon maaf atas sikap tidak sopan Anna.
"Tidak apa-apa kak, ini adalah salahku." Bima tersenyum pahit.
__ADS_1
Abimana, hentikan semua ini! Perasaan macam apa yang kamu miliki? Cepatlah hilangkan! Semua ini adalah dosa. Bima menyadari bahwa perasaannya pada wanita yang pernah disebut beban itu, bukan hanya perasaan ingin melindungi. Tapi ada rasa lain bersemayam didalam hatinya.
"Oh ya, tentang orang yang mencelakai Amayra dan Satria. Aku sudah menangkapnya kak,"
"Benarkah? Si supir truk itu?" Bram terlihat berpikir.
"Benar kak dan dia disuruh seseorang untuk mencelakai Amayra dan Satria. Rencananya aku akan melihat orang itu dan mendengar sendiri pengakuannya." jelas Bima memberitahukannya.
"Aku ikut denganmu, ayo kita pergi kesana sekarang." Bram tidak sabar ingin tahu siapa orang yang telah mencelakai adik dan adik iparnya.
"Apa kakak tidak sibuk di kantor? Urusan ini biar aku saja yang menyelesaikannya."
"Tidak ada yang penting, aku sudah menghandle semuanya pada sekretarisku." ucap Bram sambil tersenyum.
"Baiklah, tapi kita tunggu seseorang datang kemari untuk menjaga Amayra." Ucap Bima sambil melihat ke arah Amayra yang masih terbaring tidak berdaya.
Bram melihat ke arah Bima dan tatapannya pada Amayra. Dia takut kalau apa yang dia pikirkan tentang Bima itu benar. Bahwa pria itu sudah jatuh hati pada Amayra.
Setelah Nilam datang dan menawarkan diri untuk menjaga Amayra. Bram dan Bima berpamitan, mereka berencana pergi ke markas Bima untuk melihat juga menginterogasi supir truk yang menjadi pelaku kecelakaan Amayra dan Satria sebelumnya.
Mereka berdua menghabiskan waktu kurang lebih 15 menit untuk sampai ke markas Bima. Bram terperangah melihat ada beberapa orang bertubuh besar, berbadan kekar berada disana. Mereka juga memakai tato ular hitam ditangannya.
"Mereka bukan preman kak, tenang saja...jangan takut, mereka baik kok." ucap Bima sambil tersenyum cuek.
"Hormat bos Bim!"
Orang-orang itu langsung membungkuk hormat dan berkata sopan menyambut kedatangan Bima di sana. Bram tercengang lagi dibuatnya, dia semakin penasaran dengan pekerjaan adiknya itu.
"Ya. Jas, dimana orang itu dan dimana si Jack?" tanya Bima pada seorang pria berbadan paling kurus di antara mereka.
"Dia ada didalam bos, si brengsek itu dia lumayan tahan lama juga."
"Oke, dia aman kan?" tanya Bima dengan wajah tegasnya.
Wajahnya memang sangat mirip dengan Satria, akan tetapi sikap dan aura mereka sangatlah berbeda. Mengapa aku tidak menyadarinya dari awal?. Bram menemukan perbedaan di dalam diri Bima dan Satria.
Kembar, namun sikap mereka berbeda jauh. Satria adalah definisi dari kelembutan, sedangkan Bima adalah definisi dari kedinginan dan datar.
__ADS_1
"Ayo kak, kita masuk!" ajak Bima pada Bram, dia langsung merubah raut wajahnya begitu berhadapan dengan Bram.
"Ah iya..." Bram tersenyum canggung, dia mengikuti Bima yang berjalan ke arah pintu kayu.
CEKRET!
Begitu mereka membuka pintu kayu itu, terlihatlah seorang pria yang terikat di atas kursi. Pria ini terlihat sangat menderita dan wajahnya pucat. Ada tiga orang yang terlihat seperti preman sedang menjaganya dengan ketat.
"Selamat datang bos!" kata tiga orang pria disana.
"Pergilah!" Bima meminta ketiga anak buahnya untuk pergi dari sana.
Mereka dengan patuh mengikuti perintah dari Bima. Hal ini semakin membuat Bram penasaran, Bima memiliki pekerjaan apa?
"Tolong...saya tuan...haus..." pria itu terlihat lemas tidak berdaya.
Sudah 3 hari aku tidak minum air setetes pun, sungguh keajaiban karena aku masih hidup sampai saat ini.
"Lo mau minum?" Bima mengambil gelas berisi air minum. Si supir truk melihat gelas berisi air minum itu dengan mata berbinar-binar, seolah cahaya harapan datang padanya.
Bima malah menyiram pria itu tepat dikepalanya. "Air...air..." rintihnya kehausan.
"Bima? Apa yang kamu lakukan?" tanya Bram tidak mengerti apa yang terjadi.
"Maaf kak, aku lupa kakak ada disini." Bima tersenyum lembut seperti kucing yang patuh didepan Bram, sementara itu dia terlihat kejam didepan si supir truk. "Heh! Katakan padaku siapa yang sudah menyuruhmu untuk mencelakai Satria dan Amayra?! Jawab!"
"Saya akan jawab, tapi tolong...berikan saya air..."
"Baik, tapi jawab dulu siapa orangnya! Selain memberikanmu air, aku juga bisa membebaskanmu dari sini."
"Namanya adalah Clara...gadis yang meminta saya...untuk mencelakai...mereka." jawab Supit truk dengan nafas terengah-engah.
Bima dan Bram tercengang mendengarnya. "CLARA?!!"
...*****...
Hai Readers, sambil nunggu up ku...mampir sini ya 😍😘
__ADS_1