
...🍁🍁🍁...
Satria dan Amayra, juga Zayn dan Rey pergi menuju tempat dimana Zahwa berada yang di share lock oleh Bima.
Mereka semua sudah berharap bahwa Zahwa akan baik-baik saja dan kembali ke rumah. Zayn yang sabar cemas pada Zahwa, dia sudah bertekad dia akan meminta maaf pada adiknya itu dan tidak akan bicara sembarangan lagi.
Rey melihat tangan Zayn bergetar, wajahnya tampak cemas. Rey menepuk bahu dan memegang tangan Zayn. "Zayn, tenanglah... insyaallah Zahwa baik-baik saja. Kita positif thinking dulu ya,"
"Iya kak, nanti kalau aku udah ketemu Zahwa. Aku janji, aku gak bakal jahat lagi sama dia dan aku akan minta maaf sama dia, aku akan menjaganya!" Seru Zayn sambil menatap kakaknya.
"Iya...kamu adalah seorang kakak, kamu harus menjaga adik kamu." Rey menepuk kepala Zayn.
"Kak Rey juga seorang kakak kan? Kakak kakaknya Zahwa dan kakakku. Sama seperti kakak menjaga aku dan Zahwa kan?"
Rey mengangguk. "Iya, sama seperti itu Zayn."
Walau gak ada ikatan darah, Zayn dan Zahwa kan adik adikku.
Setelah melalui perjalanan hampir satu jam lebih, Satria memberhentikan mobilnya di pinggir hutan yang hanya bisa dilalui jalan setapak. Letak hutan itu berada di perbatasan kota Bogor dan Jakarta.
"Mas, kenapa kita berhenti disini?" Amayra heran karena suaminya memberhentikan mobil di jalan pinggir hutan dengan pepohonan yang rimbun. Hutan itu terlihat menyeramkan jika dilihat dari luar.
"Iya pa, kenapa kita berhenti disini? Bukannya kita mau ketemu Zahwa?" tanya Zayn yang juga heran.
"Tempatnya disini yang di share lock sama kak Bima," Satria melihat ponselnya dan tidak ada sinyal sama sekali disana.
"Om! Itu kan mobil om Bima!" Tunjuk Rey pada sebuah mobil sedan merah yang terparkir agak masuk ke dalam hutan.
"Berarti benar, Zahwa ada disini!"
Zayn turun lebih dulu keluar dari mobil sebelum Satria, Amayra dan Rey keluar, dia tidak sabar ingin bertemu dengan adiknya itu.
"Zayn, tunggu mama papa!"
"Ayo ma, ayo pak! Aku mau ketemu Zahwa," Zayn menarik lengan baju mamanya, meminta mereka untuk cepat ke tempat Zahwa.
"Iya sayang sebentar ya. Mas, dimana lokasinya?"
"Aku telpon dulu kak Bima, kalian tunggu disini aku cari sinyal dulu sebelah sana!" Satria menunjuk ke arah tiang yang tak jauh dari sana.
"Iya Mas." Jawab Amayra pada suaminya. Lalu dia menatap Rey dan Zayn."Anak-anak kita tunggu disini ya."
Sementara Satria menelpon Bima, Amayra bersama anak-anak menunggu didepan hutan itu. "Ma, apa Zahwa ada didalam hutan ini?"
__ADS_1
"Zayn, mama gak tau nak."
"Kalau Zahwa ada di hutan ini, kasihan Zahwa ma...Zahwa pasti ketakutan ma!"
Amayra tidak menjawab Zayn, dia juga bingung dan cemas pada Zahwa. Kalau iya Zahwa berada didalam hutan, apa yang akan terjadi padanya? Amayra hanya berharap dan berdoa bahwa anaknya selalu dalam lindungan Allah SWT.
Rey juga mendoakan hal yang sama didalam hatinya, dia berharap Zahwa dalam keadaan baik-baik saja.
Tak lama kemudian, Satria datang setelah menelpon Bima. Satria mengajak Amayra, Zayn dan Rey masuk ke dalam hutan dan pergi ke rumah yang ada disana. Katanya Zahwa sudah dua kali dipindah tempatkan, awalnya Zahwa berada di kota lalu dibawa lagi ke rumah tengah hutan.
Satria, Amayra, Rey dan Zayn melalui perjalanan selama beberapa menit ke rumah terbengkalai itu. Terlihat beberapa anak buah Bima berjaga disana dan ada juga polisi yang menangkap si bapak gila itu.
"Kak Bima! Ini orangnya yang sudah menculik Zahwa?" Satria langsung naik pitam melihat seseorang yang diringkus polisi, dia menarik baju pria gila itu.
"Tolong sabar pak, jangan main hakim sendiri!" Ujar polisi pada Satria yang sudah akan memukul pria itu.
"Tiara...anakku, dimana Tiara! Dimana...hiks..." pria gila itu menangis dan berteriak-teriak memanggil nama Tiara.
"Tiara? Siapa itu Tiara? Katakan dimana anakku?!!" Satria tidak peduli dengan adanya polisi disana, tangannya menarik baju si pria itu.
