Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 48. Terluka


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Bram melepaskan kerudung yang menutupi kepala Amayra. Hingga rambut panjang nya tergerai. Amayra mulai lemas, dia merasa mual lagi ketika berada di dekat Bram.


"Hmphh!"


Tidak! Aku tidak mau! Aku tidak mau lagi!. Teriak Amayra di dalam hatinya, karena dia tak bisa bersuara dengan mulut yang ditutup oleh Bram.


Tangan Bram membelai wajah Amayra dengan lembut. Bibirnya mencium pipi Amayra, gadis itu memalingkan wajahnya. Bulir-bulir air mata jatuh ke pipinya menetes ke bantal yang ada di atas ranjang kamar Bram itu.


BRAK!


Satria masuk ke dalam kamar itu dan menyeret Bram dengan penuh amarah. Satria sakit hati melihat istrinya menangis, dengan rambut tergerai acak-acakan tanpa ditutupi kerudungnya. Pria itu memukuli Bram yang sedang mabuk tanpa ampun.


"Brengsek kamu kak! Beraninya kamu melakukan hal ini!"


BUK


BUK


"Kamu! Bukan ayah dari anak itu, aku ayahnya Satria! Akulah ayahnya!" Bram berdiri dan memukul balik Satria.


Ketika kedua pria itu sedang adu pukul di luar kamar, Anna dan Dewi menghampiri Amayra yang masih terlihat syok dengan apa yang baru saja terjadi padanya. Tubuhnya gemetar hebat, persis seperti kejadian di villa Alexis. "Hiks...hiks.."


"Non, non tidak apa-apa? Apa ada yang sakit?" tanya Dewi sambil mengambil kerudung Amayra yang tergeletak di lantai.


"May, jangan takut. Aku ada disini, kamu gak apa-apa.. ada aku dan Om Satria." Anna berusaha menenangkan wanita yang sedang menangis dan ketakutan itu.


Amayra kembali memakai kerudungnya, kemudian dia membenamkan tubuhnya pada Anna, bersembunyi dibalik dekapannya. Dia menumpahkan semua air mata itu disana, dia sangat syok dan sedih. Hampir saja dia dilecehkan lagi oleh Bram untuk kedua kalinya. Jika saja semua orang tidak datang, mungkin saja Amayra akan dilecehkan lagi. Amayra menangis keras, di pelukan Anna. Anna memeluk Amayra dan berusaha menenangkan nya.

__ADS_1


Satria masih berada di dalam baku hantam di luar sana, Pak Muin, pak cecep dan Cakra berusaha melerai mereka berdua. Keduanya sama-sama emosi, tenggelam dalam perkelahian sengit.


Wajah mereka sudah terlihat babak belur bahkan sampai ada bagian tubuh mereka yang berdarah. "Brengsek! Apa yang mau kakak lakukan pada istriku? Apa kakak mau memperkosa nya sama seperti waktu itu? Bejat nya kamu, kak!" Satria meraih baju Bram, pria mabuk itu sudah mulai kehilangan kesadaran nya karena Satria memukulinya tanpa ampun.


"Wanita yang kamu sebut istriku, adalah wanita yang sudah tidur denganku! Aku sudah mengambil malam pertamanya sebagai seorang gadis, dia juga adalah ibu dari anakku!" Bram terlihat sakit hati, dia seperti tidak terima kalau Amayra adalah istri adiknya.


"Hah! Apa yang kakak katakan? Kenapa baru sekarang kakak mengakuinya? Tapi semua sudah terlambat kak, Amayra adalah istriku! Dia dan anak itu adalah milikku sekarang dan selamanya!" Satria tidak mau kalah dengan kakak nya.


"Brengsek kamu Satria!" Teriak Bram kembali emosi. Dia memukul Satria, dan Satria membalasnya lagi.


"Hentikan! Satria! Bram! Hentikan!" Teriak Nilam panik.


Mereka tidak berhenti hingga Cakra menghentikan mereka berdua dengan menyiramkan air kepada Bram yang mabuk.


BYUR!!!


"Pa, kenapa papa menyiram Bram?!" Nilam marah pada suaminya karena Cakra hanya menyiram Bram saja dan tidak dengan Satria. Nilam menghampiri Bram yang menggigil kedinginan karena disiram air dingin.


"Kamu masih membela dia setelah apa yang baru saja dilakukan anak kesayangan mu itu?! Jika kamu membelanya, maka kamu sama buruknya dengan dia!" Teriak Cakra tegas. "Dan kamu Bram, setiap bersama tunangan mu itu kamu selalu saja pulang dalam keadaan mabuk! Sudah jelas dia menjadi contoh yang tidak baik untuk kamu. Kelakuan kamu pada Amayra, seperti binatang!" Cakra marah pada putranya yang berniat bejat pada Amayra.


