Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 234. Jalan bersama


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Tangan Diana gemetar, seperti kena serangan batin saja. Walau dia sudah tau alasan kenapa Bram meminta cerai, tetap saja hatinya sakit dengan keputusan Bram untuk melepaskannya.


"Mas...kamu suruh aku tandatangani ini?" Tanya Diana dengan suara meninggi.


"Iya, tandatangani itu." jawab Bram dingin.


Diana merobek-robek surat cerai yang sudah ditandatangani oleh suaminya itu. Dia melempar kertas itu ke arah suaminya. "Diana!"


"Aku tidak mau mas, aku tidak akan bercerai dari kamu...aku tidak mau." Diana menggelengkan kepalanya, butiran kristal jatuh dari kedua matanya.


Bram menatap istrinya. "Aku akan siapkan surat yang baru besok," ucap Bram sambil duduk diatas ranjang.


"Mas...apa kamu pikir dengan seperti ini akan menyelesaikan masalah?" tanya Diana marah.


"Kamu harus melanjutkan hidup, kamu masih muda dan kamu bisa mendapatkan pria yang lebih baik dariku di luar sana. Kamu tidak harus terjebak pernikahan selamanya dengan pria seperti aku!"


"Mas....kumohon jangan bicara begitu, kita ini sudah menikah. Kita sudah berjanji untuk selalu hidup bersama dalam suka dan duka, apa kamu lupa?" Diana mendekati suaminya, lalu dia memegang tangannya. "Mas, jangan ambil keputusan gegabah karena kamu sedang sedih dan kecewa, memangnya kamu rela kehilanganku? Apa kamu rela aku bersama pria lain?"


Bram tercekat mendengar ucapan Diana, sudah jelas dari raut wajahnya saja dia tidak rela bila Diana bersama pria lain. "Mas, masih ada jalan keluar dari semua masalah ini."


"Lalu apa jalan keluar itu?" tanya Bram sedih.


"Kita bisa mengadopsi anak. Masih ada cara lain kan mas?". jawab Diana memberikan solusi.


"Diana..."


"Mas, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Allah pasti akan memberikan jalan terbaik untuk umat-nya, kita akan berusaha untuk mencari jalan keluar bersama-sama. Kita akan jalan bersama dalam suka dan duka, aku tidak akan meninggalkan mas Bram karena masalah ini." Diana memeluk suaminya seraya menenangkan luka di hati Bram karena keadaannya.

__ADS_1


"Diana..."


"Karena itu, mari kita berjalan bersama, berdoa, berusaha, semoga Allah memberikan jalan terbaik untuk kita. Man Jadda wa Jadda, mas..." Diana tersenyum tenang menguatkan Bram yang sedang rapuh itu.


"Diana, kamu bersungguh-sungguh ingin tetap bersamaku kan? Walau keadaanku seperti ini?" tanya Bram pada istrinya.


"Kenapa mas menanyakan hal yang sudah pasti? Tentu saja aku akan selalu bersama mas Bram, kita sudah melakukan janji pernikahan...bagiku ini adalah pernikahan terakhir dalam hidupku, begitu juga dengan kamu mas...kamu cinta terakhir dalam hidupku."


"Diana.. aku benar-benar kehilangan kata-kata, aku tidak menyangka bahwa kamu akan tetap bersamaku meski aku seperti ini." Bram menyeka air matanya, dia juga merasa malu karena malah meminta Diana untuk bercerai darinya.


"Mas..." Diana meraih dan menggenggam tangan suaminya. Matanya menatap Bram penuh perasaan. "Kita gak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, siapa tau Allah memberikan jalan keluar dan terbaik untuk kita. Mungkin ini adalah ujian agar keimanan kita bertambah kepada Allah SWT, jadi kita harus bisa melewatinya. Amayra selalu bilang kalau setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Allah tidak akan menguji manusia di luar batas kemampuannya, aku percaya itu mas...dan kita juga harus mempercayainya."


Hati Bram terhenyak mendengar perkataan Diana yang menyejukkan perasannya itu. Dia memeluk Diana dan berjanji akan melewati setiap masalah dan cobaan rumah tangga mereka bersama-sama.


