Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 204. Amnesia


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Tidak heran kenapa Satria bisa celaka terus, ini pasti karena wanita beban ini dan sekarang aku harus berpura-pura demi melindungi dia dan keponakanku. Cih! Menyebalkan.


Bara menatap Amayra dengan tajam, dia semakin tidak suka pada wanita itu padahal dia belum mengenal Amayra dari dekat. Tapi pria itu sudah menilai Amayra yang bukan-bukan.


"Dokter, apakah ingatan suami saya bisa kembali?" tanya Amayra sambil menatap dokter pria itu dengan wajah memelas.


"Karena ini hanya hilang ingatan sementara, dengan melakukan terapi...insya Allah, ingatan pak Satria bisa kembali. Hanya saja saya tidak tahu kapan pastinya ingatan pak Satria akan kembali," jelas dokter itu pada Amayra.


"Alhamdulillah kalau amnesianya Satria tidak permanen." kata Cakra lega sambil melihat ke arah Bima.


"Alhamdulillah..." ucap Anna dan Bram yang juga lega mendengar amnesia Satria bukan amnesia permanen.


Keluarga ini benar-benar lebay, dikit dikit astagfirullahaladzim.. dikit dikit Alhamdulillah. Kayaknya ketularan si Amayra. Bima terus ngedumel dalam hatinya.


Setelah dinyatakan baik-baik saja, malam itu juga mereka kembali ke Jakarta. Satria alias Bima juga hanya mengalami patah tulang ditangan dan kepalanya dikatakan amnesia.


Amayra melihat suaminya benar-benar seperti orang asing. Amayra sedih karena Bima yang dianggapnya Satria tidak mengenali dirinya, padahal belum lama mereka bersama dan saling bicara.


Mereka berada didalam mobil Bram dan Bram yang menyetir mobil itu bersama Diana duduk di bangku depan. Amayra dan Bima duduk dikursi belakang.


"Mas..."


"Kamu memanggilku?" tanya Bima pada Amayra sambil menoleh ke arah wanita hamil itu.


"Maafin aku ya mas." Amayra menatap pria itu dengan mata berkaca-kaca dan rasa bersalah.


"Maaf untuk apa?" tanya Bima dengan gaya cueknya.


Wanita ini mau apa lagi sih?


"Kalau bukan karena melindungiku dan anak kita, kamu tidak akan seperti ini...maaf mas."


Iya, ini semua gara-gara kamu dasar wanita beban. Satria saudaraku jadi terbaring koma dan tidak tahu kapan akan sadar, hanya demi kamu dan karena kamu dia sampai menjadi gila membahayakan nyawanya. Huh! ingin sekali aku mengatakan semua ini, tapi aku berperan sebagai Satria sekarang.

__ADS_1


"Gak apa-apa, ini semua aku lakukan demi kamu dan a-anak kita dan ini sudah kewajibanku sebagai kepala rumah ta-tangga." Bima tersenyum, senyum yang dipaksakan.


Astaga! Sulit sekali lidahku bicara manis seperti Satria.


"Aku harap Allah segera memberikan kesembuhan untukmu mas," Amayra memegang tangan Bima dan menatapnya penuh perasaan.


Astaga! Tatapan memelas itu lagi, si menye ini terus saja begitu.


"Doakan saja supaya aku bisa mengingatmu lagi." Bima menyingkirkan tangan Amayra yang memegang tangannya, pria itu terlihat risih dengan perhatian Amayra padanya.


"Gak apa-apa mas, insya Allah waktu akan menyembuhkanmu. Aku akan bantu kamu, mas." Amayra tersenyum, dia berusaha tegar dan menerima keadaan suaminya yang amnesia ini.


"Makasih." jawab Bima dingin.


"Aku senang kamu selamat mas, aku pikir aku akan kehilangan kamu. Tapi syukurlah, Allah menyelamatkan kamu." Amayra hampir menangis lagi.


Bima semakin jijik melihat wanita itu, dia yang berhati dingin dan tidak pernah merasakan kasih sayang keluarga. Memang tidak memahami bagaimana cinta dan kasih sayang itu sendiri. Saat ini Amayra sedang menunjukkan kasih sayangnya pada Bima yang dianggap sebagai Satria, tapi Bima mengacuhkannya.


