Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 225. Kakiku mati rasa


__ADS_3

...✳️✳️✳️...


Bi Dewi dan bi Lulu masuk ke dalam kamar, setelah mendengar teriakan Amayra. Mereka melihat Amayra di lantai kamar mandi sambil memegangi perutnya.


"Astagfirullahaladzim! Non Mayra!"


"Bi...tolong..." rintih Amayra kesakitan.


Dewi dan Lulu membantu Amayra untuk naik ke atas ranjang. Wanita hamil itu memegangi perutnya, bagian belakang punggungnya terasa panas. "Ughhh..."


"Lulu, panggilkan non Diana dan tuan Bram!" ujar Dewi pada Lulu.


"Iya, aku panggil dulu."


Dewi menunggu Amayra di kamarnya, sementara Lulu pergi ke lantai atas untuk memanggil Bram dan Diana yang sedang bersama Nilam.


"Ugghh...."


"May... may..." lirih Satria memanggil Amayra dengan pelan. Dia mencabut selang oksigen di mulut dan hidungnya.


"Aku gak apa-apa mas..." ucap Amayra seraya menenangkan Satria, dia menangis melihat Satria sudah sadar bahkan bicara padanya.


Ya Allah, terimakasih... terimakasih mas Satria sudah siuman.


"Tuan Satria, sudah siuman? Allahuakbar!" Dewi tidak menyangka bahwa Satria sudah sadar dari komanya, bersamaan dengan Amayra yang jatuh di kamar mandi.


Tak lama kemudian, Diana, Bram dan Nilam datang ke kamar Amayra. Mereka tercengang dan tidak percaya dengan apa yang mereka lihat disana. Satria yang koma kini sudah sadar dan Amayra sedang merintih kesakitan di samping tempat tidurnya.


Lulu dan Dewi juga masih tidak percaya dengan Satria yang selama ini tertidur, kini sudah siuman.


"Satria, kamu sudah siuman? Alhamdulillah..." ucap Bram bahagia.


"Satria..." gumam Nilam sambil melihat Satria yang sudah melepas selang oksigennya.


"Kak Diana...tolong...Amayra." Ucap Satria dengan suara lemah dan meminta Diana memeriksa kondisi Amayra.


Ya Allah, kenapa tubuhku lemas dan sulit bergerak?


"Baik, aku akan memeriksanya lebih dulu." Diana bersiap dengan stetoskop dan alat denyut jantung yang selalu dia gunakan untuk memeriksa detak jantung bayi didalam kandungan.


Sementara Diana memeriksa kondisi Amayra dan anaknya, Bram menghubungi dokter Bevan untuk memeriksa kondisi Satria.


"Gimana... keadaannya?" Satria bertanya dengan nafas terengah-engah.


"Alhamdulillah, tidak akan pendarahan...hanya ketegangan dan kontraksi biasa saja karena terkejut. Amayra dan bayi kalian baik-baik saja kok." jelas Diana pada Satria yang terlihat cemas.


"Mas...kamu sudah siuman? Alhamdulillah.... Alhamdulillah wasyukurillah... ya Allah." Amayra menangis terharu, melihat suaminya telah membuka mata.


"Jangan nangis sayang, aku gak apa-apa." Satria tersenyum tipis, tangannya meraih wajah Amayra dan menyeka air mata istrinya itu.


Amayra malah semakin menangis, dia tidak percaya penantiannya telah berakhir. Satria yang tidak menunjukkan tanda akan segera siuman, kini sudah kembali padanya.


Dia sudah bisa mendengar suaranya, melihat matanya terbuka, bahkan melihat lagi senyuman suaminya. Sungguh hal ini adalah hal yang paling indah dan patut dia syukuri.


"Hiks...hikss... huuu... terimakasih ya Allah."

__ADS_1


Satria tersenyum memandang istrinya, tangannya mengelus perut buncit Amayra. "Assalamualaikum, papa..kangen kalian...twins..." ucap Satria pada perut buncit itu.


