
Melihat Nilam yang jatuh pingsan, membuat semua orang termasuk Diana dan Bram cemas. Walaupun wanita paruh baya itu selalu membuat mereka kesal dengan kata-katanya, tapi Nilam tetaplah orang tua uang mereka hormati.
"Mas! Bawa mama ke dalam, aku akan memeriksanya!" kata Diana panik.
"Iya," Bram menggendong tubuh Nilam, kemudian dia membawa mamanya itu masuk kembali ke dalam rumah.
Beberapa saat kemudian, Nilam sudah berada diatas ranjang. Diana sedang memeriksanya, dia menggunakan alat yang mengecek tekanan darah dan juga stetoskop untuk memeriksa keadaan ibu mertuanya.
"Diana, bagaimana keadaannya?" tanya Cakra pada menantunya itu.
"Alhamdulilah.. insya Allah mama gak apa-apa. Tekanan darahnya memang sedikit tinggi, tapi itu gak memicu stroke kok. "Jelas Diana sambil tersenyum tipis.
"Bram... Bram..." lirih Nilam memanggil nama anaknya itu. Dia mulai membuka mata dan mencari-cari Bram.
"Ma? Mama gak apa-apa?" tanya Diana perhatian pada ibu mertuanya.
"Bram disini Ma," sahut Bram sambil mendekati mamanya.
"Kamu jangan pergi kemana-mana nak, kamu harus tetap disini. Kalau kamu pergi, nanti rumah ini sepi." ucap Nilam sambil memegang tangan Bram seraya memohon pada anaknya untuk tidak pergi.
Begitu Nilam bangun, Cakra langsung mengomel padanya. "Kalau mama gak mau Bram pergi, mama harus bersikap baik dan lebih menjaga kata-kata mama pada mereka, terutama diana."
"Papa kenapa marah-marah sama mama?" Nilam bertanya dengan suara rendah karena kepalanya pusing. "Bram, jangan pergi ya...kamu tetap tinggal disini."
Aku tidak mau Bram pergi dari rumah ini, kalau dia dan Diana meninggalkan rumah ini. Maka kesempatan Diana untuk mempengaruhi Bram semakin besar.
"Maaf ma, Bram tidak bisa menuruti kemauan mama. Bram akan tetap pindah dari sini, bersama Diana." ucap Bram yang keputusannya tidak mau diganggu gugat.
"Bram, mama mohon.. nak. Jangan pergi ya? Mama akan lakukan apapun supaya kamu tetap tinggal disini." bujuk Nilam kepada anaknya, dengan suara parau dan lemah.
Diana tidak tega melihat ibu mertuanya sakit seperti itu, dia menjadi ikut merasa bersalah padahal dia tidak salah. Walaupun mulut Nilam terkadang pedas, tapi dia tetap menghormati ibu mertuanya dan sayang kepadanya. Sebab dia tidak pernah merasakan bagaimana rasanya mempunyai seorang ibu, dia sudah ditinggalkan ibunya sejak kecil.
"Mas, udahlah kita dengarkan saja apa kata mama."
Tidak boleh begini, aku harus bersikap tegas supaya mama tidak semena-mena pada istriku.
"Kita tetap pergi sayang," ucap Bram teguh pada pendirian. Itu karena dia tidak mau kalau Diana terluka lagi karena Nilam.
__ADS_1
Nilam pun memegang tangan Diana, kali ini dia membujuk menantunya. "Diana...maafin mama ya, mama sudah menyakiti hati kamu. Mama mohon, tetaplah tinggal disini bersama Bram."
Mana mungkin Diana akan membiarkan wanita paruh baya itu memohon padanya. Dia tidak akan tega, saat ini saja wajahnya terlihat luluh.
"Mas, kita disini saja...mama lagi sakit."
"Tapi Diana.."
"Mama sudah minta maaf sama aku dan semuanya akan baik-baik saja. Aku gak apa-apa kok," ucap Diana sambil tersenyum.
Akhirnya Bram dan Diana memutuskan untuk tidak jadi pindah dari sana sampai Nilam sembuh dan sikapnya lebih baik pada Diana. Nilam lega karena Bram dan menantunya tidak jadi pindah.
