Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 167. Kamu masih perawan?


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Diana melenguh kegelian, tatkala sang suami memulai aksinya pada dua buah gunung itu. Bram memutar-mutar lidahnya pada titik tengah berwarna merah itu. Menggigit bahkan menjilatinya seperti permen lolipop.


"Ah..Mas," Diana menggelinjang kegelian, kedua tangannya membenamkan kepala Bram dalam dadanya itu.


Bram masih sibuk bermain disana, ketika sudah selesai dengan menikmati titik tengah berbentuk bulat di sebelah kiri, dia mulai bermain disebelah kanan. Mereka masih berada dalam posisi, sama-sama duduk.


"Mas..."


"Um?" Sahut Bram sambil mendongakkan kepalanya pada sang istri.


"Geli."


"Sebentar ya sayang, Mas belum selesai pemanasan." Ucap Bram meminta istrinya menunggu sebentar lagi hingga menuju adegan puncak mereka.


"Jangan lama-lama," ucap Diana sedikit merengek pada suaminya.


"Kenapa? Kamu gak sabar?" Godanya pada sang istri yang terlihat terengah-engah. Padahal mereka belum menuju gerbang surgawi.


Bram tersenyum melihat istrinya, tangannya mulai bergerak ke bawah dan melepaskan segitiga pengaman milik istrinya itu dengan perlahan-lahan. Kemudian Bram membaringkan tubuh istrinya di atas ranjang.


Tangannya membelai rambut Diana, lalu ke wajahnya juga. "Sayang, kita mulai."


"Jangan lupa berdoa Mas, agar setan tak bisa menganggu kita." Kata Diana mengingatkan.


"Sholehah sekali istriku," Bram mengecup kening Diana dengan mesra.


Mereka berdoa didalam hati, sebelum memulai aktivitas batin diantara mereka berdua.


Bram memulai aksinya, menciumi setiap bagian tubuh Diana tanpa terlewat. Bibirnya menelusuri setiap bagian tubuh Diana, terutama bagian sensitifnya. Jari jemari Bram menyentuh tubuh Diana dengan lembut, penuh kehati-hatian. Dia memulai gerakan itu pada bagian belakang tubuh istrinya lebih dahulu.


Nafas keduanya memburu dalam syahdu yang bergema memenuhi ruangan itu. Lampu ruangan yang redup di kamar mereka, membuat suasana malam pasangan pengantin baru itu menjadi lebih khidmat.


Setelah pemanasan di bagian belakang tubuh Diana telah selesai, kini pria itu menjelajahi bagian depan tubuh Diana yang indah. Kedua buah gunung menyembul, kulit mulus berwarna putih jernih seputih susu. Bagian bawah Diana yang menjadi pusat dari semuanya, berwarna pink dan tampak indah dimatanya.

__ADS_1


Tatapan nanar sang suami tak luput pada Diana. Dia bersiap melahap istrinya, tapi masih ada bagian lain yang memerlukan pemanasan.


Namun, Bram menatap bagian lain itu dengan bingung. Hingga Diana bertanya-tanya kenapa Bram berhenti.


"Mas kenapa berhenti?" Tanya Diana sambil menatap suaminya dengan kening berkerut.


Apa Mas Bram merasa tubuhku jelek?. Pikirnya dalam hati.


Dia pun membuka celana pendeknya, senjata itu terlihat jelas mengeras di mata Diana. Senjata yang membutuhkan pelepasan. "Aku masukan ya Di," ucap Bram dengan berapi-api, sambil memegang senjatanya yang bersiap menembak lubang surgawi istrinya.


Milik Mas Bram ini... termasuk besar apa kecil ya? Tapi kenapa aku merasa...


Diana menatap benda besar yang akan segera masuk ke dalam tubuhnya itu.


"Tu-tunggu Mas, apa aku gak perlu lakukan apa-apa lagi?" Diana mendorong sedikit tubuh kekar suaminya itu.


"Memangnya kamu mau lakukan apa?" Tanya Bram sambil tersenyum.


