
...🍀🍀🍀...
"Maaf, apa bapak kenal dengan Amayra?" tanya Ken sambil mengerahkan foto itu pada Harun.
"Kamu kenal sama anak saya?" tanya Harun sambil tersenyum ramah.
"Iya, saya teman kuliahnya pak. Jadi bapak adalah bapaknya?" tanya Ken dengan senyuman lembut dan sopan.
Kebetulan sekali, aku bertemu orang yang tepat untuk menanyakan masa lalu Amayra.
"Iya benar,"
"Pak, kenalkan nama saya Kenan! Saya teman kampus Amayra," ucap Kenan sambil mengulurkan tangan pada Harun.
Mereka pun berkenalan, lalu duduk di kursi taman rumah sakit. Kenan berusaha untuk mengorek informasi tentang wanita yang dia taksir dan juga wanita yang sedang dia coba lupakan.
"Kamu jangan bilang sama Amayra ya, kalau saya ada disini."
"Loh? Kenapa pak?" tanya Ken sambil memberikan sepotong kue yang dibawanya untuk sang Tante dan dia berikan pada Harun.
"Amayra tidak tau kalau saya sedang sakit. Hari ini saya akan operasi," ucap Harun sambil tersenyum pahit. "Selama ini anak saya sudah terlalu banyak menderita, Allah selalu saja mengujinya. Jika dia tau kalau saya sakit, dia pasti akan terbebani dengan keadaan saya.."
"Pak, bukannya saya ikut campur..tapi seharusnya Mayra tau tentang kondisi bapak saat ini," ucap Ken menyarankan, dia menatap Harun dengan cemas.
"Tidak.. jangan, saya tidak boleh menjadi beban untuknya. Saya akan sembuh setelah operasi, setelah itu saya mengatakan kalau saya pernah sakit. Saya mohon, jangan bilang sama Amayra ya?" pria paruh baya itu memohon pada Ken untuk merahasiakan pertemuannya dengan Harun disana.
"Baik pak, saya janji.. bapak tidak usah cemas,"
Kenapa perasaan ku tidak enak begini melihat bapaknya Amayra? Wajahnya pucat sekali, apa benar dia akan baik-baik saja?
"Makasih ya Kenan. Selama ini Amayra tidak pernah hidup bahagia bersama saya, setidaknya saya tidak mau membebaninya. Dari kecil sampai dewasa, Amayra anak saya.. selalu menjadi kebanggaan. Dia tidak pernah malu dengan saya yang hanya memiliki profesi sebagai tukang sampah. Dia selalu mendapatkan juara kelas dan selalu tersenyum ramah. Tak pernah lupa akan kewajibannya kepada Allah, tapi saat mau lulus ujian...kamu tau kan?"
"Ahh .. iya pak saya tau, kejadian itu kan?" Ken pura-pura tau tentang Amayra.
Aku iyain aja deh.
__ADS_1
"Kalau saja Amayra tidak pergi ke villa itu dan kalau saja saya melarangnya. Amayra tidak akan diperkosa oleh pria yang sedang mabuk. Dia juga hamil setelahnya, bisa kamu bayangkan betapa hancurnya hati Amayra saat itu? Dan waktu itu saya tidak tau apa-apa.." Harun menceritakan masa lalu Amayra, entah kenapa pria itu jadi terbawa perasaan.
Deg!
Ken menelan salivanya, saat mendengar fakta tentang Amayra. Bahwa gadis itu pernah diperkosa bahkan sampai hamil? Jadi ini yang dimaksud oleh Reina, pikirnya dalam hati.
"Ketika Amayra sedang masanya untuk meraih mimpi, mimpi itu malah harus terputus. Pria yang menghamili Amayra, saat itu kabur dan meninggalkannya."
"Lalu.. suami Amayra saat ini? Apa dia bukan ayah dari bayinya? Maaf pak...kalau yang ini saya tidak tahu," ucap Ken dengan kening berkerut.
Ya Allah, aku tidak menyangka kalau Amayra melalui banyak hal berat dalam hidupnya.
"Bukan, dia adalah adik dari pria itu. Tapi.. dia adalah pria yang baik, mungkin juga dia adalah Malaikat dalam wujud manusia yang dikirimkan Allah untuk menjaga anak dan cucu saya." ucap Harun sambil tersenyum bangga dengan menantunya.
Setelah hampir setengah jam mengobrol, Harun kembali ke dalam rumah sakit. Tak lama lagi dia akan di operasi. Ken mengikuti Harun sampai ke depan ruangannya. Dia melihat pintu yang dimasuki Harun adalah pintu tempat dokter spesialis otak.
"Maafkan saya pak, tapi saya harus mengingkari janji saya dan memberitahu Amayra. Karena ini adalah masalah besar, Amayra akan sedih kalau bapak kenapa-napa.."' ucap Ken sambil tersenyum tipis.
Dia pergi dari rumah sakit dan berniat menemui Amayra untuk memberitahukan kondisi Harun.
...****...
Clara terperangah tak percaya karena ini tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan. Bukannya mendapatkan Satria, karirnya malah terancam putus ditengah jalan.
Satria menelan kekecewaan yang sama, sakit hati difitnah dan di permainkan. Akhirnya dia mulai angkat bicara, "Pak, saya tidak akan memilih diantara keduanya!"
