Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 222. Bima minta maaf


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Bima menelan salivanya kuat-kuat, bulu kuduknya berdiri saat kedua mata tajam Amayra menatap ke arahnya. Ditangan Bima ada keresek yang isinya entah apa.


Sepertinya dia masih marah padaku.


Amayra tidak bicara saat Bima menyapanya, dia berjalan melewati Bima. "Tunggu! Amayra!"


Amayra menoleh ke arah Bima. "Ada apa?"


Pria itu tersenyum senang walau Amayra hanya bicara sepatah kata padanya. "Ehm..kata kak Bram, Satria udah dibawa pulang ya?" Bima bertanya tanpa menatap ke arah Amayra, dia tak berani menatap adik iparnya itu.


"Hem, iya." jawab wanita itu singkat.


"Ya baguslah, kalau Satria sudah pulang."


Amayra yang cuek berjalan kembali ke kamarnya. Namun Bima memanggilnya lagi dan menghentikan langkah Amayra didepan pintu. "May!"


"Apa lagi?" tanya Amayra malas.


"Apa kamu suka martabak telur bebek? Aku bawakan martabak buat kamu." Bima menyodorkan keresek hitam yang dibawahnya pada Amayra.


Amayra melihat keresek "Apa maksud kamu melakukan ini?"


"Tidak ada maksud, tapi...aku rasa aku harus meminta maaf dengan benar sama kamu. Bisa kita bicara sebentar?" Bima memberanikan dirinya untuk bicara dengan Amayra.


Aku harus meminta maaf karena sudah membohonginya. Lalu aku akan mengatakan masalah si rubah itu.


Amayra menghela nafas. "Baiklah, langsung saja katakan."


"Tidakkah kamu ingin duduk dulu? Apa kamu gak pegal?"


"Makanya cepat bicara saja, agar saya tidak menunggu lagi! Saya sudah mau kembali ke kamar." ucap Amayra ketus.


Bima mengambil nafas dalam-dalam, dia pun mulai membuka mulutnya. "Aku minta maaf ya Amayra, aku telah salah karena sudah membohongi kamu...aku tidak akan membuat alasan kenapa aku berbohong, karena aku tau aku salah. Wajar kalau kamu marah, aku tidak apa-apa...jika Satria sudah siuman, dia juga pasti akan sangat marah padaku yang sudah menipu kamu. Sekali lagi maafkan aku ya, Amayra." ucap Bima sambil menundukkan kepala, seraya memohon maaf pada Amayra karena sudah menipunya.


Wanita hamil itu mendengarkan Bima dengan seksama, wajahnya terlihat serius. Dia menatap Bima dan memperhatikan wajah tulusnya dalam meminta maaf.


"Haaahh..." Amayra menghela nafas sambil memegang perutnya.


Sepertinya dia benar-benar menyesali perbuatannya, benar kata kak Bram dan kak Diana...aku harus membuka pintu maafkan untuknya. Walau tindakan bohong itu sebenarnya tidak dibenarkan.


Mendengar Amayra mendesah, membuat Bima khawatir karena mengira Amayra akan marah lagi padanya. "Tolong tenang, jangan emosi...dokter bilang kamu gak boleh emosi dan stress nanti anak kamu kenapa-napa." ucap Bima dengan kening berkerut. Dia memerhatikan Amayra sampai dia selalu ingat ucapan dokter terakhir kali.

__ADS_1


"PFut... hahahaha..." Amayra tiba-tiba tertawa.


Apa dia menjadi gila? Atau dia sangat kesal padaku sampai tertawa seperti itu?. Bima semakin cemas saat melihat Amayra tiba-tiba saja tertawa.


"Apa perlu aku panggil kak Diana untuk memeriksa mu?" tanya Bima dengan wajah polosnya.


"Tidak perlu, saya baik-baik saja." jawab Amayra formal pada Bima.


