Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 90. Tentang Azab


__ADS_3

"Maaf untuk apa May?" tanya Satria bingung, tiba-tiba istrinya mengucapkan maaf.


"Maaf karena aku sakit. Aku tidak bisa menjaga Rey, apalagi melayani kakak sebagai seorang istri," ucapnya dengan wajah muram. Amayra merasa bersalah karena Satria harus kesana-kemari karena dirinya. Dia juga bisa melihat wajah lelah sang suami.


"Astagfirullah May, kok minta maaf karena itu sih? Aku kira kenapa. Sakit itu kan gak bisa di prediksi, mungkin Allah kasih kamu sakit biar kamu bisa istirahat dulu sebentar. Karena ini giliran ku yang harus melakukan semuanya," ucap Satria sambil tersenyum lembut, tangannya membelai pipi Amayra.


Amayra terdiam sambil melahap makanan yang disuapkan oleh Satria kepadanya. Dia merasa tidak enak karena dirinya, Satria harus merawatnya dan merawat Rey juga. Belum lagi dia harus bekerja karena sudah tidak bisa cuti.


"Kak, apa pihak rumah sakit tidak marah? Kakak banyak mengambil cuti dan-"


"Bisa gak kamu jangan bicarakan itu dulu? Habiskan saja makannya," ucap Satria memotong perkataan Amayra, dia ingin menyudahi bicara tentang pekerjaan yang membuatnya sakit kepala. Apalagi tentang pergi ke Afrika sebagai sukarelawan.


Ya Allah aku harus bagaimana? Pergi ke Afrika, apakah aku harus bicarakan dengan Amayra sekarang? Enggak.. tunggu Amayra pulih dulu baru bicara dengannya.


Melihat dari wajah suaminya, Amayra menyimpulkan bahwa Satria mungkin terkena teguran dari pihak rumah sakit. Selesai menghabiskan makan malamnya, Satria membantu istrinya minum obat. "Kamu tidur ya , istirahat biar cepat pulih dan cepat pulang menjaga Rey,"


Amayra mengangguk, "Iya kak. Nanti kita langsung pulang ke rumah kita ya, kak?"


"Iya pulang ke rumah kita," Satria mengelus kepala istrinya yang dibalut kerudung biru dengan penuh kasih sayang. "Kamu tidur ya May,"


"Kakak mau kemana?" tanya Amayra melihat suaminya berjalan pergi.


"Aku mau ke ruangan dokter Daniel dulu, nanti aku kesini lagi kok. Kalau kamu pulih lebih cepat, kita bisa pulang cepat." Satria menjelaskan.


Aku harus bicara dulu dengan dokter Daniel tentang pergi ke Afrika. Aku gak mungkin meninggalkan Amayra dan Rey, apalagi selama 2 bulan. Aku bisa saja membawa Mayra kesana, tapi Rey bagaimana? Rey masih terlalu kecil untuk melakukan perjalanan jauh.


"Kak, apa ada yang mau kakak bicarakan padaku?" tanya Amayra menatap suaminya dengan cemas. Dia melihat ada keresahan didalam mata Satria.


"Tidak ada, kamu kenapa May? Kamu mau aku menemani kamu dulu sampai kamu tidur?" Satria kembali duduk disamping sang istri.


"Ti-tidak! Memangnya aku anak kecil? Kalau kakak mau pergi, ya sudah pergi aja. Aku akan istirahat," kata Amayra setengah berteriak.


Tangan Satria mencubit pipi Amayra dengan gemas, dia tersenyum melihat tingkah istrinya. "Kamu memang masih kecil, kamu bahkan belum berusia 18! Anak kemarin sore, tapi kamu imut.." .


"A-Apa?" Amayra terpana mendengar perkataan suaminya.


"Aku senang kamu jauh lebih muda dariku," ucap Satria sambil tersenyum. "Aku senang bisa menggoda mu seperti ini," Satria mengecup bibir sang istri dengan gerakan cepat dan sekilas.


Amayra terperangah dengan sikap suaminya yang bukan hanya menggoda, tapi membuat dia malu. "Kakak! Ini di rumah sakit, bagaimana kalau ada yang lihat?" Amayra melihat kesana-kemari, takut kalau ada orang datang ke kamarnya tiba-tiba.


"Terus kenapa? Kita kan suami istri," jawab Satria santai. Dia kembali mengecup istrinya, kali ini di kening. "Aku ketemu dokter Daniel dulu ya, tidur yang nyenyak.. jangan lupa berdoa,"


Satria melangkah pergi, kemudian Amayra memegang jarinya. "Kak, setelah aku sembuh.. aku siap menyerahkan diriku seluruhnya untuk kakak,"


Satria terdiam dengan tercengang, dia tak percaya kata-kata seperti ajakan itu keluar dari bibir cantik istrinya. "Ka-kamu.. May kamu bicara apa?"