Ya Allah, tadinya aku ingin menjodohkan Amayra dan Bram supaya dia bisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Tapi, seperti nya pikiranku salah. Satria terlihat mencintai Amayra. Cakra berfikir keras.


"Cukup pa! Jangan keterlaluan pada anak kita!" Nilam membantu putranya berdiri, dia membawa Bram pergi dari sana untuk menghindari kemarahan Cakra. Bram terlihat sudah sedikit sadar dari mabuknya, dia merasa bersalah pada Amayra.


Setelah kejadian itu, Cakra setuju agar Satria dan Amayra pindah dengan segera. Cakra tidak mau kalau Amayra yang sedang hamil akan stress karena dia dekat dengan Bram dan Nilam. Satria membawa istrinya yang masih syok itu ke dalam kamar mereka, dengan tangan gemetar dan keadaan masih takut, Amayra mencoba tenang, dia mengambil kotak obat untuk mengobati luka di wajah Satria.


Pasangan suami istri itu sama-sama terluka di hari, di tempat, dan di waktu yang bersamaan. "Sudah, tidak usah diobati juga luka ini akan sembuh." Satria menahan tangan Amayra yang memegang kapas yang sudah di olesi obat merah.


"Eh, tapi kakak terluka.." Amayra bicara dengan suara bergetar.

__ADS_1


Satria melihat pergelangan tangan Amayra yang memar, dia menduga itu adalah perbuatan Bram. "Apa ini sakit?" Pandangan Satria mengarah pada pergelangan tangan yang memar itu.


"Ti-tidak, aku gak apa-apa." Wanita itu menggeleng sambil menahan air matanya.


"Jangan selalu bilang gak apa-apa padahal kamu kenapa-napa! Aku kan sudah bilang, agar kamu selalu jujur padaku! Bilang saja kalau sakit!"


"Aku jujur kak, tangan ini memang tidak sakit! Tapi bagian tubuhku yang lain terasa sakit." Jawabnya sedih.


"Apa? Dimana? Apa kak Bram menyakiti mu?!" tanya Satria sambil menganalisis Amayra, dari mulai tangan, kaki sampai wajah Amayra.


"Sakit ini tidak berdarah dan tidak terlihat oleh mata, tapi rasanya aku tidak pernah bisa melupakan rasa sakit ini. Aku gak bisa..hiks..hiks.." Akhirnya gadis itu menumpahkan air mata.


Satria paham apa maksud Amayra dengan sakit yang tidak berdarah. Karena Satria juga sedang merasakan hal yang sama dengan Amayra, hatinya patah oleh fakta yang baru saja dia ketahui. Belum lagi, Amayra yang hampir di perkosa oleh Bram.


Satria memeluk Amayra, keduanya merasakan kesedihan yang sama. Amayra tidak menolak pelukan itu, dia malah merasa nyaman dengan pelukan suaminya dan membalasnya.


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Amayra dan Satria sudah bersiap dengan membawa barang-barang mereka untuk pindah rumah. Mereka berpamitan pada semua orang yang ada di rumah itu.


"Non, kenapa non pergi? Kalau non pergi siapa yang akan membantu saya merawat tanaman di halaman belakang rumah." Dewi terlihat sedih.


"Bibi tenang aja, aku tidak akan pergi selamanya, aku pasti akan berkunjung kesini." Amayra tersenyum dan memegang tangan Dewi dengan perasaan berat meninggalkan rumah itu.


"May, ayo..kita harus pamit sama mama dan papa." Satria mengajak istrinya untuk berpamitan pada Nilam dan Cakra.


"Iya kak." Amayra patuh dan menurut pada suaminya.


Ketika akan berpamitan pada Nilam dan Cakra, mereka malah berpapasan dengan Bram. Bram menatap Amayra dan Satria. Kehadiran Bram membuat Amayra refleks dan bersembunyi di belakang Satria, seperti ketakutan melihat Bram. Entah itu benci atau jijik.


...---***---...

__ADS_1


Hai Readers! Maaf komennya tidak terbalas semua, makasih banyak untuk komentar kalian ya 🥰🥰🙏 apalagi doanya supaya author lekas sehat.. Alhamdulillah author sudah agak baikan, untuk readers ku dimana pun kalian berada semoga sehat selalu ya 🥰😍 dan semoga yang sedang sakit segera disehatkan.. Aamiin..


__ADS_2