
Beberapa menit yang lalu sebelum Satria masuk ke rumahnya. Dia mendorong kopernya dan melihat rumahnya yang ramai dengan pria memakai baju Koko dan peci. Kepulangannya dipercepat karena takut bandara disana akan ditutup kembali. Dia pulang dengan penerbangan paling cepat dan sampai dalam waktu kurang lebih 21 jam di bandara Jakarta.
Ketika itu Satria bertanya-tanya ada apa di rumahnya? Kemudian dia melihat bendera kuning disana. Bendera yang menandakan ada seseorang yang meninggal dunia.
"Siapa yang..." gumam Satria yang buru-buru masuk ke dalam rumahnya ditengah banyak orang disana.
Didepannya ada Anna yang juga baru sampai di rumah. Anna menghampiri nenek dan kakeknya. Satria terkejut melihat ada jenazah yang ditutupi kain putih yang sedang dikelilingi banyak orang mengaji.
Siapa yang meninggal? Mayra? Kenapa dia gak ada?
Satria sempat berpikir yang bukan-bukan karena dia melihat semua orang tapi dia tidak melihat Amayra disana.
Tak lama setelah itu, Satria melihat istrinya berlari ke arahnya. Dia langsung menyambut suaminya dengan pelukan dan air mata. Seolah dia mengadu dengan apa yang sudah terjadi padanya.
Sambutan hangat yang di harapkan Satria dari perjalanan tugasnya itu malah sambutan duka yang penuh air mata.
"Kak...hiks...kakak.." ucap Amayra sambil menangis tersedu-sedu didalam pelukan suaminya.
"Siapa yang meninggal May?" tanya Satria pada istrinya itu.
"Ayah.. ayah..kak.. ayah mening-"
BRUGH!
Tubuh Amayra oleng, dia jatuh pingsan. Untung saja Satria dengan cepat menangkup tubuh istrinya itu. "May, sayang..? May..." Satria memanggil dan menatap istrinya dengan cemas.
"Bawa dia ke kamar Sat!" ujar Bram pada adiknya itu.
Satria menangkup tubuh Amayra, menggendong dan membawa dia ke kamar. Satria menunggu Amayra disana, dia benar-benar sedih mendapatkan kejutan duka ini begitu pulang ke rumah. Dia tak pernah berharap akan disambut dengan air mata karena kehilangan seseorang yang berharga.
"Sayang, May.. bangun sayang..May.." ucap Satria sambil mengusap-usap tangan Amayra yang terasa dingin. "Aku disini sayang," ucap Satria lembut pada istrinya.
"Dia seperti ini pasti karena dia belum makan apapun sejak kemarin," ucap Diana sambil mengusap-usap kaki Amayra yang dingin. Diana terlihat cemas melihat keadaan adik iparnya itu.
"Tidak makan dari kemarin?" tanya Satria sambil melirik ke arah Diana.
"Iyah, dari kemarin dia menangis diam saja dan belum makan apapun. Ya, siapa juga yang akan n*fsu makan karena kejadian mendadak ini. Amayra pasti sangat syok," jelas Bram yang juga ada disamping Diana.
"Ayah meninggal.. kenapa bisa? Apa ayah sakit?" tanya Satria menanyakan penyebab kematian ayah mertuanya itu.
"Iya, dokter bilang itu adalah kanker otak stadium akhir. Kami juga baru tau tentang pak Harun dari temannya Amayra dan saat itu pak Harun akan melakukan operasi." Jelas Bram pada Satria.
"Apa kakak tau siapa dokter yang melakukan operasinya?" tanya Satria tajam.
"Kalau gak salah namanya dokter Candra dan dokter Sandy," jawab Bram.
Diana dan Satria langsung menengadah melihat ke arah Bram. Entah apa yang mereka pikirkan.
Satria masih menunggu istrinya yang masih belum sadarkan diri, selagi menunggu Amayra bangun. Satria berganti pakaian memakai baju Koko. Dia menggendong Rey dulu karena dia rindu pada anaknya itu.
"Rey sayang, ini papa pulang nak...Rey kangen papa gak?" Satria mencium pipi anaknya dengan gemas penuh kasih sayang. Dia sangat rindu pada anak dan istrinya itu.
"Sat, acara pemakaman alm pak Harun akan segera dilakukan!" kata Cakra memberitahu anaknya itu.
"Iya pah, Satria akan kesana..." ucap Satria pada papanya. Dia akan ikut mengantar Harun ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Saat Satria akan melangkah pergi keluar bersama dengan Rey, satu tangan menahan tangan Satria. "Kak..."
"Ya Allah.. May, kamu udah siuman?" tanya Satria cemas melihat istrinya.
