
...🍁🍁🍁...
Hati Clara berdebar, saat Bima menanyakan tentang perasaannya. Dia bertanya-tanya dalam hatinya, mengapa Satria datang kesana dan menanyakan tentang rasa suka kepadanya.
Ada apa ini? Mengapa kak Satria tiba-tiba bertanya seperti ini sama aku?
"Hey? Kenapa kamu melamun? Apa itu gak benar? Padahal aku dengar dari suster dan dokter di rumah sakit tempat aku bekerja, bawa kamu sangat menyukaiku. Apa aku salah paham?" Bima menunjukkan wajah polosnya seolah olah dia tidak ingat tentang Clara. Ya, dia memang tidak tahu apa-apa tentang Clara karena dia bukan Satria.
Hem, wanita ini beraninya menjadi antagonis dalam kehidupan keluarga adikku yang bahagia. Lihat saja, aku akan membahagiakan kamu sebelum kamu menderita dan jatuh sejatuh jatuhnya.
Wajah Clara memerah, dia terlihat senang karena Satria bersikap lembut padanya. Padahal Bima lah yang berpura-pura menjadi Satria.
"Ya kak, aku masih menyukai kakak. Dari dulu sampai sekarang, sejak kita masih kuliah juga kak. Tapi kakak sudah menikah dengan Amayra." Clara cemberut dan menunjukkan wajah memelas.
"Aku ingin tau kenapa aku bisa menikah dengan wanita kampung itu! Bisakah kamu ceritakan padaku?" tanya Bima sambil menatap Clara dengan tatapan lembut.
Cih! Lagi-lagi aku harus berakting seperti ini. Tapi saat seperti ini bersama Amayra, tidak terasa seperti akting. Maaf May, aku panggil kamu wanita kampung untuk mengelabui dia.
Wanita kampung? Kenapa kak Satria bisa mengatakan hal seperti ini pada istri kesayangannya?. Clara terperangah dan tidak nyangka bahwa Satria alias Bima akan mengatakan hal buruk tentang Amayra.
"Iya, aku akan ceritakan pada kak Satria semuanya! Mari kita bicara sambil makan siang." ajak Clara sambil menggandeng tangan Satria dengan wajah berbinar-binar.
Bima menahan rasa kesal dan jijiknya pada wanita cantik itu. Ya, Clara memang cantik tapi tidak menarik untuknya. Menurut Bima, wanita seperti Clara yang genit adalah wanita pasaran.
Clara dan Bima makan siang di sebuah restoran yang tidak jauh dari rumah sakit tempat Clara bekerja. Dengan semangat Clara memesankan makanan untuk Satria, dia tau makanan kesukaan Satria karena selalu memperhatikannya sejak di kampus.
"Kamu tau banget ya makanan kesukaanku? Apa dulu kamu memang menyukaiku?" tanya Bima sambil tersenyum tipis
Jadi Satria suka nasi goreng kambing?. Bima melihat nasi goreng yang sudah tersaji di atas piring didepannya.
__ADS_1
"Aku sangat menyukai kakak, bahkan kita hampir pacaran kalau kakak tidak pulang ke Indonesia. Dulu pasti kita sudah jadian dan menikah."
"Apa begitu? Lalu bagaimana ceritanya aku bisa menikah muda dengan wanita kampung itu?" Bima mendengus kesal sambil mengambil sendok dan bersiap untuk makan.
"Panjang ceritanya kak...tapi kenapa kakak memanggil dia wanita kampung terus? Bukankah kakak sangat mencintai dia?" tanya Clara sambil mendekatkan air minum pada Bima.
"Mencintai dia? Sepertinya sebelum aku hilang ingatan, aku adalah pria buta yang jatuh cinta pada wanita seperti itu. Lemah, beban, menyebalkan dan manja...aku tidak mungkin suka wanita seperti dia." Bima menjelek-jelekkan Amayra didepan Clara.
Maaf May, maaf. Bima meminta maaf pada Amayra didalam hatinya.
Clara semakin senang hatinya mendengar Bima terlihat tidak respek pada Amayra. Dia menambahkan minyak tanah ke dalam api yang membara, padahal Bima hanya berakting saja.
Dia pun menceritakan tentang bagaimana pernikahan Satria dan Amayra dulu. "Kak, sebenarnya aku tuh kasihan sama kakak. Kenapa kakak harus menjadi kambing hitam dan menikah dengan wanita itu? Kakak tau gak, semua orang sangat menyayangkan kakak yang sempurna ini bisa menikahi Amayra." ucap Clara yang menunjukkan wajah prihatin.
"Oh memangnya apa yang salah dengan wanita kampung itu?" tanya Bima sambil mengambil air minum dan hendak meneguknya.
"Apa keluarga kakak gak cerita sama kakak, kalau dulu waktu kakak menikah sama si Amayra, dia udah hamil duluan."