"Hehe, akhirnya aku bisa membuat kakak malu!" Amayra terkekeh melihat wajah suaminya yang memerah dan suaranya yang gugup.


Satria tersenyum menyeringai, "Kamu harus dihukum dulu," Satria kembali mendekati Amayra, dia membenamkan bibirnya pada bibir Amayra dengan lembut. Satria menggenggam jari-jari istrinya, beginilah cara dia menghukum sang istri.


"Kak Satria, kakak ini ya.. benar-benar deh," Amayra memalingkan wajahnya yang malu-malu.


"Apa? Masih mau menertawakan ku lagi? Kalau kamu masih bicara, aku akan melakukan hal lainnya," Satria berkata dengan suara yang tegas dan serius.


Amayra tidak menjawab, Satria pun pergi dari sana untuk menemui dokter Daniel. Amayra mulai mengantuk setelah minum obat, namun dia resah karena memikirkan bagaimana Rey dirumah tanpa dia dan Satria.

__ADS_1


Saat akan tidur, terdengar suara dua orang wanita yang sedang mengobrol didepan ruangan Amayra. Mereka membicarakan masalah Satria yang mendapat hukuman dari dokter Daniel karena banyak mengambil cuti. Setelah mendengar ucapan dua wanita itu, Amayra semakin merasa tidak nyaman. Dirinya telah banyak merepotkan Satria, bahkan membuat pekerjaan suaminya berada dalam masalah.


Karena aku, kak Satria dihukum? Ya Allah, aku sudah banyak merepotkan kak Satria.


Diam-diam Clara mengintip Amayra yang masih belum tidur, dia senang karena Amayra mendengar obrolannya dengan suster Tina (Teman dekat Clara).


"Tina, kamu yakin dia mendengar semuanya kan?" bisik Clara pada Tina.


Tina mengangguk yakin, "Saya yakin, tuh lihat saja wanita kampung itu! Dia sampai merenung dengan wajah penuh rasa bersalah," Tina tersenyum melihat Amayra yang terdiam dengan wajah bingung.


"Baguslah, supaya dia sadar kalau dia tuh cuma menganggu hidup kak Satria. Masa depannya kak Satria jadi hancur karena dia," ucap Clara nyinyir.


"Iya benar dokter Clara,saya juga tidak suka dengan wanita kotor seperti dia yang merayu dokter Satria," Tina nyinyir pada Amayra tanpa sebab yang jelas. Dia tidak suka dokter idolanya di rumah sakit itu menikah dengan Amayra yang sudah hamil diluar nikah. Dia merasa bahwa Satria dimanfaatkan. "Oh ya, dokter Clara tentang dokter Satria yang akan ke Afrika itu.. kenapa tidak dikatakan saja sekalian?"


"Nanti saja, cukup segini dulu," Clara menjawab sambil tersenyum. Dia senang karena reputasi Amayra menjadi buruk dimata semua orang di rumah sakit.


Clara dan Tina pun pergi dari sana setelah berhasil membuat Amayra galau. Malam itu Amayra merenung, sebelum dia jatuh tertidur karena rasa kantuk yang tidak dapat dia tahan lagi, akibat efek obat.


Clara menemui ayahnya dokter Candra yang sedang beristirahat di ruangannya. "Papa!" Clara memeluk papanya dengan perasaan bahagia.


"Ada apa? Kamu mau minta apalagi?"


"Aku dengar papa memasukkan nama kak Satria dalam daftar sukarelawan ya?" Clara memeluk papanya dengan manja.


"Kenapa? Kamu tidak senang?" tanya dokter Candra sambil memegang tangan putrinya.


"Aku senang banget pa! Makasih ya pa!" Seru Clara sambil tersenyum lebar, dia tau kalau ini adalah ulah papanya.


"Kesempatan kamu disana akan terbuka lebar, jadi kamu manfaatkan itu dengan baik. Dan jadikan dokter Satria menantu papa ya," ucap dokter Candra berharap Satria seorang dokter dengan masa depan cerah akan menjadi menantunya. Dia juga merasa sayang karena hidup Satria harus berakhir bersama Amayra.


"Papa hanya merasa sayang saja, kenapa dokter Satria harus menikahi wanita tidak berpendidikan dan kampungan seperti itu. Orang seperti dia akan sukses kalau memiliki istri yang cerdas dan berpendidikan tinggi sesuai dengan statusnya," jelas dokter Candra.