__ADS_1
Amayra beranjak dari ranjangnya, dia berusaha untuk duduk, "Kak, aku mau ikut ke pemakaman ayah.."
"Tidak! Kamu disini saja, keadaan kamu sedang lemah begini. Aku yang akan pergi bersama papa, kak Bram dan yang lainnya." Satria melarang istrinya untuk ikut ke makam.
"Kumohon kak, aku juga ingin mengantar ayah untuk yang terakhir kalinya," ucap wanita itu sambil memegang tangan suaminya seraya memohon.
"May, kalau kamu pingsan lagi gimana? Lalu, apa kamu kuat untuk berjalan? Untuk berdiri saja.. aku tidak yakin kamu akan kuat." kata Satria sambil menatap istrinya dengan khawatir.
"Aku janji itu tidak akan terjadi, aku mohon kak.. aku mau ikut.. " pintanya pada Satria. Dia ingin mengantar kepergian sang ayah untuk yang terakhir kalinya.
"Ya sudah, tapi kamu harus minum dulu. Kalau kamu merasa pusing atau tidak kuat, bilang padaku ya?" Satria membelai pipi istrinya dengan lembut.
Amayra mengangguk lemah, dia patuh pada suaminya. Dia meminum segelas susu yang sudah disajikan oleh Satria dan juga segelas air putih.
Setelah itu Satria menitipkan Rey pada Anna yang disuruh tinggal bersama Bu Nilam di rumah. Amayra dan Satria pergi ke makam bersama orang-orang yang mengantar kepergian pak Harun.
Banyak pelayat berdatangan untuk mengantar kepergian pak Harun. Walaupun pak Harun hanya berprofesi sebagai tukang sampah, tapi dia dikenal banyak orang sebagai ahli ibadah dan pria yang Sholeh.
Rajin shalat berjamaah, bersedekah, ramah pada orang disekitarnya. Kini saat orang baik itu telah tiada, banyak orang mengantarnya. Amayra merasa terharu karena banyak yang membicarakan kebaikan ayahnya semasa hidup. Bahkan wajah pria itu memancarkan cahaya yang tidak biasa.
Satria ikut memakamkan ayah mertuanya itu bernama Bram dan Cakra. Mereka mengantar Harun hingga ke tempat peristirahatan terakhir. Amayra berada bersama Diana dan para pelayat lainnya, melihat jenazah Harun dikuburkan.
Satria melihat mayat ayah mertuanya, dia menangis kemudian mengecup kening jenazah itu sebelum di kuburkan. "Ayah, Satria sudah pulang yah.. Satria janji akan menjaga Amayra dan Rey. Ayah tidak usah khawatir, beristirahatlah dengan tenang ayah.." bisiknya pada jenazah pak Harun. Dia berjanji akan selalu menjaga anak dan istrinya didepan pak Harun.
Amayra berusaha menahan tangisnya, satu satunya keluarga dan cinta pertama dalam hidupnya kini sudah tiada. "Hiks..ayah.."
Diana mengusap-usap bahu Amayra, seraya menenangkannya. Dia tidak tahu harus mengatakan apa pada seorang anak yang baru saja kehilangan orang yang dicintainya.
Ketika prosesi pemakaman sudah selesai di lakukan dan diakhiri dengan doa. Amayra masih berada disana bersama Diana, Bram, Cakra dan Satria. Satu persatu pelayat sudah mulai meninggalkan pemakaman itu.
"May, kita pulang yuk?" ucap Satria pada istrinya, sambil memegang tangannya. "Rey pasti sedang menunggu kita di rumah," tambahnya lagi.
Amayra memandangi nisan ayahnya dengan hati yang berat. Dia masih belum bisa percaya bahwa ayahnya sudah tiada. "Kemarin ayah baik-baik saja, kemarin-kemarin ayah masih sehat..kenapa ayah harus operasi? Kenapa aku gak tau apapun soal ayah?" Amayra mulai marah pada dirinya sendiri yang tidak tau apa-apa tentang ayahnya.
Suara asing itu membuat Satria, Amayra dan semua orang melihat ke arahnya. Dia adalah Ken dan disampingnya ada Anton juga Lisa.
Ken menatap pria disamping Amayra dengan tatapan menelisik. Dari atas sampai bawah, dia tampak menilai Satria.
Gila! Dia tampan kayak artis Turki. Tapi aku juga tidak kalah tampan? Ken.. apa yang kamu pikirkan? Masih sempat-sempatnya kamu memikirkan hal seperti ini?
"May, kami turut berduka ya. Yang sabar, semoga Allah selalu memberi ketabahan untuk kamu.." ucap Lisa dengan tulus berbelasungkawa.