"Dokter Satria, apa anda sedang melawan otoritas saya sebagai atasan kamu?" tanya Dokter Daniel tajam.
"Maaf pak, tapi saya tidak bersalah! Saya tidak akan mengundurkan diri ataupun turun jabatan, setelah semua yang saya lakukan disini!"
"Kamu sudah kehilangan moral sebagai seorang dokter dan malah berzina dengan dokter Clara. Katakan pada saya, dimananya kamu tidak bersalah disaat bukti sudah didepan mata?" Dokter Daniel tetap pada spekulasinya.
"Apa yang terlihat belum tentu seperti apa yang dokter Daniel pikirkan. Allah maha melihat dok, Allah melihat bahwa bukan saya yang menodai dokter Clara tapi dokter Clara yang menggoda saya!" Satria berada didalam emosi, kepalanya berapi api. Dia menunjukkan jari telunjuknya pada Clara dengan murka.
"Tidak dok! Itu tidak benar! Kak Satria kenapa kakak terus menyangkal? Sudahlah, kita akui saja semuanya kalau kita memang memiliki hubungan.."
__ADS_1
"DIAM!" teriak Satria malah.
Dia tak terima difitnah oleh Clara dan Satria semakin ilfeel pada Clara. Dia jijik dengan wanita yang sudah merendahkan dirinya sendiri demi Satria. Selama ini Clara selalu mengganggunya dan Satria juga selalu sabar karena Clara adalah putri dari dokter Candra, atasannya. Tapi sekarang dia tidak akan tinggal diam lagi..
"Tapi dokter Satria, ada buktinya disini! Kalau kamu bisa membuktikan kamu tidak bersalah, saya akan lepaskan kamu dan menghukum dokter Clara seperti yang seharusnya!" kata Dokter Daniel tegas.
"Saya senang karena dokter Daniel masih memihak kebenaran. Maka akan saya ceritakan sebuah kisah yang singkat, kisah ini berhubungan dengan insiden yang sedang saya alami.." ucap Satria sambil menatap Clara dengan marah.
Satria menceritakan tentang kisah nabi Yusuf dan Zulaikha. Dimana Zulaikha mencoba menggoda nabi Yusuf dan dia juga akan berusaha membuktikan bahwa dia tidak bersalah dengan cara yang sama. "Dokter, jika saya yang menodai dokter Clara atau bercinta dengannya. Kenapa di tubuh dokter Clara terlihat ada tanda merah atau bekas bercinta? Kenapa malah bekas lipstiknya yang ada di tubuh dan baju saja? Lalu kenapa baju saya yang robek?"
Clara mulai deg degan, dia tidak menyangka kalau Satria akan melawan dan tidak diam saja.
"Dokter Satria, apa itu bisa dijadikan bukti?"tanya dokter Daniel tidak percaya begitu saja dengan apa yang dilihatnya pada Satria.
Memang benar, ditubuh Satria ada tanda merah itu.. tapi ditubuh dokter Clara tidak ada. Dokter Satria tidak terlihat takut, jelas dalam beberapa hari ini dokter Clara yang mendekatinya dan dokter Satria tidak terlihat tertarik padanya. Tapi bisakah aku menyinggung putri dari pemilik saham terbesar di rumah sakit?
Seorang dokter menerobos masuk ke ruangan itu, dia adalah teman dokter Daniel. Dia bersaksi bahwa Clara yang datang ke kamar Satria saat Satria sedang ganti baju. "Apa itu benar dokter Clara? Kamu yang sudah menggoda dokter Satria lebih dulu?" tanya dokter Daniel menghakimi.
Clara menangis, mengepalkan tangan dengan kesal. "Saya.. saya memang melakukannya," ucap Clara dengan tangan gemetar menahan marah dan malu.
"Jadi, sudah jelas bahwa bukan saya yang bersalah. Dokter Daniel, jadi saya tidak akan pernah mengundurkan diri! Sebaliknya Anda harus menghukum dokter Clara,"
Ya Allah, terimakasih telah membukakan jalan untukku keluar dari fitnah ini. ucap Satria penuh syukur didalam hati.
Dokter Daniel melihat Clara dengan bingung. Dia berkata akan memikirkan hukuman yang tepat untuk Clara setelah berdiskusi dengan dokter lain. Satria dipersilahkan oleh keluar dari basecamp disipliner, sementara Clara masih disana bersama dokter Daniel.
"Terimakasih ya dokter Juan, dokter sudah membantu saya.."
"Tidak usah berterimakasih pada saya, ini sudah seharusnya saya membantu dokter Satria yang sedang kesulitan."
"Saya hampir saja kehilangan pekerjaan saya bahkan rumah tangga saya, syukurlah ada anda membantu saya," ucap Satria berterimakasih pada dokter Juan.
Saat sedang berjalan kembali ke basecampnya, dokter Erlan menghampiri Satria dan berkata bahwa komunikasi sudah tersambung, bandara juga sudah mulai beroperasi kembali. Satria senang mendengarnya, dia segara pergi ke kamarnya untuk mengambil ponsel dan menelpon Amayra.
Sayang, aku akan pulang.. tunggu aku ya. May, Rey...
__ADS_1
Tut... Tut...
...----****----...