"Mas, tenang mas." Amayra menenangkan suaminya untuk tidak emosi lebih dulu.
"Satria tenang Sat! Aku akan menjelaskannya," Bima juga berusaha menenangkan Satria.
Zayn memanggil manggil adiknya didalam salah satu ruangan curam disana, gelap tanpa cahaya. "Zayn,kayaknya Zahwa gak ada disini." Kata Rey sambil memperhatikan sekitarnya dan tidak ada Zahwa.
"Kak Rey, ini gelang punya Zahwa!" Zayn menemukan gelang berwarna biru yang selalu dipakai Zahwa. Rey ikut melihat gelang itu dan menkonfirmasi bahwa orang itu memang milik Zahwa.
"Iya, ini punya Zahwa."
Saat kedua anak itu sedang berada di ruangan yang berbeda, terdengar suara keributan dari luar. "Apa maksudnya? Zahwa kabur dari sini lalu GAK TAU DIMANA?!" teriak Satria emosi.
"Itu yang kami simpulkan pak, bapak bisa lihat sendiri kita tidak akan bisa mengambil informasi dari orang yang mentalnya terganggu." Kata polisi itu pada Satria.
"Tenang Sat, Zahwa itu anak yang cerdik. Dia pasti melarikan diri ke hutan. Anak buahku sedang mencarinya,"
Rey dan Zayn pun memikirkan hal gila, mereka keluar dari sana diam-diam tanpa sepengetahuan semua orang dan sepakat untuk mencari Zahwa.
"Zayn, kamu jangan jauh-jauh dari kakak ya!" Rey memegang erat tangan kecil Zayn.
"Iya kak, tapi kakak jangan pegang-pegang aku dong. Aku kan bukan anak kecil!" Zayn melepaskan tangannya dari Rey, keningnya berkerut.
"Ya, ya kamu bukan anak kecil." Rey tersenyum dengan sikap Zayn yang pura-pura dewasa.
__ADS_1
Di rumah kosong itu, Amayra, Bima dan Satria menyadari bahwa Rey dan Zayn menghilang. Mereka pun pergi mencari kedua anak dan mencari Zahwa juga di hutan.
"Lagian kenapa sih kalian bawa anak-anak?" Tanya Bima pada adik dan adik iparnya.
"Mereka naik ke dalam mobil dan kakak tau sendiri kan, gimana keras kepalanya Zayn?" Satria bicara sambil menoleh ke arah kakaknya.
"Iya dia keras kepala mirip sama istri kamu," ucap Bima sambil melirik ke arah Amayra.
"Ah? Mirip aku?!" Amayra menunjuk pada dirinya sendiri.
"Udah ah! Kita cari Zayn, Zahwa dan Rey!" Ujar Bima.
Bima dan anak buahnya sudah berpencar di hutan itu untuk mencari Zahwa.
****
Zahwa sendiri sedang berada di tengah hutan didalam kegelapan. Dia takut di kejar oleh si bapak itu setelah berhasil kabur. Kakinya berdarah-darah karena dia kabur lewat jendela yang dia pecahkan.
"Kenapa jalannya gak ketemu ya? Apa aku tersesat?" gumam Zahwa yang sedih karena dia belum menemukan jalan keluar, kakinya juga sudah lelah berjalan. "Ya Allah...Zahwa mau pulang, Zahwa janji...Zahwa gak akan nakal lagi deh! Asalkan Zahwa bisa ketemu kak Zayn, Kak Rey, mama, papa, Oma, opa, om, Tante sama semuanya! Kabulkan doa Zahwa, ya Allah." Zahwa menutup matanya, dia berdoa sambil mengatupkan kedua tangannya.
"Doa kamu terkabul,"
Sontak Zahwa membuka matanya saat mendengar suara Rey disebelah kirinya. "A-apa kalian bukan hantu?!" Zahwa melihat Rey dan Zayn berlari ke arahnya.
Zayn berlari lebih cepat dari Rey, dia memeluk Zahwa penuh kasih sayang. Anak laki-laki berusia 6 tahun itu menangis. "A-aku gak mimpi kan? Kak Zayn?"
"Zahwa...aku minta maaf ya, aku minta maaf sama kamu," Zayn masih memeluk sodara kembarnya itu dengan erat.
"Huhuu...aku juga minta maaf, aku sudah nakal sama kakak. Aku minta maaf kak!" Zahwa menangis dan membalas pelukan Zayn.
"Aku yang minta maaf, aku yang salah. Aku gak akan bicara sembarangan lagi, aku gak mau hilang!"
"Nggak, aku yang salah. Aku minta maaf udah bandel,"
Ya Allah, makasih sudah kabulkan doa Zahwa.
Rey terharu melihat pertemuan saudara kembar itu, "Alhamdulillah..."
"Aduh," tiba-tiba saja Zahwa melepaskan pelukannya dari Zayn dan dia terduduk.
"Zahwa, kamu kenapa?" Zayn khawatir pada saudaranya.
"Kamu kenapa?" Tanya Rey sambil menghampiri Zahwa dengan cemas.
__ADS_1
...*****...