Bram dan Diana mendengar percakapan suami istri itu dari kursi depan, mereka yakin bahwa Satria alias Bima benar-benar hilang ingatan. Sikapnya saja dingin dan terlihat linglung. Dalam hati mereka merasa kasihan pada Amayra yang sedang hamil dan Satria dalam keadaan amnesia.


Sulit dipercaya, sekarang aku berdiri disini didepan rumah keluargaku. Tapi aku sebagai saudara kembarku, sungguh ironis.


"Ini rumah mama dan papa, mas. Kita akan tinggal disini dulu untuk sementara waktu." ucap Amayra menjawab pertanyaan Bima.


Ya, aku memang sudah tau. Dasar cewek beban!. Batin Bima lagi-lagi memakai Amayra.


"Oh...jadi ini rumah orang tuaku?" Bima melihat-lihat ke arah rumah itu.


"Iya, ini rumah keluarga kita." jawab Bram sambil memapah Bima dengan penuh perasaan.


Mereka berempat masuk ke dalam rumah, dibelakang mereka juga ada Anna dan Cakra yang baru sampai. Bima melihat-lihat seisi rumah itu, dia melihat foto Satria dan keluarganya terpajang di dinding.


Kapan aku bisa berfoto seperti itu dengan kalian sama seperti Satria?


Bima terlihat sedih menatap foto keluarga itu. Amayra menepuk bahu Bima. "Mas, itu adalah foto keluarga kita."

__ADS_1


"Oh begitu ya." jawab Bima sambil tersenyum tipis.


Belum apa-apa aku sudah lelah berakting menjadi orang suci.


Amayra dan Bima yang dianggap pasangan suami istri itu masuk ke kamar mereka yang berada di lantai bawah tak jauh dari dapur. Di kamar itu terpajang foto pernikahan Amayra dan Satria. Mereka diantar oleh Bram dan Diana.


"Kalian beristirahatlah, pasti kalian lelah." kata Bram perhatian pada


"Aku akan meminta bi Dewi menyiapkan makan malam untuk kalian."


"Gak usah kak, biar aku saja yang siapkan makanan untuk mas Satria dan aku." Amayra duduk di atas ranjang. Dia memegang perutnya yang buncit itu.


Diana kembali membaringkan Amayra di atas ranjang, "Eh May, kamu masih sakit dan keadaan kamu masih belum stabil. Detak jantung bayinya masih tegang, tenangkan diri kamu ya. Jangan banyak bergerak, temani saja Satria disini. Aku akan bantu kamu siapkan segalanya."


Amayra sangat berterimakasih pada Diana karena dia mau membantu Amayra dan Bima yang sedang dalam kesulitan. Diana dan Bram meninggalkan Amayra dan Bima di kamar itu.


Bima terlihat bingung harus bagaimana karena dia berpura-pura hilang ingatan. Amayra mengajak Bima bicara lebih dulu. "Mas...apa kamu mau minum? Kepalamu masih sakit ya?" tanya Amayra cemas.


Wanita ini cerewet sekali.


"Tidak, terlalu sakit." jawab Bima cuek.


Ya Allah, mas Satria kasihan sekali. Dia bisa mengalami musibah seperti ini.


Amayra menahan air matanya agar tidak jatuh. Bima melihat itu dan dia menyodorkan sapu tangan pada Amayra itu karena dia tidak mau melihat Amayra menangis terus didepannya.


"Makasih mas," Amayra mengambil sapu tangan itu dan menyeka air matanya.


"Jangan banyak menangis, nanti anaknya jadi cengeng kayak ibunya." pesan Bima kepada Amayra.


Sepertinya wanita ini harus dikasih wajib militer dulu biar gak cengeng dan mentalnya kuat.


Walaupun mas Satria hilang ingatan, tapi dia masih tetap perhatian padaku. Ya, aku akan membuat kamu ingat lagi padaku dan semua orang mas.


...-----*****----+...

__ADS_1


__ADS_2