
...πππ...
Bram langsung menghentikan sarapan paginya, dia meletakkan kembali gelas kosong di meja dengan menggebrak hingga menimbulkan suara.
"Mama apa apaan sih? Apa maksud mama bicara seperti ini?" tanya Bram kesal.
"Ya.. mama bicara begini karena mama khawatir sama kamu Bram. Usia kamu sudah lewat kepala 3, sudah waktunya kamu membangun keluarga. Jangan hanya bisnis saja yang kamu pikirkan, kamu harus punya seorang pendamping yang menemani kamu. Mama rasa salah satu wanita dari keluarga terhormat ini akan-" Nilam khawatir dengan masa depan anaknya, yang mungkin akan terus melajang seumur hidup.
"Mama, stop! Bram gak mau dengar lagi! Bram mau berangkat kerja," ucap Bram sambil mengusap sedikit kotor di sudut bibirnya dengan tisu kering. Alisnya mengerut, dia tampak tidak senang dengan usul sang mama yang ingin menjodohkannya.
"Ma udahlah, biarkan Bram menentukan hidupnya sendiri. Bram sudah dewasa, bukan anak kecil yang bisa kamu atur." kata Cakra ikut bicara membela Bram.
"Papa diem aja deh! Mama bicara seperti ini juga ada sebabnya, mama ingin Bram melupakan masa lalu dan hidup berkeluarga. Usia Bram sudah lewat kepala tiga dan mama juga ingin menantu yang baik," kata Nilam bersikeras ingin Bram segera menikah lagi
"Terakhir kali mama bicara seperti ini soal Alexis, tapi apa yang terjadi? Dia malah menipu Bram dan membuat Bram buta hati. Sudahlah ma, jangan begini." Cakra mengingatkan istrinya untuk tidak campur urusan Bram apalagi masalah jodohnya.
"Iya ma, papa benar. Bram tidak mau diatur lagi oleh mama, masalah Bram menikah atau melajang seumur hidup. Biarlah aku yang pikirkan sendiri," ucap Bram tegas sambil beranjak dari tempat duduknya. Dia membawa tas hitam dan bersiap berangkat kerja.
"Oke, soal Alexis mama minta maaf! Mama sudah salah menilai, tapi saat ini mama sedang mencoba memperbaikinya dengan mencari jodoh yang baik untuk kamu. Kamu lihatlah dulu foto-foto disini Bram, mereka berasal dari keluarga terhormat, mereka cantik berpendidikan dan sudah mamah pastikan mereka gadis baik-baik. Tidak seperti istrinya Satria yang pendidikan rendah dan kampungan, anak tukang sampah-"
"MAMA!" Teriak Bram dan Cakra emosi pada Nilam, begitu nama Amayra disebut didalamnya. Amayra dihina lagi oleh wanita paruh baya itu.
"Cukup ma! Sekali lagi mama menghina Amayra, aku gak akan tinggal diam!" Hardik Bram dengan suara tinggi.
"Berani kamu ya, meninggikan suaramu pada mama? Karena gadis kampungan itu!" Seru Nilam malah balik emosi pada anaknya.
"Astagfirullah.. kalau mama gak mau aku kaya gini, please ma Bram mohon, bersihkan dulu mulut mama!" Bram menghela napas, sebenarnya dia tidak mau bersikap kurang ajar pada orang tua. Tapi mamanya selalu menyulut emosi.
"Apa kamu bilang? Jangan-jangan kamu begini karena kamu masih mengharapkan wanita itu?" tanya Nilam marah.
"Tidak! Aku membela dia karena walau bagaimanapun juga dia adalah ibu dari anakku ma, dia wanita yang mengandung cucu laki-laki mama. Jadi tolong hormati dia ma," jelas Bram seraya memohon sambil mengatupkan kedua tangannya pada Nilam.
"Apa yang dikatakan Bram benar ma. Hormati keputusan Bram, jangan mengungkit lagi soal jodohnya dan jangan menghina menantu kita," ucap Cakra yang juga beranjak dari tempat duduknya. Dia juga berencana berangkat bekerja sama seperti Bram.
"Haahh.. kalian benar-benar sudah keracunan virus kampungan!" gerutu Nilam kesal.
"Aku tidak mau diatur ma, soal jodoh apalagi!"
"Terus gimana? Apa kamu mau mencari sendiri pasanganmu?"
"Sepertinya aku mau melajang seumur hidup," jawab Bram dengan wajah serius tanpa keraguan menjawab pertanyaan mamanya.
"A-Apa?" Nilam tersentak kaget dengan jawaban anaknya yang ingin melajang seumur hidup.
Bram dan Cakra berangkat kerja bersama. Sementara Nilam sedang bersiap untuk pergi juga ke acara arisan bersama teman-temannya.