"Papa tenang saja, aku akan mewujudkan keinginan papa. Makasih banyak ya pa.." Clara memeluk papanya lagi dengan perasaan bahagia.


"Iya sayang, papa melakukan ini karena papa sangat menyayangi kamu," dokter Candra senang melihat anak perempuan satu-satunya bahagia. Dari dulu memang Dokter Candra selalu memanjakan Clara.


...******...


Sementara itu di rumah keluarga Calabria, Nilam terlihat sibuk dengan baby Rey yang terbangun pada malam hari. "Aduh sayang, kenapa kamu bangun malam-malam begini? Nanti Oma jadi begadang dong," keluh Nilam pada sang cucu yang terbaring diatas ranjang.


"Aduh mama, kok nanya sama Rey seperti itu? Dia mana ngerti lah. Lagian dulu Bram juga sudah begadang seperti ini kan?" ucap Cakra sambil memakai piyama tidurnya, dia bersiap untuk tidur.


"Iya ya, dulu Bram waktu bayi.. sering begadang kayak gini. Rey persis banget sama papa nya waktu kecil," ucap Nilam pada cucunya.


"Iya, papa gak bisa memungkiri hal itu. Tapi ma, tolong jangan katakan hal seperti ini didepan Satria dan Amayra ya, papa takut mereka akan tersinggung," Cakra duduk disamping Rey yang masih bangun, celingukan kesana-kemari.


"Kenapa harus tersinggung? Memang faktanya kan, kalau Rey mirip dengan Bram," ucap Nilam sambil mengajak main cucunya dengan mainan kecrek. "Ba, sayang.. cucunya Oma.."


"Nilam, kamu jangan gitu. Mau kamu di azab sama Allah karena suka nyinyir sama orang?" tanya Cakra sambil menggelengkan kepalanya, gusar dengan sikap Nilam yang kembali pada sifat lamanya.


"Azab apaan sih pa? Gak ada yang namanya azab!" kilah Nilam tak percaya adanya azab.


"Astagfirullah ma, capek deh papa ngomong sama mama. Mending mama lihat deh Bram, anak mama sendiri. Dia takut sama dosa dan datangnya azab, sekarang papa lihat dia sudah banyak berubah setelah pernikahannya dengan wanita itu hancur."


"Azab itu gak ada pa, lihat aja mama? Mama baik-baik saja kan?" kata Nilam santai.

__ADS_1


"Karena azab itu belum datang ma, makanya mama harus bertaubat sebelum azab itu datang. Waktu mama stroke kemarin, mama tuh kena azab ringan." kata Cakra pada istrinya mengingatkan.


"Haha, papa lucu deh! Mama itu kebetulan aja lagi sakit, bukan kena azab pah," ucap Nilam sambil terkekeh-kekeh tak percaya.


"Orang-orang zalim akan mendapat hukuman yang tidak mereka perkirakan. Allah SWT berfirman, “Maka Allah mendatangkan kepada mereka hukuman dari arah yang tidak mereka sangka-sangka,” (QS. Al-Hasyr: 2)" ucap seorang pria yang tiba-tiba sudah berada didepan pintu kamar Nilam dan Cakra. Ayat Alquran yang dibacakan terjemahannya saja, membuat Cakra dan Nilam terpana. Pasalnya, pria yang bicara tentang ayat Alquran itu adalah Bram.


"Mama susah banyak berbuat zalim pada Amayra dan Satria, itu bisa menjadi penyebab mama kena azab," ucap Bram sambil mendekati Rey yang masih bangun.


"Haaahhh.. apa kamu mau jadi ustad? Ketularan siapa kamu menceramahi mama seperti ini?" Nilam mendongak tak percaya bahwa Bram akan menceramahi dirinya.


"Tuh dengarkan apa kata anak kamu. Papa senang kamu sudah berubah Bram," Cakra menepuk bahu besar putra sulungnya dengan bangga. Dia telah banyak melihat perubahan dalam diri Bram.


"Alhamdulillah pa, Bram sedang mencoba," ucap Bram sambil tersenyum lembut, tidak seperti karakternya yang emosional.


Nilam terpana melihat Bram yang terlihat berbeda dari Bram yang sebelumnya. Apa mereka berdua sudah gila? Atau mereka sudah terkena virus gadis kampung itu? Sepertinya hanya aku saja yang waras disini. Semua orang di rumah itu, mereka sudah menjadi sok alim.


"Mau apa kamu kesini, Bram?" tanya Nilam dengan suara tidak senang, seperti marah habis diceramahi.


