
...🍀🍀🍀...
Harun terkejut mendengar penjelasan Diana tentang kondisi Amayra dan cucunya. Apalagi ketika dia meminta Satria untuk memilih. Harun juga terpaku di dalam dilema, jika dia menjadi Satria dia juga pasti akan bingung sama seperti dirinya.
"Diana, apa aku bisa untuk tidak memilih?" tanya Satria pada temannya itu. Berat rasanya jika dia harus memilih antara Amayra dan bayi di dalam perutnya. Satria menyayangi keduanya, dia tak bisa memilih siapa yang harus selamat diantara mereka berdua.
Posisi Satria kini seperti algojo yang siap menentukan siapa yang harus dihukum dan siapa yang bebas. Sulit untuk Satria dihadapkan pada pilihan seperti ini.
"Satria kamu tau kan resiko kita sebagai seorang dokter ketika harus memberikan pilihan kepada keluarga pasien. Selalu ada pilihan antara hidup dan mati," jelas Diana pada temannya itu.
Satria terdiam sejenak di dalam bingungnya, memang benar apa yang dikatakan oleh Diana. Sebagai seorang dokter memang selalu ada pilihan yang diberikan kepada keluarga pasien. Satria ingat bahwa dia sering memberikan pilihan pada keluarga pasien ketika pasiennya harus di operasi. Tapi mendengar kata pilihan itu ditujukan kepadanya, membuat Satria tidak berdaya.
Ya Allah, apa yang harus lakukan? May, kenapa harus seperti ini?
"Satria, kamu harus tentukan siapa yang akan kamu selamatkan! Aku butuh izin mu untuk melakukan operasi!" Seru Diana sambil menyodorkan secarik kertas berisi persetujuan operasi.
Satria memegang kertas itu dengan tangan bergetar. Hatinya masih belum mantap untuk memilih. "Satria, mereka sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Jika operasi tidak segera dilakukan mungkin Amayra dan bayinya tidak akan selamat!" Seru Diana meminta Satria untuk segera menentukan pilihannya.
"Selamatkan saja Amayra," ucap Bram dengan suara lemah. Padahal bukan hak nya untuk bicara, tapi dia memilih Amayra bukan bayi yang selalu dia jadikan alasan untuk mendekatinya wanita itu.
Nilam, Cakra dan Harun juga sama bimbang nya dengan Satria. Mereka tidak tahu mau memilih yang mana, jika adalah pilihan ketiga yang mengatakan Amayra dan bayinya akan selamat, maka mereka pasti sudah memilihnya. Tapi ini? Pilihannya antara Amayra dan bayinya.
Lama berdiri mematung disana, Satria masih berfikir sambil memegang kertas itu. Dia bertanya-tanya siapa yang harus dia selamatkan. Satria mencintai keduanya, Amayra juga si bayi.
Amayra aku harus bagaimana? Apa kamu akan kecewa kalau aku memilih menyelamatkan mu dari pada bayi kita? Ya Allah aku harus bagaimana?
"Satria, kamu harus memilih!" Harun menepuk bahu menantunya.
"Pak, saya-" Satria bingung mau bicara apa.
"Saya tau berat untuk kamu memilih. Kita pasrahkan saja hasilnya pada Allah," Harun mencoba kuat, dia akan menerima semua keputusan Satria.
Seorang suster keluar dari ruang bersalin Amayra dengan wajah panik, "Dokter! Detak jantung pasien melemah!" Seru suster itu.
"Satria!" Teriak Diana menyuarakan agar Satria segera memilih.
__ADS_1
Satria mengambil pena lalu menandatangani surat persetujuan itu. Disitu tertulis bahwa dia memilih menyelamatkan Amayra daripada bayinya.
Meskipun kamu kecewa dan marah padaku nantinya, tapi aku gak mau kehilangan kamu May. Aku ingin hidup sampai tua bersamamu, hal ini aku lakukan bukan karena aku tidak sayang pada anak kita. Aku harap kamu mengerti May.
Keputusan sulit telah diambil oleh Satria. Dia ikut dengan Diana masuk ke ruangan operasi untuk melihat bagaimana proses operasi Amayra. Dia tak bisa membantu banyak karena ligamen tangan kirinya robek.
Operasi itu berlangsung sengit, Diana ditemani 3 orang suster melakukan operasi sesar. Amayra terbaring tidak berdaya di meja operasi. Satria berdoa agar istri dan anaknya selamat.
Sementara itu di luar ruangan itu, Harun, Cakra dan Nilam menunggu kabar dari ruang operasi dengan wajah resah, terutama Bram ayah kandung dari si bayi.
