Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 228. Nilam bikin kesal


__ADS_3

Suasana sarapan di rumah keluarga Calabria tidak berlangsung lancar saat berada didalam sebuah obrolan yang memicu perdebatan.


Nilam, Diana dan Bram terlihat bersitegang seperti sedang perang dingin. Ya, sudah beberapa hari bahkan sampai berminggu-minggu mereka bertiga berdebat. Lalu pagi ini pun semuanya terulang lagi didepan Satria yang baru saja sadar dan didepan Bima, anggota baru keluarga Calabria.


"May, hari ini kamu ikut juga ke rumah sakit sama Satria?" Tanya Nilam ramah pada Amayra.


"Iya ma, sekalian sama check up si kembar...kebetulan hari ini jadwalnya." jelas wanita hamil itu sambil tersenyum..


"Oh gitu ya, ngomong-ngomong soal check up...kalian juga harus check up ke rumah sakit. Diana dan Bram." Nilam memperjelas ucapannya bahwa anak dan menantu perempuannya juga harus melakukan pemeriksaan.


"Check up apa ma? Kami sehat-sehat saja." jawab Bram sambil menyantap roti berisi daging diatas piringnya.


"Check up ke rumah sakit fertilitas lah, apa lagi." Ucap Nilam sambil mendelik sinis ke arah wanita yang duduk tepat disamping Bram.


Diana langsung tercekat mendengarnya, matanya terlihat sedih. "Ya Allah, lagi-lagi mama membahas tentang anak." Diana membatin.


BRAK!


"MAMA! Cukup ya ma, mama jangan cari masalah terus!" seru Bram setelah menggebrak meja makan.


Semua orang disana melihat Bram begitu emosi pada Nilam, mamanya. Apalagi Bima yang pasalnya adalah orang baru, dia baru tau bahwa sikap ibu tirinya seperti itu pada Bram dan Diana.


Apa dulu Bu Nilam sikapnya seperti ini pada Satria dan Amayra ya? Sama anaknya sendiri ngomongnya pedes. Bima hanya diam memperhatikan keadaan sambil memakan makanannya.


"Mama gak cari masalah, mama cuma kasih saran simpel doang. Kalian pergi ke rumah sakit fertilitas dan memeriksakan diri kalian, mama cuma mau itu...apa susahnya? Kamu gak ngerti Bram, betapa cemasnya mama...kalau kamu salah pilih istri lagi, gimana nasib Calabria grup!" Nilam bicara dengan suara keras pada anaknya.


"Mama!" Cakra ikut bicara karena sudah tidak tahan dengan Nilam. "Penyakit julid mama kumat lagi ya!"


Nilam dan Cakra jadi berdebat di meja makan. Amayra dan Satria berusaha melerai mereka, namun tetap saja kedua orang tua itu tetap adu mulut. Akhirnya adu mulut itu berakhir saat Diana bicara. "Ma, pa, udah! Diana dan mas Bram akan pergi ke rumah sakit fertilitas itu...besok kami akan pergi. Mas, kamu kosongkan jadwal kamu!" kata Diana tegas dan tidak tahan lagi dengan ucapan pedas Nilam.


"Diana... enggak, kita gak akan pergi." Bram menolak ucapan istrinya yang mengajak ke rumah sakit.


Diana berbisik pada suaminya, "Mas...semuanya akan tenang kalau kita pergi kesana, bukankah kita baik-baik saja? Jadi mas jangan cemas ya." ucap Diana sambil tersenyum lebar.


"Oke, kalian harus pergi ya. Besok mama ingin lihat hasil laporan tertulis kalian," ucap Nilam yang lalu berlalu pergi dari meja makan.


Semua orang menghela nafas saat Nilam pergi dari sana. Rasanya hawa panas itu berubah menjadi sejuk. "Pa, apa mama memang selalu seperti itu?" tanya Satria penasaran.


"Sejak kamu koma, setiap pagi dan jam makan...mama kamu suka kumat begitu setiap harinya." jelas Cakra sambil menghela nafas beratnya.


