Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 191. Kemesraan


__ADS_3

"Jambu ngidam? Memangnya ada ya nama jambu...jambu ngidam?" Bram mendongak ke arah Satria dengan kening mengernyit.


"Nanti saja aku jelaskan, aku mau ngambil buah jambu dulu ya kak." Satria menepuk bahu kakaknya, dia terlihat buru-buru.


"Mas, ayo!" Amayra melambaikan tangannya pada Satria meminta pria itu untuk cepat pergi.


"Kak, aku pergi dulu. Amayra sama baby ku udah gak sabar." Satria menggelengkan kepala sambil tersenyum manis.


Bram pergi ke lantai atas, sementara Satria dan Amayra pergi mengendarai mobil. Mereka akan pergi ke tempat Amayra menginginkan jambu itu.


Beberapa menit kemudian, mereka sampai didepan sebuah rumah. Dimana Amayra menemukan pohon jambu yang dia inginkan. "Mas, ini pohon jambunya! Aku mau jambu dari pohon ini." Amayra tersenyum bahagia ketika dia melihat pohon jambu itu.


Padahal jambu jambu yang ada di rumah terlihat lebih segar dari jambu di pohon itu. Emang dasar wanita hamil.


"Ya, aku minta izin sama pemilik rumahnya dulu ya untuk mengambil buah jambunya." Satria mengelus kepala istrinya sambil tersenyum.


"Iya!" matanya berbinar-binar bahagia.


Satria mengetuk pintu rumah itu bersama istrinya. Mereka meminta izin pada si pemilik rumah untuk mengambil buah jambu. "Silahkan Mas, mbak." ucap ibu pemilik pohon jambu itu sambil tersenyum ramah.


"Makasih ya Bu. Mas, aku ambil dulu buah jambunya ya." Amayra melangkah dengan semangat ke arah pohon jambu.


Satria menahan tangan Amayra, "Eh, kok kamu sih?" Satria keheranan.


"Aku mau ambil sendiri jambunya, aku mau naik kesana." Amayra menunjuk ke arah pohon jambu.


"Aduh mbak, masa mbak yang naik. Biar suami mbak aja yang naik." kata si ibu pemilik pohon jambu itu


"Tapi.. aku mau ambil sendiri mas.." Amayra merengek pada Satria ingin mengambil buah jambu itu sendiri.


"Sayang.."


Amayra memegang perutnya, dia menundukkan kepalanya dengan wajah memelas. Ibu pemilik pohon jambu itu akhirnya paham mengapa tingkah Amayra terasa aneh.


"Mas, udah turutin aja permintaan istrinya. Nanti anaknya ileran loh," ucap ibu itu.


"Apa ibu tau istri saya lagi hamil?" Satria menatap ke arah Amayra yang terlihat sedih.


"Iya Mas saya tau. Udah gini aja, mas gendong istrinya terus ambil buah itu." bisik si ibu memberikan idenya.


Satria tersenyum dia pun menghampiri Amayra yang kini berdiri dibawah pohon jambu. "Sayang, kamu mau ambil buah jambunya sendiri kan?" tanya Satria.


Aku memang tidak bisa bilang tidak padamu, May.


"Iya."


Satria menggendong istrinya, mengangkat tubuh ibu hamil itu ke atas. "Mas!" pekik wanita itu terkejut karena tiba-tiba digendong oleh suaminya.


"Ayo ambil buahnya," Satria mendongakkan kepalanya ke arah Amayra.


"Iya Mas." Amayra mengulurkan tangannya ke atas, berusaha menggapai buah jambu yang ada di atas pohon itu. "Mas, sedikit lagi.."


"Iya sayang." Satria menaikkan Amayra semakin ke atas. Hingga dia berhasil menggapai buah jambu yang diinginkannya.


Ibu pemilik buah jambu itu, tersenyum melihat kebahagiaan Amayra dan Satria yang sedang memetik buah jambu.


"Aku sudah dapat, yeeeahh!!" Amayra tersenyum lebar, setelah dia mengambil sebuah jambu.


"Sayang, ambil lagi dong." ucap Satria pada istrinya, karena Amayra hanya mengambil satu buah jambu.

__ADS_1


"Gak mas, udah. Turunin aku sekarang." pinta Amayra pada suaminya.


Satria mendesah tak percaya, mereka jauh-jauh ke rumah si ibu itu hanya untuk mengambil satu buah jambu. Setelah mengambil satu buah jambu dari pohon itu, Satria dan Amayra sangat berterimakasih pada ibu pemilik pohon jambu.