"Aku sayang kamu Diana, tidak...bukan sayang saja tapi cinta. Kamu, adalah orang yang paling berharga dalam hidupku." Bram menyisir rambut Diana yang tergerai itu dengan tangannya. Bram menatap istrinya dengan tatapan penuh perasaan.


"Aku juga sayang kamu mas, sangat." Diana balas mengatakan cinta pada suaminya.


🍀🍀🍀


Tak terasa waktu berlalu dengan cepat, hanya tinggal 1 Minggu lagi menuju ke pernikahan Anna dan Ken. Bram dan Diana juga sudah pindah dari rumah keluarga Calabria dengan alasan untuk hidup mandiri. Satria dan Amayra juga pindah ke rumah mereka yang sudah lama tidak mereka tinggali.


Suatu pagi yang sepi di rumah Calabria, Nilam terlihat sedang bersandar didepan pintu sambil melamun dan menyilangkan kedua tangannya didada.


"Opa...lihat Oma tuh!" tunjuk Anna pada Omanya yang berdiri mematung di dekat pintu rumah.


Cakra menatap punggung istrinya dari belakang, dia menghela nafas. "Haahhh.. Oma kamu begitu lagi."


"Iya opa, sejak om Bram dan om Satria pindah...Oma jadi sering melamun." ucap Anna khawatir pada Nilam.

__ADS_1


"Benar, sepertinya Oma kamu sudah mulai merasakan sesuatu."


Apa Nilam sudah menyadari kesalahannya?


"Sesuatu apa Opa?" tanya Anna bingung.


"Merasakan sesuatu bahwa Oma kamu harusnya bersikap baik pada anak-anaknya." ucap Cakra sambil menghela napas.


Cakra berjalan mendekati Nilam, ia menepuk bahunya. "Ma, kenapa mama melamun? Ini masih pagi ma?"


Nilam membalikan wajahnya, terlihat matanya merah dan sembab. Ternyata Nilam bukan hanya sekedar melamun. "Ma, mama nangis? Kenapa?"


"Pa...kenapa Bram sama Satria dan istri mereka pergi meninggalkan rumah ini? Rumah kan jadi sepi, belum lagi nanti Anna pergi juga dibawa suaminya. Terus mama sama papa cuma berdua saja?" Nilam menangis sedih.


"Kenapa mama tanya kenapa? Bukankah mama sudah menyadari apa yang membuatnya seperti ini. Coba saja kalau mama bersikap lebih baik pada Bram, Satria, Amayra dan Diana...mereka pasti gak akan pindah dan tetap betah tinggal disini."


Nilam termenung mendengar ucapan suaminya. Dalam hati dia membenarkan ucapan Cakra, bahwa kedua anaknya pergi dari sana bersama menantu mereka karena sikap Nilam yang tidak baik.


"Ma, kita sudah semakin tua...kita pasti akan sakit-sakitan dan suatu saat nanti kita akan membutuhkan anak,menantu dan cucu kita untuk merawat kita. Kalau kita tidak sayang dan baik pada mereka, masa tua kita bagaimana ma?" Cakra bicara untuk mengingatkan istrinya bahwa dia harus baik pada anak, menantu dan cucunya.


"Papa benar, mama salah pa...mama tidak mau hidup kesepian..hiks." Nilam meratapi kesepian di rumah itu tanpa anak dan menantunya.


"Kalau gitu, mama ubah sikap mama pada mereka. Apalagi pada kedua menantu kita, mama juga jangan lupa walau Satria bukan anak kandung mama tapi Satria sayang sama mama. Mama juga harus bersyukur karena kita dikaruniai dua menantu yang sholehah." jelas Cakra pada istrinya.


"Iya pa, Satria juga anak mama kok. Mama juga yang mengurus Satria dari kecil...mama gak mau kesepian pa." ucap Nilam sedih.


"Iya sudah sekarang mama mau bagaimana?"


"Mama mau ke rumah Bram dan Diana, mama mau minta maaf sama mereka terus mama mau ke rumah Amayra dan Satria juga." kata Nilam sambil menyeka air matanya, dia sudah bertekad untuk meminta maaf.

__ADS_1


"Ya udah, papa temenin mama ya." ucap Cakra sambil tersenyum.


...*****...


__ADS_2