"Mas, ayo kita berangkat...aku udah telat. Ada banyak pasien yang mau check up." Diana terlihat tenang seperti biasa walau dia baru saja mendengar kata-kata pedas dari Nilam.


"Oke ya udah yuk." Bram berusaha mengatur nafasnya yang emosi.


"Eh... Diana, Bram! Kalian jangan dengarkan ucapan mama kalian, nanti juga dia akan seperti biasa lagi." ucap Cakra pada anak dan menantunya.


"Gak apa-apa pa, dengan begini mama akan tenang. Diana gak apa-apa kok..." Diana tersenyum tenang.


Ya, mungkin aku dan masa Bram harus melakukan ini agar mama bisa tenang.


Bram dan Diana pergi lebih dulu meninggalkan rumah, dibandingkan Bima, Cakra, Amayra dan Satria.


"Sat, papa, adik ipar, aku juga berangkat dulu ya." Bima berpamitan untuk segera pergi.

__ADS_1


"Bima, kamu mau ngedate lagi sama Clara?" tanya Cakra seraya menggoda anaknya.


"Apa? Ngedate sama si gila itu? Hahaha...hari ini aku akan mengakhiri SEMUANYA pah." kata Bima dengan wajah seram.


"Good luck kak!" kata Satria menyemangati.


"Tenang saja, aku akan bereskan dia untuk kalian. Dia akan dapat hukuman yang seharusnya." Bima mengepalkan tangannya dengan geram.


Dia sudah membuat adikku cacat, aku akan membuat dia menderita di penjara.


"Kamu juga Sat, May, semoga pemeriksaan kalian berjalan lancar." ucap Bima sambil mendoakan dengan tulus.


"Iyah kak, Aamiin."


"Aamiin." kata Amayra sambil tersenyum.


Ketika selesai sarapan, Amayra dan Satria bersiap pergi ke rumah sakit. Namun sayangnya pak Muin tidak bisa mengantar mereka karena istrinya akan melahirkan anak ketiga. Tidak ada yang bisa mengantar mereka berdua, untung saja Bima belum pergi jauh dan masih menyalakan mobilnya.


"Mas Bima..." panggil Amayra pada Bima, dia mendorong kursi roda Satria.


"Eh, kalian belum berangkat? Pak Muin barusan udah pergi loh.. aku pikir kalian udah pergi." ucap Bima yang belum lama melihat Muin pergi menaiki mobil.


"Istri pak Muin mau melahirkan, apakah kakak bisa mengantar kami dulu ke rumah sakit?" tanya Satria pada kakaknya.


"Iya, ayo..." Bima tersenyum.


Dia membantu Satria dengan memapahnya masuk ke dalam mobil. Satria tidak mau digendong, dia maunya dipapah saja karena dia malu didepan Amayra.


Setelah Satria naik mobil, kini giliran istrinya naik ke dalam mobil. Dengan hati-hati dia naik ke dalam mobil. Bima bersiap tancap gas dan tanpa sepengetahuan mereka ada Jack dan beberapa anak buahnya mengikuti mobil Bima.


Mata Amayra berbinar-binar melihat coklat itu,"Woah...mas bawa coklat juga, mau dong mas."


"Aku suapi ya." Satria membuka bungkus coklat itu, kemudian dia tersenyum dan bersiap menyuapi istrinya.


Bima mengerut sambil melirik ke arah Satria dan Amayra yang masih terlihat mesra. Bima berpikir dalam hatinya, kapan dia akan memiliki seorang istri seperti saudaranya.


Ketika sedang suap-suapan, tiba-tiba saja Amayra memegang perutnya dan dia merintih kesakitan. "Ughhh..."


Bima dan Satria langsung menoleh ke arah Amayra dengan cemas."Sayang, kamu kenapa?" tentu saja ini adalah Satria yang bertanya.


"Gak apa-apa mas, anak kita menendang cukup keras." ucap Amayra sambil tersenyum.


"Benarkah? Apakah dia menendang cukup keras?" tanya Satria yang lalu menyentuh perut buncit istrinya itu.


Amayra mengangguk, dia memegang tangan Satria yang menyentuh perutnya. "Kamu rasakan saja sendiri mas..."