Mereka pun masuk kembali ke dalam mobil. Satria tersenyum melihat istrinya yang hanya memandang buah jambu itu. "Udah jauh-jauh kesini cuma ngambil satu buah doang? Terus buahnya gak langsung dimakan, kenapa gitu ya?" Satria menyalakan mesin mobilnya.


"Hehe, aku juga gak tau kenapa." Amayra tersenyum memandang buah jambu itu.


"Gak apa-apa asal kamu dan anak kita senang," Satria mengelus perut istrinya dengan penuh kasih sayang.


"Makasih Mas, udah mengabulkan permintaanku yang aneh-aneh ini." Amayra menyadari bahwa permintaannya aneh dan cukup membingungkan.


Dokter bedah itu tersenyum, "Gak usah bilang makasih sayang. Ini sudah tugasku sebagai suamimu dan ayah bayi kita."


"Hehe,"


"Ayo, sekarang mau apa lagi? Mumpung kita belum sampai rumah? Apa ada sesuatu yang ingin kamu makan?" tanya Satria sambil melajukan mobilnya.


"Gak ada Mas, aku mau pulang aja." Amayra menggeleng. Dia tidak ada yang diinginkan lagi.


"Kamu belum makan malam loh, sayang."


"Makan malamnya di rumah aja," jawab Amayra sambil tersenyum.


"Ya udah."


Amayra dan Satria kembali ke rumah. Sesampainya di rumah Amayra baru memakan buah jambu itu, dia sangat menyukainya. Satria juga bahagia karena bisa mewujudkan keinginan istrinya. Di ruang tengah rumah itu, Amayra masih menonton tv sambil makan cemilan. N*fsu makannya memang tidak terkendali, tidak seperti saat hamil Rey. Amayra kebanyakan mual-mual. Kehamilan kali ini berbeda dengan kehamilan sebelumnya.


"Sayang, bobo yuk? Udah malam." Ajak Satria pada istrinya yang masih menonton tv.


"Mas tidur duluan aja, ini lagi seru-serunya." Amayra menatap layar televisi sambil mengunyah Chiki.


Satria penasaran dengan apa yang ditonton Amayra, dia pun mematikan tv nya. Amayra terbelalak begitu melihat Tv nya mati. "Mas! Kamu apa-apaan sih? Kenapa di matiin?" Amayra protes.


"Kan aku yang nontonnya bukan anak kita, Mas. Lagian itu film horor doang bukan film gituan!" Amayra berusaha meraih remot dari tangan suaminya. Namun suaminya tidak memberikannya.


"Anak kita ada didalam situ, dia juga nonton filmnya. Udah ah, ayo tidur.. udah malam. Gak baik juga ibu hamil begadang," Satria menggendong istrinya di bahu.


"Aduh... Mas..ya Allah...kamu ini nyebelin banget sih? Aku gak mau bobo dulu, aku mau nonton." Amayra protes pada suaminya, dia masih ingin menonton film di tengah rumah.


"Sayang, ini udah jam berapa? Tidur ah!" Satria membawa istrinya dengan paksa ke dalam kamar mereka.


Amayra cemberut, dia menggerutu pada suaminya dan masih ingin menonton tv sambil makan cemilan. Tanpa mereka sadari, Anna melihat pasangan suami istri yang terlihat mesra itu.


"Aku jadi iri deh, kapan aku kayak mereka. Mesra-mesraan sama suamiku. Boro-boro suami, pacar aja aku gak punya." ucap Anna sambil berjalan ke arah dapur. Dia berencana mengambil air minum yang sudah habis di kamarnya.


Bicara tentang pacar, kenapa aku jadi ingat Ken? Akhir-akhir dia sering menghubungiku sejak kejadian alergi itu. Dia juga sering mengajakku jalan. Tapi tidak ada tanda-tanda kalau dia akan mengatakan cinta padaku. Apa aku di PHP-in?


Anna meneguk segelas air minum, sambil memikirkan Ken yang sekarang semakin dekat dengannya.


...*****...


Amayra dan Satria sudah berbaring diatas ranjang. Satria dengan rayuannya berusaha membujuk Amayra untuk tidak marah lagi kepadanya. "Sayang, ayo tidur.."


"Hemph! Mas Satria nyebelin," Amayra memalingkan wajahnya.


"Maaf sayang, ini demi anak kita juga. Tidur yuk, besok kamu ada kuliah dan aku ada operasi." ucap Satria sembari membelai lembut wajah istrinya penuh kasih sayang.


"Kalau mau tidur, tidur duluan aja." ucap wanita itu cuek.