"Melajang seumur hidup? Tidak, Bram tidak boleh begitu. Anakku yang tampan, pintar dan tidak kekurangan apapun. Harus mendapatkan istri yang sempurna dan wanita itu harus belum menikah sebelumnya. Bram harus bahagia dan aku harus mendapatkan menantu yang kuinginkan. Saat di acara arisan nanti, aku akan bicara dengan teman-teman ku tentang pasangan untuk Bram." Kata Nilam sambil merias wajahnya di cermin, dia bersikeras ingin menjodohkan Bram dengan seseorang yang menurutnya pantas menjadi anggota keluarga Calabria. Tidak seperti menantunya Amayra, yang gagal dalam segala hal.
...*****...
Di rumah Amayra, hari itu Satria tidak pergi bekerja karena dia tidak ada jadwal operasi. Namun nanti malam dia ada jadwal piket di rumah sakit dan pada pagi sampai sore hari dia berada di rumah.
Keberadaan suaminya di rumah hari itu malah membuat Amayra sesak. Ya itu karena mereka masih berada dalam keadaan perang dingin. Amayra yang tidak mau orang lain melihat perang dingin mereka, meminta Dewi pergi lebih awal setelah Dewi menyelesaikan beres-beres rumah. Memang sudah seharusnya seseorang yang sudah menikah untuk menyembunyikan pertengkaran dan masalah dari orang lain.
__ADS_1
"Yang benar nih non, saya pulang sekarang aja?" tanya Dewi terheran-heran, karena biasanya dia berada di rumah Amayra sampai siang untuk membantu Amayra menjaga Rey.
"Tidak perlu, kak Satria juga ada dirumah. Dia bisa membantuku untuk menjaga Rey," ucap Amayra sambil tersenyum seperti biasanya.
Aneh, kenapa aku merasa kalau non Amayra sama tuan Satria tidak seperti biasanya? Hem..
Dewi yang memperhatikan sejak tadi, keheranan karena Amayra terlihat mengabaikan Satria. Pasangan suami-istri itu tidak berkomunikasi mesra seperti yang sering mereka lakukan sebelumnya.
"Bi Dewi? Kok malah ngelamun sih?" tanya Amayra heran melihat Dewi melamun ketika sedang bicara kepadanya.
"Iya non, baiklah. Saya akan kembali ke rumah nyonya besar lebih awal. Assalamualaikum non," Dewi berpamitan, dia tidak bertanya banyak karena dia tidak mau ikut campur dengan masalah tuannya.
Dewi pergi dari rumah itu dan kembali lebih awal ke rumah Calabria untuk melaksanakan tugasnya seperti biasa. Amayra kembali ke dalam rumah setelah berjemur di bawah terik sinar matahari yang menyehatkan tubuh.
Saat Amayra masuk ke dalam rumah, Satria langsung menyodorkan air minum dingin untuk istrinya. "Sayang, ini!" Satria tersenyum lembar, berharap Amayra mau menerima minuman es jeruk segar yang dia buat.
Amayra melihat gelas berisi air minum itu. "Aku gak haus," tolak Amayra pada minuman yang dibawa Satria.
Sabar Satria, ini salahmu karena telah melukai hatinya. Luka hati memang sulit disembuhkan, makanya aku harus bersabar. Satria bersabar.
"Ka-kalau gitu apa kamu mau makan?" tanya Satria tidak menyerah untuk memperbaiki kecanggungan hubungannya dengan Amayra yang memanas karena lidahnya terpeleset.
"Ini masih pagi, tadi juga aku sudah sarapan. Ah apa mungkin kakak sudah lapar? Mau aku masakan sesuatu?" Amayra malah bertanya balik pada suaminya dengan wajah datar tanpa senyuman.
Satria sedih melihat senyuman di wajah Amayra yang biasa dia lihat setiap pagi, kini menghilang. "Ah enggak, aku belum lapar. Aku bertanya begini bukan karena aku menyuruhmu memasak, tapi aku pikir kamu sudah lapar karena semalaman kamu-" Satria menggantung perkataannya disana.
Amayra tersenyum pahit sambil menjawab singkat, "Tidak apa-apa, aku belum lapar."
Deg
"May, kita bicara dulu yuk?" tanya Satria sambil tersenyum, dia memohon pada sang istri untuk bicara dengannya.
"Hem, ya ud-"
Ting Tong!
πΆπΆ
Bel rumah berbunyi, memotong ucapan Amayra.
"Biar aku aja yang buka pintunya," ucap Satria sambil tersenyum. Pria itu berjalan ke arah pintu dan membuka pintunya.
"Assalamualaikum," ucap seorang pria paruh baya dengan senyuman ramah.
"Waalaikumsalam, ayah." Satria tersenyum seraya mencium tangan ayah mertuanya itu dengan sopan.
"Maaf ya Satria, ayah tiba-tiba datang kemari tanpa bilang lebih dulu," ucap Harun merasa tidak enak.
"Kenapa ayah bicara begitu? Ayo masuk yah, kita bicara didalam ya." sambut Satria hangat kepada ayah mertuanya.