Dia juga mendapatkan ceramah dari Cakra, suaminya untuk bersikap baik pada anak dan menantunya. "Kalau mama gak mau kehilangan anak mama. Mama harus baik sama menantu mama juga, ini adalah peringatan kecil dari Allah, bahwa mama harus lebih menjaga sikap apalagi dalam berbicara."
"Ya pa, papa jangan bawel terus dong...mama pusing dengernya. Belum lama mama sadar, papa udah ceramah aja." kata Nilam sambil bersandar di pinggiran ranjangnya.
"Mama ini kalau gak diceramahi dan terus diingatkan...papa takutnya mama stroke kayak dulu."
"Astagfirullah! Apa papa doain mama seperti itu?" Nilam langsung emosi.
"Tenang ma...mama ini apa-apa suka emosi duluan. Mama gak enak kan, papa bilang seperti ini barusan?"
"Nah... begitulah perasaan Bram dan Diana. Ucapan mama telah melukai hati mereka, mama bicara seolah menuduh Diana itu mandul."
"Eng-enggak kok!" sangkal Nilam.
"Istighfar ma...jaga ucapan mama, itupun kalau mama masih mau melihat anak dan menantu mama di rumah ini. Soal momongan, mungkin saja Allah belum kasih kepercayaan pada mereka."
Nilam berkata, "Tapi pa, mama bicara seperti ini karena mama cemas. Mama takut terjadi apa-apa sama Bram dan Diana. Diana juga gak pakai program KB, takutnya ada sesuatu."
"Doakan saja agar tidak terjadi apa-apa sama mereka. Kita orang tua jangan ikut campur masalah anak,"
Nilam tidak bicara lagi, dia malas menanggapi suaminya. Hatinya masih penasaran dengan keadaan Diana, dia ingin tau menantunya itu mandul atau tidak.
Pokoknya, aku harus tetap cari tau Diana mandul atau tidak. Tapi bagaimana cari taunya ya tanpa ketahuan Bram dan yang lainnya? Kalau Bram tau, dia pasti marah besar.
****
__ADS_1
Sementara itu di kamar Bram dan Diana. Dokter kandungan yang cantik itu sedang membereskan baju-baju yang ada didalam ke koper, lalu memasukkannya kembali ke dala lemari.
"Sayang,"
"Ya, mas?"
"Kamu gak apa-apa?" Bram menatap istrinya dengan cemas.
"Memangnya aku kenapa? Aku gak apa-apa kok," jawab Diana sambil menghampiri suaminya dan duduk tepat disampingnya.
"Kamu pasti terluka karena ucapan mama, maafkan mama ya. Kalau kamu ingin kita pergi dari sini, ayo kita pergi...aku gak keberatan."
"Gimana kita bisa bisa pergi meninggalkan mama yang sedang sakit? Mas.. sedalam apapun orang tua menyakiti hati kita, kita tidak boleh meninggalkan orang tua apalagi dalam keadaan sakit."
"Masyaallah, pilihanku memang tidak salah. Aku menikahi wanita yang sangat baik dan cantik."
"Mas.."
Cup!
Bram mengecup bibir Diana dengan lembut. "Sayang, pokoknya kamu harus bilang padaku kalau mama bicara sesuatu lagi."
Diana dan Bram berpelukan, mereka saling menguatkan satu sama lain. Keduanya juga sepakat untuk menjalani program hamil..
****
Di dalam mobil Satria dan Amayra sedang berada dalam perjalanan menuju ke rumah sakit. Perut Amayra kini sudah mulai membuncit, tentu saja itu karena usia kandungan yang sudah hampir menginjak 6 bulan.
Hari itu mereka akan melakukan pemeriksaan USG. Amayra dan Satria tidak sabar untuk melihat calon anak mereka, walau tadinya mereka ingin surprise tapi mereka sudah tak sabar.
"Mulai saat ini kamu jangan capek capek ya sayang, ingat! Ada tugas kuliah, aku akan bantu kerjakan."
"Masa tugasku dibantu sama Mas, gak boleh dong."
"Maksudku kalau ada tugas berat, kamu kasih aku saja ya." kata Satria perhatian, sambil mengelus perut buncit itu.
Keduanya telah sampai ditempat parkir rumah sakit.
__ADS_1
...*****...