__ADS_1


Satria mengecup bibir istrinya dengan lembut, "Jangan marah lagi dong, nanti anak kita juga marah."


Wajah Amayra memerah ketika bibir Satria mengecup bibirnya, "Iya deh, aku gak marah lagi. Ya udah Mas tidur gih!"


"Tunggu dulu sayang, aku belum good night kiss." Satria beranjak duduk diatas ranjang itu, dia menatap perut datar istrinya.


"Bukannya udah barusan?" maksud Amayra adalah kecupan manis dibibir.


"Good night kiss sama ibunya udah, tapi sama anak kita...belum. Aku juga belum menyapanya hari ini," ucap Satria sambil tersenyum.


Satria mengelus perut datar dibalik baju tidur yang dipakai istrinya itu. Dia tersenyum, "Assalamualaikum, sayangnya papa sama mama. Gimana keadaan kamu hari ini sayang? Kamu gak rewel kan didalam sana?"


"Gak pa, aku gak rewel kok." jawab Amayra dengan menirukan suara anak kecil.


"Kamu gak rewel, mamanya yang rewel ya? Pengen buah jambu di rumah orang, terus jauh-jauh papa kesana dan cuma satu buah jambu saja yang diambil." ucap Satria pada perut datar itu, sambil senyum-senyum sendiri.


Amayra tersenyum, kemudian dia menjawab lagi dengan suara anak kecil. "Iya pa, itu aku yang mau. Bukan mama yang mau,"


"Oh begitu ya? Jadi anak papa ini sudah mulai minta yang macam-macam. Gak apa-apa selama kamu tidak rewel didalam sini dan tidak menyusahkan mamamu, papa akan menuruti semua keinginan kamu."


"Benaran papa mau menuruti keinginanku?" tanya Amayra pada suaminya.


"Iya dong, pasti papa turuti. Asalkan kamu baik-baik saja, dalam keadaan sehat selalu... sampai kamu lahir nanti, papa dan mama menantikan kamu nak." ucap pria itu sambil mengelus perut datar istrinya.


Tidak masalah mau minta apa saja, asalkan kamu dan anak kita dalam keadaan baik-baik saja May.


"Iya pa, Insyaallah.." Amayra menjawabnya.


Keduanya melemparkan senyuman bahagia yang indah. Mereka jadi tidak sabar untuk menantikan kelahiran buah hati mereka.


Saat keduanya selesai membaca doa tidur, tiba-tiba saja Amayra menginginkan sesuatu pada suaminya. "Sayang, kamu mau apa lagi?"


"Mas, tiba-tiba saja aku pengen kamu buka baju."


Tiba-tiba aku penasaran sama tubuh Mas Satria. Aneh sekali, padahal aku sering melihatnya.


"Hah? Buka baju?" Satria terkejut.


"Iya Mas, aku mau mas buka baju. Tidurnya jangan pakai baju." jelas wanita hamil itu pada suaminya.


"Apa ini mau si kecil juga?" tanya Satria pada istrinya.


Ibu ngidam memang aneh. Tapi yang ngidam ini istriku.


Amayra mengangguk, dia terlihat sangat manja berbeda dengan kehamilannya yang pertama. Satria patuh dan membuka bajunya. Dia sudah bertelanjang dada. Amayra terpana melihat keindahan tubuh suaminya. "Mas, tubuh kamu kayak Jason Statham!" Amayra menyentuh otot-otot dada suaminya.


"Sa-sayang.. kamu jangan sentuh aku begitu dong," Satria menggelinjang kegelian saat jari-jari Amayra menyentuh tubuhnya.


Yang bawah sudah mulai naik.


"Hihi...suamiku keren banget!" Amayra memeluk suaminya.


Kemudian mereka berbaring diatas ranjang. Amayra memeluk suaminya yang telanjang dada itu. "Sayang, serius kamu ingin tidur dengan posisi begini? Ketekku mungkin bau!!"


"Wangi kok Mas," jawab Amayra sambil mencium ketiak Satria.


"Sayang...kamu.." Satria menahan tawa karena Amayra benar-benar menyukai bau ketiak dan bau tubuhnya. Beberapa detik kemudian, Amayra sudah tertidur didalam pelukan tubuh kekar Satria. "Dedek bayiku, papa akan ingat hari ini. Kalau mama kamu ngidam pengen cium ketiak papa," gumam Satria sambil mengecup kening istrinya.


Satria membiarkan istrinya tidur sambil memeluknya. Seolah dia adalah guling empuk.

__ADS_1


...****...


Hai Readers jangan lupa like , komen gift dan vote nya ya , ❤️❤️😘☺️


__ADS_2