
Satria sudah memiliki niat untuk menghubungi Amayra dan meminta maaf padanya. Namun dia selalu sibuk kesana kemari menangani pasien yang terluka, korban dari badai Idai yang jumlahnya terus bertambah. Belum lagi ada ancaman badai susulan.
Relawan dari berbagai belahan dunia, saling bahu membahu ikut membantu korban bencana alam itu.
...*****...
Keesokan harinya, Amayra bersiap pergi ospek hari kedua. Dia meminta izin kepada ibu mertuanya untuk membawa Rey ke kampus. Tentu saja Nilam melarangnya.
"Kamu mau bawa Rey ke kampus? Apa kamu gak waras? Anakmu masih kecil, mau kamu bawa ke kampus panas-panasan sama kamu?" Nilam bicara sambil bertolak pinggang, dia tidak sepaham dengan Amayra. "Ohh.. apa jangan-jangan kamu berfikir kalau mama tidak bisa menjaga Rey dengan baik?"
"Astagfirullah ma.. gak ma, bukan gitu maksud May.." Amayra langsung menyanggah ucapan Nilam.
"Apa sih ini? Pagi-pagi sudah ribut?" tanya Bram yang sedang menuruni anak tangga.
Bram mendekati Amayra, Rey dan Nilam.
"Ini nih, masa adik ipar kamu mau bawa Rey ke kampus?" tanya Nilam emosi.
"Amayra pasti punya alasan kenapa dia pengen bawa Rey ke kampus. Ya kan May? Kenapa kamu mau Rey ke kampus?"
"Aku cuma gak mau ninggalin Rey di rumah," jawab wanita itu dengan kepala yang menunduk. Sebenarnya dia tidak nyaman meninggalkan Rey yang menangis di rumah.
"Di rumah kan ada mama.. papa, Bi Lulu, bi Dewi sama yang lainnya. Kenapa kamu mau bawa Rey? Apa karena kemarin Rey menangis?"
"Iyah..."
"Itu kan karena dia belum terbiasa, gak apa-apa. Jangan bawa Rey, dia gak akan kenapa-napa kok. Kamu ke kampus saja, tapi jangan lupa kabarin orang rumah kapan kamu pulang.. agar orang rumah gak khawatir," Bram membujuk Amayra, agar dia tidak membawa Rey ke kampus.
Setelah menyiapkan keperluan Rey, termasuk air susunya yang disimpan didalam botol kulkas. Amayra pamit pada orang rumah, dia pergi diantar oleh Bram yang kebetulan akan berangkat ke kantor.
Disepanjang perjalanan Amayra hanya diam saja dengan wajah lesu tak bersemangat. "May, apa kamu udah sarapan?" tanya Bram yang sedang menyetir.
"Udah," jawabnya singkat.
"Terus kenapa lesu begitu? Semangat dong, ini kan ospek hari kedua!" Bram menyemangati Amayra.
__ADS_1
"Iya kak," jawabnya singkat lagi.
"Ada apa sih? Bukannya semalam kamu habis teleponan sama Satria?" tanya Bram heran. Biasanya setelah Satria menelpon Amayra, wanita itu menjadi semangat dan kadang senyum-senyum sendiri. Tapi kali ini malah terlihat sangat galau.
"Gak ada apa-apa kak," jawab
"Ya sudah kalau kamu tidak mau cerita. Aku tidak akan maksa, tapi kalau kamu ada masalah jangan dipendam sendiri.. ada baiknya kamu cerita biar orang-orang di sekitar kamu bisa membantu kamu. Kalaupun gak bantu, setidaknya mereka bisa mendengarkan kamu agar beban hatimu sedikit berkurang," ucap Bram sambil tersenyum, dia menjadi bijaksana sejak tanggal pernikahannya dan Diana sudah ditentukan. Bram berubah menjadi pria yang lebih dewasa dan bertanggungjawab.
Amayra mendengarkan Bram, kemudian dia berterimakasih pada Bram karena sudah bicara dengannya. Akhirnya Amayra menceritakan sedikit tentang masalahnya dan Satria, Bram berjanji akan membantu bicara dengan Satria agar dia tidak salah paham lagi padanya.
Sesampainya didekat kampus, Amayra turun didekat tempat pemberhentian angkot. "Kenapa turun disini?"
"Aku gak mau orang-orang tau kalau aku diantar mobil ke kampus. Aku takut disangka pamer kak.."