"Aku mau ngambil Rey," jawab Bram sambil memegang tangan mungil anaknya. Rey menatap Bram dengan tatapan polosnya.


Apa semua bayi memang seperti ini? Kecil, menggemaskan mau apapun tingkah mereka. Anehnya, aku sangat merasa tenang melihatnya. Apa karena Rey adalah darah daging ku? Ya Allah, kenapa aku sadar sangat terlambat. Seandainya dulu aku tidak pergi dan memilih bertanggungjawab, Satria dan Amayra pasti tidak akan menikah. Harusnya aku, Rey dan Amayra sudah menjadi keluarga yang bahagia. Tapi, semuanya hanya tinggal seandainya.


Namun, semuanya hanya dalam angan-angan Bram saja. Ketika dia sudah mulai terbuka menjadi lebih baik, Amayra maupun Rey tidak bisa bersamanya sebagai satu keluarga. Karena ada Satria yang menjadi pemimpin mereka.


"Mau apa kamu ngambil Rey? Jangan bilang kamu mau jaga dia?" tanya Nilam menebak.


"Iya ma, malam ini Rey tidur denganku saja!" Seru Bram yakin.


"Bram, mengurus anak tidak semudah kelihatannya. Mungkin kamu akan mengeluh kesal nanti, apalagi besok kamu kan harus bangun pagi dan pergi bekerja. Kalau kamu kesiangan bagaimana," Nilam mengomel, Bram tidak akan bisa menjaga bayinya.


"Insya Allah tidak ma, aku sudah biasa bangun pagi. Bahkan hanya tidur 4 jam sehari, kalau aku ngantuk. Aku bisa tidur di kantorku nanti," ucap Bram santai, dengan mata menatap Rey penuh kasih sayang. Layaknya seorang ayah pada anaknya.


"Kamu bilang apa? Insyaallah?" pekik Nilam terkejut dengan kata yang diucapkan anaknya. Seolah yang diucapkan Bram adalah salah.


"Mama kenapa sih? Memangnya Bram harus bilang innalilahi? Atau astagfirullah?" Cakra ikut keheranan dengan istrinya.


"Mama sepertinya tidak tahu banyak tentang arti lafadz lafazh Allah dan dalam keadaan seperti apa harus diucapkan. Mama sepertinya harus belajar dari buku yang Bram pinjam dari pak ustadz Arifin," jelas Bram menceramahi lagi mamanya yang jauh dari agama.


"Astaga! Kalian berdua benar-benar deh, kesambet apa sih kalian?" Nilam terpana dengan sikap berbeda Bram dan suaminya yang sudah banyak berubah. Lebay menurut pemahamannya sendiri.


"Astagfirullah ma, bukan astaga!" Cakra dan Bram kompak menasehati Nilam. Membuat wanita paruh baya itu tidak bisa berkutik didepan kedua pria itu.


Akhirnya Bram menggendong Rey dan membawa anak itu ke kamarnya untuk pertama kali. Dia sangat senang karena akhirnya bisa tidur dengan Rey semalaman. Nilam kembali mengingatkan jika Rey menangis atau rewel, maka Bram harus menyerahkan Rey padanya.


Kini di kamar Bram sudah tersedia susu formula, botol dot, air panas dalam termos, popok bayi, baju bayi dan mainan Rey juga.


"Sayang, kamu masih belum mau tidur ya? Kenapa? Kamu kepikiran mama kamu ya?" tanya Bram sambil mengganti popok anaknya yang basah. "Kamu tenang saja, mama kamu baik-baik saja. Dia akan segera sembuh, doakan mama kamu ya sayang," sambungnya lagi.


Rey, si bayi mungil itu menggeliat. Tangannya berusaha menggapai tangan Bram. Sesekali dia tersenyum memandang Bram. "Kamu gak tau betapa bahagianya hati papa, melihat kamu dikamar papa malam ini,"


Walau belum terampil memasang popok, Bram berusaha semaksimal mungkin membuat anaknya nyaman untuk terbiasa dengan sentuhannya. "Uwee.. uwee.."


"Kenapa sayang? Oh, kamu mau minum susu ya?" tanya Bram pada anaknya.


Bram segera mengambil botol dot kosong itu, tapi dia bingung apa yang harus dia lakukan. "Gimana cara isinya ya? Harus segimana air panasnya dan.. aduh..aku lupa tanya sama mama," Bram bingung sendiri, sedangkan anaknya menangis. Ternyata mengurus bayi tidak semudah yang dia bayangkan.

__ADS_1


...----****----...


__ADS_2