
Satria meninggalkan istrinya yang sedang tertidur pulas dan pergi ke kamar sebelah untuk melihat anaknya. Dia tersenyum melihat Rey yang masih pulas tidur di ranjangnya. Ranjang bayi yang Satria buatkan khusus untuknya.
"Jagoannya papa...baik banget sih. Kamu ngerti aja kalau papa sama mama mau buat adek baru," ucap Satria terkekeh sendiri.
Terlihat senyum kepuasan menyungging dari bibirnya. Wajahnya terlihat berbinar-binar bahagia, setelah setengah jam menembus gawang yang selama ini selalu dia jaga sendiri. Dia bahagia telah menuntaskan hasratnya.
Satria pergi ke dapur, dia membuat susu coklat hangat untuk istrinya. Kemudian dia kembali ke kamar sebelah kamar Rey dan membawa gelas berisi susu coklat hangat itu. Dia melihat Amayra sudah terbangun tanpa sehelai benang ditubuhnya. Hanya selimut yang menutupi tubuh polos itu. "Kamu sudah bangun May?" tanya Satria dengan senyuman indahnya. Kemudian dia duduk di atas ranjang itu, tepat di samping sang istri.
Amayra tidak bicara, dia hanya menundukkan kepalanya. Jika Satria terang-terang menunjukkan kebahagiaannya, maka Amayra terang-terangan menunjukkan rasa malunya. Dia tak percaya bahwa belum lama dia melakukan hubungan suami-istri untuk pertama kalinya bersama Satria, suaminya.
Ya Allah, aku malu sekali.. bagaimana aku bisa menghadapi kak Satria? Belum lama ini aku melakukannya.
"May, kok gak dijawab sih?" tanya Satria sambil meletakkan nampan yang diatasnya ada segelas susu coklat panas. Satria melihat ke arah sang istri yang daritadi hanya menunduk saja.
Rambut panjang Amayra tergerai indah, menjutai hampir ke pinggangnya. Satria mengambil beberapa helai rambut yang panjang itu, kemudian dia menciumnya. "Kak...kakak!" Pekik wanita itu terkejut.
Satria meraih tubuh sang istri, dia membenamkan bibirnya pada bibir cantik milik Amayra. "Akhp!" Amayra terkesiap, dia terkejut dengan serangan mendadak itu. Selimut yang dikenakannya melorot, lantaran tangannya refleks melingkar di leher sang suami. Kini tubuh bagian atasnya terlihat jelas, termasuk dua buah gunung yang menonjol itu dan beberapa tanda cinta yang diberikan Satria kepadanya.
Satria melahap bibir itu, padahal sudah berapa kali dia melakukannya. Rasanya masih belum cukup, dia merasakan manisnya bibir Amayra yang seperti candu untuk dirinya. Tak lama setelah itu, Satria melepaskan pagutan bibirnya, dia memberikan ruang untuk Amayra bernapas.
"Kak Satria, kenapa selalu tiba-tiba sih?" protes wanita itu sambil memegang tangan Satria. Bibirnya mengerucut sebal.
__ADS_1
Cup!
Muach
Satria mengecup kening istrinya dengan lembut penuh kasih sayang. "Makasih untuk malam ini ya May, aku tidak akan pernah melupakan apa yang terjadi malam ini seumur hidupku," ucapnya penuh kasih, napasnya berhembus hangat di kening Amayra.
Hati Amayra terbang melayang dengan semua perlakuan Satria, semuanya penuh kelembutan dan kasih sayang. Satria benar-benar memperlakukan istrinya dengan hati-hati. Amayra memeluk suaminya, dia tersenyum bahagia. "Terimakasih juga pada kakak yang sudah menerima diriku apa adanya. Walau kakak tau aku sudah tidak perawan, aku hamil anak orang lain. Kakak tetap menikah denganku, kakak adalah pahlawan dalam hidupku... terimakasih kak,"
Satria mengelus kepala Amayra beserta rambut panjangnya itu. Satu tangannya yang lain memeluk tubuh polos Amayra dengan hangat. "Tidak, aku yang sangat berterimakasih... karena kamu menikah denganku, walaupun awalnya pernikahan kita aku anggap sebagai kesalahan. Tapi.. aku bersyukur karena kesalahan itu, kamu akhirnya denganku May. Aku menemukan kamu, berlian yang tidak ternilai harganya. Wanita Sholehah, istri yang taat dan baik, tidak ada wanita yang seperti kamu di dunia ini. Terimakasih ya Allah," ucap Satria penuh rasa syukur.
Setelah sama-sama mengutarakan perasaan masing-masing, Satria meminta Amayra agar meminum susu yang sudah dia buat. Amayra malu-malu, saat dia sadar kalau dia memeluk Satria dengan tubuh telanjang.
Buru-buru dia dan suaminya pergi ke kamar mandi untuk mandi wajib setelah berhubungan. Mereka mandi bersama sambil bersenda gurau walau tidak lama, karena Amayra mendengar Rey menangis. Sudah pasti itu karena Rey haus ingin minum asi.
"Makasih kak," ucap Amayra sambil tersenyum senang dengan perhatian suaminya.
"Sama-sama sayang," Satria tersenyum bahagia.
Ketika Rey kembali tidur, Amayra dan Satria juga kembali ke ranjang mereka untuk kembali tidur. Karena malam masih panjang. Satria tiba-tiba memeluk istrinya, "Tidur disini, aku kedinginan May.."
"Iyah kak," Amayra yang peka langsung melingkarkan tangannya pada tubuh suaminya.
__ADS_1
Ya Allah.. semoga aku, Rey dan kak Satria bisa bersatu selamanya. Amayra menyelipkan tubuhnya didalam dada bidang itu.
Apa ini saatnya aku bicara ya?
"May,"
"Hm?" jawabnya.
"Aku mau bicara sama kamu," ucap Satria sambil mengelus lembut punggung Amayra.
"Ya,bicara saja kak!"
"May, menurut kamu ... apa aku harus pergi ke Afrika?" tanya Satria dengan suara sedikit gemetar.
Pertanyaan suaminya membuat dia tersentak, hingga dia beranjak bangun. "A-Apa maksud kakak? Mengapa kakak harus pergi ke Afrika?"
Satria ikut duduk di ranjang, dia terkejut melihat reaksi Amayra.
...----****----...
Hai Readers! Jangan lupa untuk selalu like komen, makasih juga ya buat yang kasih vote dan gift nya 😍😍🥰 doakan author sehat slalu 😉😉 Semoga Allah swt membalas semua kebaikan kalian yang selalu kasih author support..
__ADS_1
Selamat malam selamat beristirahat 😊😍🙏