"Apa? Ah ada-ada saja kamu.. ya sudah aku berangkat ya, kamu semangat! Fokus pada ospeknya, Rey akan baik-baik saja di rumah.." Bram menenangkan Amayra.
"Iya kak makasih ya, sudah mau mendengarkan aku."
"Sama-sama. Assalamualaikum,"
Amayra melihat mobil Bram sudah jauh darinya. Dia pun berjalan masuk ke area kampusnya, disana dia bertemu dengan Lisa dan Anton. Mereka saling menyapa dan mengobrol tentang tugas ospek.
Ditengah-tengah obrolan itu, Ken muncul dan dengan sengaja dia menubruk Amayra hingga jatuh ke aspal.
"Innalilahi!" pekiknya terkejut.
"Aduh.. sorry, tangan gue tergelincir," Ken tersenyum puas melihat Amayra jatuh.
"Lo gak apa-apa May?" tanya Anton sambil mengulurkan tangannya pada Amayra.
Amayra menolak uluran tangan dari pria yang bukan muhrimnya itu. Akhirnya dia ditolong oleh Lisa. "May, kamu gak apa-apa?" tanya Lisa cemas.
"Gak apa-apa kok," jawab Amayra sambil memalingkan wajahnya dari Ken yang terus meliriknya.
Ken sebal karena wanita itu berpaling darinya, padahal dia ingin diperhatikan dan dimarahi oleh Amayra. Tapi wanita itu malah cuek-cuek saja.
__ADS_1
Hah! Jadi kamu mau main tarik ulur ya? Oke, akan aku buat kamu marah padaku! Sampai kamu melihatku!
Ken malah semakin tertantang untuk menganggu gadis itu.
Para mahasiswa baru berkumpul di lapangan, mereka membuat game persahabatan agar para mahasiswa baru saling mengenal satu sama lain. Berbagai game dijalani oleh Amayra, tapi saat ada game berpasangan dengan pria. Amayra menolaknya.
"Kenapa Lo nolak main game nya? Lo gak mau tim kita menang, hah?" tanya Ken kesal karena Amayra mundur dari permainan pasangan itu.
"Maaf, tapi aku gak bisa ikut kalau pasangannya sama orang yang bukan muhrimku!" tolak Amayra tegas.
"Sok suci banget Lo... kemarin aja Lo meluk meluk gue kan?" Ken menatap kesal pada Amayra. "Jangan lebay deh Lo, ini kan cuma games doang? Jangan sok suci deh!"
"Diam kamu! Dari tadi kamu terus ganggu aku, lagian kakak senior juga udah bilang gak apa-apa kan? Ya sudah kamu pasangan aja sama yang lain," ucap Amayra sambil melangkah pergi dengan kesal.
Cowok ini kenapa sih? Gangguin terus, kekanakan! Astagfirullah.. aku jadi gibah dalam hati kan?
Dari pagi dia terus diganggu oleh Ken, pria itu seperti sengaja ingin memancing emosinya. Apalagi Ken sangat percaya diri kalau Amayra yang cuek itu karena naksir padanya dan ingin menarik perhatiannya.
"Gue maunya main games sama Lo! Lo kan pasangan gue!" Ken menarik tangan Amayra dengan paksa.
"Ka-kamu apa apaan sih? Lepasin tanganku gak?" Amayra berteriak meminta Ken melepaskan tangannya. Gadis itu meronta, matanya menatap tajam pada Ken.
"Kenapa? Bukannya Lo senang ya gue pegang-pegang kaya gini? Bilang jujur aja deh? Lo senang kan?" tanya Ken sambil memegang tangan Amayra dengan erat.
"Kamu! Lepasin gak!" Amayra kesal dan menolak.
"Hei ada apa ini? Ken, Lo kenapa sih daritadi gangguin Amayra terus?" tanya Anton yang akhirnya marah karena dia tau kalau daritadi Ken terus mencari masalah pada Amayra.
Amayra melepaskan dirinya dari Ken dengan mengigit tangannya. Tak sengaja Ken refleks dan mendorong Amayra. "Auw!!"
Wanita itu terjatuh ke lantai lapangan dan jatuh tidak sadarkan diri, "Astaga! Mayra!" Teriak Lisa panik melihat temannya tidak sadarkan diri dengan kepala berlumuran darah.
"Ken! Lo gila ya??" Anton melotot pada Ken, tanpa peduli siapa Ken.
"Gue.. gue.. "Wajah Ken pucat melihat Amayra tak sadarkan diri.
__ADS_1
...----****----...