Diana, Dewi, Lulu dan Nilam ikut terharu melihat pemandangan itu. Satria telah kembali pada mereka dan mereka sangat bersyukur.


*****


Dokter Bevan langsung datang memeriksa Satria, begitu Bram menghubunginya.


"Alhamdulillah...ini semua adalah keajaiban dan kekuatan doa. Syukurlah, dokter Satria...kamu sudah kembali siuman." ucap Dokter Bevan sambil tersenyum.


"Iya dok. Sepertinya saya terlalu lama tertidur, hingga istri saya menangis tanpa henti." Satria melirik ke arah Amayra yang masih menangis.


"Ya, wajar saja Bu Amayra seperti itu. Dia sudah sangat sabar menunggumu selama ini. Hampir satu bulan lamanya kamu koma dan juga tentang Bima yang-"


Amayra menyela ucapan Bevan dengan cepat, "Mas, kamu mau minum? Mau makan atau..."


Lebih baik mas Satria jangan tau dulu tentang mas Bima, biarlah nanti mas Bima yang menjelaskannya sendiri.


"May...kamu jangan pikirkan aku, istirahatlah...kamu baru saja jatuh." ucap Satria perhatian.


"Ehm..."


Bevan pun melakukan pemeriksaan lagi terhadap Satria, dia meminta Satria untuk duduk diatas ranjang dan mencoba menggerakkan tangan dan kakinya. Satria merasa tubuhnya terasa kaku dan kesulitan bergerak. "Coba kamu gerakan kakimu,"


"Iya.." ucap Satria yang berusaha mengangkat kakinya dari atas ranjang.


Amayra melihat suaminya dengan cemas. Tiba-tiba saja Satria menatap kedua kakinya dengan tatapan heran dan kening yang berkerut.


Kenapa kakiku tidak bisa digerakkan? Tidak mungkin...aku....


"Dokter Bevan, saya tidak bisa menggerakkan kaki saya...kaki saya mati rasa." ucap Satria dengan wajah pucat, dia tidak merasakan apa-apa pada kakinya. Dia terlihat takut, sebagai dokter bedah syaraf tentunya dia tau apa yang terjadi pada dirinya.


Amayra, Diana, Nilam dan Bram yang ada disana tercengang mendengar ucapan Satria tentang kakinya. Dokter Bevan pun meminta Satria untuk mencoba berdiri terlebih dahulu, agar dia bisa melihat sendiri keadaan Satria.


Satria pun mencoba beranjak dari ranjang, belum sempat satu detik, tubuhnya ambruk ke lantai. Kakinya tidak bisa digerakkan sesuai pikirannya sendiri.


"Mas..." Amayra panik melihat suaminya seperti itu.


Bevan mengangkat Satria kembali ke atas ranjang. Dia pun lakukan beberapa tes untuk mengecek, apakah kaki Satria benar-benar kaku dan mati rasa?


"Apa setelah saya pukul seperti ini, masih tidak ada reaksi?" tanya Bevan sambil memukul-mukul kaki Satria dengan besi kecil. Dia menatap Satria dengan cemas.


Satria menggeleng-geleng, dia tidak merasakan apapun. "Tidak terasa apapun."


"Dua-duanya?" tanya Bevan lagi.


"Iya, kedua kaki saya tidak merasakan apapun." jawab Satria sambil menahan sedih di hatinya.


Apa aku cacat? Astagfirullah...


"Astagfirullahaladzim..." Nilam, Diana dan Bram terkejut mendengar ucapan Satria.


"Mas..." suara Amayra gemetar melihat suaminya dengan mata berkaca-kaca.


Satria melihat ke arah Amayra, dia berusaha tersenyum tegar. "Sayang, aku gak apa-apa. Kamu tenang saja ya..." ucap Satria sambil membelai pipi istrinya.