Air dari mulut Bima langsung menyembur mengenai wajah Clara. Hingga gadis itu menutup matanya dan wajahnya basah. "Kak Satria...iuhhh.."
"Ma-maaf Clara, aku tidak sengaja!"
Amayra hamil duluan saat menikah dengan Satria? Apa Satria dan Amayra melakukan xx sebelum menikah? Apakah anaknya itu adalah Reyndra? Bayi yang ada di foto itu?. Bima kaget karena dia belum tau tentang rahasia besar keluarga Calabria, rahasia kelam.
Clara mengambil sapu tangan, kemudian dia mengusap air yang membasahi wajahnya akibat ulah Bima. "Aku belum tahu tentang semua itu, tolong beritahu aku bagaimana aku menikah dengan Amayra dulu? Begitu banyak pertanyaan didalam kepalaku yang belum terjawab saat ini." kata Bima penasaran, sekaligus memancing Clara untuk lebih banyak berbicara dengannya.
Apa ini adalah kesempatan yang Tuhan berikan kepadaku untuk mendapatkan kak Satria? Aku bisa memanfaatkan amnesianya untuk melebih-lebihkan cerita dan semakin membuat wanita kampungan itu terlihat sangat jelek di mata kak Satria.
"Baiklah, aku akan ceritakan pada kak Satria. Ya, intinya Amayra itu sudah hamil saat kak Satria menikah dengannya...tapi bayi itu bukan bayi kak Satria." jelas Clara sambil tersenyum menyeringai, memanfaatkan situasi.
__ADS_1
"Apa? Bagaimana bisa ini terjadi? Bayinya bukan bayiku? Lalu bayi siapa?" tanya Bima sambil menatap gadis itu dengan tajamnya.
Entah benar atau tidak perkataan yang diucapkan wanita genit ini, tapi ucapannya sangat keterlaluan. Dia sangat membenci Amayra sampai memfitnahnya seperti ini. Bima tidak percaya bahwa Amayra menikah dengan Satria dalam keadaan hamil dan anak itu juga bukan anak Satria. Tentu, dia tidak percaya begitu saja. Pasalnya, Amayra yang dia kenal adalah wanita baik-baik yang selalu menjaga kesuciannya.
"Bayi itu milik pak Bram, kakaknya." jawab Clara.
Omong kosong apa lagi yang dibicarakan gadis ini? Rasanya, aku ingin sekali memukulnya dan membakar bibir nyinyirnya itu!
Kedua mata Bima membulat ketika mendengar ucapan Clara yang baginya tidak masuk akal.
"Hahhh... bagaimana mungkin? Jadi aku menikah dengan Amayra saat dia hamil anaknya Bram? Aku rasa itu tidak mungkin." Bima menggelengkan kepalanya, dia tidak termakan begitu saja oleh perkataan Clara.
"Aku sudah menduganya sih, kalau kakak tidak akan percaya begitu saja padaku. Tapi... kalau kakak tidak percaya silakan saja tanyakan pada orang-orang, terutama dokter dan suster yang bekerja di rumah sakit tempat kak Satria bekerja. Semua orang tau kok tentang kisah ini, kakak menikahi wanita yang sudah hamil." Clara tersenyum menyeringai, dia terlihat bersemangat saat menceritakan kejelekan orang lain.
Bima mengepalkan tangannya dengan gemas. Kemudian dia bertanya lagi, bagaimana hubungan Bram dan Amayra sebelumnya dan bagaimana Amayra bisa mengandung anak kakak iparnya sendiri.
Clara mengatakan bahwa Amayra menggoda Bram di sebuah villa, lalu mereka melakukan zina. Amayra dan ayahnya kemudian meminta pertanggungjawaban kepada keluarga Calabria. Namun sayangnya Bram saat itu kabur bersama pacarnya ke luar negri, jadilah Satria yang menggantikan Bram untuk menikahi Amayra.
Apa benar kak Bram dulu seorang bajingan? Dia memperkosa Amayra sampai hamil? Aku harus temukan kebenaran tentang ini sendiri.
"Kak Satria kenapa diam? Kakak pasti sedih ya mendengar ceritaku ini." Clara menatap Bima dengan sedih.
Tidak, aku tidak boleh sampai termakan ucapannya. Siapa tau ini hanya akal-akalannya saja. Aku harus tetap berakting!
"Aku tidak menyangka... ternyata aku sudah benar-benar buta. Clara, maukah kamu berhubungan denganku? Aku tidak mau bersama dengan wanita itu lagi!" Bima memegang tangan Clara walaupun sebenarnya dia enggan dan jijik.
"Tentu saja kak, dengan senang hati!" Clara tersenyum lebar, dia terlihat sangat bahagia dengan permintaan Bima untuk menjalin hubungan dengannya.
Ya Tuhan, aku sangat bahagia saat ini. Akhirnya keinginanku untuk memiliki kak Satria datang juga.
__ADS_1
...******...