"Terus...apa kamu memaafkanku?" tanya Bima dengan harapan penuh untuk dimaafkan Amayra. Kedua tangannya terkatup memohon padanya.


"Iya, saya memaafkan anda tapi...tindakan bohong itu tidak dibenarkan. Islam selalu mengajarkan kita untuk selalu jujur, apa anda tau perintah jujur yang Allah tegaskan dalam Al - Qur'an berada dalam surat At - Taubah ayat 119 yang artinya... "Maka berbohong merupakan perbuatan dosa karena telah menyalahi perintah Allah SWT. Dan perbuatan bohong berpotensi menjadi dosa berakar karena setiap kebohongan pasti akan ditutupi oleh kebohongan. Dan setiap kebohongan akan berpotensi menjadi dosa jariyah bilamana kebohongan tersebut banyak yang mempercayai dan menyebarkannya." Saya harap anda selalu ingat ini." jelas Amayra panjang lebar menceramahi Bima tentang perilaku jujur.


Bima melongo mendengar penjelasan Amayra. "Subhanallah..." hanya kata itu saja yang dia ingat ketika mendengar atau melihat hal-hal baik.


Kamu sangat beruntung Satria, dimana lagi ada wanita seperti ini. Dia satu dari sejuta, mungkin aku mencarinya sampai ke ujung dunia pun akan sulit menemukan wanita seperti ini. Bima kagum pada wanita berhijab dan selalu menutup auratnya itu.


"Salah, bukan Subhanallah...tapi Masya Allah, jangan sampai anda mengsalahartikannya." Amayra meralat ucapan Bima.


"Memang Masya Allah sama subhanallah apa bedanya? Bukannya sama aja ya?" tanya Bima sambil menggaruk-garuk telinganya dengan bingung.


"Tidak jarang kita juga keliru dalam mengamalkan kedua lafaz tersebut. Banyak yang mengucapkan subhanallah ketika menjumpai sesuatu yang menakjubkan. Padahal seperti sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan Abu Hurairah, penggunaan subhanallah ditujukan untuk hal-hal yang mengherankan, aneh, tidak lazim, dan bersifat negatif. Sementara itu, lafaz masyaallah mestinya digunakan untuk mengekspresikan rasa kagum kepada Allah SWT saat melihat sesuatu yang indah, membahagiakan, dan bersifat baik. Begitulah perbedaannya mas Bima." ucap Amayra menjelaskan perbedaan subhanallah dan masyaallah pada Bima.


Deg!


Bima terdiam mendengar ceramah dari wanita itu, dia hanya manggut-manggut saja. "Kalau begitu, saya permisi dulu...sudah waktunya istirahat."


"Tolong tunggu sebentar, ini martabaknya dan juga...tentang Clara!" Bima meminta Amayra menunggu sebentar.


Akhirnya Amayra mengajak Bima masuk ke dalam kamar yang ada Satria disana. Pintu kamarnya dibuka lebar, agar tidak menimbulkan fitnah. Amayra bicara dengan Bima sambil memakan martabak yang dibelikan oleh Bima. "Jadi, mas Bima mau membuat Clara mengakui semuanya dengan mulutnya sendiri?"


"Iya dan aku membutuhkan bantuan kamu untuk berakting. Apakah bisa?" tanya Bima sambil melihat wanita yang sedang makan dengan lahap itu.


"Dia sudah membuat saya dan mas Satria kecelakaan, sampai membuat mas Satria koma... saya gak akan biarkan dia bebas begitu saja. Saya setuju untuk berakting sampai Clara mengaku!" kata Amayra setuju.


"Baiklah, bagus kalau kamu setuju."


"Jadi peran apa yang harus saya mainkan?" tanya Amayra penasaran.


"Istri tersakiti," jawab Bima sambil tersenyum licik.


"Hah? Istri tersakiti?" Amayra bingung seperti apa peran istri tersakiti itu.


*****

__ADS_1


Di rumah Clara.