"Turut berduka ya May," ucap Anton yang juga turut berduka atas meninggalnya pak Harun.
"Makasih Lis, makasih Anton dan makasih juga Ken. Kalau bukan karena kamu, aku gak akan bicara dan melihat ayahku untuk yang terakhir kalinya di rumah sakit. Ken makasih.." ucap Amayra tulus berterimakasih pada Ken.
"Masama, Lo yang sabar ya." Saat Ken akan menyentuh bahu Amayra, dengan cepat Satria langsung menepiskan tangan itu.
"Makasih pak Ken," ucap Satria sinis, dia menatap sinis ke arah Ken.
"Ah.. iya om," jawab Ken sambil tersenyum.
Kenapa ya aku merasa suami Amayra bersikap sinis padaku?
"Om?" gumam Satria dengan suara pelan. Entah kenapa dia kesal dengan panggilan om dari Ken.
"Ughh.." Amayra memegang kepalanya, tubuhnya sempoyongan. Satria memeganginya dengan cepat.
"Sat, ayo kita pulang. Mayra perlu beristirahat.."
__ADS_1
"Iya kak," jawab Satria sambil memapah istrinya. "Sayang, kamu mau aku gendong?" tanya Satria menawarkan.
"Gak usah kak, aku bisa jalan sendiri kok. Aku masih kuat,"
May kamu harus kuat demi Rey, demi kak Satria. Walaupun hatimu masih berat melepaskan kepergian ayah.
"Ya udah, ayo.." ajak Satria pada istrinya.
"Tunggu dulu sebentar! Aku mau bicara dulu sama ayah," ucap Amayra sambil duduk jongkok di depan nisan ayahnya.
Amayra tersenyum tipis, dia memegang nisan ayahnya. "Ayah...ayah yang tenang disana ya, ayah jangan cemaskan May dan Rey. Kami akan baik-baik saja. Ayah.. selamat jalan, "
Wanita itu menangis tanpa suara dia memandangi nisan sang ayah dengan hati terluka. Perih sekali rasanya, dengan kepergian pak Harun yang mendadak itu.
Ken, Lisa, Anton dan Satria melihat Amayra.
Ketika wanita itu akan berdiri, kakinya tiba-tiba lemas. "May.." lirih Satria memanggil istrinya seraya menopang tubuh Amayra dengan kedua tangannya.
"Aku gak apa-apa kak," ucap Amayra sambil tersenyum.
Ken melihat perhatian Satria pada Amayra, dia tersenyum pahit. Ken melihat Satria dan Amayra berjalan sudah cukup jauh dari pemakaman itu.
"Teman-temannya May, ayo kita ke rumah dulu. Kita istirahat disana," ajak Cakra pada Ken, Lisa dan Anton.
"Tidak usah pak, kami akan langsung pu-"
"Iya pak, kamu akan ke rumah dulu." Ken memotong ucapan Anton.
"Eh, bukannya Lo mau pergi ya, Ken?" bisik Anton pada Ken.
"Gue harus memastikan Amayra baik-baik saja," jawab Ken dengan wajah serius.
Ya, aku harus memastikan kalau Amayra baik-baik saja.
Kini Anton dan Lisa semakin yakin jika teman mereka Ken, menyukai Amayra.
Mereka pun ikut ke rumah Amayra untuk beristirahat sekalian memastikan keadaan Amayra baik-baik saja atau tidak.
Sesampainya disana, Satria segera menyuapi Amayra dengan perhatian. Anna, Diana, Fania, dan Nilam melihat perhatian Satria pada istrinya.
"Kamu harus habiskan makanannya sayang," Satria kembali mengarahkan sendok berisi nasi dan lauk itu pada Amayra.
"Tidak kak, udah.." Amayra menggeleng.
"Makan! Habiskan!" kata Satria tegas tak mau dibantah.
"Gak mau ah.." tolaknya sambil menggeleng.
"Apa kamu mau aku suapi pakai mulut?" tanya Satria dengan seringai dibibirnya.
Ucapan Satria sontak membuat pikiran Amayra traveling.
"Kakak apa apaan sih?!" Amayra terlihat malu, apalagi saat orang-orang di rumahnya mendengar itu. Mereka melihat Amayra sambil tersenyum.
"Habiskan May," ucap Satria sambil tersenyum.
Saat Amayra sedang makan disuapi oleh suaminya. Seseorang datang untuk melayat, dia adalah dokter Sandy.
"Assalamualaikum.."
__ADS_1
...----****----...
Readers.. mohon jangan unfav atau kasih rate jelek ya, kalau gak suka ceritanya...🥺 ikuti saja dulu, badai pasti berlalu kok..😍