Aku berharap kalian berdua selamat, Amayra dan anakku.
Tiba-tiba saja tubuh Bram roboh dan jatuh tergeletak di lantai. Cakra, Nilam dan Harun terkejut melihat Bram. "Bram!"
"Bram, apa yang terjadi nak?" tanya Cakra sambil menggoyangkan tubuh anaknya dengan panik.
Petugas medis disana segera membawa Bram ke ruang perawatan. Nilam dan Cakra juga menemaninya. Setelah diperiksa oleh dokter, Bram mengalami beberapa cedera tulang yang parah dan gegar otak.
Nilam dan Cakra terkejut mendengar penjelasan dokter tentang kondisi Bram. Penjelasan dari polisi juga membuat mereka semakin yakin kalau Bram sudah mulai berubah menjadi pria yang bertanggungjawab.
"Jika bukan karena mobil pak Bram yang menghadang mobil si penabrak, mungkin ibu hamil dan suaminya akan meninggal ditempat. Pak Bram sudah melakukan hal yang sangat baik untuk menyelamatkan nyawa 3 orang, walau dia melanggar peraturan lalu lintas," jelas polisi itu pada Nilam dan Cakra.
"Benar ma, dia sudah belajar untuk melindungi orang lain dan bertanggungjawab. Walaupun dia sudah sangat terlambat," Cakra membenarkan ucapan istrinya. Cakra melihat Bram terbaring lemah diatas ranjang pasien dengan selang infus yang terpasang ditubuhnya.
...****...
Beberapa jam setelah operasi di lakukan, bayi berhasil dikeluarkan dari perut Amayra. Bayi itu sama sekali tidak bergerak atau menangis. Hati Satria hancur melihat bayi mungil yang terpaksa harus lahir 1 bulan lebih awal itu.
Satria menggendong si bayi dengan berurai air mata, sementara Diana dan suster disana kembali melanjutkan operasi penutupan. Tangan Satria memegang lembut jari-jari kecil itu. "Jadi ini kamu nak? Kamu jagoan ayah yang berada di dalam perut ibumu, kamu sangat tampan. Maafkan ayah nak, maafkan ayah," Satria mencium pipi bayi yang sudah tidak bernyawa itu. Air mata Satria membasahi bayi kecil di dalam gendongannya.
Tiiiiiitttttttt....
"Dokter!" Teriak suster panik melihat mesin medis yang memperlihatkan tanda garis lurus.
"Siapkan defribrilator!" Seru Diana pada suster.
__ADS_1
"Baik dokter!" Suster itu mengambilkan alat denyut jantung dan diberikannya pada dokter itu.
Satria panik mendengar suara menyeramkan itu, suara yang selalu terdengar sebagai pertanda buruk. Padahal hampir setiap hari Satria berada di meja operasi, tapi baru kali ini dia merasa harinya terombang-ambing dan tegang.
"Diana! Tolong!" Seru Satria panik.
Diana dan suster itu sibuk menyelamatkan nyawa Amayra. Mesin medis menunjukkan bahwa detak jantung Amayra masih belum menunjukkan perubahan. Jantungnya tidak berdetak!
Disaat-saat tegang, suara tangisan yang melengking membuat semua orang di ruangan itu terperangah hampir terjengkang.
OWAAAA... OWAAAA!!
Satria terpana mendengar suara tangisan dari bayi yang digendongnya itu. "Allahuakbar!" ucap nya tak percaya dengan apa yang terjadi di depan matanya. Bayi itu membuka matanya dan menangis keras. Keadaan menjadi berbalik, kini nyawa Amayra yang berada diujung tanduk. Sementara bayi itu hidup kembali.
Satria segera menyuarakan adzan dengan suara pelan pada telinga kanan si bayi.
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar (2x)
Asyhadu allaa illaaha illallaah (2x)
Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah (2x)
Hayya 'alashshalaah (2x)
Hayya 'alalfalaah (2x)
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar (1x)
Laa ilaaha illallaah (1x)
Kemudian Satria mengumandangkan Iqamah ke telinga kiri bayi mungil itu. Setelah selesai mengadzani bayinya, Satria melihat Amayra masih berjuang dalam hidup dan matinya.
"Sayang, tolong panggil ibu mu ya.. tolong ayah panggil ibu mu," bisik Satria pada si bayi, berharap Amayra akan segera sadar.
Owaaaa.. owaaaa..
__ADS_1
Bayi mungil nya masih menangis keras, mungkin dia meminta agar ibunya segera bangun.
...---***---...