Clara baru saja pulang dari makan malam bersama Bima, dia merebahkan tubuhnya diatas ranjang empuk di kamarnya dengan perasaan bahagia.


"Haaahh....kak Satria ternyata benar-benar hilang ingatan. Astaga! Aku sangat senang sekali, aku bisa mendekati kak Satria sekalian membujuk dia agar membebaskan papa dari penjara. Besok, dia mengajakku jalan lagi...aku harus pamer sama si wanita kampung itu, biar dia tau rasa!" Clara senyum-senyum sendiri memikirkan Bima.


...*****...


Hai Readers ku tersayang 😍😍 sambil nunggu up novelku, boleh mampir kesini dulu.. ceritanya keren banget karya author Ramanda 😍😍❤️


*****


Cuplikan di Bab: Punya Suami Tua.


"Dhita! Kamu bikin kaget saya saja! Mau ngapain kamu turun disini hah? Sekolah kamukan masih lumayan jauh dari sini!" tegur Adnan terlihat kesal karena mendengar teriakkan Kirana.


"Maaf Pak sudah bikin Pak Guru kaget, tapi saya ingin turun disini saja Pak, karena saya nggak mau teman-teman melihat saya turun dari mobilnya Pak Guru."


Adnan mengerenyitkan dahinya, setelah mendengar perkataan Kirana. "Kenapa emangnya kalau mereka tahu hm? Apakah kamu malu, turun dari mobilnya saya hm?"


"Bukan malu Pak, saya hanya males saja, menjawab pertanyaan mereka, kalau mereka tahu saya turun dari mobilnya Pak Guru," jelas Kirana, yang sebenarnya ia memang tak ingin teman-temannya tahu kalau sebenarnya ia telah menikah dengan idolanya mereka.


"Ya kamu tinggal jawab saja kok susah sih! Bilang sama mereka, kalau kamu diantar oleh suami kamu, bereskan?"


"Tidak, tidak, tidak! Pokoknya Saya tidak mau mereka tahu kalau saya istrinya Pak Guru titik!"


"Kenapa emangnya kalau kamu istrinya saya hm?"


"Malulah Pak, masa saya menikah sama orang yang sudah tua sih! Apa kata mereka nanti? Pasti mereka akan meledek saya, punya suami tua!" jawab Kirana dengan spontan. Tanpa memikirkan perasaan Adnan.


Adnan tersenyum miris mendengar perkataan Kirana, lalu ia mendekatkan wajahnya tepat didepan wajahnya Kirana seraya berkata.


"Apakah wajahku sudah terlihat tua dimatamu hm?"


Kirana amat kaget, saat melihat wajah tampan Adnan yang begitu dekat dengannya. Dan dengan spontan jantungnya berdetak begitu kencang. Membuat tubuhnya seketika membeku, bahkan nafasnya seakan ikut berhenti. Dan tatapan matanya terkunci pada wajah Adnan yang begitu dekat dengannya, yang hanya terpisah beberapa senti saja dari wajahnya.


"Kenapa Diam hm? Apakah Suami kamu ini sudah terlihat tua Kana?" tanya Adnan kembali. Dan seketika Kirana pun tersadar, wajahnya langsung memerah saat menyadari mereka begitu dekat. Dan dengan spontan ia mendorong wajahnya Adnan.


"Aaaah..! Pak Guru! Sanaaa!" pekik Kirana sambil menyorong wajah Adnan dengan lima jarinya. Lalu dengan cepat ia pun keluar dari mobilnya Adnan dan langsung berlari tunggang langgang, menuju ke sekolahnya yang masih lumayan jauh dari tempat mobil Adnan terparkir.


"Hahahaha.. lucu sekali sih, wajah Istri kecilku kalau sudah memerah begitu, bikin gemas saja, hahaha,"


Mau tau kelanjutannya? Silahkan mampir ya 😍😍

__ADS_1



__ADS_2