Mendengar suara ayahnya, Amayra langsung menghampiri kedua pria yang berada didekat pintu depan itu. Amayra mencium tangan sang ayah dengan sopan. "Ayah," sapa nya.
Harun dan Satria duduk di sofa sambil mengobrol. Sementara Amayra membuatkan minuman untuk ayah dan suaminya. Rey berada di gendongan kakeknya.
__ADS_1
"Cucu kakek lucu sekali, semakin hari cucu kakek semakin tampan ya," Harun menatap cucunya dengan penuh kasih sayang. Dia tersenyum lebar melihat bayi mungil berkulit bersih dan hidung mancung itu. Namun hatinya terhenyak karena satu hal, dia merasa kalau Rey mirip dengan ayah kandungnya.
"Ayah, ayah darimana?" tanya Satria pada ayah mertuanya yang berpakaian rapi.
"Ayah baru saja habis dari rumah teman, jadi sekalian mampir kesini. Ayah tidak menganggu kalian kan?" tanya Harun sambil menimang cucunya.
"Tidak kok, kebetulan Satria lagi libur kerja hari ini dan tidak ada operasi."
"Oh begitu ya,"
"Tapi ayah, kenapa wajah ayah terlihat pucat? Dan apa yang ayah bawa itu?" tanya Satria melihat map merah yang dibawa oleh Harun. Satria bermaksud mengambil map itu untuk melihat isinya. Namun Harun langsung mengambilnya dengan cepat.
"Ti-tidak apa-apa. Ini dokumen milik teman ayah," jawab Harun terbata-bata.
Tidak boleh ada yang melihat dokumen ini. Bisa bahaya kalau ada yang melihatnya. Tapi, Apa wajahku memang terlihat pucat?
"Oh gitu ya yah, maafkan saya." ucap Satria memohon maaf.
"Eh, kenapa kamu minta maaf? Emangnya kamu salah apa?" Harun tersenyum heran.
Tak lama kemudian, Amayra membawakan air minum untuk suami dan ayahnya. Dua cangkir teh hangat untuk menemani obrolan mereka.
"Ini ayah silahkan di minum dulu,"
"Makasih May," Satria menatap istrinya dengan lembut.
"Iyah kak Satria juga minum dulu," jawab Amayra sambil tersenyum. Tapi senyuman yang ditunjukkan oleh Amayra adalah senyum palsu.
"Makasih May. Oh ya gimana soal rencana kejar paket kamu?" tanya Harun pada ayahnya.
Aku harus memastikan Amayra menggapai mimpinya untuk menempuh pendidikan tinggi, agar dia tidak direndahkan orang lagi.
"Saya sudah mendaftarkan Amayra, rencananya habis lebaran Amayra akan kejar paket C," kelas Satria.
"Alhamdulillah, kamu harus tetap bersekolah ya May. Teruskan cita-cita kamu menjadi seorang guru, meski kamu sudah menjadi seorang ibu. Tugas dan kewajiban mu akan semakin bertambah, jadi kamu harus kuat." ucap Harun menasehati putrinya.
"Insyaallah ayah," jawab Amayra sambil tersenyum.
Setelah mengobrol cukup lama disana yang banyak berisi nasihat. Harun pun pamit pulang karena dia masih harus bekerja bagian sore mengangkut sampah.
"Ayah, tunggu dulu disini ya! Aku mau ambilkan dulu makanan untuk ayah, ayah pasti suka," Amayra berjalan buru-buru menuju dapur, entah apa yang akan dia bawa darisana.
Sementara Satria yang menggendong Rey dan juga Harun masih duduk di sofa. "Satria, ayah ingin bicara sama kamu."
"Ya ayah, silahkan saja bicara!" Seru Satria mempersilahkan.
"Jika suatu saat nanti ayah tidak ada lagi untuk Amayra dan Rey, ayah harap kamu bisa menjaga mereka. Ayah hanya percaya pada kamu saja, Satria." Harun tersenyum tipis, dia memandang menantunya dengan tatapan mata berkaca-kaca.
"Sa-saya," Satria gelagapan, dia menatap sesuatu yang berbeda dari ayah mertuanya m
Kenapa ayah bertanya seperti ini? Rasanya ada aneh dengan kata-katanya itu.
...---****---...
__ADS_1
Alhamdulillah readers ku tersayang, ππ₯³π₯³ novel CSA (Cinta Suci Amayra) sudah mencapai episode seratus. Terimakasih atas dukungan kalian selama ini, apalagi dengan komentar komentar terbaik kalian πβ€οΈ cerita author dibaca, di like, di komen, author sangat bahagia dan bersyukur sekali..π
Apalagi untuk yang kasih dukungan kalian berupa vote dan gift nya juga, makasih banyak banyak.. untuk hari ini mungkin akan double up atau Trie up ya?π€π€π