Dug!


"Allahuakbar...anak papa sudah jago menendang ya. Mau jadi pemain bola, kah?" Satria tersenyum saat merasakan ada gerakan pada perut Amayra.


Pasangan suami-istri itu tersenyum bahagia. Setelah melalui perjalanan kurang lebih 15 menit, mereka pun sampai ke rumah sakit. Bima mengantar adik dan adik iparnya sampai ke ruang check up. Semua suster dan dokter terkejut karena mereka baru tau kalau Satria ada dua alias punya kembaran dan keduanya sangat berbeda dalam hal penampilan juga kepribadian.


"Sat, May, maaf ya aku harus pergi dulu. Kabari aku jika hasil pemeriksaannya sudah keluar. Maaf tidak bisa menemani kalian..." ucap Bima menyesal.

__ADS_1


"Gak apa-apa kok kak, justru aku yang minta maaf karena terus merepotkan kakak...aku juga sangat berterimakasih." Kata Satria kepada saudara kembarnya itu.


"Kalau kalian berterimakasih, kalian harus mentraktirku makan siang atau makan malam, liburan juga kayaknya boleh." Bima tersenyum ceria.


"Baik kak! Apapun yang kakak mau pasti akan aku berikan." Satria mengangguk.


"Semua yang ku mau? Kamu janji, kan?" tanya Bima sambil tersenyum.


"Iya, aku janji." jawab Satria tegas.


"Aku akan menagih janji itu nanti." kata Bima sambil tersenyum tipis.


Bima pun pergi meninggalkan rumah sakit. Satria dan Amayra masuk ke ruang pemeriksaan Satria terlebih dahulu.


...*****...


Hai Readers ku tersayang ☺️😘 sambil nunggu up novelku, mampir ke karya temanku yang satu ini ya...silahkan intip dulu nih ☺️


Cuplikan Bab.


Aku padamu, juragan Aris


Aris terus menemani Ayu dan tak meninggalkan gadis itu sendirian, Aris merasa sedih melihat luka di wajah dan tubuh Ayu.


"seharusnya, aku mengantar mu pulang ya Ay, hingga tak akan terjadi hal seperti ini, rasa bersalah ini begitu besar karena kecerobohan ku kamu sampai seperti ini," kata Aris yang frustasi.


Ayu membuka matanya, dia pun melihat Aris, saat ingat kejadian buruk tadi, Ayu langsung histeris.


"pergi, jangan menyentuhku, pergi!!" teriak Ayu ketakutan.


Aris langsung memeluk Ayu, "tenang Ayu, ini Aris, jangan berontak lagi, lihat aku Ayu, lihat aku!" kata Aris sedikit berteriak agar gadis itu sadar.


Ayu yang menoleh dan melihat wajah Aris, langsung memeluknya, "tuan, tolong singkirkan pria-pria itu, aku merasa jijik dengan tubuhku, tolong...." tangis Ayu begitu pilu.


Aris pun memanggil dokter agar memeriksa gadis itu, setelah dokter visit dan memeriksa kondisi Ayu.


dokter memberikan saran pada Aris, agar Ayu di pindahkan ke rumah sakit yang bisa menangani tentang trauma.


Aris tak setuju, dia akan memanggil ahli hipnoterapi untuk membuang kenangan kelam itu.


Aris tak mau kehilangan senyum dan keceriaan Ayu, pasalnya dia adalah hidup pak Mun.


dokter pun mengerti dan memperbolehkan, dan luka di tubuh Ayu mungkin akan meninggalkan bekas nantinya.


Eko datang bersama Ambar saat melihat Aris baru keluar dari ruangan Ayu dengan pucat.


"bagaimana kondisi ayu bos?" tanya Eko yang membawa makanan.


"kondisinya sangat buruk, dia akan berteriak dan melukai dirinya sendiri lagi, dia berusaha untuk menghilangkan bekas yang telah di sentuh oleh pria biadab itu," jawab Aris dingin.


Ikuti kelanjutannya disini ya...😘😘❤️❤️


KARYA KAK MEIDINA ☺️

__ADS_1



__ADS_2