"Misalnya...memegang atau me...itu milikmu?" Pertanyaan Diana begitu ambigu. Namun Bram paham apa maksudnya.


"Tidak perlu, masuk ke dalam sana juga sudah cukup memuaskan aku." Ucap Bram sambil tersenyum.


Setelah meminta izin, Bram memasukkan senjata miliknya pada lubang gelap menuju surgawi itu. Dia merasa ada yang aneh ketika memasukinya.


Kenapa begitu sempit?


"Aaakkhhhhhh!!! Sakit Mas..." Wanita itu memegang punggung Bram, kuku jarinya bahkan membuat punggung Bram yang mulus itu terluka. Diana kesakitan saat senjata Bram memasuki tubuhnya.


"Kamu jangan tegang, santai aja Di.." ucap Bram sambil mencium kening Diana seraya menenangkannya.


Diana kesakitan!


Dia ingin mengatakan keluhannya pada Bram, namun dia tak tega melihat Bram kecewa. Karena pria itu terlihat sangat menikmati penyatuan tubuh mereka berdua. Selain bagian bawah yang sudah menyatu, Bram juga menghujani Diana dengan ciuman yang bertubi-tubi.


Setelah selesai dalam waktu 30 menit, keduanya tertunduk lelah bermandikan keringat. Semburan vanilla sepertinya sudah terbenam di tubuh Diana.

__ADS_1


Mereka Saling memeluk penuh kasih dan cinta. Malam pertama berhasil mereka lewati dengan indah.


"Terimakasih untuk malam ini sayang.." Bram mengakhirinya dengan ciuman di kening.


"Ya Mas," jawab Diana lemas. Dia kesakitan, bagian bawahnya terus berdenyut.


Ya Allah, apa bercinta memang menyakitkan seperti ini?


"Kamu tidur saja, aku mandi duluan." Ucap Bram sambil tersenyum lalu mengusap kepala Diana. Tubuh wanita itu hanya memakai pakaian luar saja.


Saat Bram menyingkap selimut untuk menyelimuti Diana. Alangkah kagetnya Bram begitu melihat bercak darah berceceran di atas seprai dan selimut itu. "Astagfirullahaladzim, darah? Diana, kamu terluka.. sayang?" Tanya Bram panik pada istrinya.


"A-aku gak apa-apa Mas,"


"Gak apa-apa gimana, kamu berdarah kan? Dimana lukanya?" Bram mencari-cari ditubuh istrinya, bagian mana yang terluka pada diri Diana.


Diana mencoba menyembunyikan luka dibagian kepemilikannya itu."Mas, aku gak apa-apa..."


Alangkah kagetnya lagi Bram, saat dia melihat di gaun tidur istrinya berdarah juga. Pada bagian bawah depan dan belakang. Bram yakin jika itu berasal dari lubang surgawi yang tadi dia jelajahi itu.


Tidak mungkin! Apa Diana masih perawan?


"Diana, apa kamu masih perawan?" Bram bertanya sambil memegang kedua tangan Diana. Dia mengajak istrinya dengan tajam.


"Ya Mas, aku memang masih perawan tapi.. setelah denganmu barusan. Aku sudah bukan perawan lagi," ucap Diana menjelaskan dengan jujur.


"Hah!" Bram melepaskan pegangan tangannya dari Diana, entah kenapa wajahnya menunjukkan kekecewaan.


Pantas saja, aku merasa ada yang berbeda saat melakukannya tadi.


"Mas, apa mas marah padaku?" Tanya Diana yang terkejut melihat suaminya begitu.


"Tidak. Aku mau ke kamar mandi dulu bersih-bersih, kamu tidur aja duluan."Ucap Bram datar sambil mengambil handuk di sofa.


Pria itu berjalan meninggalkan Diana disana.

__ADS_1


"Mas Bram kenapa? Dia marah sama aku? Karena apa?" Diana terlihat bingung.


...-----*****----...


__ADS_2