__ADS_1


Ya Allah, kalau aku cacat... bagaimana bisa aku menjadi suami dan ayah untuk Mayra dan anakku.


"Mas..."


Setelah memeriksa kondisi Satria, Bevan menurut diagnosanya Satria mengalami kelumpuhan. Untuk hal yang lebih pastinya, Satria harus diperiksa secara menyeluruh ke rumah sakit dengan alat medis yang mendukung.


Hati Satria dan Amayra sama-sama senang bercampur aduk dengan sedih. Senang dan bahagia, karena Satria sudah kembali siuman dan sedihnya karena Satria lumpuh. Bagi Satria yang divonis cacat, Satria terlihat tenang didepan semua keluarganya terutama Amayra, tapi tidak ada yang tau bagaimana isi hatinya.


Ketika mereka sedang berdua didalam kamar, Amayra terus menangis. Entah apa yang dia tangisi, apa dia sedih atau bersyukur?


"May, jangan nangis terus dong sayang..." Satria tersenyum, tangannya menyeka air mata Amayra dengan lembut.


"Maaf mas, aku harusnya tidak menangis...tapi air mata ini terus keluar." jelas Amayra sambil mencoba menghentikan air matanya.


Ya Allah, apa yang aku lakukan? Kenapa aku malah terus menangis? Seharusnya aku tetap kuat didepan mas Satria dan mendukungnya disaat-saat seperti ini.


"Kamu kecewa padaku ya? Karena sekarang aku cacat?" Satria bertanya pada istrinya sambil tersenyum pahit.


"Astagfirullah Mas...aku tidak pernah berpikir seperti itu. Aku akan tetap menerima mas Satria, apapun keadaannya...aku malah sangat bersyukur kepada Allah, karena kamu telah kembali dengan selamat. Aku pikir kamu tidak akan kembali lagi padaku dan anak kita."


Satria memeluk istrinya dengan hati-hati pada perut buncit itu, dia mengecup kening istrinya dengan penuh kerinduan. "Maaf telah membuatmu menunggu lama, maaf sayang."


Ya Allah semoga cacatku ini tidak permanen.


*****


Malam itu sepulang dari jalan-jalan bersama Clara, Bima meninggalkan Clara sendirian tanpa mengantarnya pulang sampai ke rumahnya dengan alasan ban mobilnya bocor. Lalu Bima memberhentikan taksi untuk Clara.


"Kak, kamu gak apa-apa aku tinggal sendirian disini?" tanya Clara dengan cemas pada Bima.


"Gak apalah, aku kan cowok...lebih baik kamu pulang saja duluan. Aku bisa telepon orang bengkel buat bantu reparasi mobilku." Bima tersenyum palsu.


Sialan! Kenapa kamu tidak pergi saja? Aku lelah tersenyum terus!


"Benaran kak?"


"Iya, kamu pulang aja ya sayang... nanti aku hubungi lagi." ucap Bima sambil melambaikan tangannya pada Clara yang sudah naik taksi.


"Ya udah deh sayang, jangan lupa balas chat dan teleponku ya! Kamu hati-hati ya..." ucap Clara sambil tersenyum manis.


Bima melihat Clara sudah pergi jauh naik taksi. Dia pun kembali memasang wajahnya yang seperti biasa. "Wanita sialan! Sudah jelas apa tujuannya memintaku pergi ke rumahnya, dia pasti ingin mengajakku melakukan itu! Dasar genit! Aku bahkan jadi kehilangan kehidupan karena bersamanya terus," gumam Bima kesal.


Dreett...


Dreett...


Bima merogoh sesuatu disaku bajunya, dia mengangkat telepon itu. "Waalaikumsalam kak Bram, ada apa?"


"Bima, pulanglah malam ini ke rumah...Satria sudah siuman."


"Apa?!" Bima tercengang mendengarnya.


Satria sudah siuman?


...*****...

__ADS_1


__ADS_2