Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 227. Perkenalan Bima


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Kedua mata pria berwajah sama itu saling melihat satu sama lain. Yang satunya menatap dengan bingung, yang satunya lagi terlihat panik.


"May, barusan kamu panggil dia apa? Kamu kenal dia?" Satria menoleh ke arah istrinya, dia baru saja mendengar Amayra memanggil nama Bima walau hanya gumam kecil.


"Mas Bima, kemarilah dan perkenalkan diri mas.. pada suamiku." ucap Amayra menyambut Bima yang gugup dan hanya berdiri saja didepan pintu.


Satria menatap Bima dengan tajam, dengan langkah yang perlahan Bima menghampiri Satria. Dia memiliki pertanyaan didalam pikirannya juga, mengapa Satria memakai kursi roda.


Aku pasti bisa bicara dengan Satria, ayo tunjukkan kesan yang baik Bima.


Tubuh Bima gemetar berhadapan dengan saudaranya secara langsung, apalagi tatapan Satria belum terlihat bersahabat padanya. "Mas Bima... ayo mas kemari!" pinta Amayra berseru pada Bima.


Amayra kenapa sih manggil dia mas segala? Kenapa Amayra baik sama dia?. Satria cemburu pada pria yang berwajah mirip dengannya itu.


"Satria... perkenalkan namaku Abimana, aku a-adalah saudara kembar kamu." Kata Bima memperkenalkan dirinya pada Satria dengan suara agak gugup.


Deg!


Satria tercengang mendengar perkenalan dari Bima yang terasa singkat dan mendadak itu. "Sejak...kapan aku punya saudara kembar?" tanya Satria merasa tidak percaya bahwa dia mempunyai saudara laki-laki lain selain Bram.


"Mas...mas Bima benar-benar saudara kembar mas Satria, dia yang sudah menyelematkan kita dari kecelakaan itu." jelasnya pada Satria.


"Jadi, kamu cowok yang saat itu memakai masker dan menolong kami?" tanya Satria sambil menatap Bima dengan tatapan tajam.

__ADS_1


"Benar, aku yang menyelamatkan kalian saat itu dan aku juga minta maaf karena aku sempat ber-"


Amayra menggeleng-geleng, dia mengisyaratkan pada Bima untuk tidak mengatakan hal selanjutnya pada Satria. Bima paham dan langsung menghentikan kata-katanya.


Tepat saat itu, Cakra dan Bram datang ke kamar Amayra. Cakra menjelaskan pada Satria bahwa dia memiliki saudara kembar yang keberadaannya tidak diketahui oleh keluarga Calabria.


Pertemuan pria di keluarga Calabria itu, akhirnya diwarnai rasa haru penuh kerinduan.Terutama antara Satria dan Bima, yang memiliki wajah serupa. Satria senang karena dia memiliki satu saudara lain selain Bram.


"Oh ya, kak Bima... terimakasih ya kakak sudah menyelamatkan aku, Amayra dan anak kami. Kalau gak ada kak Bima, mungkin kami tidak akan berada disini dan berkumpul dengan semua orang." ucap Satria terima kasih kepada saudara kembarnya.


"Hahaha.. jangan bicara begitu, sebagai saudara tentu saja aku harus menolongmu. Apalagi istrimu sedang mengandung dua keponakanku." Bima menatap Amayra dan Satria sambil tersenyum.


"Iya kak, terimakasih banyak...aku dan Amayra berhutang pada kakak." ucap Satria sambil tersenyum pada Bima.


Bima pun keluar dari kamar itu bersama dengan Cakra dan Bram, dia langsung menanyakan keadaan Satria pada ayah dan kakaknya itu setelah pergi jauh dari kamar Satria.


Cakra dan Bram menundukkan kepalanya dengan sedih. "Dokter Bevan bilang kalau Satria...mengalami kelumpuhan."


"Apa?" Bima tercengang mendengarnya.


"Kita belum tau lumpuh permanen atau tidak, besok Satria akan melakukan pemeriksaan ke rumah sakit." ucap Bram masih berharap bahwa kelumpuhan Satria tidak permanen.


"Semoga saja Satria bisa kembali berjalan," ucap Bima mendoakan kesembuhan saudara kembarannya itu.


*****

__ADS_1


Satria dan Amayra akan pergi tidur, dia sudah tidur seranjang lagi dengan suaminya. Setelah menyuapi Satria minum obat, Amayra dan Satria berbaring diatas ranjang.


"Alhamdulillah, sudah lama ya kita tidak tidur seperti ini sayang." Satria membelai lembut rambut panjang istrinya yang terurai.


"Iya mas, aku tidak menyangka bahwa doaku akan terkabul setelah hampir satu bulan aku menunggumu mas. Aku sangat bersyukur kepada Allah, kamu kembali padaku dan anak kita."


"Iya May, maaf ya karena aku telah membuat kamu cemas. Sekarang juga aku masih membuatmu cemas." Satria terlihat sedih.


"Mas..." lirih Amayra sambil menatap suaminya.


Tiba-tiba saja terlintas pikiran buruk di hati Satria yang berbentuk suudzan. "Kalau seandainya aku lumpuh selamanya, bagaimana? Apa kamu masih mau bersama denganku?"


"Astagfirullah Mas! Mengapa mas berpikir seperti itu? Apa aku terlihat seperti itu di mata kamu? Apa aku akan meninggalkan kamu?"


"Aku kan tanya kalau seandainya aku lumpuh selamanya, bagaimana?" tanya Satria memiliki kemungkinan terburuk pada keadaannya.


"Mas, dalam Islam kita harus menghindari suudzan dan harus selalu husnudzan. Wahai, orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, itu adalah didalam Al-Quran surah Al-Hujurat ayat 12. Kamu gak boleh berprasangka buruk mas! Apapun yang terjadi, mau bagaimanapun keadaan kamu...aku akan selalu bersama kamu." jelas Amayra menegaskan pada suaminya.


Aku harap jawabanku bisa menenangkan hatimu mas. Karena aku akan selalu menemani kamu dalam keadaan apapun.


"Baiklah, kita tidur saja yuk." Satria menolak membahas tentang itu lagi.


Aku tau kamu mengatakan ini untuk menghiburku. Jika aku cacat selamanya, aku akan menjadi pria tidak berguna... logikanya kamu pasti akan malu, apalagi anak kita nanti kalau mereka tau papa mereka cacat.


Hingga esok hari pun tiba, Satria pun akan pergi ke rumah sakit, lalu tepat pada hari itu juga Bima akan membongkar identitas Clara.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2